Mengambil Hikmah dari Jamur

Kawan-kawan seperjalanan saya nampaknya sudah ‘kesal’ juga dengan sikap saya dalam pendakian siang itu. Setiap kali melihat jamur di sepanjang jalur menuju Puncak Pangrango, saya langsung mengarahkan kamera ke jamur yang menarik perhatian saya. Jeprat-jepret sana-sini dari berbagai penjuru seperti seorang fotografer professional (fiuhh.. masih jauh untuk dikatakan sebagai fotografer). Merebahkan badan, tengkurap, mencari posisi terbaik untuk mendapatkan gambar jamur yang kadang tersembunyi di dalam ruang pada batang pohon yang sudah lapuk, busuk dan rapuh.
***
SUDAH berkali-kali saya berlaku seperti itu. Itu berarti pula saya harus berkali-kali ditinggalkan kawan sependakian saya, sendiri, menikmati indah paras jamur warna-warni. Mungkin penjelasan saya kurang dipahami oleh kawan saya saat akan memulai perjalanan pada pagi harinya. Saya sudah katakan bahwa dalam pendakian hari itu saya sedang ingin memotret lebih banyak objek-objek yang selama ini luput dari perhatian kami saat melakukan pendakian.
Saat saya sampaikan hal itu, saya berharap kawan-kawan saya akan lebih peka memperhatikan apa-apa yang ada di lingkungan sekitar yang jarang kami perhatikan. Mungkin saja ada hewan yang jarang kami lihat, serangga-serangga kecil yang menarik, bunga-bunga yang indah, atau jamur-jamur yang beraneka warna. Untuk kemudian berhenti sejenak, mencari sisi indahnya, menikmatinya, lalu memotretnya. Sesuatu yang jarang kami lakukan. Berharap semoga akan menambah bumbu-bumbu cerita jika ada yang bertanya soal pendakian kami saat itu—memang selalu ada tanya dan cerita untuk setiap perjalanan kami, biasanya begitu!—.
Untunglah, meskipun tidak memahami keinginan saya, saat itu kawan-kawan saya tidak terlalu cerewet ketika saya tetap melakukan apa yang menjadi tujuan saya. Beruntung pula setiap kali tertinggal saya selalu dapat mengejar kembali, berjalan di belakang dua kawan saya. Tapi, lama-lama ‘capek’ juga dengan ritme jalan seperti itu. Kawan saya juga sepertinya dapat melihat apa yang saya rasakan, walau tak diungkapkan. Akhirnya, siang itu kami memutuskan untuk istirahat sejenak, menikmati makan siang, teh dan jahe panas. Juga susu coklat dalam kemasan siap saji.
Saat istirahat, kami lebih banyak bercanda, berbincang-bincang soal seseorang dari lawan jenis kami, soal perempuan, yang digosipkan sedang ‘dekat’ dengan seorang kawan seperjalanan kami. Jadilah satu lawan dua kalau sedang bercanda soal ‘cinta’. Kadang, kawan kami yang satu itu cuma diam saja dan mengeluarkan henpon-nya. Berharap dapat sinyal untuk sekadar menyapa seseorang yang entah berada di mana. Yang jelas, ia pernah sesekali kepergok sedang update status facebooknya (di dalam hati saya dongkol juga, dalam pendakian yang sulit sinyal henpon masih saja ia berusaha menyempatkan update status, saya jadi bingung: segitu pentingnya ya update status?).
Kawan saya yang satunya lebih penasaran dengan hasil jepretan saya. Dipinjamnya kamera yang berkalung di leher saya. Dilihat-lihatnya hasil jepretan sepanjang perjalanan. Komentarnya, “Wah, foto-fotonya cukup bercerita tentang perjalanan kita nih. Lumayanlah…”
“Tapi, kenapa kebanyakan jamur yang lo foto-foto, bro?” kata kawan saya yang langsung menyeruput air jahe yang baru mendidih yang tentu saja membuat lidah seolah mati rasa sangking panasnya.
“Gue juga kagak tahu bro.. lagi pengen aja,” jawab saya sambil memperhatikan kawan saya yang lain yang masih asyik dengan henpon tanpa sinyal di dalam genggamannya. Saya jadi ingin melanjutkan canda dengan kawan yang satu itu dan berkata keras-keras.
“Tapi bro, jamur-jamur itu indah juga kan? Berwarna-warni dan menarik dengan aneka macam bentuknya,” kata saya keras-keras sambil melirik ke kawan saya yang sedang kena panah asmara. Kawan saya yang menjadi lawan bicara saya paham dengan maksud saya untuk menyindir kawan saya yang sedang demam virus cinta itu.
“Eh, tapi coba deh lo pikirin juga bro, makin menarik tuh jamur dengan warna-warninya dan penampilan atau bentuknya yang aneh-aneh, maka bisa jadi makin beracun juga tuh jamur bro…” kata saya makin keras.
“Nah, sama kayak perempuan bro, makin menarik dia dengan penampilannya yang ‘warna-warni’ dan ‘aneh-aneh’ bisa jadi makin ‘beracun’ juga dia. Lha, kawan kita aja udah kena racunnya. Mabok gitu dia… pikirannye makin jauh ke awang-awang. Kagak membumi lagi bro…” lanjut saya yang diiringi dengan tawa terbahak-bahak dari kawan yang menjadi lawan bicara saya.
“Betul juga bro, makin beracun juga tuh perempuan yang kayak begitu. Bisa jadi makin kagak sadar diri juga kita. Huahahahaahahaaa…” kata kawan saya yang menjadi lawan bicara saya. Sementara kawan yang sedang kami sindir Cuma mesam-mesem saja sambil tetap berharap henponnya dapat sinyal.
***
MALAM itu, 30 November 2010, saya sedang asyik-asyiknya bercanda dengan kawan-kawan saya di sekretariat Mapala. Ada juga yang sedikit-sedikit konsultasi mengenai skripsinya. Di tengah-tengah suasana antara canda dan seriusnya seorang kawan yang sedang konsultasi skripsi saat itu, datanglah kawan saya yang habis luluh dipanah asmara.
Entah saat itu kawan-kawan sedang bercanda soal apa, kawan saya yang satu itu tiba-tiba saja berkata pada saya, “Seperti kata lo soal jamur Man,” katanya. “Semakin menarik jamur itu dengan warna-warni dan bentuknya, semakin beracun juga dia.”
Yang tak mengerti hanya lirik kanan-kiri, ikut mesem-mesem dan tertawa, “Huahahaaahaha…”
Tapi, perempuan bukan jamur Sob..! Jangan kita terlalu ‘cinta’ hingga mabuk dibuatnya, tapi jangan juga terlalu ‘benci’ jika mungkin ‘cinta’ itu pergi. Sederhana saja Sob..! [ ]
Depok, 1 Muharram 1432 H
1.00 AM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s