Idul Qurban dan Semangat Anti-Korupsi

Jika dikumulatifkan, ritual ibadah haji dan qurban meminta pengeluaran potensi umat Islam dalam jumlah yang relatif sangat besar. Sayangnya, potensi yang dikeluarkan masih belum berbanding lurus dengan manfaat yang didapat, baik bagi pribadi muslim secara perorangan maupun secara bersama-sama. Salah satu indikasinya, korupsi masih merajalela di tengah kehidupan bangsa Indonesia dengan jumlah umat Islam terbesar di dunia.

***

Potensi umat Islam di Indonesia yang sangat besar dalam ibadah haji dan qurban, sepertinya masih terbuang sia-sia, belum menjadi enerji yang dahsyat dalam menggerakkan kehidupan umat Islam menuju kejayaan seperti pada masa lampau.

Secara sederhana, salah satu hal yang mengindikasikan ke arah itu adalah adanya keprihatinan dari sebagian besar umat Islam melihat kenyataan bahwa dengan telah melaksanakan ibadah haji dan berqurban, ternyata masih belum mampu merubah perilaku dan gaya hidup sebagian besar umat Islam, baik secara perorangan maupun secara berjamaah atau bermasyarakat. Sedang umat Islam yang berhaji dan berqurban setiap tahunnya menunjukkan adanya peningkatan.

Dalam pelaksanaan ibadah haji saja jumlah jamaah haji Indonesia seringkali melebihi kuota yang seharusnya. Ini terjadi hampir pada setiap pelaksanaan haji. Mereka yang tidak masuk kuota memilih pergi dengan biro-biro perjalanan haji dan umroh yang mendapatkan akses visa langsung dari beberapa orang berpengaruh di Arab Saudi. Sedangkan dalam ibadah qurban, lembaga-lembaga zakat yang kian tumbuh dan berkembang di tanah air berlomba-lomba untuk membantu umat dalam menyalurkan qurbannya. Betapa besar sesungguhnya potensi umat Islam di Indonesia!

Sayangnya, kenyataan yang ada masih amat berlawanan, di satu sisi umat Islam yakin ibadah haji dan qurban yang dilakukan bermanfaat besar bagi kehidupan manusia, tetapi di sisi lain keyakinan itu tidak terlihat dalam kenyataan hidup sehari-hari. Terjadi semacam benturan antara idealitas ibadah haji dan qurban yang sarat nilai kebajikan dengan realitas kehidupan umat yang masih terpuruk dalam kemerosotan pada berbagai bidang kehidupan.

Hal ini dapat dilihat dari kondisi kehidupan sosial umat Islam di Indonesia yang masih terus dihadapkan pada berbagai tantangan; korupsi yang merajalela, ketimpangan dan kesenjangan sosial dan ekonomi yang semakin nyata, pergaulan bebas dan perkosaan yang marak dalam berita, serta kekerasan yang semakin mudah dilakukan siapa saja, baik oleh anak-anak, remaja, pelajar dan mahasiswa.

Khusus untuk kasus korupsi, sebagaimana dilansir kantor berita Antara (11/10), Direktur Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat Komisi Pemberantasan Korupsi, Dedie A. Rachim, mengatakan sampai saat ini ada 55 ribu laporan dugaan korupsi dari masyarakat ke KPK yang belum semuanya ditindaklanjuti untuk ditangani.

Sementara itu, berdasarkan pada Transparency International Indonesia (TII), Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia tahun 2010 lalu masih stagnan di skor 2,8 dan berada di posisi 110 dari 178 jumlah negara, dan tidak berubah dibandingkan pada tahun 2009.

Banyak pihak menyatakan bahwa praktik kejahatan korupsi di negeri ini sudah di luar ambang batas kata toleransi. Kuantitas maupun kualitasnya semakin menggila. Semasa Orde Baru dan Orde Lama, kejahatan korupsi sekadar menjadi isu tentatif, kini kenyataannya korupsi telah merebak di mana-mana, dari pusat hingga daerah, dari pejabat elit hingga kelas bawah. Tidak dapat dipungkiri, korupsi seakan menjadi budaya yang dilakukan hampir semua orang di negeri mayoritas muslim ini.

Ada satu catatan yang menarik, Bung Hatta ketika didaulat oleh Pemerintah Orde Baru memberantas korupsi di awal tahun tujuh puluhan, memberikan komentar bahwa korupsi sudah menjadi budaya di negeri ini. Pernyataan proklamator yang hidupnya dikenal bersih dan sederhana itu menjadi pelajaran bagi kita bersama bagaimana sulitnya memberantas korupsi di negeri ini. Mulai dari kalangan eksekutif, yudikatif hingga legislatifnya mudah tergoda menjadi pelaku tindakan korupsi. Pejabat, pengusaha maupun aparat keamanan juga punya kecenderungan besar untuk berkonspirasi dalam skandal korupsi.

Sesungguhnya, korupsi merupakan suatu bentuk pengkhianatan paling kejam dan tercela terhadap bangsa. Sebab, korupsi merupakan pengkhianatan terhadap kejujuran dasar yang diperlukan semua orang saat hidup bersama dengan yang lainnya, hidup berbangsa dan bernegara. Korupsi menjadi penyakit yang paling berbahaya terhadap bangsa ini, karena korupsi adalah pangkal yang dapat mengakibatkan keterpurukan negara dan bangsa pada jurang yang teramat dalam.

Sayangnya, korupsi telah menjadi penyakit akut yang sulit diobati. Apalagi, melihat adanya fakta korupsi di Indonesia yang kian sulit diberantas karena melibatkan banyak pihak, korupsi berjamaah. Secara serentak masyarakat dan elite politik mulai dari daerah sampai pusat berbondong-bondong melakukan korupsi. Korupsi yang terjadi di Indonesia telah merata di semua lapisan kekuasaan karena semua lapisan telah melakukan korupsi.

J adi, ada semacam anomali yang luar biasa dan itu juga dialami oleh negara-negara di mana umat Islam begitu dominan. Tidak adakah kontribusi Islam dalam mendidik umatnya untuk menjadi warga yang jujur, bersih dan tidak korup? Padahal kalau kita berbicara mengenai Islam sebagai nilai ideal, tidak ada satu pun tuntunan yang membolehkan perilaku korup yang dikategorikan sebagai dosa besar.  Akan tetapi, mengapa korupsi menjadi budaya di tengah maraknya syiar keagamaan?

Banyak sekali keganjilan-keganjilan yang berkembang di negeri ini yang menabrak logika sehat kita dan itu sudah menjadi rahasia umum. Terlebih lagi, budaya korupsi menjadi bagian yang paling sulit untuk dipisahkan dari kehidupan kita sebagai bangsa. Nilai-nilai agama ternyata hanya bergaung di dinding-dinding Mesjid dan tempat-tempat pengajian. Ratusan ribu jemaah haji setiap tahun pulang dari Tanah Suci, mesjid-mesjid penuh sesak ketika Hari Raya Idul Fitri maupun Idul Kurban serta hari besar keagamaan lainnya. Tapi, gambaran itu tidak serta-merta memberikan jaminan akan perilaku dan tindak-tanduk sehari-hari. Korupsi tetap merajalela, sogok-menyogok ditemui dengan mudah di semua lini, prestasi dicapai dengan jalan pintas melalui uang, hukum diperjualbelikan dengan gampang, dan berbagai dosa struktural dilakukan secara masif. Tanpa energi besar dan dahsyat dari umat Islam dalam mengamalkan nilai-nilai Islam secara murni di dalam kehidupan sehari-hari, rasanya sulit bagi kita untuk keluar dari segala problematika saat ini.

Ibadah yang diajarkan dalam Islam, semisal haji dan qurban, tentunya menghendaki agar setiap yang melaksanakan dapat menjadi makhluk yang benar-benar sempurna dan utama, yang menebar kebajikan dan rahmat bagi lingkungan di sekitarnya. Karena pada dasarnya ibadah-baik  haji dan qurban-bukanlah semata-mata rangkaian ritual yang berdimensi spiritual, akan tetapi merupakan ibadah yang menempa diri seorang muslim sehingga menjadi seorang yang berakidah dan berakhlak mulia. Akan tetapi, memang tidak semua yang melaksanakan ibadah itu dapat membawa dampak positif bagi dirinya dan lingkungannya. Kesempurnaan ibadah hanya dapat diraih apabila formal syariahnya terpenuhi dan tumbuhnya akhlaq sebagai wujud dari ibadah tersebut. Jika ibadah tidak menumbuhkan akhlaq yang baik, pastilah ada penyimpangan di dalamnya.

Jika kita perhatikan, titik pangkal segala penyimpangan dan kesalahan yang dilakukan oleh manusia itu sesungguhnya berpangkal pada pikiran (akal), sebagai tempat pergumulan antara nafsu jahat dan niat baik. Pengeksekusi keputusan yang dihasilkan dari analisa otak (akal) adalah hati. Ketika manusia sudah tidak memiliki hati nurani, yang bekerja hanya akal (pikiran) semata, kuat kemungkinan ia sudah dikuasai oleh bisikan nafsu jahat.

Melakukan ibadah haji dan qurban, adalah ritual agama yang menghidupkan akal dan jiwa. Ibadah haji dan qurban yang sekadar dijalankan dengan mengandalkan akal atau pikiran saja, tanpa menyantuni sisi hatinya, adalah sekadar perbuatan yang dipenuhi nafsu, misalnya untuk menaikkan gengsi sosial. Cuma sikap pamer diri dan niat buruk agar ia disebut sebagai haji atau hajah dan dermawan. Bahkan, ada yang berpikir bahwa ibadah haji dan qurban adalah upaya pembersihan harta kekayaan yang berasal dari korupsi yang dilakukannya. Haji menjadi bentuk tobat penyucian diri koruptor. Mereka berpikir, ibadah haji dan qurban yang mereka lakukan akan membersihkan semua kesalahan. Padahal, uang yang berasal dari sesuatu yang haram, seperti menang judi, hasil korupsi, dan memeras orang, tidak dapat digunakan untuk kebaikan, seperti pergi haji dan berqurban. Sarana ibadah yang dihasilkan dari uang haram tidak akan diterima.

Thabrani dan Isbahni meriwayatkan sebuah hadis Nabi Saw yang menjelaskan, orang yang berhaji dengan harta yang “kotor”, ketika ia mengucapkan “labbayk allahumma labbayk” (Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah), Allah akan menjawab “la labbayk wa la saadayk” (Tidak, kamu tidak penuhi panggilan-Ku dan tak ada kebahagiaan untukmu). Allah Swt akan menolak mentah-mentah seorang haji yang ONH-nya (ongkos naik haji) berasal dari uang hasil korupsi.

Sedangkan pada orang yang berqurban, sesungguhnya bukan hewan qurban yang disembelih yang Allah terima, melainkan ketakwaan seorang hamba. Allah Swt berfirman:

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِن يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. Al Hajj (22) : 37)

Orang yang melakukan kesalahan, lalu bertobat dan pergi haji serta berqurban, tentu diampuni dan terpuji, tetapi tidak dengan uang haram yang diperolehnya dari kemunkaran dan pelanggaran terhadap larangan Allah. Inilah barangkali niat dan cara beribadah yang akhirnya berujung pada kontradiksi sosial; kenapa bangsa ini yang tiap tahunnya diramaikan dengan syiar keagamaan pada bulan puasa, haji dan qurban, tapi korupsi justru meningkat pula. Ibadah bagi sebagian umat hanya menjadi semacam ritual penebus dosa akan tetapi sesungguhnya dipenuhi oleh nafsu belaka.

Jika sikap dan tingkah laku manusia telah dikuasai oleh nafsu, maka sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nuraninya tidak akan berfungsi. Manusia akan jatuh derajatnya, bahkan lebih rendah dari binatang ternak yang menjadi sembelihannya. Allah Swt berfirman:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيراً مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا أُوْلَـئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (Q.S. Al A’raaf (7) : 179)

Membangun Semangat Anti Korupsi

Qurban merupakan babak akhir dari pelaksanaan ibadah haji. Allah Swt mengabadikan peristiwa yang mengingatkan umat manusia akan ketakwaan yang begitu besar dari Ibrahim dan Ismail a.s., menjadi ibadah rutin yang diselenggarakan oleh umat Islam setiap tahunnya di bulan Dzulhijjah dengan penyembelihan hewan qurban usai berhaji.

Jika dikaitkan dengan permasalahan besar bangsa ini, maka salah satu semangat dari Idul Qurban yang perlu dihidupkan adalah bagaimana umat secara umum dapat menyembelih egoisme, hasrat berkuasa, sifat rakus, serta cinta yang berlebihan terhadap harta dan kekuasaan. Di samping itu, potensi umat yang begitu dahsyat dalam berhaji dan berqurban harus diarahkan pada perlawanan melawan ego pribadi dan golongan serta nafsu duniawi yang begitu rendah, bukankah hanya ketakwaan kepada Allah Swt saja yang akan mendapatkan keridhoanNya? Selain itu adalah kesia-siaan.

Oleh karena itu, sudah sepantasnya kalau Idul Qurban dijadikan sebagai medan pertarungan melawan hasrat dan belenggu nafsu jahat secara berjamaah, seperti hasrat melakukan korupsi yang ada dan tertanam dalam diri sebagian besar politisi negeri ini dan telah merusak sendi-sendi kehidupan umat. Semoga Allah Swt memberkahi kita dengan ratusan ribu Haji Mabrur yang akan kembali ke tanah air dan membawa umat menuju kemenangan melawan korupsi yang merajalela di negeri ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s