Pagi Ini, Bincang-Bincang Ditemani Tiga Cangkir Kopi Pagi

***
Usai Sholat Shubuh berjamaah, ditemani kopi pagi, saya berbincang-bincang dengan seorang ustadz dari Yogyakarta. Singkat kata, ada satu pesan yang menjadi titik tekan. Katanya, tidak ada sesuatu yang sempurna di dunia ini. Jika kita ingin melihat sisi buruknya, maka akan selalu ada ruang untuk sisi buruk itu.
Ya, akan selalu ada ruang yang bisa jadi akan melekat pula dalam pikiran-pikiran kita. Jika tak pandai-pandai mengelola, sisi buruk yang kita temukan bisa jadi akan mengganggu pikiran dan sikap hidup kita. Oleh karena itu, carilah selalu sisi-sisi baik segala sesuatunya. Kelak ia akan melekat dalam pikiran kita dan melahirkan sikap hidup yang baik.
Namun demikian, yang terbaik adalah melihat kedua-duanya dan mengambil hikmah dari keduanya. Kenali apa yang kau anggap buruk. Pelajari mengapa itu menjadi buruk dan mengapa manusia terjerumus dalam keburukan itu. Kenali apa yang kau anggap baik. Pelajari mengapa itu menjadi baik dan mengapa mesti kita terima dengan baik. Gunakan hati nurani yang sejatinya hati nurani itu merindukan kesempurnaan, kebaikan-kebaikan yang diajarkan langsung dari yang Maha Sempurna.
Saya menerima pandangan yang sederhana itu. Sederhana? Ya, karena seringkali pandangan itu disampaikan bahkan oleh seorang tukang becak di sudut Pasar Beringharjo. Tapi, saya akui memang pandangan yang sederhana itu terasa rumit untuk diterapkan kehidupan sehari-hari.
Kadangkala, saat kita bertemu dengan seseorang yang kita pandang buruk, kita tak dapat melihat sisi baik yang dapat kita pelajari yang mungkin ada dalam dirinya. Persepsi awal kita yang buruk membelenggu kita sehingga tidak dapat melihat kebaikan atau memberi sedikit ‘kebaikan’ yang kita miliki pada seseorang itu.
Seringkali pula keadaan buruk yang di dalamnya terdapat tantangan dan peluang terlewati begitu saja karena pikiran-pikiran buruk kita terhadap keadaan lebih berkuasa, sehingga seolah-olah semuanya menjadi buruk. Tak dapat kita lihat kebaikan sama sekali. Hanya orang-orang yang mampu menguasai dirinya, yang memiliki jiwa besar yang mampu melihat peluang di dalam keadaan ‘genting’, sehingga keadaan bisa berubah menjadi baik. Kebajikan tersebar dan makhluk sekelilingnya pun dapat menuai kebajikannya itu.
***

***
Ah.. Sudah tiga cangkir kopi habis diseruput dalam bincang-bincang pagi ini. Rasa-rasanya, saya harus belajar menguasai diri. Bersikap adil atas kebaikan dan keburukan yang ada di sekeliling kehidupan ini. Bahkan, dalam menikmati kopi pagi ini dan pagi-pagi yang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s