Pluralisme Kebablasan !

Kelompok AKKBB kembali berulah, beberapa bulan yang lalu mereka mengajukan gugatan pencabutan UU No.1/PNPS/1965, undang-undang tentang penodaan agama. Sampai sekarang masih dibahas di Mahkamah Konstitusi (MK).  Atas nama pluralisme dan demokrasi mereka menggugat itu. Tentu kita masih ingat bagaimana ulah mereka sebelumnya yang berjuang ‘mati-matian’ membela Ahmadiyah. Tindakan yang sempat berujung anarkis itu pun mereka lakukan karena pluralisme. ‘Makhluk’ semacam apakah pluralisme itu, sehingga banyak kaum muda Islam, termasuk kaum muda Muhammadiyah,  yang tergiur untuk terlibat di dalamnya.  Untuk mengkaji tentang pluralisme, kami mengajak diskusi tokoh reformasi, mantan Ketua MPR, dan Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Amien Rais. Berikut wawancara selengkapnya.

Pandangan Anda mengenai aliran pluralisme?
Akhir-akhir ini saya melihat istilah pluralisme yang sesungguhnya indah dan anggun justru telah ditafsirkan secara kebablasan. Sesungguhnya toleransi dan kemajemukan telah diajarkan secara baku dalam Al-Quran. Memang Al-Quran mengatakan hanya agama Islam yang diakui di sisi Allah, namun koeksistensi atau hidup berdampingan secara damai antar-umat beragama juga sangat jelas diajarkan melalui ayat, lakum diinukum waliyadinn. Bagiku agamaku dan bagimu agamamu. Dalam istilah yang lebih teknis, wishfull coexistent among religion, atau hidup berdamai antar umat beragama di muka bumi.
Tidak ada yang keliru dari aliran pluralisme?
Nah, karena itu tidak ada yang salah kalau misalnya seorang Islam awam atau seorang tokoh Islam mengajak kita menghormati pluralisme. Karena tarikh nabi sendiri itu juga penuh ajaran toleransi antar beragama. Malahan antar-umat beragama boleh melakukan kemitraan di dalam peperangan sekalipun. Banyak peristiwa di zaman nabi ketika umat nasrani bergabung dengan tentara Islam untuk menghalau musuh yang akan menyerang Madinah.
Lantas, apanya yang kebablasan?
Saya prihatin ada usaha-usaha ingin membablaskan pluralisme yang bagus itu menjadi sebuah pendapat yang ekstrim, yaitu pada dasarnya mereka mengatakan agama itu sama saja. Mengapa sama saja? Karena tiap agama itu mencintai kebenaran. Dan tiap agama mendidik pemeluknya untuk memegang moral yang jelas dalam membedakan baik dan buruk. Saya kira kalau seorang muslim sudah mengatakan bahwa semua agama itu sama, maka tidak ada gunanya sholat lima waktu, bayar zakat, puasa Ramadhan, pergi haji, dan sebagainya. Karena agama jelas tidak sama. Kalau agama sama, banyak ayat Al-Quran yang harus dihapus. Nah, kalau sampai ajaran bahwa “semua agama sama saja” diterima oleh kalangan muda Islam; itu artinya, mereka tidak perlu lagi sholat, tidak perlu lagi memegang tuntunan syariat Islam. Kalau sampai mereka terbuai dan terhanyutkan oleh pendapat yang sangat berbahaya ini akhirnya mereka bisa bergonta-ganti agama dengan mudah seperti bergonta-ganti celana dalam atau kaos kaki.
Apakah kebablasan pluralisme karena faktor kesengajaan atau rekayasa?
Saya kira jelas sekali adanya think thank atau dapur-dapur pemikiran yang sangat tidak suka kepada agama Allah kemudian membuat bualan yang kedengarannya enak di kuping: semua agama itu sama. Jika agama itu sama lantas apa gunanya ada masjid, ada gereja, ada kelenteng, ada vihara, ada sinagog, dan lain sebagainya.
Yang dimaksud dengan think thank?
Saya yakin think thank itu ada di negara-negara maju yang punya dana berlebih, punya kemewahan untuk memikirkan bagaimana melakukan ghazwul fikri (perang intelektual terhadap dunia Islam). Misalnya, kepada Dunia Islam ditawarkan paham lâ diniyah sekularisme yang menganggap agama tidak penting, termasuk di dalamnya pluralisme, yang kelihatannya indah, tapi ujung-ujungya adalah ingin menipiskan aqidah Islam supaya kemudian kaum Muslim tidak mempunyai fokus lagi. Bayangkan kalau intelektual generasi muda Islam sudah tipis imannya, selangkah lagi akan menjadi manusia sekuler, bahkan tidak mustahil mereka menjadi pembenci agamanya sendiri.
Sepertinya aliran pluralisme itu sudah masuk ke kalangan muda Muhammadiyah, pendapat Anda?
Kalau sampai aliran pluralisme masuk ke kalangan muda Muhammadiyah, ini musibah yang perlu diratapi. Oleh karena itu, saya menganjurkan sebelum mereka membaca buku-buku professor dari Amerika dan Eropa, bacalah Al-Quran terlebih dahulu. Saya sendiri yang sudah tua begini, 66 tahun, sebelum saya membaca buku-buku Barat, baca Al-Quran dulu. Karena orang yang sudah baca Al-Quran, dia akan sampai pada kesimpulan bahwa berbagai ideologi yang ditawarkan oleh manusia seperti mainan anak-anak yang tidak berbobot. Jika meminjam istilah Sayyid Quthb, seorang yang duduk di bawah perlindungan Al-Quran ibarat sedang duduk di bukit yang tinggi kemudian melihat anak-anak sedang bermain-main dengan mainannya. Orang yang sudah paham Al-Quran akan bisa merasakan bahwa ideologi yang sifatnya man-made, buatan manusia, itu hanya lucu-lucuan saja. Hanya menghibur diri sesaat, untuk memenuhi kehausan intelektual ala kadarnya. Setelah itu bingung lagi.
Acara peluncuran novel ‘Si Anak Kampoeng’ pada Jum’at (12/02/2010) di Aula Gedung Dakwah Muhmamadiyah cukup gegap gempita. Banyak dihadiri kalangan lintas agama. Namun, di balik kegiatan tersebut ada hal yang semestinya dipikirkan dengan seksama, karena pada saat sambutan, penulis novel yang diketahui beragama Katolik dan doktor teologi mengatakan dengan semangat bahwa sebagian keuntungan dari penjualan novel tersebut akan didedikasikan untuk pembentukan Gerakan Peduli Pluralisme. Sebuah acara yang diselenggarakan di markas Muhammadiyah, menghadirkan sebagian tokoh-tokoh Muhammadiyah, tapi di tempat itu pun lahir Gerakan Peduli Pluralisme. Apakah ini suatu tanda bahwa Muhammadiyah sudah mendukung gerakan pluralisme?
Kenapa paham pluralisme itu bisa masuk ke kalangan muda Muhammadiyah? Apa karena Muhammadiyah terlalu terbuka atau karena sistem kaderisasi?
Hal ini perlu dipikirkan oleh pimpinan Muhammadiyah. Saya melihat, banyak kalangan muda Muhammadiyah yang sudah eksodus. Kadang-kadang masuk ke gerakan fundamentalisme, tapi juga tidak sedikit yang masuk Islam Liberal. Islam yang sudah melacurkan prinsipnya dengan berbagai nilai-nilai luar Islam. Hanya karena latah. Karena ingin mendapatkan ridho manusia, bukan ridho ilahi. Oleh karena itu, lewat majalah Tabligh, saya ingin menghimbau kepada anak-anak saya, calon-calon intelektual Muhammadiyah, baik putra maupun putri, agar menjadikan Al-Quran sebagai rujukan baku. Saya pernah tinggal di Mesir selama satu tahun. Saya pernah diberitahu oleh doktor Muhammad Bahi, seorang intelektual Ikhwan, ketika saya bersilaturahmi ke rumah beliau, beliau mengatakan, “Hei kamu anak muda, kalau kamu kembali ke tanah airmu, kamu jangan merasa menjadi pejuang Muslim kalau kamu belum sanggup membaca Al-Quran satu juz satu hari.” Waktu itu saya agak tersodok juga, tetapi setelah saya pikirkan, memang betul. Kalau Al-Quran sebagai wahyu ilahi yang betul-betul membawa kita kepada keselamatan dunia-akhirat, kita baca, kita hayati, kita implementasikan, kehidupan kita akan terang benderang. Tapi kalau pegangan kita pada Al-Quran itu setengah hati. Kemudian dikombinasikan dengan sekularisme, dengan pluralisme tanpa batas, dengan eksistensialisme, bahkan dengan hedonisme, maka kehidupan kita akan rusak. Sehingga betul seperti kata pendiri Muhammadiyah dalam sebuah ceramah beliau, “Ad-dâ’u musyârokatullâhi fii jabarûtih”. Namanya penyakit sosial, politik, hukum, dan lain-lain, itu sejatinya bersumber kepada menyekutukan Allah dalam hal kekuasaannya. Obatnya bukan menambah penyakit, yakni dengan isme-isme yang kebablasan, tapi obatnya itu, “adwâ’uhâ tauhîddullâhi haqqa”obatnya adalah tauhid dengan sungguh-sungguh. Jadi, saya juga ingat dengan kata-kata Mohammad Iqbal: “The sign of a kafir is that he is lost in the horizons. The sign of a Mukmin is that the horizons are lost in him.”. Saya pernah termenung beberapa hari setelah membaca pernyataan Mohammad Iqbal yang sangat tajam itu. Karena betapa seorang mukmin akan begitu jelas, begitu paham, begitu terang benderang memahami persoalan dunia. Sedangkan orang kafir, bingung dan tersesat.
Apakah yang terjadi dengan kaum muda Muhammadiyah, karena sistem kaderisasinya belum terbangun kuat?
Di Muhammadiyah ini harus ada semacam sekolah kader permanen. Di Kaliurang Muhammadiyah itu punya gedung perkaderan yang sangat bagus, sejuk, tempatnya jauh dari keramaian kota, sampai saat ini kosong melompong, tidak terpakai. Hanya dihuni jin dan makhluk halus. Saya menangis. Mengapa kita punya gedung sebagus itu tidak dimanfaatkan. Saya membayangkan setiap libur panjang, tiap wilayah bisa mengirimkan kader andalannya, untuk digembleng mendiskusikan soal-soal keislaman, global warming, globalisasi, masa depan peradaban, dunia Islam, dan sebagainya. Setelah itu dicari di mana posisi Muhammadiyah dalam perubahan global yang cepat itu.
Sepertinya Muhammadiyah mulai terseret arus pluralisme, contohnya pada saat peluncuran novel Si Anak Kampoeng. Penulisnya mengatakan sebagian dari keuntungan penjualan akan digunakan untuk membentuk Gerakan Peduli Pluralisme, pandangan Anda?
Saya tidak akan mengomentari apa dan siapa. Cuma adik saya yang anggota PP Muhammadiyah, pernah memberikan sedikit kriteria atau ukuran yang sangat bagus. Dia bilang begini, “Kalau orang Muhammadiyah sudah tidak pernah bicara tauhid dan malah bicara hal-hal di luar tauhid, apalagi kesengsem dengan pluralisme, maka perlu melakukan koreksi diri.” Apakah itu tukang sapu di kantor Muhammadiyah, apakah tukang pembawa surat di kantor Muhammadiyah, apakah profesor botak, sama saja. Kalau sudah tidak kerasan berbicara tauhid, mau dikemanakan Muhammadiyah? Muhammadiyah ini bisa bertahan sampai satu abad, tetap kuat, tidak pikun, dan masih segar, karena tauhidnya. Implementasi tauhidnya di bidang sosial, pendidikan, hukum, politik, itu yang menjadikan Muhammadiyah perkasa dan tidak terbawa arus.
Bagaimana pandangan Anda tentang UU No.1/PNPS/Tahun 1965?
Saya kira, kalau kita ingin menuai konflik terbuka antar agama, yang dibarengi dengan antar suku dan lain-lain, silahkan mencabut undang-undang yang sangat kita perlukan itu. Ini betul-betul pengalaman saya yang sudah agak panjang di republik ini. Saya pernah memimpin MPR, lembaga tertinggi negara. Hampir semua agama terwakili, semua suku terwakili. Maka disitu betul-betul terasa tidak ada orang yang berani melakukan atau membuat pernyataan yang sifatnya SARA. Karena SARA ini ibarat pintu yang gampang dibukanya, dan kalau sudah terbuka sulit untuk ditutup kembali. Jadi, kalau ada orang yang ingin mencabut undang-undang penodaan agama, akan menuai badai sosial-politik yang sangat berbahaya. Namun demikian, saya juga harus mengkonfirmasi, katanya ada seorang tokoh Muhammadiyah dalam sebuah seminar mengatakan, “Sesungguhnya kebebasan beragama dan demokrasi itu tidak cukup, harus dilengkapi juga dengan kebebasan tidak beragama”. Kalau memang benar pernyataan itu, saya kira perlu istighfar. Karena manusia itu sangat lemah, kalau menantang kebesaran Allah dengan pikiran-pikiran ultra dan super liberal itu saya khawatir orang seperti itu akan berurusan panjang di akhirat kelak.
Berarti undang-undang tersebut masih relevan?
Masih sangat relevan. Nama lembaga boleh berubah, keadaan juga bisa berubah, tapi yang namanya agama sampai hari kiamat.
Evaluasi yang mesti dilakukan Muhammadiyah menjelang satu abad?
Secara singkat ingin mengatakan, setelah satu abad Muhammadiyah memang telah memetik panen yang membanggakan, tetapi tidak ada salahnya kalau kita melakukan kritik diri. Kritik diri itu berupa kesadaran bahwa memang ada sedikit gejala-gejala loyo atau jenuh di kalangan kader Muhammadiyah. Di dalam menyemarakkan roh perjuangan, roh jihad dalam arti pengorbanan. Saya yakin sekali kalau kita baca Al-Quran dengan teliti, perbedaan nabi kita dengan nabi sebelumnya, kalau nabi sebelumnya tidak ada perintah mujahadah atau jihad atau melakukan rekonstruksi peradaban. Yang perlu dimasyarakatkan di kalangan kader Muhammadiyah, Islam itu bukan hanya sekedar melantunkan syahadat, sholat, puasa, zakat, dan pergi haji. Kalau kita mau lebih segar di abad yang ke-2 ini, spirit pengorbanan untuk kebesaran agama Allah, dan juga untuk tegakkan  masyarakat-bangsa yang lebih egaliter, lebih adil, lebih etis dan estetis itu harus direbut kembali oleh Muhammadiyah. Sudah saatnya bagi Muhammadiyah sebagai jam’iyyah, atau persyarikatan, sebagai harokah untuk melakukan penyegaran. Jadi konteks waktu Muhammadiyah lahir pada zaman kolonial, yang jelas beda dengan konstruksi sistem hukum, sosial-politik dan sebagainya dengan saat ini. Jadi sangat sah, kalau kita sebagai pewaris KH. Ahmad Dahlan melakukan penyegaran. Saya menghindari kata pembaharuan. Karena khawatir dianggap membawa yang baru. Kalau penyegaran, seperti memoles cat rumah yang sudah pudar kemudian dicat kembali dengan warna yang lebih menarik.
Amin Rais adalah sarjana politik lulusan Fisip UGM Yogyakarta tahun 1968 dengan tugas akhir “Mengapa Politik Luar Negeri Israel Berorientasi Pro Barat”, lulus dengan nilai A. Setamat itu Amien melanjutkan kuliah ke Notre Dame Catholic University, Indiana, AS, tahun 1974. Di tahun 1981 dia menyempatkan diri menimba ilmu ke Al-Azhar University, Cairo, Mesir. Namun tak lama kemudian di tahun 1984 kembali dia memasuki wilayah AS untuk meraih gelar doktor atau Ph.D dalam ilmu politik dari Chicago University, Chicago, AS. Pendidikan postdoctoral degree kembali dijalani di Amerika tahun 1988-1989, di George Washington University, AS. (ydr/rsk/fms)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s