Mempertanyakan Nurani Wartawan Di Tengah Kerusuhan Koja

Siang itu, Rabu (14/4) saya bersama seorang wartawan majalah Islam sama-sama menyaksikan rusuhnya proses eksekusi areal sekitar makam Mbah Priok, Koja, Jakarta Utara. Kelompok massa yang bertahan di dalam areal makam saling lempar batu dengan kelompok aparat Satpol PP. Dalam bentrokan yang cukup sengit, aksi serang, maju-mundur, dari kedua belah pihak terjadi. Dalam aksi serang maju-mundur itu, ada beberapa orang yang terjebak ke kubu lawan. Baik dari masyarakat maupun aparat.
Di tengah ’perang’ itu, mereka yang terjebak jadi bulan-bulanan kubu lawannya. Saat menyerbu ke dalam areal makam, seorang anggota Satpol PP sempat terjebak. Ia dipukuli dengan kayu dan dilempari batu. Sesekali saya melihat secara tidak jelas sabetan golok ke tubuhnya. Entah apakah ia adalah salah satu korban yang meninggal atau bukan. Saya coba mereka-reka.
Di luar areal makam, ternyata bukan saja dari massa yang mempertahankan makam yang ’beringas’, tetapi dari oknum Satpol PP pun juga demikian. Saat massa terdesak mundur ke dalam areal makam, ada beberapa orang yang terjebak di tengah kerumunan Satpol PP. Ia pun jadi bulan-bulanan beberapa oknum yang juga sudah kalap. Dari beberapa orang yang terjebak itu, ternyata kebanyakan adalah remaja. Entah dengan alasan apa mereka turut serta dalam aksi berdarah itu.
Banyak sekali kebrutalan yang dilakukan oleh kedua belah pihak dalam perisitiwa itu. Saya tidak ingin membicarakannya lebih jauh. Apalagi soal bakar-bakaran yang terjadi kemudian. Yang saya ingin bicarakan adalah soal nurani wartawan yang berada di tengah-tengah aksi itu.
Wartawan yang meliput kerusuhan itu terbilang cukup banyak. Baik wartawan foto, majalah, koran, radio dan televisi. Tugas wartawan yang utama tentu adalah meliput kejadian. Mendapatkan gambar yang ’bagus’, tulisan yang ’baik’. Maka saya memaklumi kalau mengambil gambar dan merekam kejadian adalah hal yang paling utama.
Namun demikian, saya sangat menyayangkan kalau hal itu harus menenggelamkan sisi-sisi kemanusiaannya untuk menyelamatkan manusia-manusia lain di depannya. Bayangkan, saat aparat ’dihabisi’ massa tidak ada wartawan yang berusaha mencegahnya, atau meminta warga untuk menghentikannya. Demikian pula saat warga ’dihabisi’ aparat, wartawan justru dengan sigap merekamnya.
Saya cukup miris dengan kejadian itu. Darah dan korban yang tergeletak difoto dengan tenang. Orang yang dipukuli dan dilempari batu, direkam dengan sigap. Saya mempertanyakan nurani wartawan kepada rekan saya. Saya mengatakan bahwa pada saat kejadian itu sebenarnya wartawan yang berada dekat dengan ’korban’ dapat mencegah aksi brutal itu. Saya yakin saat ia menunjukkan kartu persnya, ia bisa lebih didengar warga. Apalagi ia adalah kameramen atau reporter dengan seragam pers yang jelas. Di samping itu, wartawan saat kerusuhan itu adalah pihak yang paling ’jernih’ karena bukan merupakan salah satu diantara kedua kubu yang bertikai dan telah dikuasai emosi.
Dalam lain waktu, ternyata ada beberapa wartawan yang saya lihat melakukan aksi pencegahan. Misalnya saat ada warga yang terjebak di tengah kerumunan Satpol PP, di depan gerbang terminal peti kemas, beberapa wartawan yang diantaranya fotografer, reporter, dan kameramen dengan seragam dari TV berita terkenal melakukan upaya penyelamatan dari oknum aparat yang hendak memukuli warga yang terjebak. Seharusnya demikianlah manusia yang punya hati nurani itu. Wartawan tentu punya hati nurani untuk menentang kekerasan sedapat mungkin. Sebagaimana juga Satpol PP dan masyarakat di saat ‘tenang’. Tapi kalau semua semata-mata berbicara atas kepentingan yang ‘rendah’ dan ‘sesaat’, dengan alasan ’ini tugas’ dan menenggelamkan sisi-sisi kemanusiannya, maka matilah kemanusiaan. Saya berharap tidak demikian…
Namun demikian, wartawan adalah juga wartawan. Setiap orang punya kapasitas dan kapabilitasnya masing-masing. Perlu dimaklumi. Saya juga turut bersimpati kepada dua orang reporter televisi swasta yakni, Farrel (22) dan Anton Saputra (29) yang juga menjadi korban dari kerusuhan itu. Alhamdulillah, mereka tidak terlalu parah dan sudah keluar dari Rumah Sakit Pelabuhan, Jakarta Utara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s