Penyerangan Kapal Mavi Marmara: Kebrutalan Zionis Israel dan Dukungan Amerika Serikat

Peperangan yang terjadi di Palestina menyebabkan luka yang tak berkesudahan hingga saat ini. Bantuan dan misi kemanusiaan dari berbagai negara untuk membantu meringankan penduduk Palestina yang telah menderita selama lebih dari 63 tahun seringkali mengalami kesulitan karena intervensi Israel, seperti pelarangan memberikan bantuan, penghadangan bantuan, kesulitan birokrasi dan lain sebagainya.

Tak jarang, Israel juga memperlakukan secara buruk mereka yang berusaha masuk wilayah Palestina sekalipun untuk misi kemanusiaan. Mereka yang berhasil masuk dan membela hak-hak kemanusiaan warga Palestina tak jarang yang berakhir dengan kematian. Pada 2003 misalnya, aktivis kemanusiaan asal Amerika Serikat, Rachel Corrie tewas digilas buldoser Israel.

Kejadian tragis itu kembali terulang. Tanggal 30 Mei 2010, Kapal Mavi Marmara yang membawa puluhan relawan kemanusiaan dari berbagai lembaga kemanusiaan (NGO) dan media dari berbagai negara yang akan menyalurkan bantuan kemanusiaan dihadang dan ditembaki oleh militer Israel. Lebih dari sepuluh orang relawan kemanusiaan meninggal dunia.

Menanggapi kejadian itu, Pimpinan Pusat Muhammadiyah bersama tokoh-tokoh agama lainnya mengadakan konferensi pers untuk mengutuk aksi brutal Israel tersebut pada Senin pagi (31/5), di kantor Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng Raya, Jakarta.

“Tak ada kata lain selain kebiadaban yang hanya dilakukan oleh orang-orang yang tak berperikemanusiaan. Dan ini merupakan pelanggaran HAM serta bentuk terorisme yang nyata,” kata Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Din Syamsuddin.

Di belakang Din Syamsudin, yang didampingi para tokoh lainnya, terbentang sebuah baliho besar ukuran 4×6 meter warna hitam dengan tulisan warna putih berbunyi “Zionis Biadab, Israel Terkutuk”.

“Kami semua mengutuk terhadap serangan negara Israel atas kapal bantuan kemanusiaan ke Gaza yang terdiri dari puluhan warga sipil yang sedang mengirim bantuan,” tegas Din Syamsudin.

Sikap Amerika dan Sekutu Israel

Kebrutalan Israel sebenarnya hampir sepanjang tahun terjadi. Pada 27 Desember 2008 hingga 18 Januari 2009 misalnya, Israel memberikan hadiah tahun baru dengan menggempur Gaza habis-habisan. Alasannya, memburu para ‘teroris’ Hamas. Korbannya, ribuan penduduk sipil baik perempuan, anak-anak dan lansia di sepanjang jalur Gaza. Tidak hanya penduduk setempat, wartawan pun menjadi sasaran peluru militer Israel.

Setiap kali kebrutalan Israel dipertontonkan, PBB tidak pernah dapat berbuat banyak. Pasalnya, Amerika Serikat selalu menyatakan bahwa apa yang dilakukan Israel adalah wajar sebagai bentuk pembelaan diri dan demi kepentingan keamanan negaranya.

Menyikapi kebrutalan Israel di kapal Mavi Marmara yang telah mencoreng wajah dunia kemanusiaan, para sekutu Israel pun bersikap sama. Pada hari Selasa (8/6), mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair dalam sebuah wawancara dengan Channel 10 mengatakan bahwa Israel memiliki hak untuk melindungi diri.

Blair bertemu dengan Perdana Menteri Benyamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Ehud Barak pada hari Selasa itu juga untuk membahas dampak dari serangan Israel terhadap armada kebebasan ke Gaza pekan lalu.

“Setiap penyelidikan harus menyeluruh dan tidak memihak, dan mungkin ada semacam elemen internasional yang dapat menjadi bagian dari itu,” kata Blair. Blair meyakinkan bahwa dia dengan sepenuh hati mendukung hak Israel untuk membela diri.

“Tidak ada pertanyaan sama sekali. Ada roket ditembakkan dari Gaza, ada orang-orang di Gaza yang ingin membunuh orang-orang Israel yang tidak bersalah,” demikian mantan perdana menteri Inggris membela Israel.

Presiden AS Barack Obama justru menyatakan akan memberikan “jaminan yang konkret” pada Israel, untuk mencegah setiap upaya yang ingin mengganggu kepentingan Israel.

Sumber-sumber di kalangan politisi senior Israel di Al-Quds mengatakan bahwa Obama memberikan jaminan pada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bahwa AS akan membantu peningkatan kemampuan militer Israel.

“Presiden Obama menegaskan pada Netanyahu bahwa AS akan memberikan ‘jaminan yang konkret’ untuk memperkuat kemampuan strategis Israel,” kata mereka seperti dilansir Jerusalem Post.

Seorang jurnalis yang tinggal di Palestina, Khalid Amayreh, menuliskan bahwa Israel tidak dapat melakukan semua itu tanpa, setidaknya, persetujuan Amerika.

“Amerika selalu tidak dapat menghentikan tindakan Nazi ala Israel di Gaza, namun selalu menyatakan dirinya benar. Intinya, semua orang tahu siapa sebenarnya yang bertindak jahat itu, yang tidak dapat dibenarkan dari sudut pandang moral,” ungkap Khalid. (fms)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s