Bukankah Kita Tak Abadi?

sehabis angin dan hujan tumpah ruah penuh berkah / hijau daun dan rerumputan basah dalam kasih-Nya..

kita berjalan di bawah hijau daun / tertunduk dalam ketermenungan / tanpa keinginan..

basah, rebah, sakit, lalu bangkit..!

kita melangkah di atas rerumputan / menegakkan pandang menatap jauh ke depan..

di antara ketermenungan tanpa keinganan / resah kita saling bertanya / “apakah engkau mencintaiku?” / jawab jiwa kita / “ya tentu saja, dirimu bagian dalam hidupku.”

resah kita kembali saling bertanya / “apakah engkau juga mencintai Allah?” / “bagaimana mungkin dua cinta menyatu dalam hati seorang mukmin Cinta kepada Allah dan juga mencintaiku?”

angin bertiup pelan / rintik air terasa lembut / lalu jiwa kita sama menjawab / “karena cintaku kepada Allah maka aku mencintai makhlukNya, memperlakukan dengan hormat dan penuh kasih sayang pada sesama. aku mencintaimu karena cintaku kepada Allah.”

ah, bukankah pecinta penuh harapan dan impian..?

di hamparan tanah yang basah / di bawah dedaunan hijau / di atas rerumputan / kini tumbuh Cinta yang penuh harapan dan impian / tuk selalu bersama denganmu Cintaku / berharap hingga di alam keabadian..

bukankah kita tak abadi, namun berharap akan keabadian..?

(Dinding Safir)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s