Revolusi Timur Tengah dan Kepentingan Dunia Barat

Gelombang Revolusi : Dari Tunisia hingga Libya

Gelombang revolusi Islam di Timur Tengah bermula dari Revolusi Tunisa yang dipicu oleh seorang tukang sayur bernama Muhammad Bouazizi, berumur 26 tahun. Bouazizi  adalah simbol pemuda tertindas di wilayah Sidi Bouzid Sidi, 300 kilometer sebelah selatan ibukota Tunisia. Revolusi Tunisia meledak ketika Bouazizi tidak tahan melihat kedzaliman rezim tiran Tunisia atas dirinya dan rakyatnya. Dia pun menuangkan bahan bakar ke tubuhnya dan membakar dirinya sendiri, tak jauh dari pusat kekuasaan negerinya. Ternyata Bouazizi tidak hanya membakar dirinya tetapi juga telah membakar amarah seluruh rakyat Tunisia atas rezim yang berkuasa. Rezim yang dianggap diktaktor di Tunisia, Ben Ali pun akhirnya tumbang. Tanpa disadarinya, Bouzazizi telah memicu gelombang revolusi yang akan menggulung penguasa lainnya di Timur Tengah.

Revolusi Tunisia telah memicu solidaritas warga di dunia Arab, terutama umat Islam yang muak dengan sistem pemerintahan diktaktor dan sekuleristik yang selama ini diterapkan. Setelah Tunisia, gelombang revolusi merembet ke Mesir dan berhasil menggulingkan rezim Husni Mubarak.

Gelombang revolusi meluas ke Suriah dan negara-negara Timur Tengah lainnya. Setelah PM Turki mengecam kebrutalan aparat keamanan Suriah terhadap para demonstran dan rakyat sipil Suriah, sejumlah ulama senior di Arab Saudi menyatakan dukungannya terhadap rakyat Suriah. Di dalam negeri Suriah sendiri, skala revolusi sudah semakin merata ke semua wilayah dan lapisan masyarakat. Semakin brutal tentara, kepolisian, intelijen rezim Suriah yang dibantu milisi Shabihah dalam membantai rakyat sipil, semakin banyak pula pejabat sipil, polisi, dan tentara Suriah yang berpihak kepada rakyat yang tertindas. Serbuan besar-besaran militer dan kepolisian rezim Suriah terhadap wilayah Rastan telah disambut oleh perlawanan empat hari, disusul oleh perang gerilya rakyat sipil dan unsur tentara yang berpihak kepada rakyat.

Berbeda dengan revolusi lainnya di Timur Tengah, revolusi di Libya melibatkan beberapa negara Eropa yang tergabung dalam tentara NATO. NATO yang didominasi militer Perancis mendukung langsung upaya penggulingan Muammar Qhadafi dengan mengerahkan kekuatan bersenjata bersama tentara oposisi Libya.

Dalam waktu beberapa bulan, tentara oposisi Libya yang didukung NATO berhasil memenangkan pertarungan dengan tewasnya Muammar Qhadafi pada Jum’at (21/10) lalu. Setelah kematian Muammar Qhadafi rakyat Libya melampiaskan kegembiraan turun ke jalan merayakan kematiannya. Mereka menari dan bernyanyi, meneriakkan pekik kemenangan atas lepasnya mereka dari rezim Qhadafi yang telah berkuasa selama 42 tahun.

Kepentingan Barat

Sebagaimana dimuat Tribunnews.com, meski tewas secara mengenaskan, Presiden Ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri memuji sikap Presiden Libya Moammar Qhadafi. Hal itu disampaikan dalam jumpa kader partainya di Pendopo Bupati Cirebon, Sabtu (22/10/2011). Menurutnya, keberanian Qhadafi mempertahankan sikap agar tak diintervensi asing patut diapresiasi. Qhadafi berani mati demi mempertahankan agar ladang minyak Libya tidak dikuasai asing. Megawati juga menyebut, jatuhnya Khadafi karena intervensi asing yang mengincar ladang minyak Libya. Padahal, Libya dibawah kendali Khadafi berencana menggenjot angka produksi minyaknya. Dari 600 ribu barel, produksi minyak milik Libya akan ditingkatkan menjadi 1,6 juta barel.

Pada masa-masa kekuasaannya, memang Muammar Qadhafi membuat Libya menjadi negeri yang terisolasi. Namun demikian, di bawah kekuasaannya Libya menjadi negara kaya minyak yang berpengaruh di Afrika Utara. Negara itu tercatat sebagai salah satu pemasok minyak penting bagi Eropa. Libya adalah pemasok 2 persen dari total minyak di dunia, memproduksi rata-rata sebesar 1,3 juta barel per hari. Tak aneh bilamana mereka menjadi donor utama Uni Afrika sehingga memungkinkan organisasi itu mengirim pasukan perdamaian ke Somalia, Darfur, dan Kongo. Libya juga menyuplai sejumlah negara miskin di Afrika.

Italia dalam beberapa tahun terakhir juga bergantung pada Libya, dengan 10 persen impor berasal dari negara tersebut. Perancis, Swiss, Irlandia, dan Austria juga bergantung pada Libya, dengan impor mencapai 15 persen dari kebutuhan. Tak mengherankan jika Presiden Prancis Nicholas Sarkozy mengundang pemimpin pemberontak dari Dewan Transisi Nasional Libya untuk berkonsultasi begitu pula dengan perusahaan minyak Italia.

“Selama bertahun-tahun, industri minyak senantiasa melakukan negosiasi dengan para Syah, Syekh, raja, kolonel, diktator, dan bahkan pendukung demokrasi,” kata Kepala Eksekutif ENI, raksasa minyak Italia, Paolo Scaroni, yang bertemu dengan Dewan Transisi Nasional (NTC) Libya pada April lalu. “Kami malah sudah berpikir untuk menggenjot sektor minyak negara Afrika Utara.”

ENI, BP (Inggris), Total (Prancis), Repsol YPF (Spanyol), dan OMV (Austria) merupakan produsen minyak terbesar di Libya sebelum pemberontakan terjadi. Sejumlah perusahaan Amerika Serikat, seperti Hess, ConocoPhillips, dan Marathon, juga membuat kesepakatan dengan rezim Qadhafi. Libya memasok kurang dari 1 persen kebutuhan impor minyak Amerika.

Ketergantungan Amerika Serikat terhadap minyak dari Libya sangat sedikit. Tapi pengurangan produksi minyak dengan kualitas tinggi di pasar dunia, telah mendongkrak harga minyak dan bensin di Amerika. Dan Libya termasuk dari sedikit negara yang bisa menyuplai minyak dengan kualitas tinggi setara dengan tingkatan jenis light sweet.

Melihat kenyataan itu, wajar banyak komentar miring mengenai perjuangan oposisi Libya yang didukung NATO, yang notabene didominasi Negara dengan perusahaan minyak yang telah bercokol di Libya. Graham Casey, seorang warga Australia, saat mengomentari tewasnya Qadhafi di situs berita The Daily Mail mengatakan, “Keluarga yang berkuasa itu (Qhadafi-red) telah mati. Selamat datang Halliburton, Chevron, ENI, Shell, BP, Exxon, Total, dan ambil singgasana itu dan juga keuntungan.” Pernyataan sinis dari Casey yang menilai bahwa gejolak di Libya hanyalah upaya dari pihak Barat untuk menguasai ladang-ladang minyak di Negara itu.

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s