Toleransi ‘ala Buya Hamka

Pada zaman sekarang ini, banyak sekali tokoh-tokoh umat yang menggadang-gadang isu toleransi antar umat beragama. Bahkan, ada beberapa tokoh umat Islam yang tampak dekat sekali dengan tokoh agama non-muslim. Sayangnya, terkadang ia lupa untuk menjaga persaudaraan di antara sesama tokoh umat Islam, juga lupa untuk menjaga ukhuwah Islamiyah sampai-sampai harus menghujat tokoh lainnya sesama muslim. Padahal, seorang mukmin terhadap mukmin lainnya adalah saudara.

Untuk itu, perlulah kiranya kita belajar dari seorang Buya Hamka, tokoh yang terkenal keras dalam menjaga akidah Islam tapi santun dan ramah terhadap sesama saudara muslim. Hal ini dapat dilihat dari kisah sederhana yang masyhur antara Buya Hamka dengan KH. Abdullah Syafi’ie. Meski Buya Hamka adalah tokoh Muhammadiyah, namun ia berkawan baik dengan tokoh NU seperti KH. Abdullah Syafi’ie, ulama kawakan yang juga dijuluki “Macan Betawi” kharismatik.

Di antara kisah sederhana Buya Hamka dan KH.Abdullah Syafi’ie ialah toleransi dan lebih mengedepankan ukuwah Islamiyah. Kisah ini, sebagaimana yang diceritakan oleh putera beliau, Rusydi Hamka, adalah tentang persoalan khilafiyah seperti qunut, jumlah rakaat tarawih, maupun jumlah adzan Shalat Jum’at. Meski Buya Hamka boleh dibilang tokoh Muhammadiyah yang tidak mempraktekkan qunut pada shalat subuh, namun beliau menghormati sahabatnya, KH. Abdullah Syafi’ie, ulama yang menyatakan bahwa qunut shalat shubuh itu hukumnya sunnah muakkadah. Buya Hamka jika hendak mengimami jamaah shalat subuh, suka bertanya kepada jamaah, apakah akan menggunakan qunut atau tidak. Dan ketika jamaah minta qunut, tokoh dan penasihat Muhammadiyah inipun mengimami shalat subuh dengan qunut.

Dalam kesempatan lain tentang masalah adzan dua kali. Suatu ketika di hari Jumat, KH. Abdullah Syafi’ie mengunjungi Buya di masjid Al-Azhar, Kebayoran Jakarta Selatan. Hari itu menurut jadwal seharusnya giliran Buya Hamka yang jadi khatib. Karena sahabatnya datang, maka Buya minta agar KH. Abdullah Syafi’ie saja yang naik menjadi khatib Jum’at.

Yang menarik, tiba-tiba adzan Jum’at dikumandangkan dua kali, padahal biasanya di masjid itu hanya satu kali adzan. Rupanya, Buya menghormati ulama betawi ini dan tahu bahwa adzan dua kali pada shalat Jum’at itu adalah pendapat sahabatnya. Jadi bukan hanya mimbar Jum’at yang diserahkan, bahkan adzan pun ditambahkan jadi dua kali, semata-mata karena ulama ini menghormati ulama lainnya.

Begitu pula tentang jumlah rakaat tarawih. Buya Hamka ketika mau mengimami shalat tarawih, menawarkan kepada jamaah, mau 23 rakaat atau mau 11 rakaat. Jamaah di masjid Al-Azhar pada saat itu memilih 23 rakaat, maka beliau pun mengimami shalat tarawih dengan 23 rakaat. Esoknya, jamaah minta 11 rakaat, maka beliau pun mengimami shalat dengan 11 rakaat.

Inilah tipologi ulama sejati yang ilmunya mendalam dan wawasannya luas. Kisah ini sungguh luar biasa dan perlu kita hidupkan lagi. Mereka tidak pernah meributkan urusan khilafiyah, sebab pada hakikatnya urusan khilafiyah lahir karena memang proses yang alami, dimana dalil dan nash yang ada menggiring kita ke arah sana. Bukan sekedar asal beda dan cari-cari perhatian orang. Karena itu harus disikapi dengan luas dan luwes. [fms/dari berbagai sumber]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s