Gerai Dinar: Mendakwahkan ‘Timbangan’ Yang Adil

***
“Menurut Imam Ghazali, Emas ibarat cermin. Dirinya sendiri tidak memiliki nilai tetapi dapat dengan akurat mencerminkan nilai dari benda-benda lainnya,” demikian diungkapkan oleh Muhaimin Iqbal, pendiri DinarClub dan Gerai Dinar (geraidinar.com), dalam penjelasan mengenai posisi emas dalam kondisi resesi ekonomi yang terjadi pada tahun 2008.
Penting diketahui bahwa kebijakan bailout Bank Century yang kini ramai dibicarakan oleh banyak pihak itu terjadi pada saat ‘resesi’ di tahun tersebut. Secara teknis sebenarnya definisi resesi adalah apabila terjadi pertumbuhan negatif dari GDP suatu negara dalam dua kwartal berturut-turut. Namun karena indikator GDP ini tidak sepenuhnya akurat maka berbagai pihak berusaha untuk mendeteksi resesi ini secara lebih akurat/dini; agar dapat mengambil langkah-langkah perbaikan sebelum semuanya menjadi terlalu sulit.
Salah satunya adalah apa yang dilakukan oleh National Bureau of Economic Research (NBER) yang mendifinisikan bahwa resesi adalah “Penurunan aktifitas ekonomi secara significant yang menyebar secara luas dan berlangsung beberapa bulan..”; maka menurut definisi ini bisa saja saat itu Indonesia sedang berada dalam kondisi resesi.
Berbeda dengan tahun 2008, krisis yang menimpa Indonesia pada 1997 lebih dapat dirasakan oleh banyak pihak dan memberikan banyak pelajaran berharga karena yang terjadi bukan hanya krisis pada pasar uang melainkan krisis moneter dan ekonomi. Satu dari banyak pelajaran itu adalah orang kembali menengok emas. Investasi (saving) emas pun dinilai menjadi pilihan yang menjanjikan dibanding dengan uang kertas.
Pasca krisis 1997, nilai kekayaan masyarakat yang dinilai dengan uang kertas jauh berkurang, baik karena nilai kurs rupiah yang anjlok maupun karena daya beli masyarakat yang sangat rendah. Kenyataan itu tak terjadi pada emas. Sigit Pumawan Jati, dalam Dinar dan Dirham sebagai Mata Uang Islam, mengungkapkan bahwa emas tidak terpengaruh oleh inflasi serta aman dari depresiasi nilai mata uang. Ini berbeda dengan bentuk investasi lain, misalnya deposito dan tanah. Dengan suku bunga deposito yang tinggi misalnya, ternyata tingkat inflasi pun ikut pula tinggi. Investasi tanah pun menjadi amat riskan dalam situasi ekonomi yang rentan dan labil, karena tanah atau properti merupakan investasi yang paling tidak laku saat kondisi ekonomi sedang loyo.
Maka, menurut Sigit, adalah wajar bila emas menjadi investasi strategis karena relatif bebas dari inflasi atau depresiasi nilai mata uang. Sebagai contoh, harga emas intemasional pada Juli 1997 adalah US $ 290/troy oz atau US $ 9,32/gram. Apabila kondisi mata uang di suatu negara -misalnya rupiah merosot dari Rp 3 ribu menjadi Rp 12 ribu untuk 1 dolar AS, maka harga emas di Indonesia akan berubah dari Rp 27 ribu/gram menjadi Rp 111 .840,-/gram, atau naik sebesar 400 persen. Jadi, nilai emas akan selalu memiliki daya beli yang tetap.
Selain sebagai investasi, lanjut Sigit, emas (dan juga perak) kembali ditengok sebagai altematif mata uang tangguh untuk mencegah merosotnya nilai mata uang. Nilai mata uang yang berlaku saat ini, pasti terikat dengan mata uang negara lain (misalnya rupiah terhadap dolar AS). Tidak bersandar kepada nilai intrinsik yang dikandungnya sendiri. Implikasinya, nilainya tidak pernah stabil. Bila nilai mata uang itu bergejolak, pasti akan mempengaruhi kestabilan mata uang tersebut. Fenomena seperti itu nampak mulai awal Juli 1997, tatkala 1 dolar AS masih senilai Rp 2.445. Karena faktor ekonomi -seperti defisit neraca transaksi berjalan— dan faktor non ekonomi —seperti isu seputar kesehatan Presiden Soeharto— pada awal Januari 1998 nilai rupiah telah anjiok menjadi Rp. 11.000 per 1 dolar AS. Jelas, nilai rupiah sangat tidak stabil karena terikat dolar AS.
Karenanya, orang mulai mencari-cari mata uang yang tak terkena depresiasi nilai mata uang serta mempunyai nilai intrinsik yang terkandung dalam dirinya sendiri. Emas dan perak memenuhi kriteria tersebut. Dengan menggunakan emas dan perak sebagai mata uang, nilai nominal dan nilai intrinsiknya akan menyatu padu. Dengan kata lain, nilai nominalnya tidak ditentukan oleh daya tukamya terhadap mata uang lain, tetapi ditentukan oleh berat emas atau perak itu sendiri. Maka, depresiasi tidak akan terjadi sehingga kestabilan mata uang Insya Allah akan dapat dijamin.
Fakta itu tentu menguatkan apa yang telah diungkap oleh Muhaimin Iqbal tentang pendapat Imam Ghazali mengenai emas. Dan sebagai ‘hakim’ yang adil, emas tetap berperilaku adil sebagai pengukur nilai barang-barang dalam situasi apapun –termasuk dalam situasi krisis.
Kehadiran Gerai Dinar
Banyaknya orang yang mulai berinvestasi emas tentunya menjadi peluang tersendiri bagi mereka yang melirik emas sebagai lahan bisnis baru. Banyak pula orang yang mencari keuntungan dengan berspekulasi selisih harga emas dengan uang kertas. Akan tetapi tidak demikian dengan kehadiran Gerai Dinar yang bertempat di Kelapa Dua, Depok dan memiliki situs ‘geraidinar.com’.
Menurut Muhaimin Iqbal, Gerai Dinar ini dirikan untuk menopang misi da’wah Islam yaitu untuk memperkenalkan kembali Dinar dan Dirham sebagai timbangan (mata uang) yang adil di zaman ini. Namun demikian, Dinar dan Dirham di Indonesia tidak sepenuhnya dapat berfungsi sebagai mata uang. Bahkan, hingga saat ini memang tidak ada negara di dunia yang benar-benar menggunakan mata uang Dinar Islam, tetapi sepanjang sejarah Islam sejak zaman Rasulullah Saw sampai saat keruntuhan Kekhalifahan Usmaniah Turki, Dinar Islam inilah yang digunakan sebagai mata uang.
Untuk mendukung dan memaksimalkan dakwah serta mengoptimalkan penggunaan dinar, sebelumnya juga sudah terbentuk DinarClub. Dengan menjadi anggota DinarClub informasi harga Dinar dapat diperoleh melalui sms services setiap saat diperlukan. Tolong menolong sesama anggota Club juga dimungkinkan untuk saling berjual beli Dinarnya maupun produk-produk lain yang nantinya bisa ditawarkan oleh sesama anggota.
Status Dinar di Indonesia
Dalam hukum Indonesia Dinar diperlakukan sebagai emas, belum sebagai uang. Karena status Dinar bukan mata uang, Gerai Dinar ini menjadi semacam toko jual-beli emas berupa koin Dinar. Dengan demikian, ijin dari Gerai Dinar sebagai Toko Emas dengan SIUP dari Perdagangan bukan Departemen Keuangan.
Produk yang ditawarkan di Gerai Dinar yaitu Dinar Islam atau juga disebut Islamic Gold Dinar (IGD) yang terbuat dari emas 22 karat seberat 4,25 gram. Standarisasi berat uang Dinar dan Dirham mengikuti Hadits Rasulullah SAW, ”Timbangan adalah timbangan penduduk Makkah, dan takaran adalah takaran penduduk Madinah” (HR. Abu Daud).
Berat 1 Dinar ini sama dengan 1 mitsqal atau kurang lebih setara dengan berat 72 butir gandum ukuran sedang yang dipotong kedua ujungnya. Dari Dinar-Dinar yang tersimpan di musium setelah ditimbang dengan timbangan yang akurat maka diketahui bahwa timbangan berat uang 1 Dinar Islam yang diterbitkan pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan adalah 4.25 gram, berat ini sama dengan berat mata uang Byzantium yang disebut Solidos dan mata uang Yunani yang disebut Drachma.
Pada zaman Khalifah Umar bin Khattab sekitar tahun 642 Masehi bersamaan dengan pencetakan uang Dirham pertama di Kekhalifahan, standar hubungan berat antara uang emas dan perak dibakukan yaitu berat 7 Dinar sama dengan berat 10 Dirham. Atas dasar rumusan hubungan berat antara Dinar dan Dirham dan hasil penimbangan Dinar di musium ini, maka dapat pula dihitung berat 1 Dirham adalah 7/10 x 4.25 gram atau sama dengan 2.975 gram. Dirham seperti itulah yang juga menjadi produk Gerai Dinar.
Dinar dan Dirham memang sudah ada sejak sebelum Islam lahir, karena Dinar (Dinarium) sudah dipakai di Romawi sebelumnya dan Dirham sudah dipakai di Persia. Kita ketahui bahwa apa-apa yang ada sebelum Islam namun setelah turunnya Islam tidak dilarang atau bahkan juga digunakan oleh Rasulullah Saw– maka hal itu menjadi ketetapan (Taqrir) Rasulullah Saw yang berarti menjadi bagian dari ajaran Islam itu sendiri, Dinar dan Dirham masuk kategori ini.
Di Indonesia di masa ini, Dinar dan Dirham hanya diproduksi oleh Logam Mulia – PT. Aneka Tambang TBK. Saat ini Logam Mulia-lah yang secara teknologi dan penguasaan bahan mampu memproduksi Dinar dan Dirham dengan Kadar dan Berat sesuai dengan Standar Dinar dan Dirham di masa awal-awal Islam. Seluruh Dinar dan Dirham yang diperkenalkan dan dipasarkan oleh Gerai Dinar adalah produksi langsung dari Logam Mulia – PT. Aneka Tambang, Tbk.
Di dalam sistem hukum perpajakan Indonesia memang emas dikategorikan menjadi dua yaitu emas batangan dan emas perhiasan.  Dinar sayangnya dimasukkan dalam kategori perhiasan; otomatis terkena PPN 10%. Soal ini, Muhaimin Iqbal secara terus terang belum mengetahui kenapa pemerintah memasukkan koin Dinar dalam kelompok perhiasan sehingga terkena PPN ini. Di Uni Eropa saja sejak tahun 1998, koin emas tidak terkena VAT.
Dampak dari PPN ini memang akan terasa kalau kita membeli emas perhiasan atau Dinar dan kita hanya diamkan terus. Emas atau Dinar kita akan 10% lebih mahal dari seharusnya karena faktor pajak ini. Namun kalau Dinar terus kita putar dalam perdagangan, maka pajak keluaran dan pajak pemasukan bisa saling diperhitungkan. Dengan demikian dampak pajak tidak terlalu menyakitkan kalau Dinar kita produktif.
Tanpa diproduktifkanpun dengan rata-rata statistik appresiasi Dinar terhadap Rupiah selama 40 tahun yang menunjukkan angka 30%/tahun sudah jauh lebih dari cukup kalau hanya untuk sekedar mengatasi masalah PPN yang 10 % tadi.
Mengenai kaitannya dengan zakat, Dinar dan juga harta lainnya berupa perhiasan, uang kertas dan harta-harta lainnya, semua terkena wajib zakat apabila telah mencapai nisabnya, yaitu 20 Dinar dan melewati satu tahun. Zakatnya adalah 2.5% apabila di hitung dalam tahun Qomariah dan 2.58% apabila dihitung dalam tahun Syamsiah. Dengan berhijrah ke Dinar, tentunya perhitungan zakat yang dikeluarkan akan lebih mudah dan akurat perhitungannya.
Untuk memperoleh Dinar dan Dirham di Indonesia, selain Gerai Dinar juga ada jenis usaha serupa yaitu UsahaDinar.Com dan Dinaremas24k.Com. (fms)

2 Comments Add yours

  1. umar says:

    pak gerai dinar itu dekat mana ya? bisa di jelaskan?
    saya tau gerai dinar ada di kelapa dua depok, tapi tolong jelaskan detailnya? apa ada di pinggir jalan? dekaat gesung apa?

    1. alamat gerai dinar:
      Kelapa Dua Raya 189
      Depok
      Jawa Barat
      16951
      Indonesia

      Dari arah Kampus UI Depok anda bisa lewat jalan Akses UI ke arah Kelapa Dua. Di jalan ini anda akan melewati Kampus Gunadarma Kelapa Dua, tak jauh dari kampus ini ada perempatan lampu merah. Anda belok ke arah Jalan Professor Lafran Pane – Tugu. Ikuti jalan ini, Gerai Dinar ada di sisi barat jalan ini, lokasinya di pinggir jalan, cukup mudah ditemui.

      Anda dapat pula menghubungi nomor-nomor berikut:

      Telephone:
      +62.21.93 300.300; +62.21.8719142; + 62.21.8718762; +62.21.8718779
      Fax:
      +62.21. 8719139 ; +62.21. 872 90 55
      Mobile Phone Number:
      +62.856.93 010101; +62.816.1815164; +62.8578.2000501

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s