Menuju Semeru (2), Seharian Menunggu Tumpangan Di Tumpang

27 September 2010

Pagi yang cukup cerah untuk memulai perjalanan. Dengan penuh semangat kami segera menuju Terminal Bungur Asih. Sesampainya di Terminal Bungur Asih, saya, Dinda, dan Alfi segera mencari bus yang menuju Terminal Arjosari, Malang. Tak lama menunggu kami langsung naik bus AC tarif biasa, bus PO. Kalisari. Biaya untuk sampai Malang dikenakan sembilan ribu rupiah.
Bus ini cukup nyaman juga. Ada AC dengan kursi-kursi yang empuk yang terkesan baru. Cukup rapih baik eksterior maupun interiornya. Di bus ini kami memilih duduk di kursi paling belakang. Di dekat jendela sebelah kanan. Barang-barang kami tempatkan di belakang kursi penumpang.
Di dalam bus ini, saya masih sangat mengantuk. Tapi tak bisa tidur juga. Ingin menikmati pemandangan sepanjang jalan. Dan tentu saja, ingin melihat bagaimana suasana jalan di sekitar daerah Porong yang katanya kini di sudut-sudut tertentu seperti kota mati tak berpenghuni.
Sepanjang jalan di daerah Porong, di sisi kiri jalan, pemandangan yang ada hanyalah tanggul penahan lumpur. Sementara di sisi kanannya rumah-rumah yang tak berpenghuni. Ada yang benar-benar tinggal puing-puing saja. Ada juga yang masih utuh dan bertuliskan “Dijual”. Tapi, siapa pula yang mau membelinya di daerah yang rawan genangan lumpur Lapindo seperti itu?
Saya hanya mengamat-amati saja dari dalam bus. Di atas tanggul berdiri beberapa pos masuk yang dibuat dengan bambu seadanya. Di pos itu ada beberapa orang yang berjaga. Di atas tanggul itu ada ibu-ibu, anak-anak baik lak-laki maupun perempuan, dan laki-laki dewasa yang nampaknya gembira sekali melihat pemandangan kawah lumpur itu. Ya, memang daerah itu sudah lama menjadi tujuan wisata orang-orang di daerah sekitar dan juga dari daerah lainnya. Terlepas dari penderitaan korban lumpur Lapindo, saya juga menikmati bagaimana indahnya ‘kota mati’ ini.
Setelah melewati Porong, dan masuk ke daerah Malang, saya memaksa diri untuk memejamkan mata. Tidak tertidur. Hanya sekedar mengistirahatkan mata saja agar tidak terlalu lelah. Lagipula, di sepanjang jalan dalam bus, kami tak terlalu banyak berbicara. Hanya saling berpandang mata saja.
Pagi itu jalanan cukup lancar. Kami tidak terhalang oleh kemacetan. Pukul delapan pagi kami tiba di Terminal Arjosari, Malang. Dari terminal, kami lanjutkan perjalanan dengan menggunakan angkot putih ke arah Tumpang. Kami memilih duduk di bangku paling belakang bersama barang yang cukup memakan tempat ini. Lagipula, kami akan turun di tempat pemberhentian terakhir. Jadi, tidak mengganggu masuk dan keluarnya penumpang-penumpang lain yang mungkin ada.
Untuk mencapai Tumpang, cukup ditempuh sekitar tiga puluh menit. Dalam waktu tiga puluh menit itu, lagi-lagi kami tidak terlalu banyak berbicara. Hanya saling berpandang mata saja. Mengamat-amati jalan di sisi kiri dan kanan. Sedikit-sedikit memejamkan mata juga.
Sampai di Tumpang, selesai menurunkan barang dan membayar ongkos sebesar lima ribu rupiah per orang, kami langsung menyeberang ke tempat mangkalnya sopir-sopir jeep menuju Ranu Pani di samping toko Alfa Mart. Di tempat ini juga menjadi tempat para pendaki dengan kelompok kecil berkumpul dan menunggu teman hingga jumlah kelompok menjadi sekitar dua belas sampai lima belas orang. Dengan jumlah sebanyak itu akan menjadi murah kalau mencarter jeep yang tarif carternya empat ratus lima puluh ribu rupiah.
Karena bukan di akhir pekan, kami tidak melihat pendaki sama sekali yang akan naik ke Semeru. Hanya kami bertiga saja yang akan mendaki hari itu. Tapi kami berharap akan ada teman jalan menuju Ranu Pani, agar dapat tumpangan murah. Kami mencoba untuk menunggu sambil terus berharap.
Sambil menunggu, saya membuka perbincangan dengan teman-teman yang mangkal di pos itu. Mereka cukup ramah-ramah dan sangat menerima, terbuka. Salah satu orang yang paling sering berbicara dengan saya adalah Mas Rudi. Dari dialah saya diminta untuk mengurus surat keterangan sehat di Puskesmas Tumpang, tak jauh dari pasar. Biayanya cukup lima ribu rupiah saja. Surat keterangan sehat harus di fotocopy dua lembar untuk persyaratan pendakian. Selain itu, juga fotocopy KTP dua lembar dan satu materai 6000. Jam sembilan pagi itu juga saya, Dinda dan Alfi segera mengurus persyaratan itu. Barang-barang kami tinggalkan di pos. Sudah ada jaminan aman dari Mas Rudi dan kawan-kawan di pos itu.
Selesai mengurus persyaratan, kami masih terus menunggu kemungkinan ada rombongan lain yang akan ke Ranu Pani. Mas Rudi mengatakan kalau sampai jam satu atau maksimal jam dua belum ada rombongan lain, biasanya memang tidak ada pendaki lain yang akan ke Semeru. Nah, kalau tidak sanggup carter jeep yang memang cukup mahal, kami disarankan untuk menumpang truk sayur yang akan berangkat ke Ranu Pani sekitar jam lima pagi nanti. Cukup membayar tiga puluh ribu rupiah saja per orangnya. Dan malamnya bisa nginap di rumah yang punya truk itu sambil menunggu pagi.
Untuk menunggu sampai jam dua itu, Mas Rudi menyarankan saya agar bermain-main dulu di sekitar Tumpang. Bisa ke Candi Jago atau wisata kuliner. Barang-barang biar ditinggal saja, katanya cukup aman di tempat itu. Mereka sudah biasa menyambut pendaki seperti itu.
Saya menurut saja. Lagipula saya takut kalau-kalau Dinda dan Alfi kehilangan mood untuk naek ke Semeru. Pukul sepuluh lebih tiga puluh menit, kami langsung berangkat ke Candi Jago yang tidak jauh dari Pasar Tumpang.
***
(Candi Jago, Tumpang – Malang)
***
Candi Jago ini ternyata terletak di tengah-tengah pemukiman penduduk Tumpang. Hanya dipagari dengan pagar kawat sederhanya namun tertata apik.
***
(Pemandangan dari atas Candi Jago, Malang)
***
Di dekat Candi Jago terdapat pula Sekolah Dasar Negeri dan TK Aisyiyah. Karenanya candi ini hampir setiap hari menjadi tempat bermainnya anak-anak di sana usai pulang sekolah. Di Candi Jago ini kami duduk-duduk dan berfoto-foto bersama anak-anak SD yang kebetulan baru pulang sekolah.
***
(Foto narsis di Candi Jago, Tumpang, Malang)
***
(Foto ceria bersama anak-anak SD Tumpang di Candi Jago, Malang)
***
Selain itu, saya mengamat-amati pula cerita di relief bebatuan yang menyusun candi. Menurut Mas Rudi, Candi Jago adalah salah satu candi peninggalan kerajaan Singosari. Kalau dicari tahu, Candi Jago ini dibangun kira-kira pada 1275 – 1300 AD. Tempat ini diyakini sebagai tempat pemakaman abu Raja Wisnuwardhana, raja keempat dari kerajaan Singosari. Candi ini menjadi menarik karena memiliki kesamaan ornamen seperti candi Penataran di Kabupaten Blitar.
***
(Relief pada Candi Jago, Tumpang, Malang, Jawa Timur)
***
Selesai menikmati uniknya Candi Jago dan gembiranya bersama anak-anak sekolah di sana, pada pukul satu siang kami menuju masjid yang cukup besar di jalan raya Tumpang. Kami segera menunaikan sholat dzuhur dengan tak lupa menjamak sholat ashar.
Dari masjid kami kembali lagi ke pos. Menunggu lagi. Di waktu menunggu yang membosankan itu, kami mencoba melepas kebosanan dengan berbincang-bincang soal gambar yang ada di Pos. Singo edan mencekik buaya ijo, dan membuang ke tempat sampah yang bertuliskan: Bersih itu Indah.
***
(Mural di Pos Tumpang, The Spirit of Aremania, Bersih itu Indah)
***
Berbicara soal Malang, memang tak lepas dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, dan tentu saja Aremania. Sejak lama saya cukup kagum dengan supporter sepak bola ini. Apalagi baru-baru ini mereka menjadi tuan rumah untuk Kongres Supporter Sepakbola  Nasional yang menghadirkan berbagai kelompok Supporter agar dapat turut serta memajukan persepakbolaan Indonesia.
Selain itu, yang membuat saya kagum adalah solidaritas dan kreatifitas mereka. Banyak lagu-lagu supporter awalnya dari Aremania ini. Dan kalau anda main ke Malang, sepanjang jalan anda akan melihat orang-orang baik anak-anak, pemuda-pemudi, orang-orang tua laki-laki dan perempuan, banyak sekali yang menggunakan kaos Aremania. Anda akan benar-benar dibuat takjub dengannya.
Namun demikian, sangat disayangkan ternyata banyak di antara mereka yang masih menyimpan kebencian pada supporter lainnya, yaitu Bonekmania. Tentunya hal ini tidak menyenangkan bagi kami. Di satu sisi Aremania mewacanakan persatuan supporter, namun di sisi lainnya kebencian pada Bonekmania masih tersisa. Kita berharap semoga semua supporter Indonesia dapat bersatu untuk memajukan prestasi sepak bola nasional.
Selesai berbicara soal Aremania, dan tentu saja tentang Bonek karena Dinda dan Alfi wong Surabaya, kami mencoba mencari tempat makan untuk makan siang. Perut memang sudah keroncongan dari tadi di Candi. Tapi saya tidak ingin makan nasi. Ingin jajan saja. Sambil jalan, dipilihkan bakso sebagai menu jajanan siang itu. Di bawah pohon beringin yang rindang di tengah-tengah pasar Tumpang, kami menikmati menu makan siang kami, Bakso Gangsar.
Kalau saya boleh menilai bakso yang saya santap siang itu tidak lebih enak dari bakso yang dijual dekat rumah saya di Kebagusan Tiga, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Jadi ya saya menikmati apa adanya saja. Sebenarnya saya juga tidak bisa dan tidak suka membandingkan-bandingkan makanan ini atau makanan itu yang lebih enak. Saya selalu menikmati apa adanya saja. Maklum, saya termasuk orang yang suka jalan-jalan tapi jarang jajan.
Sampai pukul tiga, belum ada juga rombongan lain. Akhirnya saya memutuskan untuk menumpang truk saja besok pagi. Salah seorang penduduk yang punya truk dan jeep adalah Pak Laman. Di rumah Pak Laman inilah saya akhirnya bermalam, sambil menunggu truknya mengangkut pupuk untuk warga Ranu Pani besok pagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s