BTM Wiradesa: Menguji Ekonomi Syariah di Lapangan

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaithan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.
QS. al-Baqarah (2) : 275
.
Muhammadiyah diakui sangat berhasil dalam meningkatkan taraf pendidikan bangsa Indonesia. Muhammadiyah juga diakui peranannya di dalam upaya meningkatkan kesehatan bangsa Indonesia. Dalam periode-periode awal, Muhammadiyah juga banyak melahirkan wirausahawan di negeri ini. Namun demikian, pada era orde baru—bahkan sampai saat ini—Muhammadiyah  justru kurang memberikan perhatian kepada permasalahan ekonomi umat. Semakin hari kondisi perekonomian umat semakin menurun seiring dengan menurunnya kualitas kesejahteraan hidup bangsa ini. Banyak umat Islam yang lemah dan terjajah dalam sistem perekonomian yang penuh dengan unsur riba. Mulai dari petani, pedagang kecil, dan juga pengusaha yang sedang ”merangkak naik” telah terjerat oleh riba.
Dalam kondisi perekonomian umat yang semakin lemah, Akhmad Sakhowi, Ketua BTM Wiradesa dan juga Ketua Induk Koperasi Syariah BTM, menilai bahwa sekarang ini masalah ekonomi harus menjadi garapan Muhammadiyah yang serius. Saat diwawancarai pada pertengahan Februari (10/2) lalu, Sakhowi mengatakan bahwa di samping pendidikan dan kesehatan, kalau Muhammadiyah tidak turut memfokuskan perhatiannya ke bidang ekonomi tidak mustahil perekonomian Indonesia dengan segera akan diambil alih oleh orang-orang non-Muhammadiyah (non-muslim). Oleh kelompok yang lebih mengedepankan keuntungan bagi segelintir orang dan bukan mereka yang mengedepankan kemaslahatan bersama seperti apa yang diinginkan dari sistem keuangan Islam.
Apabila ekonomi telah dikuasai oleh sistem ekonomi ribawi, beban yang akan ditanggung dalam misi dakwah tentu akan lebih berat. Bidang pendidikan dan kesehatan tentunya juga akan mengalami dampak buruk akibat transaksi kehidupan sehari-hari yang tidak sehat. Dampak buruk akan sangat terasa dialami oleh mereka yang berada di ”tingkat bawah”.
Oleh karena itu, Muhammadiyah mesti mengangkat kembali umat Islam di Indonesia dari sistem ribawi yang diharamkan oleh Allah Swt menuju pada sistem yang diridhoiNya. Untuk itu pula, Akhmad Sakhowi dengan beberapa anggota persyarikatan Muhammadiyah di Wiradesa, Pekalongan mengkaji dan menerapkan sistem keuangan yang sesuai dengan syariah Islam. Sistem keuangan yang memiliki prinsip untuk menghapuskan riba di dalamnya dan memajukan umat menjadi umat yang kuat dan mandiri.
.
Kehadiran BTM Wiradesa
Hasil kajian mengenai sistem keuangan Islam yang telah diterapkan secara baik yaitu dibentuknya Baitut Tamwil Muhammadiyah (BTM) Wiradesa, Pekalongan. BTM Wiradesa didirikan pada tanggal 14 Sya’ban 1416 Hijriah bertepatan dengan tanggal 5 Januari 1996 dan mulai beroperasi pada tanggal 9 Februari 1996. Sejak 1999 BTM di Pekalongan ini ditunjuk sebagai pusat latihan nasional oleh PP Muhammadiyah. BTM di Pekalongan ini juga ditunjuk oleh PP Muhammadiyah sebagai BTM percontohan karena andilnya dalam merumuskan dan melahirkan BTM.
Kehadiran BTM Wiradesa membawa visi untuk mengembangkan ekonomi umat yang berada di sekelilingnya. Untuk dapat mengembangkan ekonomi umat maka pengamalan sistem syariah dalam kehidupan perekonomian secara nyata menjadi misi pertamanya.
Akhmad Sakhowi mengungkapkan bahwa sistem syariah menghendaki terhapusnya riba dalam kehidupan. Penghapusan riba hanya mungkin dengan mempertemukan antara pemilik dana dan yang membutuhkan/menggunakan dana dengan akad yang bukan semata-mata hanya untuk menguntungkan sebelah pihak akan tetapi oleh sebuah keuntungan yang adil, yaitu bagi hasil. Ini berarti bahwa BTM Wiradesa perlu menjembatani kelebihan dana pada umat untuk disalurkan kepada umat yang membutuhkan sesuai sistem syariah.
Dengan menempatkan diri sebagai lembaga mediator yang menjembatani kepentingan umat yang kelebihan dana dengan mereka yang kekurangan atau membutuhkan dana untuk mengembangkan usaha, BTM Wiradesa dapat memberikan manfaat kepada umat dengan lebih optimal. Sebab, selain karena alasan di atas, pilihan untuk menjadi lembaga mediator juga didasari suatu pertimbangan agar dana-dana yang mengendap di lingkungan masyarakat dapat bermanfaat lebih maksimal bagi masyarakat setempat. Selama ini dana-dana dari daerah yang dihimpun oleh bank-bank umum pada kenyataannya kurang memberikan manfaat besar bagi masyarakat setempat. Kebanyakan dana tersebut lari ke kantor pusat bank-bank yang bersangkutan.
Penyaluran dana dari umat yang kuat kepada mereka yang lemah secara finansial dan membutuhkan diharapkan juga dapat meningkatkan taraf kemakmuran umat dan terjadi pemerataan. Dengan demikian akan tercipta kondisi yang baik dimana yang kuat tidak sombong dengan kekuatan yang dimilikinya dan yang lemah tidak rendah diri dengan kelemahan yang ada padanya. Kondisi seperti itu diharapkan akan menumbuhkan sikap optimisme dan semangat kerjasama di antara berbagai tingkatan umat untuk maju dan berkembang.
.
Mencerdaskan Umat
Persoalan yang paling pokok dalam sistem keuangan adalah masalah riba. Sistem keuangan Islam merupakan sistem keuangan yang tidak menghendaki adanya riba. Karena itu operasionalilasi dari sistem keuangan Islam harus mengacu kepada hilangnya unsur riba di dalam sistem keuangan itu sendiri. Kemudian apa yang menjadikan sistem itu bisa berjalan secara baik adalah dengan melakukan suatu model-model, produk-produk yang dihalalkan dalam Islam yaitu diantaranya adalah kerjasama, jual beli, juga sewa-menyewa. Kalau di dalam sistem perbankan syariah dengan produk-produk pembiayaan maupun penggalian dikenal mudlorobah, musyarakah, murabahah, dan ijarah.
Pada sistem konvensional bunga itu menjadi intinya, di sistem syariah proses dan akad pembagian keuntungan yang adil, yaitu bagi hasil. Penghilangan unsur riba melalui proses ini merupakan salah satu keunggulan sistem syariah. Namun demikian, apakah umat cukup paham?
Soal ini, Akhmad Sakhowi mengungkapkan bahwa ternyata pemahaman kepada umat tidak semudah yang diduga. Umat Islam di Indonesia telah begitu lama berkutat dengan riba dan sudah begitu familiar dengan riba. Sehingga pada tahap awal untuk menghilangkan riba baik secara konsep maupun aplikatif juga cukup sulit karena pemahamannya itu adalah pemahaman yang masih sama dengan pemahaman konvensional. Dalam mengenal sistem syariah itu masyarakat selalu membandingkan dengan sistem konvensional, misal soal bagi hasil yang disamakan dengan bunga.
Untuk itu BTM Wiradesa selalu melakukan edukasi kepada para pihak yang berhubungan dengan BTM yaitu menjelaskan produknya dan melakukan pengajian-pengajian, seperti pengajian ranting, yang dilakukan secara periodik. Sehingga sosialisasi tentang sistem syariah ini sedikit demi sedikit menjadi lebih baik. Belakangan orang sudah mengenal bahwa perbedaan syariah dan tidak syariah itu bukan dari hasilnya akan tetapi dari prosesnya.
Sakhowi menjelaskan bahwa di dalam tubuh Muhammadiyah pencerdasan itu perlu dilakukan melalui pendekatan struktural. Struktur Muhammadiyah melalui majlis tablighnya itu harus bergerak karena menurutnya itu merupakan bagian yang selama ini terlupakan. ”Ada majlis tarjih yang sudah lama sekali memutuskan bahwa bunga itu haram. Akan tetapi dalam sosialisasinya, selama ini hanya sebatas keputusan kemudian disampaikan dalam pengajian yang hanya konsep kognitif saja tetapi tidak sampai kepada afektif bagaimana mengimplementasikan di lapangan,” jelasnya.
Menurutnya, dengan BTM sekarang proses dakwah di bidang ekonomi yang awalnya bersifat literal, oral kemudian jadi berbentuk praktek. Model dakwah seperti ini tidak saja menjadikan umat mengamalkan secara benar tentang apa yang dipahaminya tetapi juga dapat merasakan peningkatan kesejahteraan.
”Oleh karena itu kami memiliki semangat untuk menjadikan gerakan BTM ini menjadi salah satu dari ide untuk menggarap perekonomian tingkat bawah warga Muhammadiyah. Terutama menyebarkan pemahaman keuangan syariah. Menjadikan BTM sebagai media penerapan ekonomi syariah di persyarikatan Muhammadiyah,” ungkap Sakhowi yang berharap agar umat di tingkat bawah terbebas dari riba. (fms)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s