Beternak Kambing: Antara Kepentingan Ekonomi dan Mengikuti Profesi Para Nabi

“Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-sebaiknya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, Zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenangan dan untuk binatang-binatang ternakmu.” (Q.S. ‘Abasa [80]:24-32)
Pak Upen, warga Kampung Gunung Batu, Desa Tangkil, Bogor, terus menebarkan senyumnya saat membungkus buncis hasil panennya. Sekalipun tidak terlalu memuaskan, ia masih bersyukur karena buncis yang ditanamnya tidak rusak. Dengan hasil panennya itu, ia masih bisa mendapatkan sedikit untung dari modal yang telah dikeluarkan selama tiga bulan masa penanaman.
Sementara Iwan, anak kedua Pak Upen, baru saja pulang dari mengarit rumput untuk kambing ternaknya. Menurut Upen, Iwan tergolong anak yang rajin dalam mengurus ternak sejak ia masih di sekolah dasar. Kambing yang dulu hanya beberapa ekorpun kini telah berkembang banyak. Dalam waktu dekat, Upen berencana menyediakan kandang baru untuk meningkatkan semangat Iwan.
Kambing yang dipelihara Iwan memang cukup bagus dan terawat. Warga sekitar sempat menawar kambing yang dipeliharanya seharga 2 juta rupiah per ekor. Padahal, untuk memelihara kambing itu Iwan tidak banyak mengeluarkan modal. Rumput untuk pakan ternaknya diambil dari hutan di pinggir kampung, di hamparan tanah luas yang berbatasan dengan kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.
Keseharian keluarga Pak Upen memang cukup sederhana. Rumahnya masih terbuat dari bilik bambu dan masih beralaskan tanah. Namun demikian, Upen mengaku kebutuhan pokok sehari-hari dapat terpenuhi tanpa harus berhutang dengan pihak lain. Apalagi meminta-minta dengan orang lain. Hasil ladang dan ternaknya masih dirasa cukup untuk memenuhi kebutuhan pokoknya.
Mengenai pekerjaan bertani dan beternak, dalam tulisan berjudul Memilih Bidang Pekerjaan Akhir Zaman, Muhaimin Iqbal dengan cukup cerdas mengangkat bidang pekerjaan itu menjadi pembicaraan menarik dalam pembahasan ekonomi Islam. Menurut Muhaimin Iqbal, pekerjaan bertani atau bercocok tanam akan selalu baik sampai akhir zaman karena kita bahkan diperin-tahkan untuk tetap menanam benih yang ada di tangan kita, walaupun seandainya proses terjadinya kiamat sudah mulai.
Untuk ternak kambing, Presiden Gerai Dinar itu bahkan telah mensosialisasikan Center of Kambingnomics, Pesantren Wirausaha yang dibuat bagi mereka yang ingin belajar berwirausaha ternak kambing. Pesantren ini dibangunnya di daerah Jonggol, Bogor. Di tempat itu, siapapun dapat belajar mengenai dunia perkambingan secara gratis.
Dalam tulisan lain, Swasembada Daging Nasional Dari Kambing, Mengapa Tidak?, Iqbal menerangkan bahwa beternak kambing memiliki peluang yang cukup bagus. Apalagi, selama ini cukup banyak kebutuhan daging dalam negeri yang diperoleh dari impor. Menurut Iqbal, ketergantungan Indonesia pada daging impor selama ini bisa jadi karena persepsi yang terbangun selama ini di masyarakat adalah bahwa daging sapi-lah yang paling aman. Sementara itu, pertumbuhan peternakan sapi membutuhkan modal yang besar dan tingkat kelahiran anak sapi yang relatif rendah, membuat upaya mengejar kebutuhan daging secara nasional ini menjadi berat.
Iqbal juga mengatakan bahwa sebenarnya ada sumber daging lain yang tidak kalah menariknya dari daging sapi, yaitu daging kambing. Hanya daging kambing selama ini sering dipersepsikan sebagai daging yang berbahaya bagi kesehatan, seperti kolesterol tinggi  sehingga banyak dihindari. Hal inilah yang harus diluruskan  dengan riset yang memadai, penyuluhan ke masyarakat dan lain sebagainya. Di Amerika misalnya, United State Department of Agriculture (USDA) telah mempublikasikan kajiannya seperti dalam tabel berikut,
Dari tabel di atas kita tahu bahwa dari kajian USDA Nutrient Database, ternyata setiap berat yang sama daging kambing mengandung lebih sedikit lemak, lemak jenuh dan kolesterol dibandingkan dengan daging sapi dan bahkan lebih rendah juga dari daging ayam. Namun demikian, apakah daging kambing, sapi dan ayam di Indonesia berbeda dari yang di Amerika ? Ini perlu diteliti lebih detil. Tetapi Iqbal menduga bahwa mestinya tidak jauh berbeda. Asumsinya, data dari USDA tersebut memang benar. Dengan optimis, Iqbal menuliskan bukankah ini peluang besar bagi negeri ini untuk bisa mandiri dan mencukupi kebutuhan dagingnya dari dalam negeri sendiri?
Kambing lebih mudah diproduksi secara masal, karena untuk beternak kambing tidak dibutuhkan modal yang besar. Kemudian kecepatan pertum-buhannya yang mencapai 3/2 (tiga kali beranak dalam dua tahun) insyallah akan semakin memudahkan pencapaian pemenuhan kebutuhan daging nasional.
Efek ekonominya akan luar biasa bagi bangsa ini. Pertama, kita tidak akan lagi menghambur-hamburkan devisa setiap tahunnya untuk mengimpor kebutuhan daging nasional. Kedua, akan ada penyebaran kesejahteraan yang meluas ke masyarakat apabila masyarakat menginginkannya.
Sebagai investasi, pada tulisan Kambingnomics: Sistem Ekonomi Warisan Para Nabi, Iqbal membandingkan beberapa jenis investasi dengan ternak kambing. Penjelasannya sebagai berikut:
  • Bila kita menaruh dana di bank dalam Rupiah, bagi hasil kita saat ini akan berkisar antara 6 – 7 % per tahun. Sementara inflasi rata-rata Indonesia sejak tahun 2001-sekarang masih diatas 8 %, artinya uang kita yang di deposito bukannya tumbuh malah menyusut.
  • Bila kita taruh uang kita dalam deposito US$, maka bagi hasil kita saat ini berkisar antara 1-3 % per tahun. Sementara inflasi rata-rata US$ dalam 38 tahun terakhir adalah 4.37%; lagi-lagi uang kita dalam US$ bukannya tumbuh malah menyusut.
  • Bila kita taruh uang kita di Dinar, untuk setahun terakhir (Desember 2009) menunjukkan appresiasi nilai Dinar mencapai 22.67% setahun terakhir dan 380% untuk 10 tahun terakhir. Appresiasi nilai Dinar melambung hampir 3 kali angka inflasi; tetapi sesungguhnya Dinar Anda jumlah keping-nya tetap, hanya nilainya saja yang melonjak. Dinar adalah proteksi asset yang sangat efektif melin-dungi daya beli dari hasil jerih payah kita semua, tetapi Dinar yang disimpan saja tidak akan menjadi growing asset yang sesungguhnya.
  • Kambing setiap tahun beranak, sekali beranak bahkan sering tidak hanya satu, kadang dua bahkan ada yang sampai empat. Ambil angka terendahnya 1; ambil pula risiko kematiannya 1/10 anak kambing. Maka setiap tahun satu kambing menghasilkan 0.9 kambing; diambil lagi biaya pemeliharaannya 50%-nya maka masih menghasilkan 0.45 satuan kambing. Karena satuan kambing ini sama dengan satuan Dinar (sejak jaman Rasulullah SAW sampai sekarang, harga satu kambing kelas rata-rata setara dengan satu Dinar), maka investasi kita di kambing insyaallah akan memberikan hasil 45% per tahun dalam satuan Dinar.
Selain motivasi ekonomi, Iqbal mengatakan memelihara (menggembala) kambing merupakan pekerjaan para nabi sebelum mereka diangkat menjadi nabi. Iqbal menjelaskan bahwa Imam Nawawi membahas secara khusus dalam kitab Riyadhush Shalihin.
Dalam bab uzlah, Imam Nawawi menyampaikan bahwa uzlah atau menyendiri ketika moral manusia sudah rusak, takut agama ini terfitnah, dan takut terjerumus dalam keharaman dan syubhat, adalah hal yang disunahkan. Nah, ketika kita menyendiri dan takut kepada hal yang haram, lantas apa pekerjaan kita untuk menghidupi diri dan keluarga kita? Beternak kambing merupakan salah satu jawabannya.
Untuk jawaban ini tidak tanggung-tanggung Imam Nawawi memberikan tiga hadis sahih sebagai rujukannya. Berikut adalah hadis-hadis tersebut:
Dari Abu Hurairah R.A., dari Nabi SAW, dia bersabda: “Setiap Nabi yang diutus oleh Allah adalah menggembala kambing”. Sahabat-sahabat beliau bertanya: “Begitu juga engkau?”; Rasulullah bersabda: “Ya, aku menggembalanya dengan upah beberapa qirath penduduk Mekah.” (H.R. Bukhari)
Dari Abu Said berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Hampir saja harta muslim yang terbaik adalah kambing yang digembala di puncak gunung dan tempat jatuhnya hujan. Dengan membawa agamanya dia lari dari beberapa fitnah (kemungkaran atau peperangan sesama muslim).” (H.R. Bukhari)
Dari Abu Hurairah R.A. dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Termasuk penghidupan manusia yang terbaik, adalah seorang laki-laki yang memegang kendali kudanya di jalan Allah. Dia terbang di atasnya (dia menaikinya dengan jalan yang cepat). Setiap mendengar panggilan perang dia terbang di atasnya dengan bersemangat untuk mencari kematian dengan jalan terbunuh (dalam keadaan syahid) atau mati biasa.  Atau seorang laki-laki yang menggembala kambing di puncak gunung dari atas gunung ini atau lembah dari beberapa lembah. Dia mendirikan salat, memberikan zakat, dan menyembah kepada Tuhannya hingga kematian datang kepadanya. Dia tidak mengganggu kepada manusia, dan hanya berbuat baik kepada mereka.” (H.R. Muslim).
Sekarang, apakah anda ingin mulai beternak kambing untuk mencari dan mengumpulkan kekayaan atau untuk mengikuti profesi para nabi? Jika kedua-duanya tentu lebih baik. Selamat beternak! (fms)

One Comment Add yours

  1. Dulu pernah kepikiran mao ternak kambing.Tapi akhirnya gagal.Tapi sing penting masih bisa makan sate kambingya.Thank artikelnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s