Bercermin Pada Matahari

Matahari memiliki filosofi yang bisa membuat hati menyadari bahwa hidup ini penuh arti. Pertama, matahari selalu menyinari salah satu sisi bumi. Sisi yang disinari matahari akan terang, mengalami waktu siang hari. Sedangkan sisi bumi yang lain akan mengalami kegelapan. Perputaran ini mengajarkan kita tentang prinsip keadilan, keseimbangan hidup dan ketidaksempurnaan makhluk atas Sang Khaliq. Begitupun manusia, tidak bisa melakukan segala sesuatu dalam waktu yang bersamaan. Butuh proses, butuh waktu dan butuh kesabaran serta keteguhan hati. Kemampuan dan keinginan tidak selalu sejalan walaupun tujuannya sama. Keinginan manusia itu tanpa batas, sedangkan keamampuannya terbatas. Yang perlu dilakukan ialah menentukan skala prioritas. Memprioritaskan sesuatu yang lebih dibutuhkan, lebih berarti daripada memaksakan diri untuk melakukan segala sesuatu di satu waktu. Prioritas merupakan sisi keadilan yang menentukan kualitas diri dan kehidupan kita. Keadilan itu tidak selalu bermakna sama rata sama rasa, tetapi menempatkan sesuatu pada tempatnya. Matahari mengajarkan kita berbuat adil pada sesama dengan tidak membedakan warna tertentu, dan terus berusaha melakukan yang terbaik yang kita bisa.

Kedua, matahari tak kenal lelah dan tak pernah berhenti bersinar, sekalipun bumi diliputi kegelapan. Bukan matahari yang berhenti bersinar, tetapi bumi yang selalu berputar mengelilinginya. Gelap dan terang adalah proses alami kehidupan. Akan tetapi, di saat gelap pun matahari tak pernah lelap. Ini menunjukkan bahwa dalam kondisi apapun kita harus bersedia memberi, memiliki spirit pantang menyerah dan selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi semua walaupun tidak semuanya bisa menerima kebaikan itu. Orang yang baik tidak pernah menyesali kebaikannya dan orang yang sukses selalu berhasil bangkit dari setiap kegagalannya. Jika kita belum bisa menjadi yang terbaik, paling tidak berusaha melakukan yang terbaik.

Ketiga, matahari tak pernah ingkar janji untuk selalu menyinari bumi. Ketika di suatu musim kita jarang mendapatkan sinar matahari, bukan karena ia berhenti bersinar. Perputaran bumi menyebabkan pergantian dan perbedaan musim di berbagai belahan bumi, sehingga di sebagian bumi banyak yang tidak mendapatkan cahaya matahari. Janji adalah komitmen terhadap hati yang menumbuhkan kepercayaan. Kepercayaan itu akan langgeng bila janji ditepati, begitupun sebaliknya, kepercayaan akan hilang jika janji itu dilanggar. Kualitas pribadi dan penghargaan seseorang terhadap waktu, dirinya dan orang lain, bisa ditentukan dari komitmennya terhadap janji yang ia ucapkan. Makanya, muncul istilah bukan janji matahari bagi orang-orang yang sering melanggar janjinya.

Dengan berkaca pada matahari, kita belajar realistis dan optimis, bukan perfeksionis atas keinginan, harapan dan kenyataan hidup. Belajar berkomitmen dan konsisten dengan tujuan hidup kita. Berlatih sabar dan ikhlas menjalani setiap proses kehidupan, serta belajar menghargai waktu, kemampuan diri dan orang lain. Hari ini, mungkin kita belum bisa menjadi bintang seindah matahari. Namun, bintang itu akan terang di hati yang lapang. Hati yang selalu berusaha melakukan sesuatu sebaik bintang meskipun tampak biasa dan tak pernah sempurna. Lakukanlah kebaikan sekecil apa yang kita mampu. Karena, “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya ia akan melihat (balasan)nya pula.” (Q.S.  Al Zalzalah [99] : 7-8) [rio e. turipno/ed. firmansyah]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s