Daypack-an ke Pangrango Jelang Ramadhan

***
Jum’at, 6 Agustus 2010. Jam di handphone saya menunjukkan pukul 05.00 sore hari. Hujan yang cukup deras membuat diri saya merasa semakin terkurung di tengah kemacetan ibukota, di Jalan Rasuna Said. Perasaan saya juga jadi tidak karuan karena saya sudah janji akan berkumpul di kost-an teman pukul tujuh malam. Rencananya, pada pukul tujuh malam nanti saya dan dua orang teman saya yaitu Jamaludin dan Galih Seta Perdana akan berangkat menuju wilayah Puncak Pass, Jawa Barat untuk melakukan pendakian ke Gunung Pangrango.
Mendaki gunung merupakan salah satu pilihan kegiatan refreshing rutin setiap satu bulan sekali. Biasanya tempat tujuan yang dipilih adalah tempat yang dapat diakses selama akhir pekan saja. Berangkat menuju entry pendakian pada Jum’at malam. Sabtu hingga Minggu malam di perjalanan pendakian naik-turun. Minimal senin pagi kami sudah harus sampai kantor. Kalau ada long weekend, bolehlah menuju ke tempat-tempat yang jauh di luar Jawa Barat, jika memungkinkan di Luar Jawa.
***
Hingga menjelang waktu maghrib, saya belum juga keluar dari ’keterkurungan’ itu. Di tengah perasaan yang makin tidak menentu, handphone saya bergetar. Datang satu pesan singkat. Jadwal diundur satu jam. Jam delapan malam kami baru akan berkumpul di kost-an Galih Seta yang berada di dekat Stasiun Universitas Indonesia. Ternyata, Galih Seta yang bekerja di wilayah Rasuna Said juga masih terjebak macet. Sementara Jamaludin yang bekerja di wilayah Ampera, Cilandak juga sedikit mengalami hal yang sama.
Untunglah, menjelang Isya saya sudah tiba di rumah. Usai sholat maghrib, saya langsung menyiapkan perlengkapan pendakian di dalam daypack dan juga kamera SLR beserta tripodnya. Pukul setengah delapan malam saya baru berangkat dari rumah. Perkiraan saya, lima belas menit sudah bisa sampai ke kost-an teman saya itu. Karena jarak rumah saya dengan Kampus UI Depok memang tidak terlalu jauh.
Perkiraan saya meleset, dari Tanjung Barat hingga Lenteng Agung ternyata juga terjadi kemacetan. Baru pada pukul delapan lebih saya tiba di Margonda. Saya turun di toko Alfa Mart yang tidak jauh dari kost-an Galih Seta, membeli beberapa makanan ringan untuk bekal dan juga dua botol air mineral ukuran 1,5 liter. Pukul delapan lebih tiga puluh menit saya bertemu Jamal di dekat kost dan langsung menuju kost. Kami berbincang-bincang dulu mengenai beberapa hal dan juga mengenai rencana perjalanan.
Saya memang jarang berkomunikasi dengan kedua orang teman saya itu. Maklum, selama beberapa bulan terakhir ini saya memang jarang ’mampir’ ke kampus. Saya lebih banyak jalan ke luar kota pada waktu akhir pekan. Dan itu pun terkait dengan beberapa urusan saya, baik yang terkait dengan pekerjaan maupun untuk urusan pribadi. Makanya, jadwal keberangkatan pun molor karena kami sedikit asyik berbincang-bincang. Baru pukul sepuluh malam kami mulai berangkat. Dan berdasarkan perbincangan tadi, rencananya kami akan menggunakan KRL menuju Bogor, dilanjutkan dengan naik angkot beberapa kali menuju daerah Puncak, Jawa Barat.
Lewat dari pukul sepuluh malam tidak ada lagi KRL Ekonomi yang murah meriah yang biasa kami gunakan karena terasa lebih ’bebas’. Kami pun menggunakan KRL Ekonomi AC menuju Bogor. Terasa nyaman juga karena sudah mulai sepi penumpang. Biasanya pada jam berangkat atau pulang kerja selalu penuh sesak. Dan kadang saya merasa tidak ada bedanya dengan KRL Ekonomi biasa.
Sampai di Stasiun Bogor, kami menuju Sukasari dengan menggunakan angkot 02. Dilanjutkan dengan menggunakan angkot jurusan Cisarua dan turun di Ciawi. Dari Ciawi kami menggunakan bus yang melewati Puncak Pass. Total ongkos yang kami keluarkan mulai dari tiket KRL tadi hingga bus terakhir ini adalah empat belas ribu lima ratus rupiah. Cukup murah meriah bukan?
Sepanjang perjalanan di dalam bus dua orang teman saya hanya tertidur. Sebenarnya badan saya lelah juga, tapi saya tidak ingin tidur untuk memastikan barang kami aman dan tujuan kami tidak terlewat. Sampai di satu tempat di sekitar wilayah Puncak, kami turun dan langsung melakukan pendakian. Kami mencari entry point punggungan utama menuju Puncak Pangrango. Tapi sebelum masuk punggungan utama, Jamal mengingatkan saya dan Galih untuk sholat Isya terlebih dahulu. Di kost tadi memang saya dan Galih yang belum sholat dan terburu-buru langsung berangkat.
Usai sholat Isya, saya mengambil gambar titik-titik cahaya lampu kota Bogor yang cukup indah apabila dilihat dari ketinggian. Sama indahnya seperti rentetan cahaya lampu kota Jakarta di malam hari dilihat dari ketinggian gedung-gedung di Jalan Sudirman. Tapi setiap kali melihat keindahan seperti itu, saya selalu membual kepada teman-teman saya bahwa kita yang di atas sini bisa melihat keindahan itu karena kita tidak tahu mengenai realitas di bawah sana.
Jangan-jangan di balik cahaya lampu yang indah itu ada seseorang yang gelisah menunggu kekasihnya yang tidak kunjung tiba. Jangan-jangan di balik cahaya lampu itu ada sepasang suami istri yang sedang ribut. Ada tangis anak yang entah lapar ingin minum susu atau rindu belaian ibu. Ada mereka yang menghitung-hitung utang yang belum juga dilunasi. Ada yang kebingungan untuk makan esok pagi. Atau bahkan ada yang was-was dan takut kompor gasnya meledak lagi. Entah. Tapi yang jelas kita menikmati keindahan itu di atas sini. Itulah realitas kita saat ini.
***
Selesai mengambil gambar, kami melanjutkan pendakian mencari punggungan utama. Waktu sudah lewat tengah malam. Tidak kurang dari satu jam kami berjalan sambil mengamat-amati bentangan alam yang serba hitam itu untuk mendapatkan punggungan utamanya. Setelah yakin berada di punggungan utama menuju Puncak Pangrango, kami mencari tempat yang nyaman untuk tidur. Kemudian memasang flysheet dan tidur di dalam sleeping bag.
Cukup nyenyak juga tidur saya malam itu. Baru pukul enam pagi saya terbangun. Meski kesiangan, kami tetap shalat shubuh berjamaah. Bertayamum dengan memanfaatkan embun di dedaunan yang masih basah. Jari telunjuk saya bergetar kedinginan pada saat tasyahud akhir. Hampir mirip seperti gerak telunjuk yang dilakukan oleh mereka yang mengikuti fikih shalat dari Syaikh Al Albani.
Usai shalat kami makan pagi dengan nasi bungkus yang dibeli di Depok sebelum berangkat. Cukup nikmat juga, dengan telur dadar dan perkedel ditambah ayam bakar yang dibawa Jamal. Selesai makan, langsung beres-beres dan siap-siap berangkat. Tak langsung berangkat, saya mengabadikan dulu gambar kami bertiga dengan latar belakang Puncak Pangrango yang terlihat cukup jauh untuk didaki dari tempat itu.
Pukul delapan pagi kami mulai melanjutkan perjalanan. Sepanjang jalan saya mencoba memperhatikan tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewan kecil di jalur yang kami lewati. Dalam perjalanan kali ini rasanya saya perlu dapat gambar beberapa hewan kecil yang dalam pendakian sebelumnya tidak sempat kami perhatikan karena selalu fokus pada target, Puncak Pangrango. Padahal, Gunung Pangrango sebagai Taman Nasional memiliki keanekaragaman hayati yang cukup tinggi. Sehingga sangat sayang apabila pendakian kali ini kami harus fokus hanya pada kecepatan untuk sampai puncak saja.
Meskipun tujuan saya seperti itu, tetapi langkah teman-teman sepertinya tetap saja seperti orang yang sedang berlomba. Saya memaklumi, karena kami memang juga punya keterbatasan waktu. Saya pun jadi terus mengejarnya usai mengambil gambar. Cukup kelelahan juga. Apalagi saya tidak pernah jogging seperti itu. Untunglah, beberapa hewan kecil dan jenis tumbuhan pun tetap dapat saya abadikan gambarnya. Beberapa sudah sering saya lihat meskipun saya tidak pernah tahu namanya. Yang paling sering menarik perhatian saya adalah beberapa jenis jamur. Sayang, tidak semua dapat saya ambil gambarnya.
Di tengah hari yang cukup berkabut, kami istirahat sejenak untuk makan siang. Menurut Galih, perjalanan kali ini sudah lebih cepat dari perjalanan sebelumnya. Bagi saya, rasanya nafas ini sudah cukup kebingungan untuk teratur menghirup udara, dan otot kaki cukup tegang juga seperti dibebat kuat dengan kain perca tak beraturan. Dalam kelelahan itu, saya bersyukur dapat dengan nikmat menyeruput air jahe hangat dan roti tawar serta makanan ringan lainnya. Ah, rasanya rasa lelah langsung terlupakan begitu saja. Air susu kemasan yang saya bawa juga semakin membuat istirahat menjadi lebih nikmat.
Tidak lebih dari setengah jam beristirahat, kami langsung melanjutkan pendakian. Jalan yang semakin mendaki membuat langkah semakin berkurang kecepatannya. Saya selalu di paling belakang. Kadang teman-teman di depan sampai tak terlihat lagi. Meskipun demikian, saya dengan santainya tetap mengambil beberapa gambar jamur dan serangga. Rasanya sayang kalau dilewatkan. Saat jalan semakin mendaki dan saya semakin mencoba mengejar, otot kaki saya semakin menegang. Tak urung, saya akhirnya berjalan normal-normal saja. Santai saja seperti pendakian biasanya. Sesekali mengambil gambar bunga dan lagi-lagi jamur.
Jamal yang berjalan di paling depan ternyata khawatir juga, ia sempat kembali ke belakang untuk melihat keadaan saya. Ia takut saya tertinggal terlalu jauh. Setelah melihat saya dengan kondisi yang baik sambil terus mengarahkan kamera ke anggrek hutan, Jamal pun kembali lagi ke depan dengan cepat-cepat. Setelah bertemu dengan Galih Seta dan semua berkumpul, kami berfoto ria dulu sebelum memasuki daerah yang banyak dinamakan orang dengan sebutan bergspot.
Memasuki jalur itu saya mencoba mengambil gambar mereka dari depan saat mendaki. Juga dari belakang dan akhirnya perhatian berganti lagi. Saya memperhatikan tanaman Kantong Semar yang saat ’berkejar-kejaran’ tadi tidak sempat saya foto. Beberapa tanaman di sekitarnya pun tak luput dari perhatian saya. Saya arahkan kamera ke beberapa tanaman yang entah apa namanya.
Kami tiba di Lembah Mandalawangi pukul tiga lewat. Tidak ada siapapun, hanya kami bertiga. Setelah sedikit bermain-main, membersihkan kaki dari darah dan Pacet yang masih belum kenyang menghisap darah kami. Usai membersihkan diri dan bermain-main, tak lupa kami pun menjamak sholat dzuhur dengan ashar. Suara gemericik air wudhu yang mengalir membelah taman. Suara angin dan tarian rerumputan. Ah, suasananya begitu sepi dan hening.
Cericit burung terdengar begitu bebas. Atau, barangkali kami bertiga telah memecah keheningan itu. Ah, awan-awan bergerak cepat. Berubah-ubah menghiasi langit biru. Apakah kedatangan kami begitu mengganggu?
Tubuhku kubiarkan terus berdiri tegak. Aku merasakan sesuatu yang berbeda kali ini. Di taman Edelweiss itu shalat terasa jadi lebih khusyuk. Dan saya baru ingat, bahwa tanggal sebelas nanti sudah Ramadhan. Ah, cocok. Inilah persiapan menuju Ramadhan. Jelas sekali, di pendakian ini kami tidak terlalu memikirkan makanan. Tidak terlalu rakus dengan makanan yang kami bawa. Makanan ringan di daypack Jamal saja masih utuh. Hanya jahe dan biskuit yang kami keluarkan makan siang tadi. Tapi, biskuit pun tidak banyak kami makan. Barangkali, satu orang hanya satu potong biskuit saja.
Usai shalat, kami bermain-main seperti layaknya anak-anak. Berkeliling mengambil gambar. Seolah taman itu seperti tempat baru yang kami datangi. Padahal sudah berpuluh kali kami datangi tempat itu. Tapi taman yang indah itu memang tidak pernah membosankan untuk dikunjungi. Sampai-sampai, ada yang rela mati untuk mengunjungi tempat ini. Dan benar-benar mati di tempat ini. Mati. Kembali ke keheningan. Ke kesepian maut di tempat yang sepi.
***
Langit perlahan-lahan gelap. Dingin mulai merasuki tubuh. Kami pun mulai mencari tempat berhangat di balik semak dan pepohonan, lalu membentangkan flysheet dan alas tidur. Jamal berjalan mencari selada air. Kemudian merebusnya untuk menemani mie rebus polos tanpa telur. Saya menikmati roti dan jahe hangat. Lalu tertidur pulas. Malam itu saya tak sempat keluar menikmati dinginnya bintang-bintang. Juga tak sempat bermimpi karena rasa dingin selalu membangunkan saya dan membuyarkan mimpi yang belum sempat terbayang. Entah kapan di waktu gelap, saya memaksa kembali menjamak shalat maghrib dan isya. Tidak lagi berdiri, kali ini duduk dalam kantung tidur.
Soal shalat, jujur saja, baru pada pendakian kali ini saya benar-benar shalat lima waktu. Belum pernah saya sehebat itu. Tapi ini juga karena pengalaman saya sebelumnya. Suatu hari saya pulang ke rumah. Saya tidur di sofa, sampai lewat waktu shubuh. Pukul enam pagi, tiba-tiba saya dibangunkan oleh tamu ibu dari Cianjur yang seperti kesurupan menyuruh saya untuk memperbaiki sholat saya. Adik saya juga sebelumnya seperti itu. Dia bilang kalau ingin memperbaiki hidup perbaiki dulu shalat saya. Dia minta agar saya mengasihaninya dengan mendirikan shalat. Dia katakan bahwa sebenarnya saya sudah beruntung, dapat hidayah langsung. Hidayah langsung? Saya bingung, hidayah yang mana? Tapi saya pikir-pikir lagi memang banyak kejadian yang perlu saya pikirkan dalam hidup saya. Saya pun mencoba memperbaiki shalat saya. Langsung saya shalat shubuh itu juga. Alhamdulillah, beberapa hari setelah itu shalat saya tidak terlalu banyak yang bolong. Saya masih merinding, bahkan saat menulis cerita ini. Saya masih tidak habis pikir, kalau saya ternyata harus dinasihati oleh orang yang seperti kesurupan untuk memperbaiki shalat. Entah siapa di dalam diri orang itu. Tapi, saya percaya dan mencoba untuk memulai memperbaiki shalat saya yang insyaallah akan mendukung dan memudahkan aktifitas saya yang lain.
Pagi-pagi sekali, Jamal dan Galih Seta berkeliling Lembah Mandalawangi dan Puncak Pangrango. Berfoto-foto di sana. Dan tanpa sengaja, kami melihat hewan yang mirip kijang, tapi kami tidak bisa memastikan apakah itu kijang atau apa namanya. Ayam hutan juga terus berkokok. Cericit burung dari dahan-dahan pohon juga tak henti-henti. Sinar matahari semakin terasa hangat. Di tengah-tengah kehangatan itu Jamal bercanda, ”Kalau ada kijang berarti ada musuhnya kijang dong?” Hahaha.. kami hanya tertawa, tapi tak berharap bertemu macan atau semacamnya.
Pagi itu Jamal belum bosan juga dengan selada air. Ia memasak mie rebus dengan daun itu. Saya kembali menikmati air jahe hangat dan roti serta makanan ringan. Sedikit-sedikit juga menikmati mie rebus yang dimasak Jamal. Galih juga lebih senang dengan mie rebus dibandingkan roti dan makanan ringan. Alhasil, makanan ringan tetap utuh. Hanya roti dan susu yang akhirnya habis juga. Selesai makan pagi, kami beres-beres dan foto-foto. Setelah itu berangkat turun menuju Cibodas melalui punggungan Geger Bentang.
***
Oh iya, di pendakian itu sebenarnya kami akan membicarakan juga soal rencana bisnis bersama. Kami semua punya mimpi, di samping bekerja juga punya suatu usaha yang bukan hanya bisa menghidupi kami apa adanya, tapi juga bisa menghasilkan dan hasilnya sedikit-sedikit bisa dihabiskan untuk jalan-jalan ke daerah terpencil, naek gunung, bahkan bisa keliling dunia. Juga buat amal kepada manusia-manusia lainnya. Tujuan kami naik gunung waktu itu pun juga untuk membicarakan mimpi-mimpi itu, jalan-jalan sambil bincang-bincang soal peluang bisnis. Jujur, walaupun saya lebih tua dua tahun, tapi secara ekonomi mereka sedikit lebih mapan. Mereka adalah karyawan dengan gaji lumayan tapi masih memikirkan untuk membuka usaha lain. Sementara saya, cukup menulis dengan honor pas-pasan buat makan dan jalan-jalan.
Sayang, dalam perjalanan itu kami ternyata tidak bisa banyak berbincang-bincang soal peluang-peluang bisnis. Karena semua tidak bawa bahan untuk dibicarakan secara lebih serius. Akhirnya, rencana-rencana kecil muncul. Kami rencananya akan membuka trip travelling (wisata) ke suatu tempat yang masih kami rahasiakan. Jamal siap untuk riset tempat, ada rencana juga buat riset untuk mendidik masyarakat setempat jadi guide, dan riset pasar. Konsepnya, wisata untuk pemberdayaan masyarakat sekaligus untuk mempercepat proses perubahan masyarakat lewat ilmu pengetahuan dari luar yang datang dari para wisatawan yang live-in di rumah-rumah masyarakat.
Dengan sangat lelah, perjalanan turun gunung yang sedikit-sedikit diisi dengan perbincangan agak serius itu akhirnya terselesaikan juga. Kami sudah turun kembali dengan selamat pada minggu siang. Jamal dan Galih menikmati nasi goreng khas buatan Mang Idi di Pasar Cibodas sementara saya justru ingin menikmati Indomie telor yang dilanjutkan dengan bakso. Kami beristirahat hampir dua jam lebih di warung itu. Memperhatikan muda-mudi yang hilir-mudik berwisata di tempat itu.
Di lain pemandangan, Jamal meminta kami melihat puncak yang sudah kami daki. Galih bilang, ”Wah jauh banget ya jalannya”. Saya juga berpikir begitu, jauh banget dari sini puncaknya. Saya bilang, ”Orang tolol mana ya yang naek ke puncak gunung yang jauhnya kayak gitu?”
Lebih serius, Jamal sebenarnya mengajak kami untuk berpikir. Kalau cuma dilihat dan dipikirkan saja, ”Rasanya kagak berani deh kita naek tuh gunung.” Ya, betul juga. Pasti banyak yang kita takutin, jauh lah, bahaya lah, inilah, itulah, belum lagi omongan-omongan orang di kiri-kanan. Rasa-rasanya memang kita cuma butuh tahu, gimana caranya naek tuh gunung. Informasi lain gak penting. Ambil bekal dan peralatan, kita naek. Kalau kita jalanin toh bisa juga.
Kita cukup tahu informasi untuk memulai. Terus kita mulai langkah awal kita. Benturan atau rintangan kiri-kanan depan-belakang atas-bawah itu yang akan membentuk siapa kita di jalan yang kita lalui. Kita harus siap gagal, tapi lebih siap lagi untuk berhasil dan tidak sombong. Kita juga mesti bisa merasa kapan kita harus terus maju dan kapan kita harus mundur saja. Kayaknya memang kita harus memulai langkah kita untuk impian-impian kita.
Konyolnya, sempat juga kami merendahkan hobi anak-anak muda lainnya. Ada yang hobi ke mall, jalan-jalan pakai motor, dan lain-lain. Yang hobi ke mall, Galih berpandangan negatif. Karena bisa jadi anak muda itu konsumtif, manja, hidup di yang itu-itu saja menuruti apa yang menjadi hasrat kapitalisme. Yang jalan-jalan pakai sepeda motor, touring dan lainnya itu sebenarnya merugikan rakyat dan negara. Bayangkan, berapa subsidi rakyat yang mereka habiskan untuk bahan bakar minyak (BBM) padahal bisa digunakan untuk yang lebih produktif. Macam-macamlah pikiran kami saat itu. Tapi saya bilang juga, ”Mereka juga nganggap kita aneh kali. Ngapain coba naek-naek gunung terus turun lagi. Belom lagi kalo kita lagi bawa barang segede gaban. Udah ada mall dan bioskop buat rekreasi masih aja ke gunung. Orang tolol mana coba yang kayak kita?”
Di bincang-bincang saat itu, kami juga sebenarnya agak iri dengan mereka yang mulai kembali mencoba menggapai tujuh puncak tertinggi (seven summits) di tujuh lempeng benua. Jamal yang paling mupeng, dia punya angan-angan untuk ke Mt. Everest dan Mt. Vinson Massif. Kalau saya sederhana saja, keliling dunia dan berhenti di Mekkah lalu kembali ke Indonesia dengan banyaknya bahan tulisan untuk diterbitkan.
Akhirnya, kami pulang pukul empat sore dari Pasar Cibodas usai menjamak dzuhur dan ashar. Sebelum pulang, bulan depan kami berencana untuk ke Semeru. Sebenarnya keinginan saya saja yang akhirnya disetujui oleh mereka. Keinginan saya itu pun tidak lain untuk menunaikan janji kepada seorang teman di Surabaya, Jawa Timur yang ingin saya ajak ke puncak tertinggi di daerahnya. Entah atas dasar apa saya berjanji kepadanya, yang jelas saya ingin mengajaknya masuk ke hobi saya. Berharap untuk menjadi teman baru yang dekat di hari-hari depan.
NB: Foto-foto bisa dilihat di Flickr. Galeri Foto.

2 Comments Add yours

  1. hujantanpapetir says:

    Hmmm, menyimak cerita perjalanannya bang… d^^b

    Gunung selalu membuat rindu…

  2. teguh says:

    denger cerita’a jadi kabita(kepngen) ni Kang tuk mendaki2 gunung kaya gitu…
    palagi ke mandala wangi, pengen tau lah asli’a kaya gmn???
    he….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s