Sekularisasi Pancasila = Pengkhianatan!

Nampaknya kita masih harus mendengar kabar buruk atas kondisi yang terjadi pada bangsa ini. Di tengah kondisi bangsa yang sedang carut-marut, sekelompok orang justru membuatnya menjadi semakin ruwet dengan mengimpor pemikiran dan budaya yang merusak ke negeri ini.

Atas nama HAM, keberagaman, kebebasan berpendapat, dan kebebasan berekspresi, mereka justru mengadakan acara yang tak ada kaitannya dengan upaya penyelesaian permasalahan bangsa. Bukannya membuat program-program kreatif yang dapat mengeluarkan bangsa dari jurang kemiskinan dan kebodohan, mereka justru membuat acara mubazir dengan mengundang aktifis feminis penyuka sesama jenisalias lesbi, Irsyad Manji, dan artis pemuja setan yang juga dikutuk umat Nasrani di beberapa negara Asia, Lady Gaga.

Beberapa ormas Islam pun berupaya untuk menggagalkan kedatangan mereka, menggagalkan acara yang mubazir itu, karena umat Islam juga memiliki hak untuk berekspresi dan menyampaikan pendapatnya. Rencana diskusi yang dihadiri Irsyad Manji pun berhasil digagalkan oleh FPI.

Khusus untuk persoalan Lady Gaga, MUI telah mengharamkannya. Bahkan, MUI juga mengeluarkan rekomendasi pembatalan acara karena dinilai bertentangan dengan prinsip kehidupan berbangsa dan bernegara, termasuk Pancasila, UUD 1945, dan norma agama. Terkait dengan norma agama, upaya penyelamatan bangsa yang dilakukan tokoh-tokoh agama ternyata tak terlalu dihiraukan. Cibiran dan caci-maki justru tertuju kepada mereka. Sesuatu yang sangat memprihatinkan. Ada di antara masyarakat yang mengatakan, “Mengapa Lady Gaga harus dilarang, sementara dangdut koplo yang vulgar dibiarkan?” Bukankah justru seharusnya kita berpikir, “Di dalam negeri saja sudah ada dangdut koplo yang merusak, mengapa Lady Gaga harus diundang, semakin merusak saja!”

Masih terkait norma agama, tentunya tidak hanya Islam saja, tetapi kelompok-kelompok lain pun sepatutnya tersinggung. Seperti Gubernur Bali, Made Mangku Pastika, misalnya. Dia rupanya juga sependapat dengan tokoh-tokoh agama yang menolak konser Lady Gaga terkait atribut yang dikenakannya. “Jangan sampai menyinggung atau merusak norma-norma di Bali dan di Indonesia. Contohnya penampilan, harus memenuhi syarat yang kita tentukan,” tegas Pastika di Denpasar pada salah satu media (22/5) terkait wacana pemindahan konser Lady Gaga ke Bali.

Bhineka Tunggal Ika sepertinya dipahami oleh kaum liberal untuk menerima saja semua perbedaan, tanpa lagi merujuk pada sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa; sehingga perbedaan, entah benar atau salah, sesuai atau tidak dengan norma agama, haruslah diterima. Padahal, toleransi terhadap perbedaan dan kebebasan seharusnya tetap merujuk pada sila pertama yang menghormati nilai-nilai luhur agama sebagai bagian dari kontrak sosial bersama berdirinya NKRI. Jika upaya sekularisasi terus dilakukan, yang berarti mencabut nilai-nilai agama dari Pancasila serta kehidupan berbangsa dan bernegara, ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap kesepakatan berdirinya NKRI! [ ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s