Tantangan dan Peluang Industri Berbasis Halal

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. (Q.S. Al-Baqarah [2]:168)
Islam sebagai agama yang paripurna menuntun setiap urusan manusia agar tidak keluar dari fitrahnya, termasuk mengenai apa yang layak dikonsumsi (halal) dan apa yang tidak layak dikonsumsi (haram). Konsumsi yang halal-pun bukan berarti tanpa aturan dan batasan. Di samping halal, yang kita konsumsi juga harus baik (thayyib). Selain itu, dalam konsumsi manusia tidak boleh berlebih-lebihan, bermewah-mewahan dan pamer.
Imam al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumudin mengatakan, “Sesungguhnya maksud manusia adalah bertemu dengan Allah di akhirat, tiada jalan menuju pertemuan Allah kecuali dengan ilmu dan amal. Kedua hal ini tidak dapat dicapai kecuali dengan keselamatan fisik. Keselamatan fisik tidak mungkin direalisasikan kecuali dengan makan dan minum sesuai dengan tuntutan kebutuhannya.”
Lebih lanjut, Imam al Ghazali mengatakan, “Itulah sebabnya sebagian kaum salaf berpendapat bahwa makan dan minum adalah bagian penting dari agama seperti dinyatakan dalam al-Qur’an: “Makanlah (makanan) yang baik-baik dan beramal-lah dengan amal-amal saleh.” Barang siapa makan untuk membantunya mencari ilmu dan beramal serta meningkatkan taqwa maka janganlah ia membiarkan dirinya tidak terkontrol seperti binatang ternak yang sedang makan di rerumputan. Karena apa yang menjadi wasilah bagi agama seyogyanya tampak juga cahaya agama padanya. Dan cahaya agama itu adalah adab-adab dan sunnah-sunnahnya …”
Di dunia saat ini, industri-industri banyak bermunculan dan terus tumbuh. Seiring dengan itu, barang-barang hasil produksi pun semakin bervariasi. Semua ‘dijejalkan’ ke pasar besar masyarakat dunia, termasuk masyarakat muslim di Indonesia. Dengan pencitraan produk dalam model pemasaran modern, seperti iklan di televisi, majalah dan lain sebagainya, konsumsi sudah tidak lagi hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan dasar saja, tetapi juga menunjukkan status sosial dan gaya hidup. Perubahan gaya hidup yang instan dalam masyarakat modern menyebabkan konsumen ingin menikmati makanan yang mudah disajikan, berpenampilan menarik, rendah kalori, lemak, ataupun kolesterol.
Tidak sedikit umat Islam yang terjebak dalam konsep gaya hidup yang instan dan ’termakan’ oleh iklan-iklan suatu produk. Padahal, produk-produk yang beredar di pasar yang layak konsumsi sesuai dengan tuntunan Islam masih cukup banyak yang meragukan. Bahkan, tidak jarang barang-barang yang tergolong haram berada di ‘meja makan’ keluarga muslim tanpa diketahuinya. Karena, kebanyakan motif ekonomi pengusaha dan industri tidak lain hanya untuk mengejar keuntungan materi. Sangat sedikit dari pengusaha dan industri yang saat ini menguasai pasar yang benar-benar menerapkan ajaran Islam dalam aktifitas dan motif ekonominya.
Pesatnya kemajuan teknologi di bidang industri memungkinkan makanan ataupun minuman diproduksi secara massal dalam jumlah besar, secara mudah dapat pula dikonsep untuk merubah jenis dan bentuk produk sesuai dengan keinginan. Proses pengolahan juga bisa dipercepat agar lebih efektif dan efisien. Namun, pada proses pengolahan tentunya membutuhkan zat tambahan ataupun zat penolong yang tidak semuanya dapat diketahui oleh konsumen dari zat apakah bahan-bahan tersebut berasal. Tidak menutup kemungkinan jika bahan-bahan tersebut berasal atau tercampur dengan bahan-bahan yang diharamkan baik melalui medianya, ataupun proses pengolahannya.
Oleh karena itu, diperlukan kewaspadaan, kehati-hatian dan pengawasan yang merupakan tugas para produsen untuk menjamin konsumennya bahwa bahan-bahan yang digunakan untuk proses produksi selain menggunakan bahan-bahan yang halal, media yang halal juga melalui proses pengolahan yang halal. Para produsen harus membuat sistem proses produksi yang menjamin konsumen bahwa proses produksinya halal, dapat dipertanggungjawabkan dan dapat dibuktikan. Untuk dapat secara benar menjamin produk itu halal, produsen juga mesti mendaftarkan produknya pada otoritas yang ditunjuk pemerintah. Di Indonesia misalnya LPPOM Majelis Ulama Indonesia (MUI). LPPOM MUI akan melakukan penelitian produk tersebut dan akan memberikan Sertifikat Halal pada produk.
Hal seperti itu tentu menjadi satu tantangan tersendiri bagi pengusaha muslim dan industri pada umumnya untuk mengembangkan dan mendukung industri berbasis halal yang akan menghilangkan keraguan umat dalam mengkonsumsi produk yang beredar di pasar. Industri yang mampu memproduksi barang-barang yang halal dan thayyib, sesuai dengan adab-adab dan sunnah-sunnah yang diajarkan Rasulullah Saw.
Tantangan lainnya bagi produsen atau pengusaha muslim adalah menjelaskan dan mencerdaskan umat Islam—sebagai pangsa pasar utamanya—agar dapat mengkonsumsi produk-produk halal dan meninggalkan produk-produk yang masih diragukan kehalalannya. Upaya pencerdasan ini dapat dilakukan oleh divisi pemasaran professional yang dimiliki perusahaan dengan berkolaborasi pada ulama, baik yang tergabung dalam majelis ulama maupun jejaring pengusaha muslim yang ada. Sertifikasi halal dari otoritas yang ada menjadi penting juga bagi produsen untuk mensosialisasikan produk halalnya. Sementara majelis ulama bertanggungjawab membentuk ‘loyalitas’ umat kepada produk-produk yang terang kehalalannya.
Edukasi konsumen menjadi hal penting dalam penyebaran produk Islami karena tidak semua orang memahami konsep produk Islami. Bahkan, ada orang Islam tetap mengkonsumsi produk yang tidak Islami, sehingga penekanan produk dalam Islam selain melihat kebutuhan dan keinginan dalam batasan syari’ah Islam juga harus dikedepankan keunggulan dan menyentuh kebutuhan dasar manusia.
Marketing digunakan untuk mendidik konsumen akan manfaat dari produk yang dibuat, bukan sebagai alat ampuh untuk membodohi konsumen, dan memberi imajinasi tertinggi yang mendorong otak bawah sadar manusia untuk membeli. Melainkan sebagai alat ampuh untuk menyentuh hati manusia pada kebutuhan dasar yang harusnya diprioritaskan untuk dibeli.
Selain itu, konsep inovasi dan kreativitas sangat ditekankan oleh Islam asal tidak melewati batas yang telah ditetapkan. Islam dalam hal ini sangat mengedepankan optimalisasi kemampuan sumberdaya yang dimiliki manusia, optimalisasi pikiran, optimalisasi otak, dan optimalisasi seluruh sumberdaya, baik manusia ataupun alam, seharusnya menjadi kekuatan Islam untuk terfokus pada karya dan pengembangan yang sesuai dengan tujuan syari’ah. Kekuatan fokus dan inovasi menjadi suatu keunggulan dalam setiap bisnis dan kualitas pelayanan yang Islami menjadi daya saing untuk mencapai keunggulan yang kompetitif.

Industri Halal Tak Perlu Takut Kehilangan Pasar

Menurut perkiraan Direktur Global Food Research and Advisory Sdn Bhd, Irfan Sungkar, di Kuala Lumpur, seperti dilansir dalam situs Halalguide.info pada tahun 2007, industri halal dunia mencapai nilai lebih dari 600 miliar dolar AS dengan populasi pasar penduduk Muslim sendiri (captive market) sekitar 1,6 miliar orang. Di negara Asia, seperti Indonesia, China, Pakistan dan India, rata-rata tumbuh sekitar tujuh persen per tahun dan diperkirakan mencapai dua kali lipat dalam 10 tahun ke depan. Indonesia sendiri diperkirakan akan terjadi penambahan permintaan produk makanan daging halal mencapai 1,3 juta metrik ton setahunnya. Sedangkan negara Asia lainnya bisa mencapai dua juta metrik ton setahunnya. Bila produk makanan halal semakin banyak jenis yang diperdagangkan, potensinya tinggi. Selain daya beli, tingkat kesadaran makanan halal juga sudah tinggi.
Di Uni Eropa, meski jumlah penduduk Muslimnya minoritas dan jumlahnya sedikit, pertumbuhannya besar karena daya beli yang tinggi, seperti di Perancis dan Belanda. Muslim di Perancis membelanjakan 30 persen penghasilannya untuk makanan halal. Kuantitas konsumsi makanan daging sekitar 400 ribu metrik ton setahunnya. Sedangkan di Belanda, makanan halal tidak hanya dikonsumsi Muslim, tetapi juga non Muslim, sehingga total permintaan pasar halal mampu mencapai 2,8 miliar dolar per tahun.
Australia dan Selandia baru selain berhasil memanfaatkan pemahamannya tentang halal, negara tersebut menjadi pengekspor daging sapi, kambing dan domba terbesar ke negara-negara muslim. Pasar utama daging mereka adalah Timur Tengah, Asia, dan Eropa. Dalam hal ini, Selandia baru berhasil menjadi negera pengekspor daging halal terbesar dunia. Mereka memahami potensi dan peluang halal, bahkan mereka dikenal ketat dalam melakukan pengujian sertifikasi halal terhadap daging-daging yang siap diekspor. Lembaga sertifikasi yang ditunjuk pemerintah mereka yaitu Federation of Islamic Associations of New Zealand (FIANZ) dan New Zealand Islamic Meat Management (NZIMM).
Sementara itu, Malaysia sudah mencitrakan dirinya menjadi Halal Hub dunia melalui JAKIM lembaga yang menaunginya, menjadi pusat sertifikasi halal dunia dan akan mempromosikan dirinya ke tingkat global. Lebih dari itu, mereka juga meningkatkan kapasitas institusi, logistik dan tentu saja sumber daya manusia. Malaysia juga telah membentuk badan khusus yang bertugas mendorong industri halal yaitu HDC (Halal Development Corporation). Badan itu memiliki tiga sasaran utama yaitu mengintegrasikan industri halal dalam bentuk standar, regulasi dan sertifikasi; pembangunan kapasitas yang meliputi meningkatkan kapasitas dalam perdagangan dan produksi produk dan jasa halal; serta promosi dan pencitraan yang mengembangkan kampanye, promosi dan pemasaran halal secara efektif.
Di Indonesia, industri bisnis halal sudah mengalami perkembangan yang menggembirakan. Selain perbankan syariah dan lembaga keuangan syariah non-bank sudah mulai marak dan dikenal, ada pula hotel syariah seperti Hotel Sofyan. Selain itu, Garuda Airlines sebagai maskapai penerbangan nasional juga mulai menyediakan layanan makanan halal bagi para penumpangnya. Pada tanggal 23—25 Juli 2010 di JCC juga akan digelar International Halal Business and Food Expo 2010 yang merupakan ajang kerja sama antara MUI, Kementerian Agama, dan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata dalam memasyarakatkan produk halal di Indonesia.
Saat ini pasar halal bukan hanya untuk kalangan muslim, namun juga non muslim. Halal selain menjadi alat untuk memasuki pasar yang lebih luas, juga gerbang untuk memasuki pasar dan komunitas global, ia sudah menjadi simbol untuk jaminan kualitas dan pilihan gaya hidup. (fms)

(Pengaya Bacaan: “http://tribunaeconomia.blogspot.com”)

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s