Sejenak Merenungi Sampah

***

Wadah besar berwarna kuning itu penuh dengan sampah dan bau busuk yang menyengat. Terletak di pojok salah satu kampus di universitas terkemuka di Depok, tempat sampah itu sempat menjadi perhatian beberapa fotografer majalah kampus. Sebabnya, pada sisi tempat sampah yang menghadap ke jalan tertulis kalimat: ”Lebih baik makan dari sampah daripada dimakan sumpah!
Di bawah kalimat itu terdapat tanda tangan dan nama penulisnya: Adit. Entah apa yang sesungguhnya ingin disampaikan oleh Adit, yang jelas coretan itu membuat orang yang melihatnya berfikir, tersenyum sinis, dan kadang mengaitkannya dengan hal-hal lain.
Misalnya saja Fauzan (23), fotografer majalah kampus dan mahasiswa  kriminologi salah satu universitas di Depok. Saat berbincang-bincang bersama saya mengenai coretan itu ia mengungkapkan banyak pejabat yang dengan mudah dan berani bersumpah atas nama Allah Swt. Terkadang sumpah itu diucapkan untuk menutupi kebohongan. Menutupi perbuatan korupnya sebagai pejabat negara. Karenanya, ia menilai pejabat seperti itu sedikitpun tidak lebih baik dibandingkan dengan pemulung yang mencari nafkah dari sisa-sisa tumpukan sampah.
Dari coretan itu, kemudian keadaan negeri ini digambarkannya dengan cukup memprihatinkan. Yang kaya semakin kaya dan yang miskin terus terjerembab dalam lubang kemiskinan. Pejabat bermewah-mewah dengan mobil baru yang harganya milyaran sementara rakyat di pojok-pojok gang hanya tidur beralaskan koran. Korupsi masih menggila, sementara hukumnya mudah diperjual-belikan. Banyak ketimpangan dan ketidakadilan di berbagai tempat dan tingkat kehidupan.
Masalah memang menumpuk dan cukup banyak. Tapi marilah beristirahat sejenak. Tundukkan kepala dan renungi apa yang dapat kita lakukan untuk perbaikan negeri ini. Sambil merenung, perhatikanlah lingkungan sekeliling. Sederhana saja, perhatikan yang dekat-dekat dulu. Perhatikanlah sampah kecil di depan anda. Jika punya kesempatan, ”Buanglah pada tempatnya!”.
Jika direnungi lebih dalam, dari sampah kecil itu barangkali anda dapat menilai bahwa bangsa ini memang punya masalah mendasar. Misalnya anda dapat mempermasalahkan soal akhlaknya. Ternyata akhlak sebagian besar penduduk negeri ini, terutama di daerah perkotaan cukup memprihatinkan. Buang sampah sembarangan merupakan perbuatan yang dapat kita kategorikan sebagai akhlak yang buruk. Namun perbuatan itu dipandang sebagai perbuatan biasa oleh kebanyakan orang. Sehingga ada yang mengatakan, ”Tidak perlulah itu dibesar-besarkan!”.
Akibatnya, permasalahan sampah yang kecil-kecil itu kian hari kian serius, karena tanpa sadar aktivitas kita sehari-hari terus menerus menghasilkan sampah dalam jumlah berkali lipat sementara pengelolaan yang baik tidak dipikirkan. Permasalahan pun bukan lagi hanya tentang sampah yang berserakan dan sampah yang mengganggu keindahan. Akan tetapi juga tentang banyaknya sampah yang menumpuk dan bencana yang ditimbulkannya.
Masih melekat dalam ingatan tragedi 21 Februari 2005 dan menjadi hari paling kelabu bagi warga Kampung Cilimus, Batujajar Timur, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung. Tragedi itu adalah tertimbunnya ratusan orang di Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) Leuwigajah. Tragedi itu sedikitnya menelan korban 143 jiwa, puluhan luka-luka, dan ratusan orang kehilangan tempat tinggal.
Sementara di Jakarta pada tahun 2002 dan 2007, terjadi banjir besar yang menimbulkan kerugian milyaran rupiah. Salah satu sebabnya adalah tersumbatnya saluran air dan sungai-sungai oleh timbunan sampah. Selain Jakarta, juga cukup banyak bencana banjir di Tanah Air, dan penyebabnya juga serupa yaitu ketidakpedulian masyarakat terhadap pengolahan dan pengelolaan sampah yang baik.
Persoalan sampah bukan hanya menjadi isu nasional, tapi sudah menjadi isu dunia dan berdampak multi-dimensi serta menarik perhatian semua negara di dunia. Bahkan sampah juga dapat memberi pengaruh dan berkonstribusi cukup besar terhadap pemanasan global. Seperti yang telah kita ketahui bahwa pemanasan global terjadi akibat adanya peningkatan gas-gas rumah kaca seperti uap air, karbondioksida (CO2), metana (CH4), dan dinitrooksida (N2O). Dari tumpukan sampah ini akan dihasilkan ber ton-ton gas karbondioksida (CO2) dan metana (CH4).
Sampah tidak melulu dapat menyebabkan bencana bagi manusia, tapi jika diolah dengan baik sampah juga memiliki manfaat yang besar bagi kehidupan manusia. Banyak orang yang hidup dari sampah. Pengepul barang bekas, pemulung, dan kelompok masyarakat kreatif yang mengolah sampah menjadi barang yang kembali memiliki nilai guna.
Karena alasan itulah masalah sampah sudah sepatutnya masuk dalam area kepedulian kita. Salah satu proses penting untuk melakukan perubahan adalah memulai. Memulai melalui pemahaman dan pengetahuan, terutama bagi para kader yang akan menjadi penggerak berbagai kegiatan di masyarakat. Serta memulai pada diri kita sendiri. (fms)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s