Menggarap Ekonomi Umat

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih Allah cintai daripada Mukmin yang lemah dan pada keduanya tetap ada kebaikan.” (H.R. Muslim).
Pengusaha mikro dan golongan ekonomi lemah memerlukan akses permodalan yang baik untuk dapat berkembang. Namun, akses permodalan lewat lembaga keuangan konvensional atau perbankan masih sulit untuk mereka akses. Sebabnya antara lain ketidakmampuan untuk memenuhi persyaratan teknis. Misalnya soal  ijin usaha dan jaminan yang diperlukan untuk mengajukan kredit.
Achmad Su’ud, Manager Baitut Tamwil Muhammadiyah Wiradesa, menuliskan bahwa karena ketidakmampuannya tersebut, banyak pengusaha mikro dan golongan ekonomi lemah yang memanfaatkan alternatif permodalan dari sumber-sumber informal yang relatif mudah namun berbiaya tinggi. Dengan mengambil dana berbiaya tinggi, maka keuntungan yang mereka peroleh hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sehingga peluang untuk melakukan usaha pemupukan modal nyaris tertutup. Akibatnya, mereka terjebak dalam kondisi ketidakberdayaan secara permanen.
Lebih lanjut, Su’ud mengatakan bahwa lembaga perbankan sendiri juga tidak dapat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan modal pengusaha mikro dan golongan ekonomi lemah. Dengan pertimbangan efisiensi tidak mungkin lembaga perbankan akan membuka kantor pelayanan yang bisa menjangkau ke seluruh pelosok di mana pengusaha mikro berada. Di samping itu, lembaga perbankan juga akan mengalami kesulitan dalam melayani pengusaha mikro karena kecilnya skala kredit, serta jumlah pengusaha mikro yang sangat besar dan menyebar.
Bertolak dari fenomena di atas, maka untuk mengangkat pengusaha mikro dan golongan ekonomi lemah diperlukan lembaga keuangan alternatif yang dapat memberikan pelayanan dalam penyediaan modal secara fleksibel dan dapat diakses secara mudah dengan biaya relatif murah, sehingga memungkinkan mereka dapat menyisihkan sebagian keuntungannya untuk menghimpun permodalan yang pada gilirannya nanti diharapkan mereka menjadi berdaya.
BTM Wiradesa Menjawab Tantangan
Lembaga keuangan alternatif yang dapat diandalkan sebagai mitra bagi pengusaha mikro salah satunya adalah Baitut Tamwil Muhammadiyah (BTM) Wiradesa. BTM Wiradesa, pada pendiriannya menginginkan adanya sebuah pemberdayaan umat pada golongan ekonomi lemah dengan mengimplementasikan sistem keuangan syariah. Hal ini dapat dilihat dari modal awal BTM Wiradesa yang berasal dari hibah keluarga Bapak Drs. H. Suparto dan Ibu Hj. Atin Sri Rahayu sebesar Rp. 25 juta.
Sesuai dengan amanat pemberi hibah pada awal operasi, yaitu pada Februari 1996, modal tersebut disalurkan untuk modal kerja golongan ekonomi lemah melalui Pinjaman Kebajikan Tanpa Bunga atau Qordhul Hasan. Modal tersebut disalurkan kepada 400 (empat ratus) orang masing-masing mendapat pinjaman sebesar Rp. 52.000,00 (lima puluh dua ribu rupiah) dan harus dikembalikan dalam waktu 5 (lima) bulan atau 26 minggu dengan cara mengangsur setiap minggu Rp. 2.000,00 (dua ribu rupiah).
Dalam perkembangannya, kegiatan usaha yang dijalankan oleh BTM Wiradesa dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat golongan ekonomi lemah dan pengusaha mikro dilakukan melalui kegiatan penyaluran pembiayaan, investasi, dan simpanan. Dalam menyalurkan pembiayaan, secara garis besar BTM Wiradesa melakukannya melalui dua jenis pelayanan, yaitu pembiayaan untuk kepentingan sosial dan pembiayaan komersial.
Pembiayaan untuk kepentingan sosial disalurkan melalui fasilitas Qordhul Hasan, yaitu pinjaman lunak yang diberikan atas dasar kewajiban sosial semata, karena dari penyaluran pinjaman ini, secara ekonomis BTM Wiradesa tidak mendapatkan keuntungan. Pinjaman Qordhul Hasan diarahkan sebagai stimulus bagi pemberdayaan golongan ekonomi lemah dan masyarakat miskin. Bentuknya antara lain berupa modal awal bagi mereka yang akan memulai usaha. Melalui penyaluran pinjaman Qordhul Hasan ini diharapkan penerima pinjaman dapat memberdayakan dirinya melalui usah-usaha produktif. Setelah mandiri, mereka diarahkan untuk dapat mengembangkan usahanya dengan dukungan modal yang lebih besar yang berasal dari pembiayaan komersial yang lebih berorientasi bisnis.
Sehubungan dengan penyaluran pinjaman Qordhul Hasan ini, Akhmad Sakhowi, Ketua BTM Wiradesa dan juga Ketua Induk Koperasi Syariah BTM, mengungkapkan bahwa hingga saat ini BTM Wiradesa tetap mengalokasikan 5% dari portofolio pembiayaan untuk Qordhul Hasan. Ia juga menjelaskan soal Qordhul Hasan berbasis masjid dan ranting. Di mana umat yang selama ini kebutuhan permodalannya itu hanya seratus hingga lima ratus ribuan bisa mengakses di BTM. Kemudian nantinya dikembalikan tanpa membayar bagi hasil. Ini sudah berjalan dan portofolionya sudah cukup lumayan.
Jenis yang kedua adalah pembiayaan komersial. Dalam menyalurkan pembiayaan komersial yang lebih berorientasi bisnis, BTM Wiradesa mengeluarkan produk pelayanan berupa:
a.   Pembiayaan untuk berbagai kegiatan investasi atas dasar bagi hasil. Jenis pembiayaan ini terdiri dari :
–     Pembiayaan Mudlarabah atau penyediaan modal kerja; dan
–     Pembiayaan Musyarakah atau penyertaan modal kerja.
b.   Pembiayaan untuk berbagai kegiatan perdagangan. Jenis pembiayaan ini ditujukan dalam rangka penyediaan kebutuhan barang modal dan alat-alat produksi dengan sistem pembayaran ditangguhkan. Pembiayaan jenis ini disalurkan melalui fasilitas Pembiayaan Murabahah.
c. Pembiayaan pengadaan alat-alat produksi untuk disewakan atau disewabelikan. Jenis pembiayaan ini dikembangkan melalui produk Pembiayaan Ijarah atau penyediaan kebutuhan alat-alat  produksi dan sarana kerja yang dibayar dengan cara diangsur dengan sistem sewa beli.
Pengembangan Modal BTM
Dalam mengembangkan BTM secara cepat dan mencapai tujuannya dengan baik, Akhmad Sakhowi menjelaskan bahwa sebagai sebuah lembaga keuangan mikro jelas tidak mungkin hanya mengandalkan modal dari diri anggotanya sendiri untuk diri anggotanya juga. Menurutnya itu terlalu lambat untuk bisa tumbuh secara baik. Karena itu diperlukan sebuah kerjasama, melakukan network dengan sumber-sumber dana yang besar, yang sama pula sistemnya. Karena itu BTM Wiradesa juga membuka kerjasama dengan perbankan syariah seperti BNI syariah, kemudian bank Muamalat.
Investasi juga terbuka untuk kalangan non-muslim. Karena ini adalah bagian dari proses untuk dakwah, maka prinsipnya adalah siapa saja yang tertarik dan mau mengikuti aturan yang berlaku diberikan pelayanan yang sama. Kemudian siapa yang mau menggunakan juga tidak dihalangi. Artinya, secara kultural bahwa penampilan layanan dari BTM itu tidak eksklusif Muhammadiyah. Kepemilikannya iya, akan tetapi pelayanannya adalah tidak eksklusif.
Saat ini juga cukup banyak mitra dari kalangan non-Muhammadiyah dan juga non-muslim. Bahkan untuk kalangan non muslim memberi kepercayaan yang cukup tinggi. Karena bisa dipahami BTM memberikan return yang relatif lebih tinggi daripada bank-bank konvensional.
Selama periode per Desember 2009, BTM Wiradesa telah mencapai aset hingga Rp 12 Miliar. “Per Desember 2009 ini, aset BTM Wiradesa mencapai Rp 12,8 Miliar,” kata Achmad Su’ud. Dia menambahkan, BTM Wiradesa hingga saat ini sudah mempunyai sekitar 7 ribuan nasabah penabung dan simpanan berjangka dan 2 ribuan nasabah pengguna dana. Pencapaian yang tentunya cukup membanggakan bagi persyarikatan Muhammadiyah. (fms)

4 Comments Add yours

  1. agustio says:

    sy bangga dng upaya BTM Wiradesa yg sdh berpartisipasi dlm mengembangkan bisnis keuangan syariah dan tetap mempertahankan ukm sbg basis pasarnya serta mengupayakan pemby qard bg pengusaha baru yg ingin memulai usahanya. Selamat berjuang semoga terus berkembang sebagaimana harapan dari pendiri utk dpt berpartisipasi dlm meningkatkan taraf hidup masyarakat pd umumnya

  2. Sri Dariyah says:

    Maaf, saya mau tanya keberadaan BTM wiradesa itu alamat lengkapnya dimana ya? Dan apakah bisa jika mau mengajukan pinjaman untuk modal usaha yang baru mulai? Karena saya sedang buka usaha warnet baru 1 bulan tapi masih sangat kekurangan modal. Saya memerlukan modal lagi untuk pengembangan warnet saya, karena fasilitasnya masih kurang lengkap. Saya sudah mondar mandir cari investor tp tidak juga ketemu, bolak-balik ke bank tp syaratnya sangat menyulitkan untuk masyarakat ekonomi lemah. Saya berharap di sini saya bisa menemukan jalan keluarnya. mohon penjelasannya lewat email saya. Terima kasih

  3. Asep imam says:

    Saya pedagang kelontongan di pasar terisi, tepatnya di ds.karangasem kec.terisi kab.indramayu. Alhamdulillah dengan bertambahnya waktu bertambah pula pelanggan saya, namun jumlah pelanggan saya tidak seimbang dgn jumlah modal yang saya miliki. kalo saya amati di pasar ini cukup potensial untuk berjualan, karena dari berbagai daerah orang-orang berbelanja di pasar ini, walaupun pasar ini kecil tetapi cukup terkenal. Apakah btm dapat meminjamkan modal kepada saya dengan cara ryariah? Dan alangkah baiknya kalo btm mengadakan pelatihan2 usaha untuk ukm.Trimakash

    1. sacafirmansyah says:

      Saya hanya bisa menyarankan agar bapak menghubungi BTM ataupun BMT terdekat di kota bapak. Biasanya, BTM ataupun BMT yang profesional juga memberikan bimbingan untuk usaha kecil dan kecil menengah. Semoga sukses selalu untuk bapak, salam!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s