Keserakahan dan Kemiskinan

“Keserakahan dalam beragam bentuknya, pada dasarnya membawa kepada kemiskinan. Kemiskinan membawa kepada kebodohan. Demikian juga sebaliknya, kebodohan mengekalkan kemiskinan. Karena itu kebijakan yang dilandasi keserakahan pada dasarnya mengekalkan kemiskinan dan kebodohan.”

***

“Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang ada di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin,” (Q.S. Luqman : 20). Melalui ayat ini sesungguhnya Allah Swt telah begitu jelas menerangkan kepada hambaNya, bahwa seluruh sumber daya alam yang ada di bumi ini benar-benar telah Allah cukupkan untuk kepentingan manusia. Tak terkecuali sumber daya alam yang telah Allah anugerahkan di bumi nusantara, Indonesia.

Indonesia memiliki kekayaan alam yang berlimpah. Mulai dari kekayaan alam di perut bumi hingga di permukaan bumi. Dengan daratan yang subur dan perairan yang luas, seluas 93 ribu km2 dan panjang pantai sekitar 81 ribu km2 atau hampir 25% panjang pantai di dunia, Indonesia menyimpan potensi kekayaan alam yang luar biasa banyaknya.

Dalam satu rilis berita, tercatat bahwa Indonesia adalah penghasil gas alam cair (LNG) terbesar di dunia (20% dari suplai seluruh dunia), produsen timah terbesar kedua, menyimpan potensi minyak bumi dan batu bara yang cukup besar.  Indonesia juga menempati peringkat pertama dalam produk pertanian, yaitu cengkeh (cloves) dan pala (nutmeg), serta peringkat kedua dalam karet alam (Natural Rubber) dan minyak sawit mentah (Crude Palm Oil). Di samping itu, Indonesia juga sempat tercatat sebagai pengekspor terbesar kayu lapis (plywood), yaitu sekitar 80% di pasar dunia. Dan masih banyak lagi kekayaan alam yang dimiliki Indonesia yang sudah tersohor di belahan dunia.

Melihat kekayaan alam yang luar biasa banyaknya di negeri ini, seharusnya masyarakat yang terbayangkan berdiri di atasnya adalah orang-orang yang makmur, gemah ripah loh jinawi. Akan tetapi, apa yang kita saksikan saat ini? Apakah Indonesia sudah cukup cerdas untuk memberi nilai tambah kekayaan alamnya?

Bertolak belakang dengan bayangan di atas, kemiskinan justru menjadi sorotan di negeri ini. Bahkan, data kemiskinan di Indonesia digadang-gadang ke dunia internasional dengan standarisasi dan definisi khusus tentang kemiskinan yang dibuat PBB. Kemiskinan kemudian menjadi wacana intelektual, dibincangkan mulai dari masjid, hotel berbintang, pusat-pusat pemerintahan dan perkantoran hingga istana negara. Di samping itu, kemiskinan telah menjadi komoditas pencetak uang. Para pembuat program televisi berhasil ‘menjual’ kemiskinan lewat program-program semacam Aku Menjadi, Bedah Rumah, dan masih banyak program sejenis lainnya.

Para politisi pun tak ketinggalan. Mereka menjadikan tema kemiskinan sebagai ‘komoditas utama’ pendulang suara ketika masa-masa kampanye. Mereka beramai-ramai menyatakan diri sebagai pembela “wong cilik”, pro-rakyat atau semacamnya.

Sementara itu, orang miskin sendiri tak begitu sadar kalau mereka diperbincangkan terus menerus. Seakan acuh tak acuh dengan eksploitasi terhadap dirinya. Yang ia tahu, orang miskin tetap saja miskin. Meskipun para politisi membuat program seefektif dan seefisien mungkin, atau program-program televisi tersebut memiliki rating yang sangat tinggi, namun nasib sebagian dari mereka tak juga berubah bahkan makin terperosok dalam jurang kemiskinan.

Berawal dari Keserakahan

Sebuah kondisi masyarakat tak dengan sendirinya muncul, ada sesuatu sebab yang kemudian menjadikan kondisi itu terjadi dalam kehidupan. Terkait dengan hal di atas, Nabi Muhammad Saw berkata, “Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, niscaya ingin memiliki lembah emas kedua; seandainya ia memiliki lembah emas kedua, ia ingin memiliki lembah emas yang ketiga. Baru puas nafsu anak Adam kalau sudah masuk tanah. Dan Allah akan menerima taubat orang yang mau kembali kepada-Nya.” (H.R. Bukhori Muslim)

Pernyataan di atas menunjukkan bahwa keserakahan itu tidak ada habisnya. Kelaparan dan kemiskinan terjadi karena adanya orang-orang yang serakah menumpuk harta dan tidak mau membagi hartanya kepada orang yang miskin.

Sebagai contoh, 69,4 juta hektar tanah di Indonesia dikuasai oleh 652 pengusaha saja. Sementara jutaan petani tanahnya kurang dari setengah hektar, bahkan ada yang tak punya tanah hingga hidup miskin. Padahal jika tanah itu dibagi dengan adil, niscaya kemiskinan yang melanda petani yang tak punya tanah sehingga hanya bisa jadi buruh tani bisa dikurangi. Belum lagi hasil pertanian yang akan dihasilkan oleh para petani, bisa jadi dapat memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri, tanpa perlu impor kebutuhan bahan pangan pokok.

Contoh lainnya Proyek Freeport di Papua, juga menjadi contoh betapa rakusnya sekelompok orang mengeruk habis-habisan kekayaan alam tanpa membawa efek kemajuan bagi masyarakat di sekitarnya. Padahal kekayaan tambangnya terus dikuras habis-habisan oleh keserakahan perusahaan multinasional. Namun, rakyat lebih banyak diam, karena bingung tak tau harus berbuat apa. Meskipun mereka memiliki wakil di DPR, suara mereka tak pernah terwakili. Rakyat  sering tak mampu menyampaikan keresahannya kepada para pejabat. Mereka lebih  banyak bersabar dan sering menyaksikan kemewahan hidup orang asing yang mengambil kekayaan di wilayahnya. Beberapa di antara mereka ada yang sudah habis kesabaran, sehingga memicu gejolak sosial.

Berdasarkan data dari Walhi, saat ini penguasaan minyak bumi Indonesia hampir 90 % dikuasai asing. Dalam sumber data lainnya, sekitar 70 persen energi kita sekarang dikuasai asing. Realita ini sangat kontras dengan isi pasal 33 UUD 1945, yang berbunyi, “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat.” Pasal itu seolah telah diganti, bahwa kekayaan alam yang ada di negeri Indonesia ini dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran pemilik modal, investor asing,  atau tengkulak yang sudah keterlaluan mengkhianati rakyat.

Inilah ironi bangsa kita, mereka menderita kelaparan di lumbung padi. Kita adalah negara kaya raya, tetapi menjadi miskin karena kepicikan dan kebodohan serta keserakahan bangsa kita sendiri (baca: pejabat kita sendiri). Mereka seenaknya saja menyerahkan pengelolaan kekayaan alam negeri ini ke tangan asing.

Lingkaran Kemiskinan dan Keserakahan

Keserakahan yang dibungkus rapi dalam sistem ekonomi kapitalis dengan istilah penumpukan modal, mengantarkan umat Islam di negara kita kepada kondisi yang melahirkan lingkaran kemiskinan (vicious circle of poverty) bersama-sama dengan lingkaran keberlebihan atau keserakahan (vicious circle of affluence).

Lingkaran kemiskinan dapat tumbuh karena kondisi sebagai berikut, “Oleh karena kemiskinan maka produktifitas atau pendapatan menjadi rendah, dan disebabkan oleh kemiskinan membuat daya tawar maupun daya kerja lemah. Oleh karena produktifitas atau pendapatan rendah, maka kemiskinan timbul. Demikianlah seterusnya, lingkaran ini berjalan hingga kemiskinan bertambah parah.”

Sedangkan lingkaran keberlebihan atau keserakahan dapat terjadi karena, “Harta-harta produktif menimbulkan kapasitas untuk meraih pendapatan yang lebih tinggi. Dengan pendapatan yang lebih tinggi ini selain konsumsi lebih tinggi dan lebih baik kualitasnya juga menimbulkan surplus untuk memperkokoh atau memperluas pemilikan atau penguasaan harta-harta produktif.”

Konsumsi yang tinggi dan berkualitas, termasuk konsumsi kesehatan dan pendidikan, menimbulkan pemupukan modal manusiawi (human capital) yang bermutu. Pemupukan modal manusiawi yang bermutu dan pemilikan harta produktif yang lebih kokoh dan luas menimbulkan kapasitas untuk menumpuk surplus, demikian dan seterusnya. Yang kaya semakin kaya dan yang miskin bertambah miskin, dalam kompetisi yang amat tidak sehat.

Perilaku keserakahan inilah yang mengantarkan Bangsa Indonesia kepada krisis yang berkepanjangan. Ibarat penyakit akut yang menyerang tubuh yang ringkih.

Kemiskinan Subyektif

Ada satu istilah lain untuk menyebut keserakahan, yaitu kemiskinan subyektif. Dalam kemiskinan subyektif, seseorang “miskin” karena ia merasa miskin. Tak peduli berapa pun tingginya tumpukan harta atau kenyangnya perut, bila seseorang telah dirasuki sifat keserakahan maka ia akan merasa dirinya miskin. Ini menjadi problem kemiskinan yang paling berbahaya. Itulah sebabnya, kecaman lazim muncul kepada mereka. Sebaliknya, agama berpihak kuat kepada golongan yang lapar dan terpinggirkan (kemiskinan objektif), karena sesungguhnya kemiskinan objektif dapat timbul, meluas dan menjadi wabah kala muncul kaum dengan kemiskinan subyektif.

Kemiskinan, jenis apa pun, memiliki potensi untuk membawa pada kekufuran. Karena kemiskinan, ibadah seringkali tidak bisa dilakukan dengan tenang, problem kebodohan tidak bisa dituntaskan, persoalan kesehatan tidak terurus, pendidikan pun terabaikan. Kenyataan ini sangat cukup menjadi alasan bagi wajibnya memerangi kemiskinan.

Menjadi menarik bagaimana sebuah ilustrasi dari sabda Rasulullah yang menggambarkan kerakusan manusia. “Adalah dua ekor serigala yang lapar, yang dilepaskan ke sekawanan domba, tidak lebih berbahaya dari kerakusan manusia kepada harta kekayaan dan kesenangan berlebihan dan bagaimana ia merusak agamanya.”

Betapa sangat detail konotasi Rasulullah dari sebuah keserakahan manusia. Sebuah gambaran kerakusan yang divisualisasikan dalam bentuk serigala lapar yang dilepaskan ke sekawanan domba, bukan satu akan tetapi dua serigala lapar. Bahkan Rasulullah mengatakan ‘tidak lebih berbahaya’ yang menggambarkan bahwa kerakusan manusia bisa lebih dahsyat dari dua ekor serigala lapar tersebut. Sebab sejatinya serigala-serigala lapar itu hanya akan sebatas kapasitas ruang lambungnya saja.

Seperti sketsa serigala-serigala itulah, bahkan lebih, mereka yang tak pernah kenyang. Kelaparannya tak lagi soal perut yang kosong, tetapi merambah dan merampok hak fakir miskin dan dhuafa. Mereka yang rakus, menjadi monster yang tak pernah puas dengan keadaan dan takdir yang ditetapkan. Persis gambaran Rasulullah bahwa apabila manusia memiliki dua lembah kekayaan, maka ia akan mencari yang ketiga. Dan tidak ada yang membuat dirinya kenyang kecuali tanah.

Perampokan, korupsi, pembunuhan merupakan anak-anak keserakahan. Tak peduli kerabat, teman dekat, saudara bahkan orang tua yang melahirkan dan membesarkannya bisa menjadi korban dari keserakahan. Kerabat dekat yang telah akrab dan menjalankan bisnis bersama bisa saling membunuh hanya karena masalah pembagian laba bisnis yang tidak merata. Seorang pejabat yang telah memiliki gaji yang tinggi pun masih sempat-sempatnya mengambil harta yang bukan haknya. Keserakahan seakan telah menjadi sebuah kewajiban, tak perduli dengan cara apapun dan berakibat apapun.

Bahkan, sekelompok elit yang seharusnya membuat undang-undang demi kepentingan dan kemajuan rakyatnya, justru membuat undang-undang yang berpihak kepada pemilik modal. Tak jarang, mereka membuat undang-undang dan proyek pembangunan hanya untuk meraup keuntungan belaka dari proyek-proyek yang akan dilaksanakan oleh kolega-koleganya.

Tuntunan Islam

 Manusia dalam Al Qur’an adalah makhluk pilihan Allah yang paling mulia. Untuk membahagiakan manusia, Allah telah menundukkan langit dan bumi di bawah kekuasaan manusia. Lebih dari itu manusia adalah khalifah (wakil) Allah di muka bumi ini. Sebagai konsekuensi logis dari prinsip pemuliaan manusia, Islam menolak keras kepada kemiskinan, karena tidak ada kehinaan dan kesengsaraan yang lebih tinggi dari kemiskinan, yang membuat kaum pria dan wanita terhina dan sengsara karenanya.

Setiap orang dalam Islam diperkenankan untuk menjadi seorang yang kaya raya. Namun demikian, agar kehidupan dapat berjalan seimbang dan harmonis, maka banyak ayat dalam Al Qur’an yang memerintahkan manusia agar tidak serakah dengan mendistribusikan kekayaannya sehingga tidak menumpuk di tangan sekelompok para orang kaya saja. Namun juga disedekahkan ke orang-orang miskin. Allah Swt berfirman, “… supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu…” (Q.S. Al Hasyr : 7).

Di samping itu, setiap umat Islam juga dilarang hidup boros dan bermewah-mewahan sehingga harta yang bisa disedekahkan tinggal sedikit, “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya,” (Q.S. Al Israa’ : 26-27).

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu,” (Q.S. At Takaatsur : 1).

Tak pantas kita hidup mewah dan mempromosikan kemewahan sementara banyak orang miskin di sekeliling kita. Banyak anak-anak dan balita-balita miskin yang berkeliaran di jalan untuk mencari makan. Sudah seharusnya dengan uang yang ada kita membantu mereka ke luar dari kemiskinan sehingga tidak berkeliaran di jalan mencari uang.

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin,” (Q.S. Al Maa’uun : 1-3).

Selama kita hidup mewah dan tidak mau menolong atau memberi makan anak yatim maka kita tak lain hanyalah pendusta agama. Segala ibadah sholat, puasa, dan haji yang kita lakukan tak lebih dari sekedar dusta.

Di akhirat nanti bukan hanya ditanya apakah harta kita dapat dari jalan yang halal, akan tetapi juga akan ditanya untuk apa harta kita habiskan. Jika kita tidak membayar zakat dan enggan memberi sedekah, maka kita dianggap kotor.

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka,” (Q.S. At Taubah : 103).

Meski kita tetap harus berikhtiar, namun biasakan hidup qana’ah (merasa cukup) dan bersyukur niscaya anda akan bahagia. Orang yang serakah dan tidak pernah merasa puas, selalu merasa ada yang kurang dan tidak bahagia. Jadi hentikan keserakahan dan gaya hidup mewah. [fms/dbs]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s