Hari Gini Masih Ke Perpustakaan?..

***

Ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat dan ditorehkan pada dokumen dengan berbagai media—dahulu tinta pada papirus, sekarang byte computer pada cakram disk. Namun, ada satu yang masih bertahan: buku. Kenapa buku? Buku menawarkan nostalgia kenyamanan yang tak tertandingi media lain. Buku membangkitkan nuansa kreativitas. Buku menawarkan cita-cita. Buku merupakan penyampai lidah pengarang yang rindu pada pembacanya.
(Komunitas Pencinta Perpustakaan)

***

Saya agak tergelitik juga dengan iklan Nokia Ovi Life Tools. Sebagai seorang pemerhati dunia perpustakaan, dan juga telah mengenyam pendidikan perpustakaan selama lebih kurang enam tahun, tentu saja iklan semacam itu sangat menggelitik saya.
Walaupun barangkali tidak bermaksud mengkerdilkan peran perpustakaan konvensional dalam mengembangkan pengetahuan remaja, tapi iklan itu seakan-akan ‘menyentil’ pustakawan yang masih saja diidentikkan hanya sebagai penjaga perpustakaan dan pengatur buku di rak-rak buku.
Sementara perkembangan teknologi kian pesat (perpustakaan–pengetahuan–dapat berada di dalam genggaman anda!), pustakawan masih saja sibuk di dalam ruang perpustakaan dengan buku-buku terserak dan peraturan yang kaku.
Saat berdiskusi dengan seorang teman, Citra Octaviana, dan juga dosen saya, Utami Hariyadi beberapa waktu lalu, saya sampaikan sedikit kegelisahan saya mengenai imej perpustakaan dalam iklan tersebut.
Dengan Citra, saya lebih banyak membahas soal teori-teori komunikasi, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, social media, Gen Y, globalisasi dan gurita kapitalisme yang juga mencengkeram dunia pendidikan, serta bagaimana kira-kira rencana pengembangan dunia perpustakaan di tengah-tengah itu semua.
Sedangkan bersama Utami, kami bertiga berbagi cerita tentang peran pustakawan yang sangat kurang dalam mengembangkan dunia perpustakaan. Utami bercerita bahwa ada rekannya, yang dosen Fakultas Teknik UI, justru lebih perhatian dalam mengembangkan perpustakaan, khususnya perpustakaan sekolah.
Utami menuturkan, sebenarnya sederhana saja yang dilakukan temannya itu, yaitu bagaimana merancang perpustakaan sekolah agar secara arsitektur, baik interior maupun eksterior menjadi menarik untuk dikunjungi. Itu semua dilakukannya secara cuma-cuma sebagai bentuk pengabdiannya kepada masyarakat.
Utami, yang Ketua Vokasi  Ilmu Perpustakaan UI merasa sangat tergelitik juga dengan apa yang telah dilakukan oleh temannya itu. Karena, menurutnya, sebagai pustakawan justru belum banyak yang ia lakukan bagi perkembangan dunia perpustakaan.
Dalam diskusi yang berlangsung singkat di salah satu resto di bilangan Kober, Margonda Raya Depok, singkat cerita akhirnya kami sama-sama punya tekad untuk mengembangkan keilmuan yang kami geluti dengan berbagai cara kami masing-masing.
Karena mereka berdua belum pernah menyaksikan iklan yang menjadi pemicu diskusi itu, saya pun berjanji akan memperlihatkannya nanti, tak lama setelah pertemuan itu.
Seiring waktu berganti, Rabu itu saya kepikiran juga untuk melihat respon rekan-rekan seangkatan saya di Program Studi Ilmu Perpustakaan. Bagaimana pikiran-pikiran mereka dan masihkah ada antusiasme yang tinggi dari mereka terhadap dunia perpustakaan.
Saya mencoba ‘menggelitik’ mereka dengan iklan Nokia itu melalui milis, tentu ditambah dengan kata pengantar saya yang provokatif. Tapi, sayang hanya beberapa saja yang antusias. Itupun pikiran-pikiran yang dikemukakan pada awalnya lebih cenderung self-defense dengan tanpa solusi dan ide-ide kreatif untuk pengembangan perpustakaan selanjutnya.
Namun demikian, dari diskusi itu kami, saya dan Citra, setidaknya dapat membuat mereka lebih aware dengan dunia perpustakaan dan perkembangan lingkungan di sekitarnya. Di samping itu juga memperkaya wacana saya tentang pustakawan dan isu plagiarisme yang disampaikan Grace Wiradi. Berikut adalah petikan lengkapnya. 
***
Wednesday, 24 November, 2010, 9:06 PM
Firmansyah:
Mau belajar masih ke perpustakaan konvensional?
Udah gak jaman kalee…
Mau yang cepat, gak ribet, tanpa ngeliat tampang ‘serem’ pustakawan?
Silahkan klik tulisan di bawah ini untuk pencerahan anda esok hari..
NB:
Untuk Bu Tami dan Citra, ini lho iklan yang saya beritahu tempo lalu saat kita ketemu di kober.. Sedih gak sih jadi pustakawan, koq gitu banget ya image pustakawan, kaku.. dan perpustakaan jadi tempat yang gak asik banget buat generasi saat ini: generasi paling narsis sepanjang abad.. Gen Y, katanya..
Hehe.. buat pustakawan yang ngakunya miss jutek, barangkali gara-gara ngeliat kamu jadi terinspirasi deh buat iklan nokia itu.. ups.. piss!!!
***
Thursday, 25 November, 2010, 2:22 PM
Grace Wiradi:
Masih jaman kok belajar di perpustakaan konvensional. Yang gituan sih bukan generasi narsis…tapi generasi instan…belajar aja maunya instan..
Ga mau liat muka ‘serem’ pustakawan? Home schooling ajee
***
Thursday, 25 November, 2010, 2:34 PM
Nita Aneetha:
bener Grace, itu namanya generasi instan. Di tempat nita kerja aja, tiap hari full mahasiswa buat belajar, diskusi, atau sekedar ngobrol2 nunggu kuliah selanjutnya,, peminjaman buku juga smp ngantri2 dan pustakawannya kelabakan ngelayanin permintaan mahasiswa. Jd, masih jaman kok belajar di perpustakaan. Itu mah iklannya aja yang lebay.. heheheee…
***
Thursday, 25 November, 2010
Sugi_Chou:
Iya Grace, sumber ilmiah yang paling terpercaya buat jadi rujukan kan buku,jurnal dan terbitan2 yg sudah disunting. Di google kan ga selamanya bener sumbernya. Jadi perpustakaan akan selalu tetap dibutuhkan.
***
Thursday, 25 November, 2010, 2:55 PM
Tanaya:
Iya..masih jaman kok ke perpus,
tu iklan ‘maksud’nya itu mungkin bener, namanya info bentuk dan cara aksesnya makin macem2
tapi ‘pesan’ tu iklan yg bikin perpus keliatan ketinggalan jaman deh~ >.<
knp jg ambil setting perpus yg rak bukunya serem2 gitu? tu yg bikin ga pernah dtng ke perpus modern apa?
Maaf ya, tp kyk Indonesia ini sudah super maju aja..(maju sih sih iya tp senengnya instan makanya banyak yg asbun)
coba tanya random ke org2 yg bukan pelajar, udah brp yg pernah dtng ke perpus?
Tp lucu kok iklannya~
***
Thursday, 25 November, 2010, 3:05 PM
Grace Wiradi:
Nyinggung soal sumber internet, ini isinya internet:
“…the Web: One-third retail, one-third porn, and one-third lies, all of our baser natures in one quick step.” Stephen Carter, The Emperor of Ocean Park
library books : “CAREFULLY SELECTED BY PROFESSIONALS,” 
Internet sources : “WHATEVER.“
Kalo isunya perpustakaan masih seputar muka jutek ato serem si librarian…udah ga update bgt…(please dehhh…muka aja yg diurusin) Gimana tuh dengan isu plagiarism di lingkungan pendidikan? Librarian ikut andil ga berantas kayak gituan?
***
Thursday, 25 November, 2010, 3:19 PM
Firmansyah:
@sugi: jangan salah lho.. di google kita dah bisa buka langsung beberapa halaman dari berbagai buku, jurnal, dan terbitan tercetak lainnya yang kita cari/butuhkan.. silahkan coba lihat fasilitas “Book” di google.. konon, google menghabiskan uang bermilyar-milyar untuk proyek ini..
jurnal online juga sangat mudah didapatkan.. baik yang gratis maupun yang berbayar.. nah, perpustakaan besar juga memanfaatkan ini untuk layanannya.. perpustakaan menanggung biaya untuk jurnal online yang dilanggannya dan dimanfaatkan gratis untuk penggunanya.. gak gratis juga sih, anggota perpustakaan biasanya bayar juga untuk keanggotaan, baik langsung maupun tidak langsung ke perpustakaan..
era web 2.0 juga memungkinkan para penulis-penulis handal untuk menampilkan karya2 ilmiahnya di dunia maya tanpa harus takut kehilangan penghargaan atas karya intelektualnya.. dengan memanfaatkan internet marketing para penulis itu juga tetap bisa mendapatkan uang dari karya2 ilmiahnya..
tapi bener juga, perpustakaan konvensional masih dibutuhkan pada masyarakat yang masih belum memiliki akses kuat terhadap teknologi.. mereka yang memiliki akses yang kuat pun masih membutuhkan yang tercetak karena keterbatasan organ tubuh, seperti mata, ketika berhadapan dengan layar komputer..
@nita: bener nita, iklannya barangkali yang lebay.. hehe..
tapi, kondisi di kampus tempat nita bekerja memang memungkinkan suasana perpustakaan yang seperti itu.. dan memang harus seperti itu.. kalau tidak seperti itu, nggak kebayang deh saya gimana hasil keluarannya..
lagipula harga buku masih terlampau mahal.. mahasiswa lebih baik pinjem daripada beli.. apalagi kalau hanya untuk sekali pakai untuk buat tugas makalah.. hehe..
btw, nita jangan tampil ‘jutek’ yah kalo yang dilayanin rame.. kan mahasiswanya ganteng2 dan cantik2..:)
@grace: yuph.. generasi narsis dan instan.. generasi seperti ini sangat dimungkinkan karena produk2 teknologi yang berkembang sangat cepat dan industri memerlukan pasar yang loyal terhadap produk2 itu.. ya, mungkin pasar yang narsis dan instan..
btw, pustakawannya di iklan itu kayaknya gak serem kali yah, cantik koq ternyata kalo diperhatiin, hehe..
Bravo Pustakawan Indonesia!
***
Thursday, 25 November, 2010, 4:07 PM
Citra Octaviana:
Hey semua,
salam,
Thanks Man udah mau bersedia ngasih link nya ke gwe dan bu tami (btw bu tami ikut milis kita ya? :D ) dan ignite (i dont what’s that word in Bahasa) diskusi ini. i really appreciate it ^_^
ok, i’m trying to have my words.
pertama gwe liat iklan tersebut, i dont really feel offended. biasa aja. yang gwe liat hanyalah commercial business yang mencoba mencari niche in education industries. and that’s normal. kesempatan kan bisa ada dimana aja. dan emang begitulah para pelaku bisnis. mencoba berbagai macam cara untuk memasarkan produk mereka yang kebetulan sasaran sekarang adalah gen Y, ya kita2 ini. gen Y itu bukan cuma anak2 sma yang ada di iklan itu. gen Y ya termasuk kita sekarang. despite the fact that some of us are already married. is that not incredible? :)
for me, it’s just a metaphor. it can be interpreted differently on each other’s psyches. mungkin maksudnya adalah, perpustakaan dapat dikecilkan sehingga menjadi sebuah telepon genggam. sekarang ini kan jamannya internet, jadi informasi bisa didapat dari henpon sekalipun. dan menurut gwe bukan cuma gen Y aja yang generasi instan, semua orang sekarang mau cepat dan instan bukan? jadi pelaku bisnis ini memanfaatkan kesempatan untuk menjamah pasar gen Y dengan berbagai kemudahan. yang perlu disayangkan adalah kenapa yang menangkap peluang ini bukan kita, pustakawan. apa kita terlalu sibuk dengan technical skills yaitu katalog dan klasifikasi? saya tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa 2 hal itu tidak penting. tapi terkadang kita lupa kalau assets kita yang paling mendominasi adalah manusia yang datang ke perpustakaan. harusnya di dalam “perpustakaan” yang dikecilkan menjadi sebuah telepon genggam, kita bisa berperan besar didalamnya. entah itu content supervision, information literacy dan media literacy. internet ga selamanya ko punya dampak negatif. well everything has its bad and good, doesnt it?
berbicara tentang internet. ga cuma content internet kali yang isinya banyak bias dan distorsi nya. koran, media cetak dan televisi juga banyak biasnya. isinya kan dikontrol sama para kapitalis. if you ever read the book titled “political economy in communication”, you’ll understand my words. kemudian melihat kecendrungan generasi yang terlalu banyak terekspos ke media, contohnya sekarang lagi marak web 2.0. harusnya pustakawan menangkap peluang ini. well i would say, pustakawan di amerika dan australia sudah menerapkan ini. karena generasi skrg yang cenderung menggunakan web 2.0 untuk self-actualisation (coba, skrg siapa yang ga sering update status di facebook), pustakawan bisa menggunakan ini untuk user-generated content. dan tentang isinya, kenapa pustakawan ga coba untuk memberikan media literacy dan information literacy yang seharusnya. but unfortunately, itu harus didukung dari kebijakan publik suatu negara. karena kalo ga, kapitalis akan selalu membuat dunia not-for-profit pendidikan termarjinalkan. ya seperti contohnya iklan itu. 
tidak bisa dipungkiri kalau image pustakawan itu yang emang masih yang seperti di iklan itu. itu mah ga cuma di indonesia. di negara maju juga sama aja malah. ada kekhawatiran kalo akan terus begitu sekolah perpustakaan akan ditutup (ini menurut prosiding konferensi IFLA 1997, lupa tahunnya. hehe,,). masih banyak PR-PR yang harus kita selesaikan. coba teman bisa baca blognya Elyssa Kroski (http://infotangle.blogsome.com/). dia banyak menyampaikan gimana agar perpust menjadi lebih hip dan bisa diterima gen Y. 
Nonetheless, internet selalu aja ada kendalanya. di berbagai belahan dunia, pasti aja ada wilayah yg disenfranchised (yaitu yg ga dapat penetrasi internet). nah disini peran perpust konvensional dibutuhkan. dan seharusnya perpust ga cuma dijadikan tempat untuk semata2 meminjam buku, tapi juga lebih ke arah learning centre. hhmm kayanya kita terlalu jumawa dengan gelar kita sebagai gudang ilmu (perpustakaan adalah gudang ilmu). ya gudang akan menjadi gudang kalau ga dimanfaatkan, kasarnya gitu. 
jadi menurut saya, perpust konvensional tetap dibutuhkan. mungkin management nya saja yang harus ditingkatkan. saya pribadi juga lebih senang baca buku yang berhalaman2 itu ko. daripada harus baca e-books. hahahaha.. dari pengalaman dulu, setiap ada bahan bacaan dari dosen yang dipublish ke web universitas, pasti akan saya print. well, i’m still old-fashioned, hey! :P
sepertinya saya sudah ngoceh kebanyakan.
next ! silakan ^_^
salam,
Attitude is everything and self perception determines directions – Nick Vujicic
***
Thursday, 25 November, 2010, 4:15 PM
Citra Octaviana:
oiya,,
lupa bilang, dalam menyikapi internet, ya itu seharusnya menjadi peran pustakawan dan teachers untuk membentuk critical thinking. not just take the information for granted.
Salam ^_^
***
Thursday, 25 November, 2010, 4:35 PM
Firmansyah:
Thanks Cit..
nah, begitulah baiknya.. lw emang paling ngertiin gw dah ah.. hhehe..
pembahasan yang bagus dan mencerahkan..
***
Thursday, 25 November, 2010, 4:43 PM
Venty Hartini:
dari tadi ngikutin Thread ini, baru sekarang bisa ikut nimbrung…
intinya internet, gadjet and all Techno things, masing-masing mendukung perpustakaan baik itu yg konvensional ataupun e-library..kedua2nya sangat penting, mungkin ada suatu masa ketika buku sudah langka dan diperlakukan sebagai manuskrip, orang kan gak mungkin baca manuskrip di internet, lg pula alat bacanya pasti gak semua org punya pula…(mislnya manuskrip2 yg udah di ubah bentuknya jd mikrofilm, terus bagi orang yang mempunyai kekurangan fisik seperti yg Firman bilang pasti juga masih membutuhkan perpustakaan konvensional. Gak semudah itu perpustakaan konvensional dihilangkan dan tidak diperdulikan lagi sm masyarakat.
kalo soal iklan yg di kober itu menurut gw, tujuan iklan kan buat masarin produknya(halal kok untuk berkreasi) akan dipergunakan segala cara buat narik perhatian konsumen..n menurut gw iklan itu udah berhasil bikin kita perhatian…(tp bukan untuk membeli sayangnya…tp untuk mengkritik, hihihihiii…), bener kata citra…semuanya sekarang tergantung cara pandang kita..
live with piss ya all :)
***
Thursday, 25 November, 2010, 5:07 PM
Firmansyah:
Venty yang baik.. bener banget untuk tambahan-tambahannya.. dan soal kritik, bisa jadi iklan itu juga kan yang mengkritik kita? Pustakawan? yah.. ada semacam dialektika lah.. hehe.. ini juga lagi2 soal cara pandang aja..
yah, alhamdulillah juga ada iklan kayak gitu.. membuat kita jadi membahas lagi persoalan perpustakaan, dunia yang kita geluti.. terserah bagaimana kita menyikapi hal itu.. dengan self-defense kah.. atau menerima kritik dengan lapang dada dan berpikir kreatif untuk terus turut serta mengembangkan dunia perpustakaan di tengah perkembangan teknologi dan keragaman masyarakat tempat kita berpijak.. lagi-lagi tergantung bagaimana kita menyikapinya..
oh iya, soal cara pandang.. orang inggris yang gak gaul di Indonesia bisa ketawa juga barangkali kalu ngebaca: live with piss ya all :) (jika piss dipandang bukan peace.. apa coba maknanya.. hihi.. lucu yah.. )
oh iya, soal plagiarism yang diwacanakan Saudari Grace gimana tuh pren.. eike gak bisa banyak komen, pan aye juga pernah nyontek tugas makalah sama kalian waktu kuliah.. hehe..
***
Thursday, 25 November, 2010, 6:57 PM
Citra Octaviana:
Jyaahh Man,, geli gwe ngebayangin lwu ngomong “eike”. Hahaha,, LMAO
Yahh gmn ya Man,, kita memang sehati,, ahahahaha,, jgn bikin gosip dehh,, :P
The point is “perpust mini” ala iklan nokia itu cuma sekedar alat. Yg kebetulan menggabungkan keunggulan teknologi. Tetap saja, faktor manusianya yg paling menentukan. Dan disini sesungguhnya peranan kita yg katanya ahli informasi.
Kalau kata Marshall McLuhan dgn teori Technological Determinism-nya, teknologi yang menentukan peradaban manusia. Teknologi yg memainkan peran dominannya. Well, kita hidup bersosial, jadi teori Social Constructionism (bisa diambil teorinya Vivien Burr atau Alfred Schultz) mengakui kalau manusia-nya lah yg memegang kendali dari teknologi. Dan harusnya pustakawan yg memainkan peran sebagai social constructionist.
Jadi baik atau buruknya teknologi atau internet, you decide !!
Makin bijak semuanya ^_^
Salam
***
Thursday, 25 November, 2010, 7:08 PM
Citra Octaviana:
Oya, (hahh selalu deh gwe kelupaan sesuatu)
Kalau isu plagiarisme (well dulu juga gwe nyontek pas s1, tapi pas s2 mah bisa DO gwe kalo nyontek. Hehehe) itu bisa dibilang budaya ya. Sejauh mana kita menghargai karya orang lain. Untuk mencegahnya, contohnya dulu di uni gwe di Sydney sono, library nya udah pakai software pelacak plagiarisme. Dan dosen2 juga mewajibkan semua karya tulis kita di scan dulu di software yg namanya Turnitin itu. Dan software itu terintegrasi dgn web perpust nya dan semua materi pembelajaran online. Itu bisa dijadikan alternatif.
Well untuk membuat infrastruktur kaya gitu, gwe ga tau modalnya berapa. Tanyakan bu Tami coba. Yg pasti that’ll cost a fortune. Hehe.. Kecuali software-nya open source. Jadi menurut gwe ga usah mengharapkan pemerintah will do something to combat this deh. Kenapa ga semuanya dimulai dari diri kita sendiri dulu? I reckon that little effort indeed will make a difference :).
How to build that awareness? That is an unaccomplished homework for us. ^_^
Makin bijak :)
Salam
***
Thursday, 25 November, 2010, 10:56 PM
Utami Hariyadi:
Anggota milis jipui_2003 yang cantik, ganteng, en smart abiss…
Seandainya saja anda semua dapat melihat ekspresi wajah saya ketika membaca thread ini,….rasa kagum (karena apa yang kalian kemukakan  bernas dan cerdas), bangga (karena pernah mendapat kesempatan membagi ilmu kepada kalian), dan bangga lagi (karena kalian menunjukkan “concern” kalian yang mendalam terhadap fenomena era TIK) dan setulusnya saya amat bangga (lagi) karena ternyata kalian secara tersirat dan tersurat mampu mengantisipasi isu yang  “dilemparkan” Firman menjadi ajang diskusi yang menarik dan bermanfaat. (Terima kasih Firman)… Guys, I am really really proud of you all….
Sesaat, saya merasa “gemas” ketika melihat iklan Nokia tersebut yang terkesan “dangkal” dalam menilai keberadaan perpustakaan.  Namun setelah saya lihat dengan lebih cermat, terus terang, saya, yang selalu dengan bangga menyebut diri saya sebagai pengajar yang (pernah menjadi) pustakawan,  kagum dengan kejelian pembuat iklan, yang menggunakan perpustakaan untuk “mengunggulkan” produknya, tetapi sekaligus saya juga  “tersanjung” karena pembuat iklan secara tidak langsung mempromosikan perpustakaan yang digambarkan sebagai perpustakaan modern yang dipenuhi pemustaka muda plus pustakawatinya yang kinyis – kinyis,  ga seperti pustakawati – pustakawati di “you-know-where”….   
Seriously speaking, penetrasi TIK ke dunia kepustakawanan tak mungkin dibendung, justru menuntut kita untuk siap menerima dengan positif serta mempelajari penerapannya untuk dapat  selalumemberikan pelayanan yang terbaik  kepada pemustaka kita….Ho ho ho, it is getting a bit boring yaa,… … Apa yang telah kalian kemukakan di thread ini sudah cukup jelas koq,…
Berbicara mengenai para millenial alias generasi Y, yang sebagian sudah bisa disebut sebagai  Net generation, coba cek link ini  ( i am not surprised if you have already checked this out)
Citra, saya rasa cukup banyak uni di Indonesia yang mampu beli turnitin, tapi yang saya ragukan adalah kesiapan mindset para pemangku kepentingan, dan equally important, kesiapan infrastrukturnya…
***
Friday, 26 November, 2010, 7:55 AM
Grace Wiradi:
Sekolah2 seperti Binus sepertinya sudah apply Turnitin itu…Bener juga ya Bu Tami, mungkin banyak yang bisa beli Turnitin. Tapi yg lebih penting dari mengaplikasikan teknologi ‘anti’ plagiarism adalah gimana librarian sendiri selain punya mindset anti plagiarism, juga punya pengetahuan apa yg bisa dilakukan untuk user dlm mencari informasi yg valid. Dari yg saya temui di lapangan,  sebenernya anak2 sekolah (bahkan guru!) itu ga tau kalo nyari informasi yg valid ga bisa mengandalkan internet (atau wikipedia), dan parahnya ketika anak dikasih tugas bikin paper/laporan mereka cuma copy paste dari wikipedia…dan masih ada parahnya…gurunya bilang anak itu hebat bikin laporannya……..
Beberapa waktu yg lalu saya sampaikan ke pimpinan tempat saya kerja soal2 plagiarism seperti itu, tanggapannya cukup mengejutkan juga…
Belom lagi soal jejaring sosial…user dtg ke library cuma untuk buka facebooknya……
Anyway…diskusi kayak gini bener2 nambah banyak pengetahuan ya…sering2 deh…
***
Tuesday, 30 November, 2010, 4:19 PM
Firmansyah:
hiks.. akhirnya sesepuh ikut nimbrung..
salam warna warni bu.. (hehe.. apa coba?..)
***
Friday, 3 December, 2010, 1:17 PM
Citra Octaviana:
Waddaaww,, dedengkot turun gunung,, hehehhehehe,,, :P
Waktu buka link dari bu Tami, I was like shame on me. Harusnya gwe udah tau itu, hahahaha. Link yg bagus bu ^_^
Kalau beli Turnitin aja mungkin mampu ya bu. Tapi benar msh banyak harga yg harus dibayar lebih dari sekedar harga Turnitin. Kalau beli doang, tapi lecturer nya ga meng-encourage anti plagiat, ya sama aja. Atau kalau studentnya msh mikir ngutip pikiran org tanpa meng-acknowledge nya, ya sia2 sudah. Hehe,,
Salam,
-Citra-

3 Comments Add yours

  1. hmmm, saya mah betah diperpustakaan kimia bang…
    numpang ngenet gratis + buat ngadem.
    penjaga perpusnya asyik kok.. akrab banget sama mahasiswa…

    yang tidak kalah penting dari perpus adalah harus bisa donlod gratis jurnal-jurnal ilmiah terbaru daru luar negeri.
    kadang ada jurnal-jurnal dari science direct yang ga isa di donlot gratis… :(
    jadi, kadang minta didonlot sama bang bona yang masih di ausi.

  2. pakdhe says:

    hihi…mngap bang, ane sundul lagi deh ini diskusi…tergelitik juga baca fenomena yang terus menerus menggerus perpustakaan. gak aneh juga sih jika nokia pake tag perpustakaan buat ngedongkrak “irama” penjualan produknya. soalnya kata perpustakaan, sangat familiar dikalangan semua orang. haha..yah, bener kata para suhu diatas, hanya yang harus diingat bahwa untuk mengutip kalimat sebagai bahan rujukan lebih praktis kita pencet via tuts keyboard. soalnya generasi sekarang lebih mudah menuliskan kalimat tapi tak cakap menerangkan dan mengejawantahkan kalimta yang ditulisnya.
    tapi untuk menjadikan otak kita bermartabat, sepertinya buku2 berdebu di perpustakaan lebih dari sekedar “bermartabat” untuk di jadikan rujukan. so, saat kita bilang perpustakaan, kita bener-bener tahu apa itu perpustakaan, baik dengan tulisan, maupun lisan.

    1. sacafirmansyah says:

      mantap bro..:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s