Profil

Saca Firmansyah, lahir di selatan Jakarta pada 14 Maret 1985. Pendidikan dasar ditamatkan di Madrasah Ibtidaiyah Al-Ikhlash, Jatipadang, Pasar Minggu – Jakarta Selatan. Pendidikan menengah ditamatkan di SMP Negeri 41 Jakarta dan SMA Negeri 38 Jakarta. Sedangkan pendidikan tinggi ditamatkan di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.

Pergaulan selama masa SMA dan Mahasiswa sangat membentuk hobi dalam kegiatan petualangan. Pada tahun pertama di bangku SMA, perjalanan sejauh 120 km (dimulai dari Tugu Proklamasi Rengasdengklok hingga Tugu Proklamasi Jakarta) dalam rangka napak tilas persiapan proklamasi kemerdekaan Indonesia pernah ditempuh dengan berjalan kaki bersama teman-teman dekat yang tergabung dalam organisasi Pencinta Alam SMA 38 (Talam 38). Pada tahun berikutnya, gunung-gunung yang ada di Pulau Jawa mulai dijamahi oleh laki-laki bertubuh kurus ini.

Selanjutnya, kegiatan mendaki gunung dan kegiatan alam bebas lainnya serta kegiatan-kegiatan sosial maupun bakti lingkungan semakin sering dilakukan sejak bergabung bersama unit kegiatan Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI). Menjadi anggota aktif sejak April 2004, setelah sebelumnya mengikuti pendidikan kepencintaalaman yang diselenggarakan Badan Khusus Pelantikan (BKP) Mapala UI sejak Agustus 2003.

Mendaki gunung dan kegiatan petualangan lainnya memang merupakan hobi yang paling digemari hingga saat ini. Tujuannya mungkin terlalu naif, ingin menyelami kehidupan masyarakat Indonesia seutuhnya sambil menikmati keindahan alam sekitarnya. Keinginan untuk dekat dengan kehidupan masyarakat dan alam Indonesia, sangat mempengaruhi dalam penyelesaian tugas akhir di SMA maupun di Universitas. Karya Tulis berjudul “Pengaruh Kepercayaan Terhadap Nyi Roro Kidul Bagi Kehidupan Sosial Masyarakat Nelayan di Pesisir Pantai Pelabuhan Ratu” berhasil diselesaikan dan semakin membuatnya rajin melakukan petualangan-petualangan selepas masa SMA.

Dalam kegiatan-kegiatan sosial dan pengembangan keilmuan, bersama kawan-kawan dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI), terutama dengan kawan-kawan dari Program Studi Ilmu Perpustakaan, ia turut serta membangun beberapa Taman Bacaan Masyarakat atau Perpustakaan Masyarakat seperti di wilayah Pasar Minggu, Depok, dan Desa Mekarjaya (Kuningan – Jawa Barat). Sedangkan bersama teman-teman Mapala UI, lelaki berdarah Betawi ini turut serta dalam kegiatan bakti sosial di Banyuwangi (2004), penanganan pengungsi korban tsunami Aceh dalam masa darurat dan rehabilitasi awal tahun 2005 (sebagai koordinator pelaksana program Lost and Found kerjasama Mapala UI, TV UI, dan Indosiar), penggalangan aksi sosial Sepeda Untuk Sekolah di Yogyakarta tahun 2005-2006, Posko banjir Jakarta awal tahun 2007, Bank Mandiri Peduli Anak Sekolah di Ponorogo (2007), dan Program Pengembangan Desa Konservasi di Desa Tangkil dan Cinagara Kec. Caringin, Bogor – Jawa Barat (2007-2009).

Selain itu, di luar atas nama almamater kampus, Firman juga sering mengadakan diskusi mengenai kajian informasi, dunia keislaman, dan kajian sosial-kebudayaan. Kajian-kajian seperti itu banyak dilakukan bersama teman-teman di Komunitas Nuun, Depok Islamic Studi Circle (DISC) Masjid UI, dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Pada 9 Juli 2009, Firman resmi melepas gelar sebagai mahasiswa pada Program Studi Ilmu Perpustakaan FIB UI dan mendapat gelar baru sebagai Sarjana Humaniora (S.Hum) setelah berhasil menyelesaikan karya skripsi yang berjudul “Pembangunan Perpustakaan Masyarakat dengan Partisipasi Masyarakat (Kaji Tindak Partisipatif/Participatory Action Research di Kampung Gunung Batu, Desa Tangkil, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat)”.

Saat ini, di samping menjadi karyawan tetap di salah satu BUMN/BUMD di Jakarta, Firman juga aktif mengelola Majalah Tabligh yang diterbitkan oleh Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Aktifitas itu merupakan ‘taman belajar’nya untuk dapat mengembangkan diri dan keilmuan yang digeluti selama ini.

Cita-cita besarnya: Menciptakan ruang hidup yang lebih layak dalam Alam, Budaya, dan Kemanusiaan. Firman yakin akan selalu ada ruang untuk persahabatan dalam Alam, Budaya, dan Kemanusiaan yang sama sekali lain dari apa yang kita hadapi saat ini.

Mengapa Blogging?

Dalam imaji, seorang teman dari buku yang sempat dibacanya di sudut ruang Perpustakaan, berkata: “Apa-apa yang terucap akan berlalu bersama angin. Dan apa-apa yang tertulis akan mengabadi dalam bilangan waktu yang tidak kita ketahui.” Kemudian ia duduk dan menuliskan kalimat itu pada sebuah buku kosong. Buku kosong yang telah dituliskannya itu diberikan kepada seorang lainnya dengan tambahan kalimat: “Isilah sendiri atau tawarkan orang lain untuk menuliskannya. Kau akan temukan sesuatu yang sama sekali lain.”

Dalam perjalanan waktu, buku itu penuh dengan berbagai kalimat dari berbagai macam tulisan tangan. Sebelum kertas benar-benar habis, rasanya perlu menambahkan halaman dalam bentuk yang lain. Blog…

Emm, blog tentang kehidupan pribadi ya?

Ya, blog ini merupakan blog pribadi. Berdasarkan penjelasan dalam Wikipedia mengenai jenis-jenis blog, blog pribadi disebut juga buku harian online yang berisikan tentang pengalaman keseharian seseorang, keluhan, puisi atau syair, gagasan jahat, dan perbincangan teman. Maka seperti itu pulalah yang dituliskan di dalam blog ini.

Namun demikian, Firman tidak akan pernah mau mengakui kalau ternyata ada tulisan yang dikatakan sebagai gagasan jahat di dalam blog ini. Adapun bila ada yang dapat Saudara pembaca kategorikan sebagai gagasan jahat, mohon diberikan pencerahannya. Karena terpikirkan pun tidak bagi Firman untuk membuat gagasan-gagasan jahat di dalam blog ini, barangkali takut dikenai pasal dalam Undang-Undang ITE. Yang  jelas, Firman menulis untuk mengikat ilmu, dan untuk menguatkan ingatannya pada apa yang terjadi dan juga pada mereka yang ada di sekitarnya lewat tulisan.

Menulis sekedar menguatkan ingatan?

Ya, nggak juga sih. “Saya menulis karena ada kepalsuan yang hendak saya singkapkan, atau suatu fakta yang ingin saya bawa ke tengah perhatian masyarakat,” tulis George Orwell dalam tulisannya, Why I Write yang ditulis pada musim panas 1946. George Orwell dikenal sebagai eseis, novelis, kritikus, dan juga jurnalis berkebangsaan Inggris.

Firman pikir itu alasan yang baik untuk mulai menulis. Menulis apapun. Juga menjadi alasan yang baik untuk menjadi seorang jurnalis. Bukankah demikian tugas jurnalis: menyingkap kebenaran dan menyampaikannya kepada masyarakat umum?

Sejak duduk di bangku SMP, Firman selalu mengagumi para penulis, khususnya jurnalis. Seorang teman mengatakan kelompok jurnalis punya peran besar dalam menggulingkan otoritarianisme Soeharto. Benarkah demikian? Firman baca beberapa literatur dan menemukan bahwa ada kelompok jurnalis independen yang memang bergerak dalam upaya menggulingkan pemerintahan yang dianggap korup dan otoriter saat itu.

“Terbitan terang” dan “terbitan gelap” banyak bermunculan dalam berbagai bentuk. Banyak orang yang kemudian sadar mengenai apa yang terjadi. Tetapi tidak sedikit tulisan yang semata-mata hanya berupa propaganda. Memprovokasi elemen rakyat tanpa dasar yang jelas. Namun demikian, Firman tetap kagum pada tulisan-tulisan itu, pada pikiran-pikiran yang disampaikan ke masyarakat dan membawa semangat baru bagi masyarakat. Semangat untuk terus bergerak ke arah perbaikan.

Di bangku SMA, Firman mulai melakukan perjalanan ke berbagai daerah. Mendaki gunung dan berkemah. Perjalanan semakin banyak dilakukan saat duduk di bangku kuliah. Perjalanan dari ujung Sumatera hingga ujung Jawa begitu puas dilakoni. Beberapa kali mampir ke desa-desa terpencil, selalu muncul keinginan untuk menuliskan bagaimana kondisi desa itu. Mengapa begini dan mengapa begitunya desa-desa itu. Ini juga yang menjadi alasan kuat bagi Firman untuk mulai menulis.

Seperti itukah tujuan Firman sesungguhnya? Terdorong sepenuhnya semata-mata oleh keinginan mengabdi pada kepentingan umum? Rasanya banyak juga dorongan untuk kepentingan diri sendiri. Setiap kali menulis di media massa, selalu ada kebanggaan. Firman rasa inilah dorongan untuk diri sendiri. Bangga karena pikiran-pikiran telah dituliskan, dicetak dan dibaca masyarakat luas. Berharap akan mengabadi dalam bilangan waktu yang tidak diketahui.

Oke, selamat menikmati apa-apa yang layak untuk dinikmati. Terima kasih juga atas kunjungan dan kesediaannya membaca halaman ini untuk mengenal Firman lebih dalam. Salam!

30 Comments Add yours

  1. Menik says:

    Sacaaaaaaaa…. :)

  2. ikhsan says:

    salam kembali mas…

  3. firmansyah says:

    man… ada salah faham neeh harusnya di blogor yang jadi firman 1 itu dikau, kan u lebih senior di dunia 4 tahun

  4. firmansyah says:

    eh 4 bulan deng
    salah ketik

  5. falla says:

    oi oiiii… firman 2 salam kenal di blog.. hehe walopun di luar udah kenal..

    waaa artikel mu mantaf2 bro..??
    ajarin nulis duunk

  6. adoen says:

    Lam kenal mas ^^

  7. Salam kenal, senang berjumpa dengan orang yang punya cita-cita besar….

  8. wennyaulia says:

    salam kenal, mas
    terima kasih sudah berkenan mampir ke gubug saya :mrgreen:

    keep blogging yaa

  9. jamalia says:

    waw, mampir ke blog saya. ada breaking the habitnya juga. salam kenal juga yak! hehe

  10. wah, sekarang udah pake S.Hum
    hihihihihi

  11. ismail agung says:

    Edan! Profil pribadinya lengkap banget… Ckckckck. Salute sama perjalanan yang sudah anda tempuh selama ini…

  12. Gede says:

    Ok

    Gede H. Cahyana

  13. marteena says:

    ternyata Dec 2008, gw sudah berkunjung ke blog mu, Man. ckckck….lupa hehe

  14. Assalamu’alaikum,
    Klo MAU salam, harusnya memberi salam yang terbaik donk bang untuk saudara sesama muslim, kan saling mendoakan… :D

    loh, emang bang firman lagi dimana bang???
    kyanya lagi di luar kota nih…
    jalan-jalan terus yah bang.

    1. sacafirmansyah says:

      Salam!

      Dik Evi yang baik, terima kasih nasihatnya. Terutama tentang salam. Saya akan coba berbagi cerita dulu:

      Tahun 2004, tahun-tahun ketika saya mulai aktif dalam menjalin silaturahim melalui HP dan E-mail, setiap kali ada pesan masuk selalu muncul di depan pesan: “Ass Wr Wb” atau hanya “Ass” saja sebagai salam kepada sesama muslim. Maklum, namanya saja short message (pesan singkat) makanya muncul pula tren penyingkatan kata. Penyingkatan kata bukan hanya dilakukan saat menggunakan SMS tapi juga berkembang saat E-mail, Chatting, FS, FB dan Twitter yang cukup digemari sekarang.

      Saya yang saat itu sedang puber penggunaan bahasa inggris yang baik merasa risih. Dalam kamus yang saya gunakan “Ass” berarti -(maaf)- “pantat”. Keresahan saya itu saya bagi bersama teman-teman komunitas yang saya bentuk, diantaranya Komunitas Lembah Kapuk dan Komunitas Nuun. Sayang sekali apabila niat baik kita dalam menyebarkan salam justru mempunyai makna lain yang jauh dari makna salam dalam simbol-simbol lain yang kita gunakan.

      Dalam kajian saya bersama komunitas Nuun, seorang teman berpikir bagaimana menggunakan salam yang baik namun singkat dan tidak mengurangi makna dari salam kita kepada sesama muslim terutama saat SMS, chatting, de el el di dunia maya.

      Waktu terus berjalan, dalam kajian yang kami lakukan muncullah seorang kawan yang memberikan SMS kepada saya dengan pesan awal: “Salam!”

      Saya bertanya kepada dia, kenapa dia hanya memberikan salam dengan kata “Salam!” saja. Ia pun ternyata menguraikan keresahan yang sama dengan saya. Ia tidak mau menyingkat kata “Assalamu’alaykum” dengan “Ass.”

      Di lain kesempatan, di beberapa pusat kebudayaan diadakan Festival Film Iran. Dalam beberapa film yang saya tonton, salam yang diucapkan oleh orang-orang Iran itu adalah “Salam!”. Singkat saja tetapi memiliki makna yang baik. Akan tetapi, Iran identik dengan Syiah yang dalam pemahaman ’kami’ Syiah itu sesat.

      Belum puas dengan apa yang saya temui, saya terus melakukan sedikit kajian lagi.

      Dalam tahap berikutnya, saya melakukan kajian sendiri. Terutama mengkaji salam dalam Al-Quran. Di dalam kajian itu saya menemukan beberapa ayat yang saya pikir dapat menjadi landasan mengenai penggunaan “Salam!” kepada sesama muslim secara singkat. Beberapa ayat itu diantaranya:

      QS. Yunus (10) : 10
      Doa mereka di dalamnya ialah: “Subhanakallahumma”, dan salam penghormatan mereka ialah: “Salam!”. Dan penutup doa mereka ialah: “Alhamdulillaahi Rabbilaalamin.”

      QS. Maryam (19) : 62
      Mereka tidak mendengar perkataan yang tak berguna di dalam surga, kecuali ucapan salam. Bagi mereka rezekinya di surga itu tiap-tiap pagi dan petang.

      QS. al-Ahzab (33) : 44
      Salam penghormatan kepada mereka (orang-orang mukmin itu) pada hari mereka menemui-Nya ialah: “Salam!”; dan Dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka.

      QS. Yasin (36) : 58
      (Kepada mereka dikatakan): “Salam!”, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang.

      QS. az-Zukhruf (43) : 89
      Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari mereka dan Katakanlah: “Salam! (selamat tinggal)”. Kelak mereka akan mengetahui.

      Dari penjabaran itu, saya kemudian senantiasa menggunakan kata Salam! saat menggunakan SMS, chatting dan lainnya. Akan tetapi, saat bertemu dan bertatapan langsung saya akan mengucapkan salam secara lengkap yaitu:
      1. Assalamu’alaykum; atau
      2. Assalamu’alaykum Warahmatullahi; atau
      3. Assalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh; atau
      4. Assalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh Waridwana.

      Demikian penjelasan dari saya. Semoga Dik Evi memakluminya. Salam!

      Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada penghuninya, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat (Nya) bagimu, agar kamu memahaminya. (QS. an-Nur (24) : 61)

  15. achoey says:

    salam semangat sobat

    1. sacafirmansyah says:

      Salam!
      Wah apa kabar nextrevolt? Nextrevolt inilah yang menginspirasi “Salam!”.

      Sukses bro!

  16. ramlannarie says:

    salam kenal, kunjungan balik ditunggu

  17. Awam says:

    Salam blogor, maaf baru ngeh. Salam FIB juga.

    1. sacafirmansyah says:

      salam blogor dan salam FIB juga.. hehe, maklumlah.. ane kan jarang blog walking kayak sobat bloger lainnya.. abis di kampung melulu..

  18. Pepzi Zuriadi says:

    salam kenal nich….
    tlg krim alamat lngkapnya n nmr HPnya….trims

    1. sacafirmansyah says:

      salam kenal juga..
      untuk apa?
      nomor hp bisa dilihat di poster ini: https://sacafirmansyah.wordpress.com/jasa-konsultasi/00-iklan-belakang-dalam/

  19. ety says:

    salam kenal mas…., mau donk berbg ilmunya…., tq’s!

  20. evi oktaviani says:

    Bang Firman, penjelassan tentang penggunaan “Salam”, evi copy yah. Soalnya ada temen yang nanya kenapa menggunakan kata “Salam”.

    1. sacafirmansyah says:

      oke, copy aja evi, itu kan memang komen untuk evi..

  21. tria sanata says:

    salam knal ya mas,, tulisan mu bgus. .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s