Global War on Terror: Siapa Menuduh, Siapa Tertuduh

Kamis, 26 Agustus 2010. Saya mendapat undangan diskusi ke-59 Forum Kajian Sosial dan Kemasyarakatan (FKSK) di Graha Intiland Jl. Sudirman Jakarta. Diskusi ini cukup menarik, yaitu tentang terorisme. Secara spesifik diberi topik, ”Polisi Dalang Terorisme?” Dalam diskusi itu dihadirkan pembicara dari kepolisian, Kombes Zulkarnaen, pengamat terorisme Mardigu W. Prasetyo, aktifis FPI dan Direktur An Nashr Institute Munarman, sekjen FUI M. Al-Khaththat, dan anggota Komisi III DPR-RI Fahri Hamzah.
Ada satu sesi yang sangat menarik perhatian saya, yaitu saat host acara M. Lutfi Hakim yang juga pengacara Abu Bakar Ba’asyir melakukan tanya-jawab dengan Munarman terkait dengan tema diskusi di atas. Berikut adalah transkrip tanya-jawab antara Lutfi Hakim dan Munarman. Selamat membaca…
Ada anggapan sementara orang, pelaku di Aceh adalah orang-orang yang secara rekayasa direkrut oleh Sofyan Sauri, kemudian terjadilah kejadian ini. Apa yang bisa anda jelaskan dari orang-orang yang saya yakin telah anda investigasi itu? Mengapa itu bisa terjadi? Apa versi mereka?
Ya, jadi ini fakta. Kita bisa saling melengkapi. Jadi, fakta ini juga hasil riset investigasi saya, Sofyan Sauri ini masuk ke Aceh di awal bulan Februari 2009. Tahun 2009 dia masuk Aceh, dia menawarkan diri sebagai pelatih dalam latihan para mujahidin relawan ke Gaza. Pada waktu itu kita tahu bersama bahwa Israel membombardir Gaza, itu Desember 2008 sampai Januari 2009. Nah, FPI menyelenggarakan pelatihan untuk relawan ke Gaza. Karena tidak ada polisi dan tentara yang mau jadi pelatih, tiba-tiba dalam kesulitan mencari pelatih datanglah orang bernama Sofyan Sauri. Jadi ini kalau pernyataan dari Pak Edward Aritonang menyatakan bahwa Sofyan Sauri direkrut oleh FPI, itu kebalik. FPI yang direkrut oleh Sofyan Sauri. Kenapa saya katakan FPI yang direkrut, dari sekitar 67 relawan latihan ke Gaza, itu ada lima belas orang yang kemudian direkrut oleh Sofyan Sauri pada bulan Maret. Jadi setelah latihannya itu pada Februari, kemudian Sofyan Sauri mengundang anak-anak yang hasil pelatihan di Aceh 2009 itu diundang sebanyak lima belas orang, tanpa sepengetahuan dari pengurus-pengurus FPI. Ada lima belas yang diundang. Diundang, dibiayai, dikasih uang transport, dikasih uang saku selama satu bulan. Padahal dia desertir, jadi gak punya sumber keuangan yang tetap, ini maksud saya. Dengan dibiayai pelatihannya selama satu bulan, saya dapat data dari lima belas ini kemudian ada enam yang ikut pelatihan Aceh 2010.
Jadi ada sembilan anak-anak sekarang yang tengah saya lindungi. Jadi jangan digerebek nih, karena latihan yang di Mako Brimob legal kan? Di Mako Brimob! Jangan ditanya alamatnya nih, ini yang ini nggak boleh digerebek ini. Karena yang ini sumber informasi kita, ini penting.
Jadi dari lima belas yang dilatih, dilatih setiap hari. Siang latihannya latihan di samping Mako Brimob, fisik, olahraga. Kemudian dari beberapa sesi-sesi latihan fisik itu ada beberapa sesi yang masuk ke dalam Markas Brimob dan diberikan senjata dengan peluru tajam. Jadi ini asli latihan menembak. Ada latihan fisik, ada latihan menembak. Malamnya di doktrin selama satu bulan, dikasih buku-buku jihad, versi Sofyan Sauri tentu saja. Jadi ini ceritanya terbalik betul, bukan FPI yang merekrut Sofyan Sauri.
Ada gak pertanyaan mereka pada Sofyan mengapa…
Ini saya mau cerita, jadi kalau malam sesinya didoktrin bahwa halal merampok orang-orang di luar ’kelompok kita’ untuk membiayai jihad ini. Disebut ’jihad ini’. Ini disampaikan oleh Sofyan Sauri, ini halal merampok apa saja di luar kelompok ini. Ini doktrin yang ditanamkan, buku-buku jihadnya juga diberikan. Nah, kemudian ini anak-anak, ketika diundang di Aceh itu, di awal Maret ya, ini anak-anak ini sengaja diajak ngobrol di ruang tamu, kemudian di ruang tamu ditinggalkan surat pemecatan Sofyan Sauri (sebagai polisi-red). Surat pemecatan itu berisi tiga hal kenapa Sofyan Sauri dipecat. Satu, karena jarang masuk kerja, desersi memang. Kedua, karena poligami, beristri lebih dari satu. Yang ketiga karena kegiatan jihad. Saya kira polisi walaupun sampai sekarang menangkapi orang-orang yang dalam tanda petik ’mujahidin-mujahidin’ tapi tidak akan berani polisi menuliskan terlibat jihad itu dipecat. Saya kira nggak ada. Terlibatnya ya terorisme, perampokan, itu yang terlibat kejahatan kan. Tidak ada terlibat jihad. Nah, Sofyan Sauri surat pemecatannya ’terlibat jihad’. Ini menimbulkan tanda tanya, kok ini sepertinya memang didesain surat pemecatan itu untuk meyakinkan anak-anak Aceh untuk dibaca dan meyakinkan bahwa dia memang pejuang, bahwa dia mujahidin. Karena dipecatnya karena jihad. Itu lho, ada kesan begitu. Nah, karena itu yang berhasil direkrut lebih lanjut oleh Sofyan Sauri untuk mensurvey pelatihan Aceh di tahun 2010 itu hanya enam orang dari lima belas orang. Hanya enam orang.
Yang sisanya kemana?
Yang sisanya tentu saja tidak mau ikut. Karena dia melihat ada keanehan dari Sofyan Sauri. Yang sembilan tidak ikut kegiatan pelatihan militer di Aceh yang dihubung-hubungkan dengan terorisme. Jadi informasi kita kuat ini, informasi kita sangat kuat. Nah, jadi pengakuan dari yang sembilan orang yang sekarang kita bisa kontak dengan aman sampai sekarang ini bisa saya tanya terus, kita lindungi. Jadi dari sumber informasi inilah, yang sembilan orang ini, yang mengkonfirmasi bahwa Sofyan Sauri-lah yang memberikan pelatihan militer, yang menyuplai senjata, senjata di Aceh itu ada enam belas pucuk senjata terdiri dari AK-47 sembilan pucuk, sisanya M-16. Itu semua konfirm disuplai oleh Sofyan Sauri dan melibatkan Abdi Tunggal sama Tatang (anggota polisi-red).
Apakah ada dana selain yang dari Sofyan Sauri ke mereka yang ikut pelatihan?
Nah, ini ada cerita tentang Sofyan Sauri ini. Sofyan Sauri ini sejak dia melatih anak Aceh yang lima belas di Depok, di Markas Brimob, itu juga setelah latihan di Brimob dia keliling ke berbagai daerah di Jawa Tengah.
Sebentar, waktu latihan di Brimob itu di ruangan-ruangan Brimob atau di mana?
Latihan tembaknya di lapangan tembak Brimob.
Di lapangan tembak Brimob?
Di lapangan tembak Brimob! Jadi terkonfirmasi itu. Bohong kalau Pak Edward Aritonang menyatakan dia di luar Markas Brimob. Katakanlah di luar Markas Brimob, kok yang pelatihan di Aceh tahu yang di samping Markas Brimob nggak ketahuan? Itu pertanyaan yang akal sehat ya, karena itu dia latihan tembak beneran ini.
Kalau ini keterangannya jelas ya?
Jelas. Ini bukan pistol-pistolan, bukan peluru-peluruan. Katakanlah kita pakai Markas Brimob, katakanlah di samping, kok Brimobnya nggak ketahuan, nggak kedengaran dar der dor.. Empat puluh butir loh itu satu orang.
Selama berapa lama itu?
Satu minggu. Nah, saya mau cerita. Selain Sofyan Sauri membiayai yang di Markas Brimob, kemudian yang di Aceh, menjelang pelatihan di Aceh yang Januari 2010, ini antara yang 2009 ada jeda waktu Maret sampai dengan Desember waktunya kan, Itu Sofyan Sauri keliling daerah Jawa Tengah dan Solo sekitarnya. Menemui beberapa Ustadz dan menawarkan uang lima ratus juta kepada setiap Ustadz kalau mau membuat pelatihan di Jawa. Kalau tidak mau bikin pelatihan di Jawa, ikut ke Aceh. Dia yang akan membiayai. Ini juga Ustadz-Ustadznya tidak mau. Alhamdulillah tidak mau direkrut oleh Sofyan Sauri. Nah, dalam konteks ini, menurut saya kalau kita.. ini teorinya jadi menghubung-hubungkan ini jadinya ya, ada Sofyan Sauri yang menyuplai senjata..
Sebentar, ini bukan su’udzhon ini ya?
Bukan, ini analisa. Dan berdasarkan fakta analisa kita ini. Dan terkonfirmasi semua ini. Nah, kalau kita lihat, yang mendesain sepenuhnya, kalau menurut saya, pelatihan militer yang di Aceh 2010 ya, bukan yang 2009, yang 2010 itu ya adalah Sofyan Sauri. Karena apa? Karena yang direkrut di Aceh itu, selain anak FPI yang enam orang, kemudian ada relawan Mer-C. Relawan Mer-C ada juga ada yang direkrut. Kemudian yang merekrut dari daerah Banten juga Sofyan Sauri. Yang merekrut dari Jawa Tengah juga Sofyan Sauri. Nah, Sofyan Sauri yang sekarang ditahannya di tahanan Rutan Narkoba Polda Metro Jaya. Dan di situ juga ada website yang saya baca yang mengklarifikasi, ”Sofyan Sauri ini mujahidin, jangan dituduh begitu dong! Mestinya datang!” Nah, kalau boleh dikeluarkan itu Sofyan Sauri wawancara sama kita boleh itu, kita uji itu validasinya.
Di mana ditahannya Sofyan Sauri itu?
Di lantai empat. Saya tahu dah. Di lantai empat, karena itu bekas tempat tahanan saya dulu.
Di Polda?
Di Polda Metro Jaya. Dekat kamar saya yang dulu itu. (hahaha…) Kalau nggak salah informasinya di kamar saya yang saya tinggali dulu itu. Nah, jadi di lantai empat itu ditahan. Nah, saya sangat heran, ketika Kapolri bersama Menkopolkam, ketika kasus Aceh, pelatihan militer di Aceh itu meledak ya, mereka konferensi pers itu berdua tanpa sama sekali menyebut peran sentral dari seorang Sofyan Sauri, atau Abdi Tunggal, atau Tatang. Tanpa menyebut itu. Ini nama Abdi Tunggal dan Tatang ini belakangan keluar ini setelah Ustadz Abu ditangkap. Setelah Ustadz Abu ditangkap kita keluarkan fakta tentang kronologi pelatihan militer di Aceh, baru kemudian polisi dengan terpaksa menjawab, Irjen Edward Aritonang dengan terpaksa menjawab dan menyebutkan akhirnya keterlibatan Tatang, Bripda Tatang dan Abdi Tunggal. Jadi menurut saya, ini untuk yang pelatihan militer 2010, kenapa saya katakan begini, ini dalam kaitannya dengan Ustadz Abu ini. Kenapa dalam kaitannya dengan Ustadz Abu? Ustadz Abu ditangkap semata-mata karena keterangan dari orang-orang yang ditangkap tanpa didampingi oleh pengacara yang independen. Nah, yang aneh adalah bukti yang diajukan kuat, ini saya punya BAP-nya nih, karena saya pengacaranya Ustadz Abu punya hak untuk dapat BAP… Nah, saya baca di BAP-nya Ubaid, alias Luthfi Haedaro, itu ada satu pertanyaan, pertanyaan nomor enam ditanya, ”Tolong ceritakan bagaimana anda mulai kenal dengan Dulmatin sampai dengan peristiwa di Aceh?” Pelatihan militer di Aceh tahun 2010. Satu pertanyaan itu dijawab oleh Ubaid atau Luthfi Haedaro itu dengan tujuh puluh delapan jawaban. Ada dua puluh lima lembar. Jadi bayangkan. Pengalaman saya sebagai terpidana nggak ada yang mau ngaku. Apalagi menceritakan dengan sukarela sebanyak tujuh puluh delapan jawaban dengan dua puluh lima lembar halaman. Jadi menurut saya ini ada yang aneh. Dan Luthfi Haedaro inilah yang menjadi kunci sebetulnya nanti dalam kasus Ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Karena apa? Karena dia yang menyatakan, dia yang mempertemukan Dulmatin dengan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Itu pernyataannya Luthfi Haedaro. Tanpa ada konfirmasi dari pihak lain. Karena apa? Karena Dulmatin sudah mati ditembak. Jadi nggak bisa dikonfirmasi nih. Pernyataan dari Luthfi Haedaro tidak bisa dikonfirmasi dengan siapapun, karena bertemunya Luthfi Haedaro mengantarkan Dulmatin seorang diri dengan Ustadz Abu. Jadi cuma tiga orang, Luthfi Haedaro pun tidak ikut pertemuan. Bicaranya apa dia tidak tahu. Jadi ini tidak terkonfirmasi ini. Nah, inilah bukti yang dijadikan alat bagi polisi untuk menangkap Ustadz Abu.
Itu yang dikatakan oleh Polisi punya alat bukti yang cukup?
Itu yang oleh polisi disebut punya alat bukti yang cukup. Padahal dalam hukum unus testis nulus testis, satu saksi bukan saksi. Tidak bisa itu dijadikan alat bukti.
Terakhir, apa menurut Anda target dari kegiatan untuk melakukan, katakanlah memenjarakan Ustadz Abu dan beberapa orang lainnya ini? Apa target di balik ini?
Ya, saya kira ini proyek lah ya. Tidak lebih tidak kurang ini adalah proyek. Misalnya, Polisi mengklaim…
(Munarman menunjukkan dua gambar wajah yang ditembak tim Densus 88 di Cawang-red)
Saya sudah kemukakan, ini gambar dua orang yang mati ditembak di Cawang,  klaim dari pihak Densus 88 bahwa polisi dalam menarget tersangka-tersangka terorisme itu memiliki data-data yang kuat, fakta yang kuat. Nah, tetapi dalam peristiwa Cawang, dua orang ini ditembak tanpa tahu identitasnya apa, tanpa tahu peristiwa apa keterlibatan dia, dalam peristiwa terorisme yang mana. Ini dua orang dikuburkan sampai dengan dikuburkan jenazahnya tidak diketahui siapa. Ini harus dipertanggungjawabkan ini. Dunia akhirat ini. Ini menyangkut nyawa orang. Membunuh orang dengan sadis ini. Dua orang ini tidak terkonfirmasi. Padahal, klaimnya dalam pemberantasan terorisme sasarannya, targetnya itu tertentu, sudah pasti ini. Ternyata, faktanya ini. Ini sekali lagi saya katakan… Kenapa? Ada apa sebetulnya? Nah, saya mau ambil laporan dari Human Rights Watch ya, laporan ini dikeluarkan tahun 2003, Maret 2003. Ini ada menyinggung tentang Indonesia. Ini laporan di seluruh dunia atas nama terorisme ternyata telah terjadi berbagai pelanggaran. Nah, saya mau lihatkan…
(Munarman menunjukkan laporan dari Human Rights Watch yang berkantor di New York dengan judul laporan “In the Name of Counter-Terrorism: Human Rights Abuses Worldwide, A Human Rights Watch Briefing Paper for the 59th Session of the United Nations Commission on Human Rights March 25, 2003”)
Bagaimana ternyata Densus 88 dibiayai sepenuhnya pembentukannya oleh dana yang dikeluarkan oleh Amerika Serikat.. ”On a visit to Jakarta in 2002, U.S. Secretary of State Collin Powell announced a new $50 million program to assist the security forces in the campaign against terrorism.” Jadi ada 50 juta US Dollar untuk kampanye anti terorism. Ini kampanye ya, kampanye bisa ke media, bisa lewat seminar, bisa perguruan tinggi, bisa brosur. Itu kampanye disebut ya. Kemudian, ”The U.S. Congress approved legislation giving Indonesia’s police force $16 million, including $12 million to set up a special anti-terrorism unit.” Ya, Densus ini maksudnya. Jadi kemudian untuk membantu polisinya ada 16 juta US Dollar. Dari 16 juta ini, dibantu kepada polisi secara keseluruhan,  12 juta US Dollar khusus untuk pembentukan Densus 88. Ini proyek loh ini. 12 juta US Dollar itu dana yang tidak kecil, 120 milyar itu. Nah, ada sebetulnya satu yang mungkin selama ini sebetulnya tidak diketahui oleh masyarakat. Densus 88 ini memang lembaga formalnya… Tapi, yang melakukan, kalau istilah polisinya tim buser (buru sergap-red), ini data ini sudah saya konfirmasi juga dengan dua anggota polisi, satu aktif bintang tiga, satu pensiunan bintang satu, saya konfirmasi ini, yang mengendalikan ada sebuah unit kecil yang bernama Satgas Anti Bom di bawah jenderal bintang tiga, Gories Mere. Dialah yang mengendalikan operasi-operasi di lapangan untuk penangkapan. Khusus penangkapan, dia tim busernya. Dan dia menggunakan tempat pelatihan di beberapa pulau di daerah Lampung Selatan. Dan dia menggunakan beberapa rumah pengusaha yang dijadikan Posko dari Densus 88. Bahkan,  beberapa posko itu dibuat spanduk besar ”Welcome to Indonesian Guantanamo.” Jadi ini Guantanamo-nya Indonesia. Nah, ini yang sebetulnya dibelakang layar, yang selama ini banyak yang tadi termasuk melakukan penembakan terhadap dua orang ini, ini adalah timnya Gories Mere.
Ini di luar kendali Densus 88?
Di luar kendali. Karena Densus 88 itu pekerjaannya, selain dia melakukan pengamatan dan melakukan fungsi-fungsi intelijen pencegahan, Densus 88 ini dia juga melakukan proses penyelidikan. Jadi formal, berita acara. Pembuatan berita acara. Sementara Satgas ini dia tidak ada urusan dengan pembuktian. Dia urusannya dengan penyergapan. Makanya saya sebut tim buser. Tapi ini tidak di bawah kendali dari kepala Densus 88 yang bintang satu. Karena nggak mungkin yang bintang satu memerintah bintang tiga. Justru sebaliknya. Nah, inilah undercover dua tim yang bekerja secara langsung, sementara yang bintang tiga ini aksesnya luar biasa. Kita ingat misalnya waktu penangkapan, cerita penangkapan Noordin M. Top di Jawa Tengah, yang mengumumkan itu kan Perdana Menteri Australia. Karena mendapat laporan dari yang bintang tiga tadi, dari Gories Mere. (fms)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s