Fatwa Haram Merokok, Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Direktur Jenderal WHO, Dr. Margaret Chan, melaporkan bahwa epidemi tembakau telah membunuh 5,4 juta orang per tahun lantaran kanker paru dan penyakit jantung serta penyakit lainnya yang diakibatkan oleh merokok. Itu berarti bahwa satu kematian di dunia akibat rokok untuk setiap 5,8 detik. Selama abad ke-20 yang lalu, tercatat bahwa 100 juta orang meninggal karena rokok.
Sebagai bagian dari upaya penyelamatan umat dan peradaban, Muhammadiyah sebagai gerakan amar ma’ruf nahi munkar sudah semestinya menjadi pihak yang sangat berkepentingan untuk menyampaikan kerusakan yang dapat ditimbulkan oleh rokok dan memberikan himbauan moral kepada para anggotanya di berbagai wilayah dan lapisan masyarakat untuk menanggulangi dampak buruk rokok.
Untuk itu, pada Selasa (9/3) yang lalu Prof. Dr. Syamsul Anwar, Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, didampingi oleh Prof. Dr. Yunahar Ilyas dan Dr. Sudibyo Markus, dalam konferensi pers di aula utama Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, menyampaikan bahwa merokok secara syariah Islam masuk dalam kategori haram. Keputusan mengharamkan kebiasaan merokok tersebut diambil dalam halaqoh tentang Pengendalian Dampak Tembakau yang diselenggarakan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid di Yogyakarta, Ahad 7 Maret 2010.
Dalam halaqohnya pada tanggal 7 Maret tersebut, Majelis Tarjih dan Tajdid merevisi fatwa terdahulu, bahwa merokok hukumnya mubah, menjadi haram. Hal ini karena semakin terang-benderang dirasakan oleh masyarakat berbagai dampak negatif merokok di bidang kesehatan, sosial dan ekonomi yang dulu belum secara luas difahami. Dampak merokok yang semakin meluas di masyarakat, tidak saja dirasakan oleh perokok, tapi juga bagi keluarga dan warga masyarakat sekitar yang terpapar asap rokok, terlebih bagi generasi muda.
Hukum haram merokok difatwakan di Yogyakarta pada hari Senin, 22 Rabiul Awal 1431 H atau bertepatan dengan 08 Maret 2010. Fatwa itu dituangkan dalam ketetapan Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah No. 6/SM/MTT/III/2010.
Argumen syar’i atas keharaman rokok dalam fatwa tersebut dapat dikemukakan meliputi argumen ijtihad bayani dan argumen ijtihad ta’lili. Argumen bayani yang diungkapkan antara lain; Pertama, larangan membunuh diri sendiri dalam An-Nisa ayat 29, ”Jangan kamu membunuh dirimu sendiri…” merokok seperti dikutip dalam kitab ”Hukm ad-Diin fii ’Aadat at-Tadkhiin” merupakan bunuh diri secara perlahan, dan ini dapat dimasukkan ke dalam peringatan ayat ini. Juga dapat dimasukkan ke dalam peringatan Al-Baqarah ayat 195, ”Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”.
Kedua, larangan menimbulkan mudharat atau bahaya pada diri sendiri dan pada orang lain dalam hadits riwayat Ibn Majah, ”Tidak ada bahaya bagi diri sendiri dan terhadap orang lain” [laa daraara wa laa diraar]. Rokok telah dibuktikan menjadi sumber sejumlah penyakit yang membahayakan diri sendiri dan juga membahayakan orang lain yang terkena paparan asap rokok.
Ketiga, apabila rokok merupakan hal yang menimbulkan mudharat sebagaimana dikemukakan di atas, maka pembelanjaan uang untuk kepentingan rokok adalah suatu kemubadziran yang dilarang di dalam agama Islam sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah, ”dan janganlah menghambur-hamburkan hartamu secara boros, karena sungguh para pemboros adalah saudara-saudara setan, dan setan itu sangat ingkar kepada Rabbnya” (Al-Isra : 26-27).
Sementara argumen ta’lili (kaukasi) yang diungkapkan adalah bahwa mengkonsumsi rokok bertentangan dengan beberapa butir tujuan syariah (maqaasid asy-syarii’ah), yaitu perlindungan diri (hifz an-nafs); perlindungan keluarga (hifz an-nasl); dan perlindungan harta (hifz al-maal).
Perlindungan diri (hifz an-nafs), syariah bertujuan memberikan perlindungan terhadap diri manusia termasuk sisi kesehatannya. Oleh karena tiu segala hal yang membahayakan dan menimbulkan dampak buruk harus dijauhi karena bertentangan dengan tujuan syariah. Perlindungan keluarga (hifz an-nasl), rokok, khususnya dalam keluarga tidak mampu telah menyebabkan penggeseran pengeluaran untuk makanan bergizi terutama bagi balita demi memenuhi kebutuhan rokok orang tua. Perlindungan harta (hifz al-maal), karena rokok adalah zat membahayakan maka pengeluaran untuk rokok merupakan pemborosan dan termasuk ke dalam larangan ayat yang melarang perbuatan mubadzir.
Dengan beberapa argumen itu, Majelis Tarjih dan Tajdid merekomendasikan agar Persyarikatan Muhammadiyah berpartisipasi aktif dalam upaya pengendalian tembakau sebagai bagian dari upaya pemeliharaan dan peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang optimal dan dalam kerangka amar ma’ruf nahi munkar. Di samping itu, diharapkan pula agar fungsionaris pengurus Persyarikatan Muhammadiyah beserta jajarannya untuk menjadi teladan dalam upaya menciptakan masyarakat yang bebas dari bahaya rokok.
Di dalam ketetapan fatwa itu juga disampaikan tausiah kepada pemerintah untuk meratifikasi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) guna penguatan landasan bagi upaya pengendalian tembakau dalam rangka pembangunan kesehatan masyarakat yang optimal, dan mengambil kebijakan yang konsisten dalam upaya pengendalian tembakau dengan meningkatkan cukai tembakau hingga pada batas tertinggi yang diizinkan undang-undang, dan melarang iklan rokok yang dapat merangsang generasi muda tunas bangsa untuk mencoba merokok, serta membantu dan memfasilitasi upaya diversifikasi dan alih usaha dan tanaman bagi petani tembakau. (fms)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s