Kontroversi Halal-Haram Vaksin Imunisasi

Program Imunisasi untuk Balita

Sejak 18 Oktober sampai 18 November 2011, pemerintah mencanangkan program imunisasi untuk balita. Program imunisasi di Indonesia, khususnya lima imunisasi dasar seperti polio, campak, hepatitis B, tetanus dan BCG diharapkan mencapai 100 % pada 2014.

Menteri Kesehatan (Menkes) Endang Rahayu Sedyaningsih mengatakan, meskipun Indonesia sejak tahun 1990 telah mencapai status Universal Child Immunization (UCI) , yakni tahap di mana cakupan imunisasi di suatu tingkat administrasi telah mencapai 80 % atau lebih,  masih ada tantangan untuk mewujudkan 100% UCI desa/kelurahan pada 2014.

Salah satu tantangannya, kata Menkes, adalah partisipasi masyarakat masih rendah. Diduga  dikarenakan masih adanya anggapan yang salah tentang efek samping imunisasi. Hal itu diungkapkan Menkes pada pertemuan koordinasi dalam rangka persiapan tahun 2012 sebagai tahun intensifikasi imunisasi rutin dan kampanye imunisasi tambahan campak dan polio 2011 di 17 provinsi, di Jakarta.

Menkes menjelaskan, kasus polio sudah tidak ditemukan lagi di Indonesia sepanjang lima tahun terakhir ini. Tetapi upaya polio masih harus dilanjutkan untuk mewujudkan Indonesia bebas polio. Untuk kasus tetanus maternal dan neonatal telah dinyatakan mencapai tahap eliminasi oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) di sebagian wilayah Indonesia.

Program imunisasi berhasil menekan kesakitan dan kematian tujuh penyakit besar di Indonesia, yakni tuberkulosis, polio, campak, tetanus, pertusis, dan hepatitis B. Pembasmian penyakit ini bukan hanya menghilangkan penderitaan, kesakitan dan kematian pada manusia, tetapi juga kerugian moril dan materil.

Indonesia bersama seluruh negara anggota WHO di kawasan Asia Tenggara telah menyepakati tahun 2012 sebagai tahun Intensifikasi Imunisasi Rutin atau Intensification of Routine Immunization (IRI). Hal ini sejalan dengan Gerakan Akselarasi Imunisasi Nasional atau GAIN UCI, yang bertujuan meningkatkan cakupan dan pemerataan pelayanan imunisasi sampai ke seluruh desa di Indonesia.

Penolakan Masyarakat

Tantangan yang disampaikan Menteri Kesehatan soal partisipasi masyarakat yang rendah memang jelas terlihat di beberapa daerah. Misalnya saja di daerah Cilacap, Dinas Kesehatan Kabupaten Cilacap terpaksa harus menggandeng Kantor Kementerian Agama dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) setempat untuk mensukseskan program imunisasi. Hal ini karena di beberapa wilayah Kabupaten Cilacap, ternyata ada orang tua yang enggan anaknya di-imunisasi. Penolakan ini, antara lain datang dari beberapa warga di Kecamatan Wanarja dan juga Kecamatan Binangun.

“Memang ada beberapa warga di Kecamatan Wanareja yang menolak anaknya diimunisasi. Alasannya, saya belum tahu  pasti,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cilacap, Bambang Setiyono, Jumat (21/10).

Namun berdasarkan informasi yang dia peroleh dari beberapa petugasnya, warga yang menolak anaknya diimunisasi, beralasan bahwa bahan yang digunakan untuk membuat vaksin tersebut tergolong haram. Berdasarkan pertimbangan itu, dalam program imunisasi campak dan polio yang sedang berlangsung, pihaknya menggandeng Kemenag dan MUI.

“Mereka kami mintai tolong agar mengadakan pendekatan kepada warga dari sisi agama, bahwa imunisasi tidak haram. Maksud imunisasi juga baik, supaya anak-anak khususnya balita lebih kebal terhadap berbagai macam penyakit sesuai dengan jenis imunisasi,” jelasnya.

Halal-Haram Vaksin

Ramainya polemik halal-haram vaksin sebenarnya telah mencuat sejak lama. Misalnya pada penyelenggaraan haji tahun lalu, vaksin haji (vaksin meningitis) yang wajib digunakan jamaah haji sebelum berangkat ke tanah suci, oleh beberapa pihak dinilai tergolong sebagai vaksin yang haram karena di dalam pembuatannya menggunakan media yang juga tergolong haram.

Sementara untuk vaksin Imunisasi, pada 23 Juli 2011 yang lalu, sekelompok orang yang menamakan diri Sharia4Indonesia mengadakan aksi dan orasi Stop Vaksin di Bunderan HI, Jakarta. Mereka gencar mengkampanyekan Stop Vaksin dengan menyebarkan press release ke berbagai media Islam.

Di dalam press release-nya, Sharia4Indonesia mengatakan bahwa ada konspirasi di dalam pembuatan Fatwa MUI yang menyatakan bahwa vaksin imunisasi itu halal dan baik. “Sulit menampik adanya konspirasi jahat yang mensosialisasikan bahwa vaksin imunisasi itu halal dan baik. PT Biofarma, sebagai produsen vaksin milik negara, sekaligus pemasok tunggal vaksin program imunisasi nasional jelas berkepentingan agar masyarakat terus menyangka bahwa vaksin imunisasi itu halal dan baik,” tulis Sharia4Indonesia dalam releasenya.

Lebih lanjut, mereka menjelaskan bahwa PT Biofarma lebih berorientasi kepada pemenuhan kebutuhan pasar (keuntungan materi) dengan penjualan vaksin sebesar-besarnya, bukan berfikir apakah produk vaksinnya halal dan baik. Hal ini dapat dilihat dari situs resmi www.biofarma.co.id, PT Biofarma menyatakan diri ingin menjadi produsen vaksin global, memproduksi dan memasarkan vaksin berkualitas internasional untuk kebutuhan pemerintah, swasta nasional, dan internasional. Selain itu, PT Biofarma juga ingin mengembangkan inovasi vaksin yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

Lebih jauh lagi, Sharia4Indonesia mengutip pendapat Flexner Brother, menyatakan bahwa sejarah vaksin modern menemukan bahwa yang mendanai vaksinasi pada manusia adalah keluarga Rockefeller, salah satu keluarga Yahudi dan anggota Zionisme Internasional. Bukan kebetulan, kalau ternyata melalui keluarga Rockefeller didirikan lembaga kesehatan dunia, WHO dan lainnya.

Sharia4Indonesia semakin meyakini keharaman vaksin setelah Detikhealth.com  menurunkan berita, “WHO Batasi Penggunaan Babi untuk Pembuatan Vaksin”. Sumber informasi ini diperoleh dari peneliti senior PT Biofarma, Dr Neni Nurainy, Apt, dalam jumpa pers Forum Riset Vaksin Nasional 2011 di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Selasa (26/7/2011).

“WHO mulai membatasi, karena ada risiko transmisi dan itu sangat berbahaya. Misalnya penggunaan serum sapi bisa menularkan madcow (sapi gila).”

Dalam berita tersebut, PT Biofarma mengklaim sudah mulai menggunakan media non-animal origin sebagai unsur binatang. Salah satunya pada vaksin polio injeksi atau Injected Polio Vaccine (IPV), yang proses pembuatannya telah dipresentasikan di Majelis Ulama Indonesia.

Atas berita tersebut, Sharia4Indonesia mengemukakan, “PT Biofarma sebagai produsen terbesar vaksin untuk nasional dan internasional dan juga merupakan perusahaan yang berskala internasional sudah pasti pembuatan vaksinnya sesuai standard WHO. Jika WHO secara terang benderang menyatakan akan mengurangi penggunaan babi dalam pembuatan vaksin, maka selama ini WHO masih menggunakan babi dalam pembuatan vaksin. Tentu, begitu pula dengan PT Biofarma.”

Sharia4Indonesia juga mengungkapkan penjelasan Profesor Jurnalis Uddin, seorang anggota MPKS (Majelis Pertimbangan Kesehatan dan Syarak). Dalam sebuah acara dengan PT Biofarma dan Aventis, Profesor Jurnalis Uddin memberikan penjelasan tentang proses pembuatan vaksin polio yang mengungkapkan adanya tripsin babi dalam pembuatan vaksin polio, begitu juga dengan vaksin Meningitis yang diproduksi oleh Glaxo Smith Kline untuk para jama’ah haji. Selain tripsin babi, produksi vaksin juga kerap menggunakan media biakan virus (sel kultur) yang berasal dari jaringan ginjal kera (sel vero), sel dari ginjal anjing, dan dari retina mata manusia.

Dori Ugiyadi, Kepala Divisi Produksi Vaksin Virus Biofarma membenarkan bahwa ketiga sel kultur tersebut dipakai untuk pengembangan vaksin influenza. “Di Biofarma, kita menggunakan sel ginjal monyet untuk produksi vaksin polio. Kemudian sel embrio ayam untuk produksi vaksin campak,” ujarnya.

Simpang Siur Fatwa Halal

Masih dalam press release yang sama, Sharia4Indonesia mengungkapkan bahwa sebagai produsen vaksin terbesar di Indonesia, PT Biofarma sangat berkepentingan dengan MUI, terutama fatwa halal yang akhirnya dikeluarkan oleh Ketua MUI, KH Maruf Amien, bahwa vaksin imunisasi halal dan baik, pada acara “Vaksin Imunisasi Halal dan Baik” di kantor MUI, Sabtu 23 Juli 2011.

Namun demikian, menurut Tim Sharia4Indonesia-Divisi Pelayanan Umat Bidang Kesehatan yang meminta konfirmasi kepada Prof.Dr.Tuntedja, dari LP POM MUI, tentang sertifikat halal dari semua vaksin yang telah diproduksi oleh PT Biofarma. Ternyata diperoleh jawaban bahwa PT Biofarma belum mendapatkan sertifikat halal, bahkan belum mendaftarkan diri untuk diaudit.

Atas jawaban yang diperolehnya, Sharia4Indonesia mempertanyakan fatwa MUI melalui KH Maruf Amin yang dengan beraninya telah menyatakan bahwa vaksin imunisasi halal dan baik. Mereka memandang bahwa ini merupakan sebuah kebohongan publik yang sangat tidak pantas dilakukan oleh MUI. Hal ini karena meskipun KH Maruf Amin adalah Ketua MUI, namun beliau tidak berhak dan tidak berkompeten untuk menyatakan sebuah produk halal atau haram sebelum produk tersebut diaudit oleh lembaga yang bertanggung jawab untuk memberikan Sertifikat Halal, yaitu LP POM MUI.

Sharia4Indonesia menjelaskan bahwa meskipun KH Maruf Amin seorang ulama, harus ada ilmu khusus untuk menyatakan sebuah produk itu halal atau haram, terutama mengetahui bahan-bahan pembuatan vaksin, seperti ilmu mikrobiologi, biokimia, uji DNA, dan ilmu-ilmu pendukung lainnya yang selama ini telah dikuasai oleh auditor LP POM MUI. Berbeda dengan KH Maruf Amin, Dra. Hj. Welya Safitri, M.Si., Wakil Sekjen MUI mengatakan bahwa MUI tidak pernah menghalalkan vaksin yang diproduksi oleh PT Biofarma.

Direktur LP POM MUI, Nadzatuzzaman, dalam sebuah kesempatan pernah mengatakan bahwa kebanyakan vaksin yang ada saat ini dibuat melalui porcine (enzim protease dari babi) yang ada pada babi. “Yang mengembangkan adalah negara barat yang tidak mempermasalahkkan halal-haram, sebenarnya enzim tersebut juga ada pada sapi. Tapi ilmuan tetap memakai babi, karena 96 % DNA babi mirip dengan DNA manusia,” ujarnya.

Agar tidak membingungkan umat, berbagai pihak yang kompeten dan otoritatif perlu segera memberikan penjelasan terkait hal ini secara jujur dan terbuka. Dengan demikian, umat Islam di Indonesia tidak diganjal keraguan dan perasaan bimbang apabila memilih untuk turut serta menyukseskan program imunisasi yang dicanangkan pemerintah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s