Impian Kampung CerDig, Berbagi dan Menginspirasi!

This slideshow requires JavaScript.

Kilas Foto: Kegiatan belajar bersama antara relawan dengan anak-anak dan masyarakat di Kampung Gunung Batu. Kelak kami akan ‘menjuluki’ kampung ini dengan Kampung CerDig, Kampung Cerita Digital, tempat lahirnya cerita-cerita digital yang menginspirasi masyarakat luas untuk terus maju bersama-sama dengan semangat berbagi. Berbagi dan menginspirasi!
***
Kalau Anda main ke Bogor, mampir-mampirlah ke Kampung Gunung Batu, Desa Tangkil, Kecamatan Caringin. Dari Ciawi, Anda bisa naik bus, angkot, atau kendaraan Anda sendiri ke arah Sukabumi. Jangan sampai terlewat, berhentilah di Sempur, Desa Cinagara. Kemudian belok ke kiri, ke Timur, ikutilah jalan Desa Cinagara sampai ujung aspalnya di Desa Tangkil. Parkirlah kendaraan Anda di satu lahan kosong di sana. Dari tempat parkir itu, Anda bisa berjalan kaki mengikuti jalan setapak menuju Kampung Gunung Batu. Hati-hati jika tanah masih basah sehabis hujan, karena sudah pasti sangat becek dan licin. Tapi, pemandangannya cukup indah koq, rasa takut kadang hilang melihat indahnya sawah yang terbentang dan gunung-gunung yang menjulang.
Oh iya, jika Anda menggunakan kendaraan umum, dari Sempur Anda bisa menggunakan ojeg motor. Kalau musim panas, ojeg motor mau mengantarkan sampai ke kampung ini. Tapi kalau musim hujan, ojeg motor hanya dapat mengantar sampai batas aspal saja. Alasannya, tanahnya becek dan licin, bentangan alamnya juga berbukit-bukit, membuat ojeg takut jatuh dan tergelincir.
***
Emm, Anda blogger? Atau aktifis di jejaring sosial? Kalau Anda berkunjung ke daerah ini setahun yang lalu, dan Anda ingin selalu berseluncur di dunia maya kapan saja dan di mana saja, selain membawa laptop plus modemnya, atau blackberry, atau barangkali hanya henpon biasa yang di dalamnya terdapat fasilitas untuk fesbukan dan chatting, Anda tidak boleh lupa untuk mengisi baterainya penuh-penuh sebelum berkunjung ke kampung ini. Karena setahun yang lalu belum ada listrik yang masuk ke daerah ini.
Waktu pertama kalinya saya ke kampung ini pada akhir tahun 2007, saya merasa sangat terbatas dengan keadaan kampung yang tanpa listrik. Ingin menulis di laptop hanya bertahan satu-dua jam. Ingin berkomunikasi dengan henpon, baterainya hanya bertahan satu-dua hari. Selanjutnya, harus turun gunung, pindah ke kampung sebelah, isi ulang baterai dah…
Alasan saya ke sana? Hemm,–jangan dibilang sok idealis yah–saat itu saya ingin mengamalkan ilmu saya, mengaplikasikan pengetahuan yang saya pelajari di kampus, dalam program pengembangan masyarakat yang dijalankan oleh kawan-kawan yang tergabung dalam Mapala UI. Dari Mapala UI, awalnya yang terlibat hanya tiga orang, saya dan dua orang teman, yaitu Ardi Juardiman dan Diny Ratnasari.
Metode yang kami gunakan dalam pengembangan masyarakat di sana yaitu Participatory Action Research (Kaji Tindak Partisipatif). Metode itu memungkinkan kami dan masyarakat benar-benar melebur, membaur, tanpa perlu berpikir bahwa kami lebih pintar dari mereka. Kami menyadari bahwa masyarakat sebenarnya bisa lebih mengerti tentang masalah-masalah mereka.
Misalnya saja tentang pertanian, masyarakat di sana tentu lebih tahu bagaimana bertani yang baik dibandingkan saya yang mahasiswa Ilmu Perpustakaan, atau Ardi yang mahasiswa Filsafat, dan Diny yang mahasiswa Kesejahteraan Sosial. Tapi, kami sadar bahwa akses informasi lebih mudah kami dapatkan daripada mereka. Begitulah satu peran kami, mencoba mencarikan informasi dan koneksi melalui berbagai cara penelusuran informasi dengan memanfaatkan berbagai teknologi informasi agar mereka dapat lebih maju dari kondisi sekarang. Di samping itu, kami hanya berperan sebagai fasilitator saja agar mereka dapat menemukan jalan keluar dari masalah mereka.
Pada tahun awal, kami lebih banyak menggali potensi kampung bersama masyarakat setempat. Untuk kemudian membicarakan kebutuhan dan keinginan masyarakat yang tertuang dalam rencana-rencana kegiatan pada tahun berikutnya. Tiga kebutuhan yang menurut masyarakat setempat mendesak untuk segera diadakan adalah pengerasan jalan kampung, pengadaan listrik, dan pusat belajar masyarakat.
Pengerasan jalan kampung, menurut Pak Upen yang Kepala Kampung, memungkinkan masyarakat untuk lebih mudah terhubung dengan daerah-daerah lain di sekitarnya. Kendaraan roda dua juga memungkinkan untuk lewat kapan saja. Sehingga transportasi untuk mengangkut hasil bumi bisa dilakukan kapan saja dan semakin mudah dan murah.
Pengadaan listrik atau penerangan memungkinkan mereka untuk bergiat di malam hari, misal untuk pengajian dan belajarnya anak-anak kampung. Di samping itu, dengan adanya listrik mereka berharap akan masuk pula teknologi-teknologi lain yang memungkinkan mereka untuk lebih berkembang, membangun usaha-usaha kreatif dari potensi yang ada di kampung. Seperti Pak Adang misalnya, yang ingin membangun usaha pembuatan pakaian anak-anak, atau Pak Hasan yang ingin membuat usaha olahan pisang.
Saya tentu saja sangat senang mendengar rencana yang tumbuh dari pemikiran mereka sendiri. Di samping untuk kemajuan masyarakat, jika listrik dapat kami sediakan, setiap kali berkunjung ke tempat ini, saya juga dapat terus membuat tulisan dari laptop saya, tetap terkoneksi dengan dunia luar, serta menggunakan henpon saya tanpa perlu takut kehabisan baterai.
Pusat belajar masyarakat dinilai mendesak oleh masyarakat karena mereka juga sudah berpikir tentang pentingnya pendidikan bagi anak-anak mereka. Sekolah yang ada dirasa jauh, sehingga anak-anak sering kelelahan hanya untuk menuju sekolahnya. Melalui diskusi yang panjang, akhirnya muncullah rencana untuk membangun semacam Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat di kampung ini.
***
Setahun berjalan, pada tahun 2008 saya segera menyampaikan kebutuhan-kebutuhan masyarakat tersebut kepada berbagai pihak. Pada tahun itu, melalui program PNPM Mandiri, masyarakat berhasil melakukan pengerasan jalan pada jalan utama kampung. Kemudian, dengan adanya sungai dekat kampung, saya pikir dapat pula bekerjasama dengan ESP-USAID dan Pusat Pengembangan Listrik Komunitas untuk dapat bersama-sama mendidik masyarakat membuat mikrohidro di sungai yang dekat dengan kampung.
ESP-USAID yang fokus pada pelestarian lingkungan merespon positif hal ini, karena apabila program mikrohidro berjalan, tentu masyarakat juga mesti menjaga debit air sungai dengan melestarikan daerah hulu sungai dan daerah aliran sungai hingga ke tempat mikrohidro ditempatkan. Artinya, dengan mengembangkan teknologi mikrohidro, masyarakat juga melestarikan lingkungan mereka. Kami menyebutnya “Listrik Rakyat Berbasis Lingkungan”.
Selain kepada ESP-USAID dan Pusat Pengembangan Listrik Komunitas, saya juga mengkomunikasikan masalah listrik ini kepada lurah setempat. Kalau memang biaya untuk mengalirkan listrik dari PLN sangat besar, saya merekomendasikan agar memanfaatkan energi tenaga surya dan air yang potensial di kampung ini. Untuk tenaga surya, lurah dapat mengajukannya ke pemerintah daerah, karena ada program untuk itu.
Saya mendapatkan informasi itu dari beberapa situs saat menelusur informasi dengan kata “Energi Terbarukan”; serta “Listrik Tenaga Surya” dan “Pengembangan Masyarakat Desa”. Selain itu, saya juga memperoleh informasi tenaga surya dari beberapa milis yang saya ikuti. Dari informasi yang saya dapatkan, saya mengkonfirmasikannya ke pemerintah setempat. Kebenaran informasi mengenai penyaluran listrik tenaga surya memang akan direalisasikan pada tahun 2009 atau 2010. Masyarakat bisa mengusulkannya melalui lurah ke pemerintah daerah yang akan direkomendasikan ke dinas terkait.
Sepanjang Agustus-Desember 2009, program-program pengadaan listrik terealisasikan. Masyarakat terlibat aktif dalam pengembangan listrik komunitas dengan mikrohidro. Sementara untuk tenaga surya, pihak pemda langsung memasangnya sebanyak 56 unit untuk 56 rumah yang dihidupi 82 Kepala Keluarga. Awalnya, untuk penerangan masyarakat menggunakan lampu pijar. Tapi, untuk penghematan sekarang di setiap rumah diharapkan dapat menggunakan lampu TL.
Mengesankan, kampung ini kini ‘dihidupi’ dengan dua energi yang selama ini disia-siakan, tenaga air dan panas matahari. Di saat tempat-tempat lain di kota besar, Jakarta misalnya, ribut-ribut soal pemadaman bergilir dan penghematan energi, di kampung ini, dengan pengetahuan bersama yang dibagi-bagi, kami dapat secara efektif dan efisien menggunakan energi yang terbarukan dengan potensi yang ada. Selama energi solidaritas masyarakat terus terpupuk, mau bekerja bersama-sama melestarikan lingkungan dan merawat serta mengembangkan fasilitas yang ada, selama itu pula energi terbarukan akan terus mengalir.
Dengan begitu, setiap kali saya tinggal di sana, setiap kali itu pula saya dapat terus terkoneksi dengan dunia luar melalui laptop saya, dan bersama-sama masyarakat mencari informasi yang dibutuhkan bagi pengembangan masyarakat kampung dan pertaniannya, serta bagi terwujudnya usaha-usaha kreatif dan keinginan-keinginan, serta impian-impian anak-anak kampung.
Selesai pembangunan jalan dan listrik, pada bulan-bulan itu berdiri juga saung atau rumah bambu berukuran 40 meter persegi dengan atap asbes. Harapannya, saung bambu ini bakal menjadi pusat belajar masyarakat. Beberapa kegiatan pendidikan untuk anak dan remaja juga sempat beberapa kali dilakukan oleh relawan dari mahasiswa UI. Melalui jejaring Blogger Bogor (Blogor), terkumpul pula buku-buku pertanian, keterampilan, dan pendidikan anak yang membuat lengkap saung ini sebagai pusat belajar.
***
Dengan tersedianya listrik dan adanya pusat belajar masyarakat, beberapa rencana lainnya juga muncul. Saya mengajak beberapa masyarakat setempat untuk menjadi pionir dalam mengembangkan dan mendokumentasikan pengetahuan bersama masyarakat dengan mengajak mereka untuk sama-sama menulis, jika dapat membagikannya kepada dunia luar sana melalui blog dan media sosial lainnya.
Muncul pula cita-cita untuk membagikan semangat yang tumbuh di kampung ini kepada pihak luar dengan belajar bersama masyarakat membuat cerita digital (digital storytelling). Kemudian menyebarluaskannya melalui berbagai media sosial, yang diharapkan dapat menginspirasi, menyentuh, dan mengumpulkan energi sosial masyarakat secara luas sehingga dapat maju bersama-sama, dengan semangat berbagi pengetahuan, berbagi pengalaman, melalui media yang kini berkembang pesat itu.
Oh iya, apa sih cerita digital? Kalau di Wikipedia dijelaskannya “Cerita Digital” itu sebagai istilah baru, yang timbul dari sebuah gerakan akar rumput yang menggunakan alat digital yang baru untuk membantu orang-orang biasa menceritakan ‘kisah mereka’ sendiri dalam bentuk yang menarik dan emosional. Cerita-cerita ini biasanya pendek (kurang dari 8 menit) dan dapat interaktif.
Emm, orang-orang biasa? Saya mencoba memahami apa yang dimaksud orang-orang biasa. Orang biasa bisa berarti kita, bisa juga orang-orang termarjinalkan, dan dalam dunia digital kita mengenal yang namanya “the digital divide”, kesenjangan digital. Meskipun Indonesia paling banyak ketiga yang bercicit-cuit di twitter, dan juga terdapat berjuta-juta orang di facebook, tapi ternyata masih banyak yang belum menikmati indahnya twitter-an dan facebook-an. Seperti penduduk Kampung Gunung Batu misalnya.
Oke, lanjut lagi soal definisi.. Kalau Digital Storytelling Association mendefinisikan cerita digital itu sebagai “the modern expression of the ancient art of storytelling. Digital stories derive their power by weaving images, music, narrative and voice together, there by giving deep dimension and vivid color to characters, situations, experiences, and insights.”
Ya begitulah, sebuah cerita digital memang biasanya hanya klip video yang berdurasi 2 sampai 4 menit, paling sering diceritakan dalam narasi orang pertama atau menceritakan pengalaman diri sendiri, direkam dengan suara sendiri, sebagian besar digambarkan dengan gambar diam (foto-foto), dan dengan trek musik pilihan untuk menambahkan nada emosional.
Banyak yang menilai cerita digital itu menyenangkan, inspiratif, menarik, dan membantu membangun keterampilan komunikasi di abad 21, di era web 2.0. Mengembangkan cerita digital yang lebih personal, konon katanya, lebih ‘manjur’ untuk tersampaikannya ide-ide kita, transfer pengetahuan tanpa terkesan menggurui. Karena itu pula, di negara-negara seperti Australia, Amerika Serikat, dan Inggris banyak yang mengembangkan cerita digital untuk dunia pendidikan.
Caroline Handler Miller, dalam bukunya Digital Storytelling A Creator’s Guide to Interactive Entertainment bahkan mengatakan kalau storytelling itu dipercaya bukan hanya dapat membawa penonton pada perjalanan mendebarkan ke dunia imajiner, tetapi juga dapat mengungkapkan rahasia gelap dari sifat manusia atau menginspirasi penonton dengan keinginan untuk melakukan perbuatan mulia. Karena itu–lagi-lagi–storytelling juga dapat ditekan menjadi sarana untuk mendidik, untuk mempromosikan, dan melatih.
Nah, cerita digital ini juga dapat melakukan semua hal yang seni bercerita tradisional (storytelling) dapat lakukan, dan sejumlah orang akan berpendapat bahwa cerita digital dapat melakukan banyak hal-hal yang lebih baik. Cerita digital memiliki metode yang lebih canggih, dan dengan sesuatu yang bahkan lebih kuat, yaitu interaktivitas. Interaktivitas mempengaruhi tidak hanya si pembuatnya menjadi lebih rajin bercerita, tapi mempengaruhi pengalaman penonton juga.
Oke, mungkin langsung dikasih contoh aja kali ya tentang bagaimana sih cerita digital itu. Nah, berhubung belum ada satupun cerita digital yang berhasil dibuat, kunjungin aja deh beberapa halaman ini:
Hehe.. lainnya cari sendiri aja ya, banyak bener..:)
Sebenarnya mudah saja untuk membuat sebuah cerita digital, kita bisa menggunakan Microsoft Movie Maker atau Ulead, atau Pinnacle, dll. Hasilnya bisa diupload deh di YouTube atau media sosial sejenis. Tapi yang terpenting adalah bagaimana kemampuan kita untuk mengolah sebuah cerita singkat, sebuah kisah nyata dari apa yang kita alami dari satu sudut pandang yang menarik, sehingga dapat menyenangkan dan inspiratif.
***
Jika keinginan ini terlaksana bersama masyarakat Kampung Gunung Batu, ke depan kami akan menjuluki kampung ini dengan Kampung CerDig, Kampung Cerita Digital, tempat lahirnya cerita-cerita digital yang menginspirasi masyarakat luas untuk terus maju bersama-sama dengan semangat berbagi. Berbagi dan menginspirasi!
***
Yeah, Saving Your Social Energy and Stay Connected!!!

8 Comments Add yours

  1. echa says:

    Wedeewwww bahasanya keren…sukses ya ca

  2. wahidin says:

    ide yang bagus, bagaimana sebuah masyarakat desa bisa dan mau lebih terbuka kepada dunia luar dengan memanfaatkan dunia maya-internet (dengan segala jejaring sosialnya), sebuah desa dengan cerita digital yang menginspirasi dan menggugah, cara pintar untuk berbagi.

  3. eMo says:

    inspiratif

    calon finalis ni keknya.. :P

  4. ummumesia says:

    Wah, Kak Firman masih tekun ngurus kampung ini toh.. Ide Cerita Digital bagus banget tuh untuk disuarakan di negeri ber-pajak kertas tinggi.. :D

  5. indah says:

    ini bukan hanya cerita tapi pengalaman kongkrit yg inspiratif ! i likeee this !

    terus menulis ya fir ! ^_^

    Freedom Writers
    :Saca Firman

    Jari-jari patahmu menari di tengah malam usang
    diiringi nada minor,serak dan parau
    apakah yang sedang terjadi ?
    tiada yang pernah usai menjadi …
    dan sebelum malam menua
    sebelum waktu melindap galau
    selalu ada ruang menenun mimpi

    Depok, 9 Januari 2009
    -indah-
    http://indah-survyana.blogspot.com/2009/01/freedom-writers.html

  6. Karim says:

    Waaauuuaww…..mantap, salut buat firman dkk jangan berhenti memberikan manfaat kepada sesama ya….
    andai semua anak muda di negri ini mau meluangkan waktu untuk berbagi dengan saudara yang kurang mampu pasti negeri ini akan maju dan makmur…..
    sekali lagi salut untuk perjuangan dan kepeduliaannya…

  7. martina says:

    wah, keren tulisannya. Inspiratif. Semoga bisa berguna demi perubahan itu.

    nice share b(^__^)d…

  8. tumpak winmark hutabarat says:

    semangat
    tetap pada garis konsistensi karya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s