Bersungguh-sungguh ‘Menjaga’ Waktu

Al Qur’an yang Allah Swt turunkan dari awal sampai akhir, pada dasarnya mengajak manusia untuk bertaqwa kepada Allah. Sia-sialah hidup manusia yang tidak bertaqwa kepada Allah. Dan sungguh beruntung manusia yang bersungguh-sungguh hidup dalam keridhoan Allah, yaitu orang-orang yang bertaqwa kepada-Nya. Karena itu, marilah kita terus berupaya semaksimal mungkin dalam kesempatan hidup ini untuk mencapai derajat orang-orang yang bertaqwa.

Di antara ciri orang yang bertaqwa kepada Allah Swt adalah ia senantiasa bersungguh-sungguh menjaga waktu. Jangan sampai waktu yang Allah Swt berikan disia-siakan dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Karena itu, ketika menyebutkan ciri orang-orang yang beruntung, orang-orang yang menang dalam kehidupan, Allah Swt menyebutkan, “Dan orang-orang yang terhadap segala perbuatan yang sia-sia me­nampik dengan keras.” (Q.S. Al Mu’minun [23]: 1-3).

Ini berarti bahwa syarat untuk menjadi orang-orang yang beruntung, orang yang bertaqwa, salah satunya yaitu harus maksimal mengisi waktu yang dia punya dengan meninggalkan kegiatan yang penuh dengan kesia-siaan. Hal ini dijelaskan pula dalam hadits dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi Saw, beliau bersabda, “Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (H.R. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Karena pada hari ini kita masih dalam suasana yang berkaitan dengan perpindahan tahun, maka tema yang paling penting untuk kita ingat dalam kesempatan ini ialah: Pertama, mari kita bersama-sama melihat pentingnya waktu, merenungi pentingnya waktu; Kedua, mengenai tahapan hidup kita, bahwa Allah Swt telah membagi waktu dengan dua tahap, yaitu tahap dunia dan tahap akhirat; Ketiga adalah bekal pokok dalam mengisi waktu menuju alam abadi.

Pentingnya Waktu

Waktu adalah nikmat yang paling agung, tidak ada nikmat yang lebih agung daripada waktu. Nikmat harta akan berakhir bersama habisnya waktu. Nikmat jabatan akan menjadi sirna ketika cahaya hidup itu habis. Semua nikmat dari Allah Swt akan habis ketika jatah waktu yang Allah Swt berikan berakhir. Karena itu, tidak ada nikmat yang lebih agung daripada nikmat waktu.

Itulah kenapa Allah Swt bersumpah dalam Al Qur’an dengan waktu. Allah bersumpah dengan waktu fajar; Allah bersumpah dengan waktu dhuha, yaitu saat matahari setinggi tombak; Allah bersumpah dengan waktu siang; Allah bersumpah dengan waktu ashar, yaitu waktu ketika matahari condong dimana bayangan sebuah benda lebih panjang daripada bendanya; Allah bersumpah dengan waktu senja; dan Allah bersumpah dengan waktu malam.

Ini menunjukkan bahwa semua perubahan waktu adalah penting, bahwa semua proses waktu ada pertanggungjawabannya di hari kiamat. Bahwa setiap orang yang hidup, dia harus mempertanggungjawabkan waktu yang ia lalui dari waktu fajar sampai ketemu fajar kembali. Tidak ada yang terlewatkan. Maka siapa yang lalai akan waktu ini, maka dia kelak akan menjadi orang yang menyesal dan merugi.

Dalam beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari akhir, dikisahkan bahwa yang akan manusia rasakan pertama kali ketika sampai di akhirat adalah rasa penyesalan, menyesal atas waktu yang dilaluinya di dunia, mengapa ia membuang-buang waktu, menyia-nyiakan waktu yang telah Allah Swt berikan. Dalam Qur’an Surat An Nazi’at Allah Swt berfirman: Maka apabila malapetaka yang sangat besar (hari kiamat) telah datang. (34) Pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya, (35) dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat. (36) Adapun orang yang melampaui batas, (37) dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, (38) maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). (39) Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, (40) maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya). (41)”

Dalam ayat di atas digambarkan bahwa ketika tiba saatnya sebuah malapetaka besar terjadi, itulah hari kiamat, maka pada saat itu semua orang ingat akan masa lalunya, ingat saat ia diberi waktu hidup di dunia, kenapa ia tidak mengisinya secara maksimal, kenapa ia tidak bersungguh-sungguh mengisi jeda-jeda waktu itu dengan bersungguh-sungguh untuk dibawa ke akhirat. Begitulah yang pertama kali manusia rasakan di alam akhirat, sebuah rasa penyesalan.

Semua manusia seakan dibangkitkan dengan rasa penyesalan, yang mukmin merasa menyesal, begitu pula yang kafir. Yang kafir menyesal karena saat mereka sampai di akhirat mereka tidak punya apa-apa. Tampak di depannya sebuah tempat yang menyedihkan, yaitu neraka. Tapi yang beriman juga menyesal. Kenapa? Ia menyesal kenapa saat hidup di dunia tidak banyak melakukan amal sholeh, agar dapat bersama-sama dengan orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah. Pada saat itu orang-orang menyesal kenapa tidak maksimal mengisi waktu yang telah diberikan kepadanya di dunia. Karena itu, mumpung masih ada jatah hidup, jangan sampai waktu yang tersisa ini diakhiri dengan penyesalan terhadap apa-apa yang telah kita lalui.

Tahapan Waktu

Tema yang kedua, Allah Swt membagi tahapan waktu ini dalam dua bagian, pertama tahapan waktu hidup di dunia, kedua tahapan waktu hidup di akhirat. Tahapan hidup di dunia hanya sementara, dan tahapan hidup di akhirat adalah selama-lamanya. Maka siapa yang menghabiskan waktunya hanya untuk urusan yang sementara dan lupa bahwa ada tahapan hidup yang selama-lamanya, maka akan sia-sia hidupnya. Inilah manusia yang tidak punya masa depan.

Masa depan yang hakiki adalah di alam akhirat, akhirat adalah masa depan, dunia hanyalah proses untuk menuju masa depan. Karena itu, manusia sukses bukan di dunia, dunia ini proses. Tidak bisa kita menghakimi seseorang sukses di dunia. Tidak, dunia bukan tempat sukses, dunia proses. Ukuran sukses adalah di akhirat. Allah Swt berfirman, “Barangsiapa yang diselamatkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka dia adalah orang yang sukses (beruntung)”. (Q.S. Ali Imran: 185).

Silahkan semua manusia sepakat bahwa si fulan sukses, tapi ketika di akhirat masuk neraka, maka ia sesungguhnya adalah manusia yang gagal. Silahkan semua manusia sepakat bahwa si fulan gagal, tapi ketika di akhirat ia masuk syurga, sesungguhnya inilah manusia yang sukses. Ukuran sukses bukanlah di dunia, tapi di akhirat. Karena itulah, ketika Allah Swt menurunkan Al Qur’an, Allah Swt menekankan pentingnya kehidupan di akhirat. Kehidupan akhirat adalah kehidupan hakiki bagi manusia. Bahwa kehidupan yang hakiki bagi manusia bukanlah di dunia tapi di akhirat. Karena itulah, setiap kita diberi jatah hidup di dunia, bukan untuk disia-siakan. Maka bersiap-siaplah untuk pindah ke akhirat karena ini pasti terjadi.

Bekal Pokok Dalam Mengisi Waktu

Yang ketiga, tema yang juga penting untuk kita renungkan dalam momen perpindahan tahun ini, yaitu bekal-bekal pokok untuk kita pindah ke akhirat. Bekal-bekal pokok yang harus kita persiapkan untuk menuju kebahagiaan hakiki. Allah Swt mengingatkan dalam Qur’an Surat Al Ashr, Demi waktu, sungguh manusia celaka, sungguh manusia rugi. Siapakah dia? Mereka yang tidak pandai memilih waktunya. Perhatikan hubungan antara waktu dengan penegasan manusia yang celaka. Allah menegaskan bahwa manusia celaka yang gagal mengisi waktunya, kecuali yang mengisi waktu dengan empat hal, pertama, dengan keteguhan iman; kedua, memiliki amal sholeh, iman saja tidak cukup, tapi harus dibantu dengan amal sholeh. Tapi dalam ayat selanjutnya, tidak cukup manusia hanya berbekal iman dan amal sholeh, maka hal yang ketiga diperlukan manusia dalam mengisi waktunya adalah saling menasihati dalam kebenaran. Namun kata Allah belum cukup hanya dengan tiga hal itu, harus ditambah dengan hal yang keempat, yaitu harus dengan sabar. Inilah keempat hal yang menjadi bekal untuk kita mengisi waktu menuju ke kehidupan yang abadi, yaitu alam akhirat.

Maka dalam perpindahan tahun ini, baik tahun baru hijriyah maupun tahun  baru miladiyah, tiga hal ini menjadi tema pokok kita dalam merenungi perpindahan tahun ini. Pertama, perhatikan waktu yang kita punya. Yang kedua, ingatlah bahwa setelah alam dunia ada alam akhirat, alam masa depan manusia, alam yang hakiki. Ketiga, ingatlah akan empat hal yang menjadi bekal pokok dalam mengisi waktu menuju alam abadi.

Dalam tulisan ini, ijinkan saya untuk menyampaikan pesan, bertaqwalah kepada Allah dan bersahabatlah dengan orang-orang shalih. Karena Rasulullah Saw pernah bersabda, “Seseorang dapat dinilai dari agama kawan setianya, maka hendaklah di antara kalian melihat seseorang dari siapa mereka bergaul.” (H.R. Al Hakim).

Allah Swt juga berfirman, “Dan janganlah kamu condong kepada orang-orang dzalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka. Dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain dari Allah Swt, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (Q.S. Hud : 113).

Di sini Allah Swt telah tunjukkan bahwa cara untuk bertaqwa adalah dengan berteman kepada orang-orang yang baik. Banyak orang baik menjadi rusak karena sahabatnya, dan banyak orang rusak menjadi baik karena sahabatnya. Maka kedudukan persahabatan dengan orang-orang shalih adalah syarat untuk mencapai taqwa. [ ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s