Nikah Singkat, Melecehkan Syariat

Menjelang akhir tahun 2012 lalu, ada satu berita yang ‘gaung’nya sempat melebihi penanganan kasus korupsi, terorisme dan anarkisme yang terjadi di sejumlah daerah di tanah air. Berita yang ramai dibicarakan itu tidak lain adalah pernikahan singkat Bupati Garut Aceng HM Fikri (40) yang menikahi secara siri Fany Octora (18) hanya empat hari, lalu menceraikannya lewat SMS.

Terlepas dari unsur politik dan kekuasaan yang kemudian membuat pemberitaan itu menjadi begitu ‘gaduh’, ada hal menarik–dan patut untuk dicermati–yang diangkat oleh tokoh-tokoh umat.

Menteri Agama, Suryadharma Ali, mengimbau umat Islam untuk hati-hati dalam menyikapi kasus nikah kilat Bupati Garut, Aceng HM Fikri. Dalam pandangannya, ada upaya untuk mendiskreditkan umat Islam dengan kasus itu. “Ada upaya untuk mendiskreditkan umat Islam dengan nikah siri Aceng,” kata Suryadharma Ali di Tasikmalaya, Jum’at (republika.co.id, 21/12).

Dengan ramainya pemberitaan ini, menurut Suryadharma Ali, yang ditakutkan masyarakat akan menganggap ulah nikah siri Aceng merupakan akibat ajaran Islam. Padahal, lanjutnya, bukan seperti itu masalahnya. Kasus Aceng adalah kasus yang melecehkan martabat perempuan, karena Aceng menikah hanya empat hari dan dicerai hanya menggunakan SMS. Itulah menurut Suryadharma yang harus dijaga umat Islam, jangan sampai kasus itu mendiskreditkan umat Islam. Suryadharma menyebutkan bahwa yang memerlakukan istri dengan semena-mena tidak hanya terjadi di umat Islam.

Suryadharma Ali menilai apa yang dilakukan Aceng telah melecehkan martabat perempuan. Menurutnya, yang buruk dari kasus Aceng, adalah caranya memperlakukan istri dengan cara yang tidak baik.

Dilihat dari sisi hukum Islam, memang perceraian bukanlah hal yang haram, namun hal itu sangat dibenci Allah Swt. Lembaga perkawinan, kata Suryadharma Ali, adalah lembaga sakral. Tidak boleh dibuat main-main. Terlebih hanya untuk melampiaskan nafsu. Yang menikah harus saling menghormati perkawinan apapun nama dan bentuknya. Kalau setelah menikah perbuatannya semena-mena, itu namanya perbuatan tidak terpuji. Terlebih dilakukan pejabat publik, tegas Suryadharma.

Sementara itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menganggap Bupati Garut, Aceng HM Fikri telah melanggar undang-undang (UU) dan melecehkan agama atas tindakannya itu.

“Dalam agama Islam, perkawinan itu sedapat mungkin tidak boleh dipisahkan, harus dibimbing menjadi keluarga sakinah, mawaddah dan warrahmah. Jadi Bupati itu melecehkan agama kalau hanya nikah empat hari lalu menceraikan sang perempuan. Itu melanggar etika,” ujar Ketua MUI, KH Amidhan, Rabu (detiknews, 5/12/2012).

KH Amidhan mengatakan, dalam agama Islam pernikahan siri memang tidak dilarang. Namun, dalam Al Qur’an ditegaskan bahwa pernikahan itu harus diupayakan untuk harmonis dan bertahan.

“Dalam surat Ar Rum ayat 25, perkawinan itu diupayakan agar langgeng, menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warrarhmah. Jadi dia dianggap mempermainkan agama,” tegas KH Amidhan.

Terlebih, lanjut Amidhan, Aceng merupakan pemimpin daerah. Maka Aceng harus bisa memberikan tauladan yang baik bagi warganya.

“Pernikahan siri memang banyak terjadi di Indonesia, tapi seharusnya pejabat publik jangan begini. Dia kan pemimpin, harus menjadi tauladan dan harus memberi contoh yang baik. Sementara dia melanggar,” ucapnya.

KH Amidhan juga mengatakan, bahwa sejak tahun 2006, MUI menetapkan agar pernikahan siri segera dihentikan. Bagi yang telah menikah siri, segera daftarkan ke Kantor Urusan Agama (KUA) setempat untuk dilegalkan. Penetapan tersebut disandingkan dengan UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan.

“Dari segi agama sah saja. Namun tahun 2006, setelah MUI menggelar sidang di Pesantren Gontor di Ponorogo, maka ditetapkan atau memutuskan bahwa nikah siri itu seyogyanya diakhiri, jangan lagi menjadi kebiasaan walaupun sah menurut agama,” ujar Amidhan.

Di sisi lain, sikap Aceng yang dinilai banyak masyarakat tidak terpuji itu, oleh sejumlah kalangan juga dinilai berpotensi menimbulkan konflik antarulama dan pondok pesantren. Pasalnya, dalam sejumlah pernyataannya di beberapa media massa, Aceng kerap melakukan pembenaran dengan menyinggung-nyinggung syariat Islam, ulama dan institusi pondok pesantren.

Fany Octora terbilang tumbuh dari keluarga besar Pondok Pesantren al Fadlilah, Desa Limbangan Timur Kecamatan Balubur Limbangan. Sosok Aceng sendiri dikenal berasal dari keluarga pesantren. Bahkan, orang yang diduga mempertemukan Aceng dengan Fany pun merupakan keluarga pesantren.

Pimpinan Ponpes Babussalam Desa Panembong Kecamatan Bayongbong, KH Sirojul Munir menuntut Aceng segera meminta maaf kepada ulama, serta memulihkan nama baik ulama di media massa, baik elektronik maupun cetak. Pasalnya, dalam dialog di salah satu TV swasta, Aceng Fikri sempat menyebut-nyebut nama ulama, dan pernikahannya dengan Fany tak lain karena masukan dari ulama.

KH Sirojul Munir mengaku sangat memahami bila ada masukan dari ulama agar Aceng lebih baik menikah daripada melakukan zinah. Tapi dia yakin masukan ulama tersebut bukan berarti Aceng menikah siri. Apalagi nikah siri yang hanya berumur empat hari, serta menceraikannya cukup melalui pesan singkat (SMS).

“Alangkah baiknya bupati sebutkan saja nama ulama yang memberikan masukan itu. Kalau tidak disebutkan berarti seluruh ulama di Garut terlibat di dalamnya,” kata KH Sirojul Munir yang akrab disapa Ceng Munir itu.

Meluruskan Niat Dalam Pernikahan

Sebagai seorang Muslim, dalam berbagai persoalan yang terjadi, tentu kita harus melihat hikmah yang dapat dipetik. Menghakimi dan menyudutkan Aceng seorang, tentu bukan hal bijak. Karena, jika dilihat secara lebih jujur dan luas, terdapat banyak pihak yang terlibat sehingga membuat peristiwa itu terjadi. Bisa jadi Allah Swt sedang menegur dan mengingatkan Bupati Aceng, keluarga Fany Oktora dan terlebih umat Islam pada umumnya.

Dalam soal pernikahan ini, marilah kita simak hadits berikut:

“Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan lelaki meskipun buruk agama dan akhlaqnya, maka tidak akan pernah pernikahan itu diberkahi-Nya. Siapa yang menikahi seorang wanita karena kedudukannya, Allah akan menambahkan kehinaan kepadanya. Siapa yang menikah karena kekayaan, Allah hanya akan memberi kemiskinan. Siapa yang menikahi wanita karena nasabnya, Allah akan menambah kerendahan padanya. Namun siapa yang menikah hanya karena ingin menjaga pandangan dan mempererat kasih sayang, Allah senantiasa memberi berkah padanya.” (H.R. Thabrani)

Tak dipungkiri, hal umum yang terjadi di masyarakat kita adalah bahwa banyak orang yang rela menikah dengan orang yang tak ia cintai hanya karena harta mereka, atau berdasarkan status sosial (harta dan kedudukan) yang akan memberikan fasilitas serta kemudahan dalam rumah tangganya kelak. Juga berdasarkan kecantikan/ketampanannya (padahal ini hanya bersifat sementara). Atau berdasarkan keturunannya, karena akan memberikan keturunan yang baik pula. Bagi sebagian orang, hal-hal tersebut mungkin lebih penting daripada cinta dan hanya itu yang dinilai dapat membuatnya bahagia. Karena itu, banyak orang yang menikah dengan seseorang hanya karena harta dan kedudukan, kecantikan/ketampanan dan keturunan.

Padahal, bukan itu yang diajarkan oleh Islam, “Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya, mungkin saja kecantikan itu membuatmu hina. Jangan kamu menikahi wanita karena harta/tahtanya, mungkin saja itu membuatmu melampaui batas. Akan tetapi, nikahilah wanita karena agamanya, sebab seorang budak wanita yang shaleh meskipun buruk wajahnya adalah lebih utama.” (H.R. Ibnu Majah)

Demikianlah Islam mengajarkan kepada setiap Muslim untuk memilih calon pendamping hidupnya dengan pertama-tama melihat keshalehan seseorang, bukan kecantikan/ketampanan rupa, atau harta dan kedudukan. Namun daya nalar manusia yang terbatas, tentu saja bisa salah dalam memilih. Maka dari itu, jangan lupa untuk minta petunjuk pada-Nya (istikharah) karena hanya Dialah yang Maha Mengetahui apa yang terbaik buat hambaNya.

Jika sejak awal (niat) pernikahan sudah baik dan telah sesuai dengan tuntunan Islam, tentu keberkahan yang Allah Swt janjikan akan terus menghujani rumah tangga yang dibangunnya. Banyak hadits yang menjelaskan tentang melimpahnya keberkahan yang diberikan oleh Allah kepada mereka yang telah menikah, antara lain:

“Sesungguhnya, apabila seorang suami memandang isterinya (dengan kasih dan sayang) dan istrinya juga memandang suaminya (dengan kasih dan sayang), maka Allah akan memandang keduanya dengan pandangan kasih dan sayang. Dan apabila seorang suami memegangi jemari isterinya (dengan kasih dan sayang) maka berjatuhanlah dosa-dosa dari segala jemari keduanya.” (H.R. Abu Sa’id)

“Shalat dua rakaat yang diamalkan orang yang sudah berkeluarga lebih baik, daripada tujuh puluh rakaat yang diamalkan oleh jejaka (atau perawan).” (H.R. Ibnu Ady dalam kitab Al Kamil dari Abu Hurairah)

“Rasulullah Saw bersabda, “Apabila seorang wanita ridha atas kehamilannya dari suaminya yang sah, sesungguhnya ia telah mendapat ganjaran pahala seperti ibadah puasa dan mengerjakan ibadah-ibadah lainnya dijalan Allah; dan jika ia merasa berat letih atau lesu, tidaklah dapat dibayangkan oleh penghuni langit dan bumi, betapa kesenangannya disediakan oleh Allah Swt di akhirat nanti. Apabila anaknya lahir, maka dari setiap teguk air susu yang dihisap oleh anak, si ibu mendapat kebajikan pahala. Apabila si ibu berjaga malam (kurang tidur karena anak) maka si ibu mendapat ganjaran pahala seperti memerdekakan tujuh puluh hamba sahaya karena Allah.” (H.R. Tabrani dan Ibn’ Assakir).

Mitsaqon Gholizho

Pernikahan merupakan ikatan di antara dua insan yang mempunyai banyak perbedaan, baik dari segi fisik, asuhan keluarga, pergaulan, cara berfikir (mental), pendidikan dan lain hal. Dalam pandangan Islam, pernikahan merupakan ikatan yang amat suci dimana dua insan yang berlainan jenis dapat hidup bersama dengan direstui agama, kerabat, dan masyarakat.

Aqad nikah dalam Islam berlangsung sangat sederhana, terdiri dari dua kalimat “ijab dan qabul.” Tapi dengan dua kalimat ini telah dapat menaikkan hubungan dua makhluk Allah dari bumi yang rendah ke langit yang tinggi. Dengan dua kalimat ini berubahlah kekotoran menjadi kesucian, maksiat menjadi ibadah, maupun dosa menjadi amal sholeh.

Aqad nikah sesungguhnya bukan hanya perjanjian antara dua insan. Aqad nikah juga merupakan perjanjian antara makhluk Allah dengan Al-Khaliq. Ketika dua tangan diulurkan (antara wali nikah dengan mempelai pria), untuk mengucapkan kalimat baik itu, di atasnya ada tangan Allah Swt, “Yadullahi fawqa aydihim.”

Begitu sakralnya aqad nikah, sehingga Allah menyebutnya “Mitsaqon gholizho” atau perjanjian Allah yang berat. Di dalam Al Qur’an, Allah Swt menggunakan kata “Mitsaqon gholizho” ini untuk perjanjian Allah dengan Bani Israil dan juga Perjanjian Allah dengan para Nabi. Allah Swt berfirman:

“Dan telah Kami angkat ke atas (kepala) mereka bukit Thursina untuk (menerima) perjanjian (yang telah Kami ambil dari) mereka. Dan kami perintahkan kepada mereka: “Masuklah pintu gerbang itu sambil bersujud”, dan Kami perintahkan (pula) kepada mereka: “Janganlah kamu melanggar peraturan mengenai hari Sabtu”, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang kokoh. (154)” (Q.S. An-Nisaa : 154)

“Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri) dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh. (7)” (Q.S. Al Ahzab : 7)

“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.” Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu.” (81)” (Q.S. Ali Imran : 81)

Karena itu, janganlah pasangan suami istri dengan begitu mudahnya mengucapkan kata cerai. Allah Swt menegur suami-suami yang melanggar perjanjian, berbuat dzalim dan merampas hak istrinya dengan firmannya:

“Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat. (21)” (Q.S. An-Nisaa : 21)

Apabila perjanjian itu dilaksanakan dengan tulus, kita akan dimuliakan oleh Allah Swt, dan ditempatkan dalam lingkungan kasih Allah sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits di atas.

Lalu apa yang harus dilakukan keduanya (suami-istri) dalam mengarungi bahtera rumah tangga? Bila suatu pernikahan dilandasi mencari keridhaan Allah Swt dan menjalankan sunnah Rasulullah Saw, bukan semata-mata karena kecantikan fisik atau memenuhi hasrat hawa nafsunya, maka Allah akan menjamin kehidupan rumah tangga keduanya yang harmonis, penuh cinta, dan kasih sayang, seperti firman Allah dalam Q.S. Ar-Rum : 21, sebagaimana yang sering kita dengar.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (21)

Allah menanamkan cinta dan kasih sayang apabila keduanya menjalankan hak dan tanggung jawab karena Allah dan mencari keridhaan Allah, itulah yang akan dicatat sebagai ibadah.

“Perjanjian Berat” Ijab qobul, juga sebagai pemindahan tanggung jawab dari orang tua kepada suami. Pengantin laki-laki telah menyatakan persetujuannya atau menjawab ijab qobul dari wali pengantin perempuan dengan menyebut ijab qobulnya. Itulah perjanjian yang amat berat yang Allah Swt ikut dalam pelaksanaannya. Hal ini sering dilupakan pasangan suami istri dan masyarakat. Tanggung jawab wali terhadap seorang wanita yang dipindahkan kepada seorang laki-laki yang menikahi wanita tersebut, antara lain:

1. Tanggung jawab memberi nafkah yang secukupnya, baik lahir maupun batin,

2. Tanggung jawab menyediakan tempat tinggal yang selayaknya,

3. Mendidik akhlak dan agama dengan baik,

4. Mengayomi, melindungi kehormatan dan keselamatan istrinya.

Setelah ijab qobul, suami menjadi pemimpin dalam rumah tangga yang akan menentukan corak masa depan kehidupan dalam rumah tangganya (suami sebagai imam).

Demikianlah sesungguhnya makna pernikahan dalam Islam. Semoga dapat menyadarkan kita semua akan makna penting pernikahan, sehingga tidak mudah melecehkan syariat pernikahan yang agung, dan tidak dengan mudahnya mengatakan kata cerai. Amin.. [fms/dariberbagaisumber]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s