Dodol Betawi Dalam Kenangan

 

***
Pekerja pembuat dodol mengaduk dodol yang sudah mengental. Produksi dodol betawi sudah sulit sekali untuk ditemui. Para pembuat dodol betawi biasanya meningkatkan kegiatan produksinya hanya pada waktu menjelang lebaran. Seperti yang dilakukan oleh Ibu Nining, pembuat dan penjual dodol di Kebagusan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
***
Sewaktu saya kecil, saat keluarga saya masih tinggal di daerah Jati Padang Pasar Minggu, Jakarta Selatan, setiap bulan Ramadhan menjelang lebaran, saya bisa ikut sibuk menyaksikan proses pembuatan dodol betawi. Dodol betawi bagi saya bukan sekedar tepung ketan yang dicampur dengan gula merah dan santan kelapa. Tetapi lebih dari itu. Dodol betawi menyimpan kenangan akan ikatan kebersamaan yang kini saya rasakan sangat berkurang.
Dulu, biasanya yang rutin membuat dodol adalah keluarga Mak Encah, kakak dari bapak saya. Sedikitnya ia membuat satu kuali yang bisa jadi cukup untuk dibagikan kepada keluarga besar baik saudara kandung, besan, dan sepupu serta tetangga saat lebaran tiba.
Saya masih ingat, di halaman rumah Mak Encah yang dulunya lebar, kami berkumpul bersama. Orang-orang perempuan ada yang memarut kelapa, ada yang menyalakan kayu bakar. Ada pula yang mengiris-iris gula merah. Dan ada pula yang mangayak tepung ketan. Di halaman itu bukan hanya keluarga, tetapi juga tetangga yang dekat berkumpul bersama.
Kalau adonan sudah dicampur di dalam kuali, di atas api yang terus menyala selama kurang lebih sepuluh jam, di situlah giliran orang-orang laki turun tangan. Mengaduk-aduk adonan secara bergantian. Tidak jarang, tetangga yang numpang lewat ikut sedikit membantu mengaduk adonan. Sekedar untuk menghilangkan rasa ‘tidak enak’ pada tetangganya yang sedang sibuk menyiapkan kue lebaran.
Kalau adonan sudah lebih dari lima jam diaduk di atas kuali dengan api yang terus menyala itu, saya masih ingat rasanya mencicipi dodol yang masih panas, kental dan belum mengeras. Diambil secolek demi secolek sampai-sampai yang mengaduk dodol pegal juga melihat kelakuan anak-anak ini.
Kalau sudah kesal, biasanya justru kami disuruhnya mengambil daun pisang. Di ambilnya segelas adonan itu dari kuali dan ditaruhnya di atas daun pisang yang kami punya. Setelah itu kami disuruh pergi jauh-jauh agar tidak mengganggu. Setelah itu, kami biasanya pergi. Sambil bernyanyi-nyanyi menikmati dodol yang masih kental belum jadi itu.
Sekarang, jarang sekali saya melihat hal seperti itu. Apakah karena lahan yang terus berkurang? Apakah karena sudah banyak kue-kue yang lebih ringan untuk dibuat menjelang lebaran? Apakah sudah banyak makanan ringan di pasar yang tinggal kami beli saja? Atau karena sudah berkurangnya rasa kekeluargaan kami, ikatan kebersamaan kami, sehingga sulit rasanya untuk membuat sekuali dodol? Karena dodol memang tidak bisa dibuat seorang diri.
Ah, dodol. Lebaran kali ini saya hanya menikmati dodol di daerah Cikarang, Bekasi, Jawa Barat. Memang di daerah rumah saya ada pembuat dodol, tapi tidak menarik kami untuk membelinya. Sekalipun demikian, saya mengabadikan proses pembuatan dodol di rumah Bu Nining, tetangga saya yang membuat dan menjual dodol betawi.

4 Comments Add yours

  1. Siap Antar Kue Ulang Tahun, Halal, Model Unik & Menarik spt Foto Cake. http://www.KueUltahKalika.com atau http://www.KalikaCakeShop.com , telp (022)70553660

    1. sacafirmansyah says:

      sok, silahkan atuh kalo mau promosi..

  2. Aba Mardjani says:

    Nice post. Dodol, hmmmm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s