Pengusaha Politik

Orang yang mendatangkan bencana bagi bangsanya ialah orang yang tak pernah menyebar benih, menyusun bata, atau menenun kain, tapi menjadikan politik sebagai mata pencahariannya.” (Kata Mutiara, Kahlil Gibran)
Dua hari yang lalu (20/7), di sekitar Menteng Raya saya bertemu dengan seorang politikus dan seorang pengusaha muslim yang juga pernah terlibat dalam aktivitas politik pada masa awal reformasi. Awalnya mereka berdua hanya berjanjian untuk membicarakan penerbitan buku. Tapi, sebelum perbincangan masuk pada rencana penerbitan buku banyak hal yang dibicarakan. Terutama soal kebobrokan para politisi di negeri.
Dalam perbincangan itu, yang pengusaha mengatakan betapa sulitnya menjalankan usaha di negeri ini. Banyak sekali pungutan-pungutan liar dari para pejabat di berbagai bidang usaha. Mereka yang jauh dari para pejabat akan kesulitan setengah mati untuk membangun dan mengembangkan usahanya.
Ia juga mengatakan sebagian dari mereka yang berada di lembaga legislatif tidak lain adalah bandit-bandit anggaran dan calo-calo yang rakus. Mereka yang berada di departemen-departemen yang seharusnya melakukan pelayanan publik juga banyak yang bobrok. Pengusaha-pengusaha yang memanfaatkan jasa para bandit itu tidak lain adalah mafia-mafia yang mencengkeram negeri ini secara rakus pula.
Mendengar uraian yang secara detail disampaikan oleh pengusaha itu mengenai kebobrokan yang terjadi, rasanya sangat sulit untuk membuat perbaikan di negeri ini. Bahkan ia mengatakan mesti ada revolusi dulu baru akan terjadi perbaikan. Juga mesti ada pangkas tiga generasi di pemerintahan. Menurutnya, dua generasi tua dan generasi muda reformasi yang sudah makan uang haram dari kehidupan politik tak mungkin bisa merubahnya. Ia akan terus mempertahankan pola yang selama ini terus menyengsarakan rakyat.
Yang politikus dan ternyata ketua partai politik ternyata membenarkan dan menambahkan juga beberapa contoh kebobrokan para politisi itu. Awalnya saya cukup respect dengannya dan apa yang disampaikannya. Tapi setelah ia mengatakan bahwa ia tidak punya pekerjaan selain berpolitik praktis melalui perjuangan partainya, saya jadi berpikiran negatif.
Dalam pikiran saya, apakah ia hanya menghidupi dirinya dan keluarganya hanya dari uang partai? Atau uang dari aktivitas politik yang banyak sekali dan kadang tidak jelas sumbernya itu? Ah, bukankah itu berarti ia memakan uang dari apa yang ia sepakati sebagai ’kebobrokan’ para politisi itu? Okelah ia hidupi dari pensiun sebagai mantan anggota legislatif sekarang, tapi bukankah itu bisa jadi merupakan keputusan dari kongkalikong ’mafia anggaran’, para politisi yang takut tak dapat rejeki selain dari aktifitas politik pada saat itu?
Saya dan teman yang pengusaha itu tidak sepenuhnya menganggap semua politisi itu kotor. Saya juga tidak dapat menyanggah bahwa beberapa keputusan-keputusan yang dihasilkan oleh lembaga legislatif kita memang telah membawa perbaikan. Karena memang masih ada pula di antara mereka yang memiliki tekad untuk memperbaiki keadaan negeri ini meskipun mendapatkan tekanan dari keputusan partai yang pragmatis. Ketika saya bertemu dengan yang seperti itu maka saya selalu berdoa agar mereka yang benar-benar memiliki tekad mulia itu selalu diberikan rejeki oleh Allah Swt dari jalan usaha yang halal. Sehingga mereka dapat kuat menghadapi berbagai cobaan yang ada untuk mewujudkan tekadnya itu. Untuk Indonesia yang lebih baik …

One Comment Add yours

  1. Waah artikel yang bagus, mampir ditunggu kunjungan baliknya, boss.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s