Amien Rais: Jangan Berharap pada Obama

Terlepas dari kabar kedekatan emosional Presiden Amerika Serikat Barack Hussein Obama dengan Indonesia, ternyata kunjungan dia direncanakan singkat saja. Tak sampai 24 jam, jauh lebih singkat dari kunjungan dia ke India, misalnya, yang sampai tiga hari penuh.

Sebagian pihak menilai ini bukti bahwa Indonesia dianggap tak penting oleh Pemerintahan Amerika Serikat. Ada juga yang mengaitkan singkatnya kunjungan sebagai cerminan tak seriusnya janji Obama membuka jembatan dengan dunia Islam.

Terkait hal ini, wartawan Republika, Fitrian Zamzami, mewawancarai M Amien Rais, sang lokomotif reformasi yang pernah mengenyam pendidikan di negeri Paman Sam. Berikut petikan wawancara dengan mantan ketua MPR yang kini menjabat sebagai ketua Majelis Pertimbangan Partai Amanat Nasional (PAN).

Obama rencananya singkat saja melakukan kunjungan ke Indonesia. Bagaimana pendapat Anda?

Saya mengharap bangsa Indonesia dan para pemimpin tidak boleh lagi dihinggapi penyakit Obamania. Terbukti, Obama tidak terlalu berbeda dengan George Bush dalam dua hal yang fatal.

Apa saja itu?

Yang pertama, George Bush sudah melakukan penghancuran maksimal terhadap Irak dan sudah selesai. Seementara itu, Obama sekarang sedang melakukan penghancuran maksimal terhadap Afghanistan.

Yang kedua, George Bush adalah pembela total kepentingan Israel dan melupakan kepentingan Palestina. Sikap Bush itu ditiru oleh Obama secara sama dan sebangun. Yaitu, membela Israel dan terus mendiamkan pembangunan permukiman Israel di Tepi Barat dan Gaza serta meremehkan hak-hak warga Palestina.

Di samping itu, dalam hal ekonomi, Obama juga hanya meniru George Bush, terutama dalam membela kepentingan korporatokrasi Amerika Serikat. Jadi, bangsa Indonesia harus menyadari bahwa dirinya adalah bangsa besar. Jangan lagi menjadi bangsa pengekor seperti halnya masa lalu.

Berarti tak ada kelebihan dari Obama dibanding penguasa terdahulu?

Kalau ada kelebihan dari Obama, terutama dia ingin melihat asuransi kesehatan dinikmati seluruh masyarakat Amerika Serikat. Dan, yang kedua, dia merasa risih dengan tempat penyiksaan di Guantanamo. Saya kira itu sedikit kelebihan yang patut dicatat.

Apa yang bisa kita harapkan dari kunjungan Obama yang singkat ini?

Saya yakin, karena ekonomi Amerika sedang kocar-kacir, kita jangan berharap terlalu banyaklah. Kesalahan sementara anak-anak bangsa atau sementara pejabat kita itu bahwa kita melihat Amerika dengan menengadah seolah-olah Amerika itu adalah contoh negara demokrasi yang hebat dan lain-lain, sementara sesungguhnya Amerika sudah sangat keropos. Jadi, daripada mengagumi bangsa Amerika secara berlebihan, lebih baik membangun bangsa dengan kekuatan sendiri.

Apakah singkatnya kunjungan Obama berarti ia mengkhianati komitmennya untuk membangun jembatan dengan dunia Islam?

Iya, seperti itu. Jadi, untuk melihat Obama, kita harus melihat secara jeli. Kita harus melihat jurang yang menganga antara retorika Obama realitas Obama kalau retorikanya itu luar biasa. Seolah-olah menjalin hubungan dengan dunia Islam, kemudian bicara tentang HAM, dan keadilan dunia, tapi kenyataannya berbicara lain.

Dia masih membela kepentingan korporasi besar Amerika, ia masih ingin mendominasi dunia dengan hegemoninya. Karena itu, yang penting, sebagai tamu kita sambut sekadarnya saja, kemudian kita ucapkan selamat jalan, mudahmudahan baik-baik saja di perjalanan.

Kunjungan ini juga lebih cenderung demi kepentingan korporasi Amerika Serikat?

Saya kira, dia pasti akan bicara tentang pengamanan kepentingan dan aset Amerika di Indonesia. Itu sudah menjadi tugas penghuni Gedung Putih. Ke mana pun dia pergi, bicaranya pengamanan ekonomi Amerika yang memang cenderung eksploitatif. Karena itu, harus kita jawab dengan tegas bahwa masa lalu sudah berlalu. Jangan bermimpi lagi dunia belum berubah. Dunia sudah berubah.

Sekarang, pemain baru adalah Cina, India, Brasil, dan Rusia serta kita sebagai negara besar harus memegang kata-kata kunci, tidak boleh lagi di bawah bayang-bayang Amerika kalau kita mau besar.

Tapi, kalau kita masih punya mental inlander, mental kurang percaya diri, ya teruskan saja mengagung-agungkan Amerika. Teruskan saja menjadi halaman belakang ekonomi Amerika.

Jadi, kunjungan Obama tak terlalu penting?

Nggak! Obama setelah dua tahun ini juga tidak ada perubahan apa-apa. Jadi, yang menga takan “Change We Can, Change We Believe,” (slogan kampanye kepresidenan Obama) ini, ternyata yang dimaksud juga hanya mempertahankan status quo. Tidak ada perubahan.

Terkait masalah Papua, banyak orang berpendapat korporasi Amerika berperan menimbulkan ketidakadilan di sana. Kunjungan Obama bisa merevisi hal tersebut?

Saya kira tak peduli presidennya putih atau hitam, laki-laki atau perempuan, itu sudah menjadi kodrat penghuni Gedung Putih untuk membela mati-matian ekonomi Amerika yang tidak adil itu. Tidak karena dia pernah bersekolah di Menteng, kemudian dia akan bersimpati pada Indonesia. Hanya karena dia pernah makan bakso dan nasi goreng, dia akan menjadi lebih kasih sayang. Tidak!

Berarti, menurut Anda, Obama tak perlu mengungkit-ungkit pelanggaran HAM di Papua dan membiarkan hal tersebut ditangani Pemerintah Indonesia?

Persis. Persis! Dan, itu ada informasi yang perlu dikonfirmasi. Ada berita yang saya dengar dan masih perlu dikonfirmasi bahwa ada ribuan warga Amerika dengan visa turis berkeliaran di Papua. Itu untuk apa? Tolong diperiksa.

Sumber: Republika, 10 November 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s