Fakta Di Balik Sebatang Rokok

Siang itu langit teduh. Angkot berwarna coklat itu berjalan tanpa hambatan berarti menyusuri jalan raya Pasar Minggu-Depok. Beberapa penumpang sudah tentu senang karena perjalanannya yang lancar. Sementara itu, Ali yang menjadi sopir angkot tersebut mengeluh soal uang setoran yang masih kurang. Di jari tangannya terselip sebatang rokok, yang seringkali diayunkannya ke sela-sela bibirnya. Rokok dihisapnya dan sambil mengeluh, asap rokok terus mengepul dari mulutnya.
Di bangku belakang, penumpang yang membawa bayi sedikit protes soal asap rokok di angkot yang ditumpanginya. Asap rokok yang dibuang keluar jendela memang lebih sering tertiup angin ke tempat penumpang. Keluhan yang mengalir bersama asap rokok pun melahirkan keluhan lain.
Protes dari sang ibu bayi tak dihiraukan oleh sopir. Penumpang yang lainnya pun tampak acuh. Padahal, rokok bukan hanya berbahaya bagi si bayi, tetapi juga bagi orang tua itu sendiri. Baik perokok aktif maupun perokok pasif, yaitu orang yang terpapar dan menghisap asap rokok yang bersumber dari para perokok aktif.
Rokok merupakan produk yang berbahaya karena di dalamnya berisi 4000 bahan kimia, 69 di antaranya karsinogenik. Bila dirinci lebih lanjut, dari sebatang rokok yang dibakar terdapat Carbon Monoxide (gas beracun yang keluar dari knalpot); Hydrogen Cyanide (racun yang digunakan untuk pelaksanaan hukuman mati); Aceton (penghapus cat); Ammonia (pembersih lantai); Methanol (bahan bakar roket); Toluene (pelarut industri); Arsenic (racun semut putih); Napthalene (kapur barus); Butane (bahan bakar korek api); Cadmium (dipakai pada accu mobil); Vinyl Chloride (bahan platik PVC).
Zat yang dapat menyebabkan kanker selain Carbon Monoxide, Vinyl Chloride dan Cadmium yaitu Napththylamine, Urethane; Pyrene, Dibenzacridine, Polonium – 210, dan Benzopyrene. Zat yang paling berbahaya dalam rokok antara lain Nikotin, Tar, dan Carbon Monoxide.
Pada perokok aktif, selain kanker penyakit kronis yang bisa ditimbulkan akibat rokok antara lain stroke, kebutaan, katarak, periodontitis, Aneurisma aorta, penyakit jantung koroner, pneumonia, atherosklerosis, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), asma, dan gangguan pernafasan lainnya, patah tulang panggul, dan gangguan sistem reproduksi termasuk mengurangi kesuburan.
Pada perokok pasif anak, rokok dapat meningkatkan resiko tumor otak, lymphoma, asma, dan leukimia. Selain itu juga dapat menyebabkan infeksi telinga tengah, gangguan pernafasan, gangguan fungsi paru, Sudden Infant Death Syndrome (SIDS) dan gangguan saluran pernafasan bawah. Sedangkan pada perokok pasif dewasa, rokok dapat meningkatkan resiko stroke, kanker sinus nasal, kanker payudara, atherosklerosis, Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), gangguan pernafasan kronis, asma, gangguan fungsi paru, kelahiran prematur; dan dapat menyebabkan iritasi saluran nafas, penyakit jantung koroner, kanker paru, serta gangguan reproduksi pada perempuan: berat bayi lahir rendah.
Melihat fakta itu, ibu dari si bayi boleh jadi protes keras pada sang sopir. Apalagi kalau melihat data dalam Fakta Tembakau di Indonesia, Factsheet TCSC-IAKMI diungkapkan bahwa kematian balita di lingkungan orang tua merokok lebih tinggi dibandingkan dengan orang tua tidak merokok baik di perkotaan maupun di pedesaan. Kematian balita dengan ayah perokok di perkotaan mencapai 8,1% dan di pedesaan mencapai 10,9%. Sementara kematian balita dengan ayah tidak merokok di perkotaan 6,6% dan di pedesaan 7,6%. Resiko kematian populasi balita dari keluarga perokok berkisar antara 14% di perkotaan dan 24% di pedesaan. Dengan kata lain, 1 dari 5 kematian balita terkait dengan perilaku merokok orang tua. Dari angka kematian balita 162 ribu per tahun (Unicef 2006), maka 32.400 kematian dikontribusi oleh perilaku merokok orang tua. Bahaya rokok yang demikian itu membuat kalangan medis dan para akademisi telah menyepakati bahwa konsumsi tembakau adalah salah satu penyebab kematian yang harus ditanggulangi.
Mengenai keluhan sang sopir, ada catatan tersendiri. Dalam sehari minimal ia merokok dua belas batang yang dibeli secara eceran seharga seribu rupiah per batang. Jadi, minimal dua belas ribu rupiah yang dihabiskan untuk konsumsi rokok per hari. Tapi, kadangkala bisa mencapai tiga puluh ribu rupiah. Karena batang-demi batang rokok yang dihisap tidak pernah diingatnya. Ini juga berarti uang yang seharusnya dapat menambah setoran dan pendapatan harus berkurang untuk kebutuhan yang justru tidak terlalu dibutuhkan.
Data pada Fakta Tembakau Indonesia, Factsheet TCSC-IAKMI diungkapkan bahwa konsumsi rokok di Indonesia pada tahun 2008 adalah 240 milyar batang, atau 658 juta batang per hari. Itu setara dengan uang senilai 330 milyar rupiah per hari. Agus Tri Sundani, anggota MTDK PP Muhammadiyah, dalam tausiyah di masjid PP Muhammadiyah Jakarta juga mengungkapkan bahwa perokok di Indonesia mayoritas adalah muslim. Artinya, mayoritas muslim di Indonesia yang merokok turut serta dalam pemborosan sejumlah 330 milyar per hari. Padahal, kebanyakan konsumen rokok itu dikatakan sebagai orang menengah ke bawah.
Dalam penegasan fakta syar’i (tahqiq al-manat) Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah tentang Hukum Merokok dijelaskan bahwa adalah suatu fakta bahwa keluarga termiskin justeru mempunyai prevalensi merokok lebih tinggi daripada kelompok pendapatan terkaya. Angka-angka SUSENAS 2006 mencatat bahwa pengeluaran keluarga termiskin untuk membeli rokok mencapai 11,9%, sementara keluarga terkaya pengeluaran rokoknya  hanya 6,8%. Pengeluaran keluarga termiskin untuk rokok sebesar 11,9% itu menempati urutan kedua setelah pengeluaran untuk beras. Fakta ini memperlihatkan bahwa rokok pada keluarga miskin perokok menggeser kebutuhan makanan bergizi esensial bagi pertumbuhan balita. Ini artinya balita harus memikul resiko kurang gizi demi menyisihkan biaya untuk pembelian rokok yang beracun dan penyebab banyak penyakit mematikan itu. Ini jelas bertentangan dengan perlindungan keluarga dan perlindungan akal (kecerdasan) dalam maqasid asy-syari’ah yang menghendaki pemeliharaan dan peningkatan kesehatan serta pengembangan kecerdasan melalui makanan bergizi.
Lebih lanjut, dikaitkan dengan aspek sosial-ekonomi tembakau, data menunjukkan bahwa peningkatan produksi rokok selama periode 1961-2001 sebanyak 7 kali lipat tidak sebanding dengan perluasan lahan tanaman tembakau yang konstan bahkan cenderung menurun 0,8% tahun 2005. Ini artinya pemenuhan kebutuhan daun tembakau dilakukan melalui impor. Selisih nilai ekspor daun tembakau dengan impornya selalu negatif sejak tahun 1993 hingga tahun 2005. Selama periode tahun 2001-2005, devisa terbuang untuk impor daun tembakau rata-rata US$ 35 juta. Ini berarti pula bahwa petani tembakau di Indonesia sendiri tidak terlalu diuntungkan atas konsumsi rokok di Indonesia.
Dari fakta-fakta tersebut, rokok memang lebih banyak mudharat daripada manfaat. Kalau Ali sudah mulai menghentikan kebiasaan merokok, tentu ia bisa hemat untuk menambah pendapatan atau menutup uang setoran sehingga ia tidak perlu lagi berkeluh kesah. Dan bayi-bayi serta orang di sekitarnya pun tidak perlu menderita akibat asap rokoknya. Apabila rokok lebih banyak membawa kerugian dan tidak pula terlalu menguntungkan buruh dan petani tembakau di Indonesia, layakkah rokok dipertahankan? (fms)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s