Stop Politik Uang!

Pagi itu hujan deras mengguyur kota. Jarak pandang begitu terbatas, putih kelabu di ujung pandangan mata. Dengan semangat yang ada, berjuta orang berangkat bekerja menembus derasnya hujan yang mengguyur hampir di seluruh penjuru kota. Bukan hanya hujan, banjir yang melanda jalan-jalan raya kota juga harus mereka lalui.

Di kota lainnya, hujan abu akibat erupsi gunung berapi seakan tak mengganggu aktifitas para pekerja. Jutaan pekerja tetap berangkat menuju pabrik, pasar, kantor, atau lembaga pemerintahan. Ada yang berduka, tapi kemudian reda dalam semangat bekerja, semangat bertahan hidup, semangat menciptakan hidup yang layak.

Melihat semangat rakyat negeri ini dalam bekerja, seharusnya negeri ini dapat menjadi negeri yang besar, negeri yang maju, negeri yang seluruh rakyatnya hidup layak, meskipun potensi bencana yang ada juga begitu besar. Akan tetapi, pada kenyataannya negeri ini masih belum maju, bahkan dapat dikatakan mengalami kemunduran pada beberapa bidang kehidupan.

Sempat terpikir bahwa mundurnya bangsa ini karena bangsa ini adalah bangsa yang malas, tapi pada kenyataannya banyak pula yang rajin bekerja. Beberapa orang yang saya temui cenderung beranggapan bahwa kemunduran ini semata-mata akibat kesalahan pemimpin-pemimpinnya yang korup. Tapi, mengapa korupsi bisa terjadi di berbagai sektordan berbagai lapisan masyarakat? Bisa jadi pemimpin-pemimpin korup lahir dari masyarakat yang korup, masyarakat yang kini ‘menuhankan’ uang.

Kalau begitu adanya, kemunduran dan bencana yang terjadi bisa kita maknai sebagai teguran dan peringatan. Teguran agar kita dapat lebih mensyukuri nikmat Allah. Dengan rasa syukur, kita tidak hanya kerja asal kerja, tapi kerja untuk mencapai kebaikan-kebaikan dari karunia Allah yang terhampar di muka bumi. Semangat bekerja bukan sekedar semangat untuk memperoleh uang, apalagi memperolehnya dengan cara-cara korup dan cara-cara laknat lainnya. Akan tetapi, kita bekerja untuk memperoleh rahmat Allah yang lebih besar dari sekedar uang.

Sekarang, di hadapan kita ada Pemilu. Banyak pihak yang berpendapat politik uang akan mewarnai jalannya Pemilu. Masa depan bangsa dipertaruhkan. Pilihan kembali pada hati nurani Anda, apakah masih ‘menuhankan’ uang dan mempertaruhkan nasib generasi selanjutnya? Pemimpin adalah cerminan rakyatnya, jika rakyat memilih pemimpin karena uang, jangan berharap muncul pemimpin-pemimpin yang tidak rakus meraup uang rakyat. Cukup sudah kerusakan ini, tolak politik uang!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s