Baitul Mal Ash-Shidiq: Dakwah Bil Hal di Tinggimoncong Gowa Sulsel

Dakwah di daerah terpencil, selain memiliki tantangan yang kadang jauh lebih berat dibandingkan dengan daerah perkotaan juga langsung bersentuhan dengan nadi persoalan umat. Karenanya, da’i pada daerah terpencil dituntut untuk memutar otak agar dakwah yang dijalankannya menjadi efektif sekaligus produktif dengan segala keterbatasan yang ada.
Biasanya, persoalan yang sering mengemuka di tengah-tengah umat adalah persoalan ekonomi. Persoalan ekonomi yang utama yaitu persoalan pemenuhan kebutuhan primer, yang tidak semua orang mempunyai kemampuan untuk menundanya. Di daerah dengan tingkat ekonomi masyarakat yang rendah, aktivitas dakwah seringkali mendapat tantangan yang cukup berat.
Di samping menyampaikan materi-materi aqidah Islam dan fikih ibadah khusus secara rutin, da’i juga diharapkan mampu mengangkat tingkat kesejahteraan umatnya, sehingga tidak meninggalkan ajaran yang telah disampaikan. Jika persoalan ekonomi tidak diselesaikan, gerak dakwah sepertinya dapat dengan mudah patah di tengah jalan. Apalagi jika selama ini pemahaman keagamaan umat rendah karena terisolasi dari akses dakwah. Jika dibiarkan, persoalan ekonomi ini akan menjadi api dalam sekam.
Persoalan ekonomi umat dipandang penting untuk diselesaikan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Di Kecamatan Tinggimoncong, misalnya di Desa Siccini masyarakat banyak yang tergantung kepada tengkulak dalam menjual hasil kebun mereka karena letaknya yang jauh di pelosok Malino. Perekonomian masyarakat Malino sebagian besarnya memang bergantung pada sektor pertanian. Sebagian dari mereka ada juga yang berprofesi sebagai pedagang, buruh, dan lain-lain. Sejuknya alam Malino memungkinkan masyarakat untuk mengembangkan pertanian, khususnya sayur-mayur.
Tingkat kesejahteraan petani tak selalu seindah alamnya. Selain disebabkan oleh ketergantungannya pada tengkulak yang dengan mudah mempermainkan harga juga kurangnya perhatian Pemda setempat dalam pengontrolan harga. Di samping itu, akses transportasi yang sulit menyebabkan mereka sulit untuk berkembang dan semakin mengandalkan tengkulak dalam penjualan hasil panennya.
Sebagian besar masyarakat yang ada di daerah tersebut tercatat jumlah penduduk miskinnya mencapai angka 94% dari total penduduk menurut data dari Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Gowa.
Maraknya praktek tengkulak (rentenir) di masyarakat membuat masyarakat yang tergolong miskin menjadi semakin terhimpit. Kalau tidak cepat diatasi, umat akan semakin terjerembab dalam rawa-rawa kemiskinan dengan segala aksesorisnya. Di sisi lain, gerakan pemurtadan yang dilakukan kelompok agama lain dengan cara mengiming-imingi bantuan dengan syarat kepada kaum miskin menjadi problem dakwah yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Posisi tawar ekonomi yang lemah, membuat umat mudah diperdaya mengambil jalan sesat.
Tantangan yang berat tersebut memerlukan solusi yang konkrit, mudah, dan visible. Problem ekonomi jangan sampai membuat umat sulit dan hanyut dengan persoalan sehingga lalai menjalankan ibadah kepada Allah.
Setelah melalui analisa kebutuhan masyarakat, da’i mandiri MTDK di Malino Kec. Tinggimoncong Kab. Gowa Sulawesi Selatan, Amiruddin Bakri akhirnya memutuskan untuk mendirikan Baitul Mal yang diberi nama Ash-Shidiq. Tujuannya agar persoalan ekonomi yang membelit masyarakat bisa terlepas satu persatu. Dengan pemikiran “Cinta Bersedekah Islam Menjadi Kuat”, Baitul Mal Ash-Shidiq resmi berdiri berdasarkan Surat Keputusan No. 05/KEP/III.0/D/2010 pada 26 Februari 2010.
Berpusat di Jl. S. Dg. Jarung No. 51 Kel. Malino Kec. Tinggimoncong Kab. Gowa Sulawesi Selatan, Amiruddin Bakri dengan Baitul mal Ash-shidiq yang dibentuknya mencoba untuk mengajak masyarakat beribadah dengan jalan mencari ilmu dan mencintai sedekah.
Baitul mal ini memang agak unik, ia tidak ada program simpan-pinjam. Menurut pengamatan Amir, kalaupun program ini ada mungkin tidak akan memberikan manfaat banyak bagi masyarakat yang mayoritas termasuk kategori menengah ke bawah dan berprofesi sebagai petani.
Program yang menjadi andalannya adalah bersedekah. Ia tidak ingin mendakwahkan hutang atau pinjaman, seperti yang dilakukan lembaga semacam. Menurutnya, pinjaman atau cicilan membuat masyarakat yang masih belum memiliki kekuatan itu terbebani.
Pengurus mengajak kepada anggotanya untuk bersedekah setiap hari. Cukup seribu rupiah per harinya. Tidak terlalu besar memang, tapi bukan jumlah yang menjadi tujuan melainkan tumbuhnya kebiasaan. Setelah terbiasa, mudah-mudahan tumbuh rasa cinta bersedekah. Kalau sudah tumbuh perasaan cinta, ibarat orang yang sedang jatuh cinta, sehari saja tidak bersedekah akan terasa ada sesuatu yang hilang.
Uang sedekah yang terkumpul dari umat itu akan disedekahkan kembali kepada umat yang membutuhkan dan siap mengelolanya. Mereka yang diberi sedekah diharapkan mampu memanfaatkan semaksimal mungkin, selain untuk kebutuhan sehari-hari juga membuka usaha. Sehingga ia juga bisa bersedekah harta di kemudian hari. Menurut Amiruddin, cara inilah yang paling tepat.
“Cara seperti itulah yang 100% syariah. Kita tidak mengelola sumber-sumber keuangan menjadi utang piutang. Jadi masyarakat tidak mempunyai beban. Masyarakat yang kurang mampu diberikan dana sedekah oleh baitul mal, sesuai dengan kemampuan baitul mal, itu sedekah baitul mal. Karena diolah dari sedekah masyarakat,” jelas Amiruddin.
Jika menggunakan istilah manajemen, menjadikan sedekah menjadi program unggulan merupakan positioning yang tepat. Di tengah kehidupan yang pragmatis seperti sekarang ini, sikap kerelaan untuk berbagi memang harus semakin ditumbuh kembangkan untuk membangun solidaritas sesama. Berbagi kepada siapapun dan dengan apapun. Berbicara berbagi bukanlah monopoli bagi orang yang mampu, dan berbagi itu bukan melulu yang bersifat materi. Jika tidak ada materi yang bisa dibagi, mungkin tenaga atau pikiran yang bisa dibagi. Jadi, siapapun bisa berbagi. Oleh sebab itulah Islam selalu mengajarkan, “Tangan diatas lebih mulia dibandingkan dengan tangan di bawah”. Islam ingin mengatakan, orang memberi lebih mulia dibandingkan orang yang menerima. Dan pada saat bersamaan kita bisa menjadi orang yang menerima sekaligus memberi.
Di dalam dakwah bil hal itu, Amir menyampaikan hadis yang diharapkan bisa memperkuat semangat umat untuk senantiasa bersedekah.
Rasulullah SAW pernah berkata, bahwa setiap masuk pagi, ada dua malaikat mengajukan permohonan mereka kepada Allah SWT. Malaikat pertama berdoa: “Ya Allah berikanlah ganti bagi orang yang menginfaqkan hartanya”. Yang kedua berdoa: “Ya Allah jadikanlah semakin tidak punya orang yang pelit terhadap hartanya.”
Sedekah memang bukan satu-satunya program unggulan Baitul Mal Ash-Shidiq, ada satu lagi yang menjadi program unggulan, yaitu taklim mingguan. Seperti yang kita ketahui bersama, iman itu bisa naik turun, dan agar iman itu bisa bertahan lebih lama di saat sedang naik, dan cepat naik lagi di saat turun, maka diperlukanlah asupan yang cukup. Taklim diharapkan bisa menjadi gizi iman. Selain itu, dengan pertemuan rutin melalui taklim mudah-mudahan tali silaturahmi bisa lebih kuat terikat. Tali persaudaraan semaking langgeng.
Menurut Baitul Mal Ash-Shidiq adalah sebuah program handal bagi da’i MTDK PP Muhammadiyah. “Saya melihat Baitul Mal Ash Shidiq yang bervisi cinta bersedekah, umat menjadi kuat, insya Allah menjadi jawaban inti bagi umat pada binaan kami di kecamatan Tinggimoncong. Sebab dakwah ini tidak cukup hanya dengan retorika, tetapi dua hal yang harus berimbang. Dakwah bil lisan dan dakwah bil hal, atau dakwah ekonomi,” jelasnya.
Sejak Februari 2010, atau empat bulan setelah berdiri, dana yang dikelola sudah sekitar empat jutaan. Masyarakat di daerah sekitar juga memberikan respon positif. Karena selain medakwahkan sedekah, Baitul Mal Ash Shidiq berusaha mengajak umat Islam cinta menuntut ilmu. Sedikitnya diadakan pengajian sekali dalam sepekan. Kecintaan bersedekah juga terus dipupuk di pengajian ini.
Saat ini baitul mal juga memiliki usaha, yaitu toko obat. Sekalipun masih sangat sederhana, toko obat ini sudah menjadi penyanggah utama. Masyarakat tidak lagi membeli obat begitu mahal, ketika sakit, toko obat tersebut juga menyiapkan pertolongan pertama.
Mengenai keanggotaan, semua masyarakat bisa menjadi anggota baitul mal, tidak hanya warga Muhammadiyah. Sedekah yang terkumpul juga tidak hanya diberikan kepada warga Muhammadiyah. Siapa saja yang sedang mengalami kesusahan, baitul mal akan berusaha membantu sesuai dengan kemampuan yang ada. Agar kaum dhuafa dan lemah bisa bangkit sebab yang ingin ditumbuhkan adalah spirit beribadah kepada Allah. (fms)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s