Liburan Akhir Pekan: Air Terjun Cikaracak!

Sabtu, 3 April
Langit cerah. Aku berharap perjalanan kami akan mudah dan penuh dengan kegembiraan. Tapi, bosan juga aku dengan kemudahan dan kegembiraan. Hidupku terlalu mudah-mudah saja. Setiap saat juga selalu muncul tawa di tengah-tengah pekerjaanku.
Ya, tawa selalu muncul dalam kerjaku… Soal kerjaku? Menulis dan jalan-jalan. Mengikuti acara dan berbincang-bincang dengan seseorang tentang suatu hal lalu menuliskannya. Sederhana saja. Menyenangkan bukan? Oh iya, sedikit-sedikit aku juga memotret suatu kejadian. Tapi, jangan kira aku… Aku bukan penulis dan aku juga bukan wartawan. Setidaknya aku tidak ikut dalam komunitas penulis dan asosiasi jurnalis/wartawan. Tapi, setiap bulan aku diberi upah untuk setiap tulisan yang kuhasilkan. Cukup tentang kerjaku!
Hari ini, aku berjalan di bawah langit cerah kota Bogor. Di persimpangan Ciawi, aku setengah berputar ke arah Sukabumi. Seperti biasa, di persimpangan ini cukup ramai. Apalagi di akhir pekan seperti ini. Ada yang bergerak menuju Puncak. Banyak pula yang bergerak ke arah Sukabumi. Angkot biru dengan trayek Sukasari-Cicurug yang kutumpangi bersaing keras dengan kendaraan pribadi dan truk-truk ke arah Sukabumi.
Seperti biasa pula, sopir-sopir angkot di daerah ini memiliki kemampuan mengemudi yang luar biasa hebat dan berani. Saling salip-menyalip, dahulu-mendahului adalah biasa. Angkot yang kutumpangi selalu bermanuver, macet jadi tak terasa. Aku menikmati perjalanan seperti ini. Persetan aturan dan marka jalan. Bukankah lebih cepat lebih baik?
Ada yang protes? Oke-oke, baiklah. Bahwa aturan itu penting saudara-saudara. Marka jalan dibuat bukan tanpa tujuan. Marka jalan dibuat supaya kita dapat berbagi dengan kendaraan lain di jalan raya, sehingga perjalanan akan lebih teratur dan tentu akan meminimalkan terjadinya tabrakan, kecelakaan lalu lintas. Tapi, bukankah lebih cepat lebih baik? Hehe..
Kendaraan yang kutumpangi melesat dengan cepat. Sampai di daerah Caringin, aku minta kendaraan diperlambat. Aku sedikit mengingat lokasi dimana aku harus berhenti dan berganti dengan ojeg.
Sambil melihat sisi kiri jalan, sang sopir menawarkan tawaran menarik. Bagaimana kalau lanjut saja dengan kendaraan ini tanpa perlu berganti dengan ojeg? Boleh juga! Karena penumpang adalah saya dan delapan orang teman serta dua orang dengan tujuan yang sama, kami langsung nego harga. Kami sepakat untuk membayar angkot sebesar 65 ribu rupiah untuk sembilan orang. Harga biasa untuk sampai gang masuk yang saya tuju (yaitu Sempur) adalah empat ribu rupiah. Oh iya, tujuan kami adalah Kampung Gunung Batu, Desa Tangkil, Kecamatan Caringin, Bogor.
Sampai di Sempur, kendaraan kami memasuki jalan desa Cinagara. Di daerah ini terdapat tempat makan dengan konsep yang menarik, rumah makan di tengah area persawahan. Rumah makan ini diberi nama Desa Bumbu. Menu spesial di tempat ini adalah Gurame Bakar dan Ayam bakar. Dengan harga bervariasi dari 20 hingga 75 ribu rupiah. Sesekali menarik juga untuk mampir.
Sayangnya, dalam perjalanan kali ini teman-teman tidak ada yang usul untuk mampir di rumah makan itu. Perjalanan terus berlanjut hingga batas Desa Cinagara dengan Desa Tangkil. Kami turun tak jauh dari jalan perbatasan desa.
Selesai urusan ‘administrasi angkot’ dengan sopir yang lumayan asik dan tidak ada keluh soal tingginya setoran seperti sopir-sopir sebelumnya, kami langsung melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki melintasi persawahan desa yang ijo royo-royo. Sedikit-sedikit aku memotret perjalanan teman-teman. Cukup ceria rupanya.
Pada waktu yang lalu, cukup sering juga kami ke tempat ini. Hampir sebulan sekali selama dua tahun terakhir. Tapi, barangkali sudah empat bulan kami absen ke tempat ini. Perjalanan kami ke tempat ini bukan hanya untuk bersenang-senang menikmati keindahan alam desa yang berbatasan langsung dengan kawasan Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango (TNGGP). Ada program pengabdian masyarakat yang kami lakukan sejak akhir tahun 2007. Kebanyakan adalah program pengembangan pendidikan yang belum maksimal juga kami lakukan di Kampung Gunung Batu. Selain pendidikan juga program lingkungan hidup mengingat daerah ini berbatasan dengan kawasan TN yang penting dijaga kelestariannya.
Tujuan kunjungan kami kali ini, selain untuk melihat perkembangan program yang ada juga survey untuk program yang direncakan akan dilaksanakan pada pertengahan bulan ini. Mengenai kepastian waktu dan bentuk acaranya masih dibicarakan. Di samping itu, tujuan lainnya adalah mengisi waktu libur akhir pekan yang panjang. Kami juga akan mengunjungi Air Terjun Cikaracak yang tak jauh dari kampung yang akan kami tuju.
Sampai di Kampung Gunung Batu, kami beristirahat dan bermalam di rumah Pak Adang. Seorang yang ramah dan cukup bersahabat dengan kami. Kami menikmati hari pertama dengan banyak berbincang di tempat ini. Sesekali saya keluar untuk melihat anak-anak yang bermain di sana dan kondisi saung belajar yang telah kami bangun bersama masyarakat.
Kondisi saung masih berdiri kokoh. Sayangnya, buku-bukunya banyak yang tidak ada. Saya sempat kecewa. Saya pun berkunjung ke beberapa rumah. Tapi saya kembali tersenyum, karena buku-buku itu berpindah ke rumah-rumah warga. Beberapa warga terlihat sedang membacanya. Saya pikir, ke depan sistem perpustakaannya memang perlu disosialisasikan dengan baik. Dan perlu juga dibuat pengurus tetap yang akan mengurus pelayanan pustaka dengan baik.
Ahad, 4 April
Pukul enam pagi aku sudah keluar rumah, mengelilingi kampung untuk mencari tempat yang cocok pada acara nanti. Aku hanya bertiga saja dalam survey ini. Teman-teman yang lain saat aku keluar masih tertidur. Barangkali mereka tidur terlalu malam. Kebiasaan yang selalu dilakukan saat berkumpul pastinya bincang-bincang sampai pagi. Itulah yang barangkali dilakukan teman-teman yang mayoritas perempuan.
Pukul delapan pagi, anjing kampung sudah menggonggong. Entah kapan suara ayam berkokok. Barangkali tadi saat kami masih terlelap. Entah…
Kami kembali berkumpul di rumah Pak Adang yang ternyata sudah menyediakan makan pagi. Kami bersama-sama menyantapnya. Semalam saya tidak ikut makan bersama. Saat ditawarkan roti saya juga menolak. Saya bercanda kepada teman-teman, bahwa saya ingat akan perjamuan terakhir: roti dan wine, daging dan darah yesus… Aku puasa saja, kataku bercanda.
Usai makan pagi, kami berbenah diri dan mulai perjalanan ke air terjun. Kami pamit untuk melanjutkan perjalanan kepada empunya rumah. Beberapa anak-anak mengikuti kami sampai air terjun.
Untuk menuju air terjun dari kampung ini kami harus naik melintasi bukit yang kini ditanami pohon jati dan pinus. Sampai perbatasan antara jati dengan pinus, kami menuruni bukit menuju kampung lain, yaitu Kampung Cibeling, Desa Cinagara.
Di kampung ini mengalir sungai Cinagara yang masih jernih dan dingin dengan batu-batu besar yang nyaman sebagai tempat duduk. Kalau sempat, duduklah di salah satu batu besar. Celupkan kaki hingga lutut ke sungai yang mengalir. Ah, serasa spa saja…
Oh iya, saat melintasi bukit kelompok kami terpisah. Karena memang ada dua tempat untuk menuruni bukit. Kami jadi saling tunggu di kampung itu. Untunglah tidak terlalu lama. Dan kami terus melanjutkan perjalanan dengan dipandu oleh beberapa anak-anak dari kampung Gunung Batu.
Perjalanan ke air terjun Cikaracak terbilang cukup melelahkan bagi orang yang jarang berjalan kaki terlalu jauh. Disamping harus menempuh perjalanan selama kurang lebih satu jam, juga harus melintasi sungai kecil sebanyak empat kali. Sawah dan tebing menjadi pemandangan utama sebelum memasuki hutan.
Perjalanan yang melelahkan tentunya akan terbayar dengan keindahan air terjun. Suasana segar menggairahkan semangat untuk mandi, menikmati dinginnya air mengalir. Beberapa teman terus mendekati titik terdekat jatuhnya air dan berendam. Saya hanya duduk dan mengaguminya dari kejauhan. Tanpa terasa baju dan celana basah juga oleh rintik-rintik air hempasan air terjun.
Tubuh-tubuh yang sudah menggigil turun satu persatu. Makanan di tas masing-masing dikeluarkan dan dinikmati dengan saling berbagi. Saya lagi-lagi tidak ingin menikmati roti dengan selai strawberry berwarna merah. Saya tidak ingin membuat lelah lambung saya dengan makanan itu. Saya menolak dengan canda yang sama: saya ingat perjamuan terakhir, roti dan wine, daging dan darah yesus…
Dalam perjalanan pulang, hujan turun menemani langkah kami. Tubuh kecil anak-anak menggigil. Lumpur bercipratan saat kaki-kaki telanjang menghentak tanah tak beraturan. Pandangan mata yang tertunduk hanya memperhatikan jalan setapak yang licin. Semua warna jalan sama, coklat. Mengingatkan pada warna coklat yang lain: rasa pahit dan manis yang melebur jadi satu rasa, cinta.
Di tengah perjalanan dan gerimis, kami mampir di rumah seorang warga Kampung Cibeling, Pak Aman. Air teh dan makanan dikeluarkan oleh keluarga yang cukup bersahabat dengan tamu-tamu ’asing’ ini. Kami juga menumpang untuk berganti pakaian yang sudah basah kuyup. Selesai menikmati keramahan keluarga ini, kami langsung menuju Sempur dengan menggunakan ojeg. Dari Sempur kami menumpang angkot ke arah Sukasari. Tapi di persimpangan Ciawi saya berpisah dengan rombongan. Mereka akan kembali ke kampus dan saya akan melanjutkan perjalanan ke Cileungsi.
Sebelum melanjutkan perjalanan ke Cileungsi, saya dan seorang teman menikmati bubur khas Cianjur terlebih dahulu. Di sini teman saya mulai berdiskusi. Ia membuka pembicaraan, ”kebahagiaan sejati hanya mungkin jika kebahagiaan itu di bagi.”
Saling berbagi itu indah. Apalagi saat kita gak ada uang ada yang bagi-bagi uang. Saat kita lapar ada yang bagi-bagi makanan. Saat kita ’kosong’, ada yang bagi-bagi ’isi’. Hehe, tapi yang lebih enak tentunya kita yang memberi. Saat ada yang kurang uang, kita bisa bagi-bagi uang. Saat ada yang lapar, kita bisa bagi-bagi makanan. Saat ada yang ’kosong’, kita bisa bagi-bagi ’isi’. Imagine no possessions / I wonder if you can / No need for greed or hunger / A brotherhood of man / Imagine all the people / Sharing all the world (J. Lennon)
Di dalam menutup tulisan ini, saya ingin berbagi soal lanjutan obrolan kami. Entah mengapa tiba-tiba saya bicara soal ’relasi gender’. Mungkin karena ada pasangan muda-mudi yang berboncengan dengan motor dan berhenti untuk menikmati bubur juga.
Sambil makan, saya bertanya kepada teman saya, ”mengapa Tuhan menciptakan perempuan dari tulang rusuk laki-laki?” Teman saya hanya tersenyum bingung. Sambil melirik pasangan muda-mudi itu, kami berbicara agak keras bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki agar ia berada di sisi laki-laki, bukan di belakang. Makanya, jangan naik motor lebih baik naik mobil. Betul nggak? Kami tertawa, membayar makanan dan langsung naik angkot plat hitam ke Cileungsi.

2 Comments Add yours

  1. Azhar Aas says:

    saya tertarik dengan kegiatan dek saca… saya panggil dek ya.. soalnya masih tuaan saya.. saya anak SMUN 38 juga + TALAM Angkt 17 (kiki-Ipink)… kalo boleh tau kapan ada acara/program lagi ke cikaracak?. boleh kan saya ikutan..
    Tks sebelumnya

  2. tria sanata says:

    membca crita kmu meng!ngatkn sy pd wktu itu . . Sy jga pernh ke air trjun it dan rmh sy pun ga jauh dri daerh it tpi beda kcmatan. . . Bnar ap yg kmu tulis berbagi itu indh n saling menolong membuat kita menjdi sodra.. Begitu lah kermahn pnduduk desa meskipun mereka hidup sderhna tpi ramah dan snang berbagi. . . Like this.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s