Awasi Miras Jelang Ramadhan!

Bulan suci Ramadhan sebentar lagi tiba. Untuk menghargai bulan suci umat Islam, minimarket dan swalayan diimbau tidak menjual minuman keras (miras) selama bulan Ramadhan. Aktivis sosial Fahira Idris menyarankan minimarket tidak menjual segala bentuk minuman beralkohol. “Umat Islam harus diapresiasi selama bulan Ramadhan,” kata Fahira di Jakarta, Selasa (18/6).

Ia mengaku miris dengan mudahnya mendapatkan miras di sejumlah minimarket. Meski terpampang stiker peringatan, Fahira menilai itu hanya sebatas stiker kepedulian. “Kenyataannya banyak yang dilanggar,” ujarnya.

Terlebih fakta yang Fahira dapatkan saat membuat film dokumenter tentang pelayanan minimarket dalam melayani pembeli miras. Banyak kasir sejumlah minimarket tidak menanyakan kartu identitas sesuai prosedur.

Selain itu, ia menemukan beberapa minimarket melanggar Permendag dengan memajang miras di rak paling depan. Miras di beberapa minimarket bercampur dengan minuman lain dan mudah dalam jangkauan pembeli.

Sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menilai penjualan minuman keras di minimarket sudah menyimpang dari aturan. Terlebih, menjelang masuknya bulan suci Ramadhan.

Ketua MUI Amidhan mengatakan, penjualan miras di minimarket-minimarket jelas suatu penyimpangan. Seharusnya, tutur Amidhan, minuman keras hanya disediakan di hotel-hotel besar yang di sana terdapat orang asing dan non-muslim.

“Kalau benar dijual di minimarket itu, ini merupakan tindakan tercela dan menyimpang dari ketentuan,” kata Amidhan, Senin (17/6) malam.

Menurutnya, penjualan miras tidak boleh berada di tempat-tempat yang mudah diakses publik secara umum. Demikian juga dilarang menjual miras di tempat yang berdekatan dengan sekolah dan rumah ibadah.

“Saya mewanti-wanti kepada pemda untuk mengawasi penjualan miras ini dengan pengawasan yang ketat,” katanya.

Selain itu, Amidhan juga mengharapkan agar lembaga-lembaga masyarakat yang mengatas namakan LSM tidak mengadakan sweeping dan main hakim sendiri sebelum diadukan kepada pihak yang berwajib.

Amidhan juga mengimbau pengusaha-pengusaha muslim agar tidak menjual barang-barang haram tersebut. Karena dengan adanya barang haram akan menghilangkan berkah dari usahanya.

Jika pengusaha tersebut tidak mengindahkan himbauan MUI ini, Amidhan meminta jangan menyalahkan pihak manapun ketika terjadi amukan massa.

“Apa sih untungnya bagi mereka (dengan menjual miras itu)? Ketika suatu saat ada pihak-pihak yang marah karena merasa terusik, nanti jangan menyalahkan siapa-siapa,” tegas Amidhan.

Sementara itu, Pakar Kriminalitas dari Universitas Indonesia (UI), Yugo Tri mengatakan, peran aktif polisi sangat dibutuhkan untuk memberantas peredaran minuman keras (miras).

Yugo menjelaskan, pemberantasan tersebut terpusat kepada pendistribusiannya. Menurutnya, sulit jika hanya melakukan pengawasan saja, apalagi pengawasan yang sifatnya musiman seperti menjelang bulan Ramadhan. “Miras itu sama seperti narkotika,” katanya, Selasa (18/6).

Sebab, menurut Yugo, mengonsumsi miras memiliki efek serupa dengan narkotika yaitu penghilangan kesadaran. Hasilnya, orang yang meminum miras akan melakukan tindak kriminal yang sulit dilakukan jika dalam keadaan sadar.

Jika sudah terjadi tindak kriminal yang dilakukan karena pengaruh alkohol, kata Yugo, berujung kepada peninggalan tanggung jawab pihak yang memasok miras tersebut. Sebab, miras yang marak beredar di minimarket sudah menjadi tanggung jawab penjualnya. “Kalau sudah terjadi tindak kriminal, siapa yang akan disalahkan,” katanya.

Selain polisi, peran masyarakat untuk meningkatkan kesadaran buruknya mengonsumsi miras sangat diharapkan. Yugo mengatakan, miras sudah merupakan barang yang dicari masyarakat dan masuk barang kebutuhan.

Namun, terbukti sekalipun ada pelarangan di sejumlah daerah, miras tetap laku terjual dan di beberapa minimarket menjualnya secara terbuka. “Ini masalah yang rumit, tapi bukan berarti tidak bisa diselesaikan,” katanya.

Yugo berpendapat, penyatuan antara keseriusan polisi memberantas miras dan kesadaran masyarakat dinilai bisa memberantas peredaran miras. Butuh waktu untuk melakukan pemberantasan, karena miras sudah bukan barang yang dianggap tabu lagi. [fms/republika.co.id]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s