Tak ada kesuksesan tanpa kesungguhan..

Pagi hari ini, ada teman dari seorang teman yang meminta nasehat kepada saya mengenai persoalan kehidupannya. Entah mengapa saya ingin saja meladeninya, nasehat-nasehat pun keluar dari diri saya. Saya sendiri merasa bahwa nasehat itu lebih cocok untuk saya sendiri. Karena itulah saya pikir dialog tadi pagi perlu saya abadikan dalam ingatan, ya dalam blog ini.
***
”Kak, menurut kakak faktor apa saja yang menentukan keberhasilan seseorang dalam pekerjaan, kehidupan sosial dan kehidupan pribadi?” kata teman dari teman saya saat memulai pertanyaan. Sebut saja namanya dengan inisial ”DE”.
Awalnya saya agak bingung. Langsung saja keluar kata-kata, ”Banyak faktor…” Setelah kalimat itu saya diam sesaat. Tak ada apapun yang terpikir. DE sepertinya sangat tak puas dengan jawaban itu. Ia melanjutkan pertanyaannya.
”Nah, maka dari itu. Terus?” kata DE yang tak puas dengan jawaban singkat itu. Saya sedang tidak fokus dengan jawaban dari pertanyaannya itu. Tapi tiba-tiba saja saya melanjutkan jawaban.
”Di dalam hidup itu ada faktor X, Y, Z dalam konstanta bilangan waktu yang kadang secara sadar atau tidak sadar membawa kita kepada kesuksesan. Yang paling penting ya sungguh-sungguh saja dalam banyak hal. Dalam beribadah dan dalam berusaha. Kadang banyak teori-teori motivasi itu nggak kita butuhkan dalam menjalani kehidupan. Yang paling penting, bagaimana menumbuhkan kesungguhan pada apa yang kita jalani dalam kehidupan ini. Sederhana kok DE,” jawab saya sambil kebingungan dengan apa yang telah saya katakan sendiri. DE sepertinya sepakat dengan jawaban itu, tapi ia masih ingin ada jawaban lain keluar dari diri saya.
”Ok, ok.. ada lagi? Atau cukup?” kata DE melanjutkan dialog.
”Cukupkan sampai di situ saja dulu. Tumbuhkanlah itu kesungguhan. Gak akan ada kesuksesan tanpa kesungguhan. Bahkan, di dalam berhubungan dengan sesama. Sungguh-sungguhlah dalam mendengarkan dan menyampaikan apa-apa yang layak kita ucapkan kepada orang-orang di sekitar kita. Oke..!” kata saya menambahkan jawaban.
”Ok.. siiipp.. 1 lagi.. Boleh, boleh?” lanjut DE. Saya hanya mengiyakan saja.
”Menurut kakak, bagaimana relevansi pendidikan di sekolah dengan kesuksesan dalam kehidupan?” tanya DE. Saya seperti tak memikirkan lagi maksud pertanyaan itu, dan langsung saja menjawab.
”Kita lihat banyak kasus saja. Ternyata banyak juga orang sukses bukan karena dia bersekolah. Tetapi karena kesungguhan yang dibangunnya. Contoh yang paling terkenal adalah Thomas Alpha Edison, seorang yang banyak melakukan penemuan. Dia tidak bersekolah,” kata saya.
”Jadi sepertinya tidak ada relevansi mutlak antara pendidikan di sekolah dengan kesuksesan seseorang dalam kehidupan. Banyak kok yang sekolah tapi gagal. Mungkin karena di sekolah selama ini orang hanya mengejar ijazah, tanpa kesungguhan untuk menuntut ilmu dan mengamalkannya bagi kemaslahatan bersama. Alhasil, ilmu yang didapatkan tidak menjadi berkah baginya,” lanjut saya dan menambahkan nasehat lagi, ”Kalaupun kita bersekolah, bersekolahlah dengan kesungguhan. Dengan passion. Hasrat yang baik. Nah, passion ini yang akan mengarahkan ke jalan mana yang kita tuju untuk sukses itu. Ingat, konsekuensi menuntut ilmu itu perlu diamalkan. Maka fokuslah pada ilmu yang ingin kau amalkan agar menjadi berkah kesuksesan bagi kamu. Bagaimana? Dapat diterima?”
”Ok, ok… jadi relevansi yang spesifik itu dalam passionnya?” tanya DE untuk menegaskan jawaban.
”Dalam kesungguhan kita menuntut ilmu dan mengamalkannya bagi kemaslahatan bersama umat manusia. Disitulah relevansinya, barangkali..,” tegas saya.
”Harus pakai barangkali ya?” tanya DE dengan agak kecewa.
”Ya.. ini supaya kamu juga terus melakukan pencarian yang lain. Terus memacu diri untuk mencari kebenaran lain yang akan membawa kesuksesan bagi kamu. Mungkin saja apa yang saya sampaikan ada kekurangan. Kamu cari deh yang lainnya biar mendekati sempurna dan mengukuhkan tekad kamu. Oke..” kata saya sambil memotivasinya untuk bertanya pada yang lain.
”Hari ini saya hanya memberikan beberapa saja: passion.. sebutlah hasrat dan juga kesungguhan.. Oke!” kata saya menutup pembicaraan.
Setelah dialog pagi itu, saya jadi kepikiran dengan jawaban-jawaban saya. Ya, saya sendiri harus dengan sungguh-sungguh menjalani apa yang saya kerjakan sekarang, jalan yang sedang saya tempuh saat ini. Sungguh-sungguh dan penuh hasrat, passion..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s