Masjid dan Da’i Juga Perlu Mengkampanyekan Penanganan Sampah

***
Setiap hari kita memberikan pengaruh terhadap lingkungan dalam berbagai cara. Pengaruh yang pasti adalah sampah. Sampah merupakan konsekuensi dari adanya aktifitas manusia. Setiap waktu, selalu saja ada benda yang terbuang dan menjadi sampah. Yang perlu disadari, jumlah sampah sebanding dengan tingkat konsumsi kita terhadap barang (material) yang kita gunakan sehari-hari. Semakin tinggi tingkat konsumsi, semakin tinggi pula sampah yang kita hasilkan. Artinya, semakin besar pula peranan kita terhadap kerusakan lingkungan yang mungkin dihasilkan dari sampah tersebut.
Penanganan sampah dari aktivitas yang kita lakukan tentu tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah saja. ”Sampah berasal dari masyarakat, maka masyarakat jugalah yang harus berupaya menyelesaikan masalahnya,” kata Ubaidillah, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jakarta.
Namun demikian, tidak semua orang paham tentang cara menangani sampah. Pengetahuan dan kemauan untuk mengurangi sampah dan kearifan dalam mengelola sampah sudah seharusnya disentuh agar menjadi bagian dari kesadaran individu. Karena pada dasarnya jauh di dalam lubuk hati setiap manusia pasti tersirat keinginan untuk menjalani sebuah kehidupan yang lebih baik.
Peran Masjid dan Da’i
Di dalam diri umat Islam, banyak yang mengetahui bahwa ia adalah khalifah di muka bumi, tapi tak banyak yang tahu tentang apa yang seharusnya dilakukan terhadap bumi ini. Karena itulah masjid sangat berperan penting untuk membimbing jamaahnya sehingga tumbuh pengetahuan dan kesadaran yang akan membawa perubahan bagi lingkungan yang lebih baik. Serta mengokohkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.
Masjid merupakan sarana yang efektif dalam penyebaran akhlak Islam yang mulia. Selain itu, juga dapat menjadi sarana yang berkelanjutan dalam mendidik dan memberikan himbauan moral kepada jamaah untuk senantiasa berakhlak mulia, tidak konsumtif dan hidup boros, serta ramah terhadap lingkungan. Sehingga, bumi titipan Allah ini, bisa terus bersih, terawat, sehat serta terjaga kelestariannya.
Da’i yang memakmurkan masjid juga perlu menambah pengetahuan yang baik mengenai permasalahan umat ini. Yaitu pengelolaan sampah yang dapat meminimalisir kerusakan terhadap lingkungan sekitar. Di samping itu, da’i juga mesti terus-menerus mengembangkan pengetahuan dan kreatifitas agar sampah juga dapat menjadi berkah bagi umat di sekelilingnya. Allah Swt berfirman:
Janganlah merusak di muka bumi sesudah Allah memperbaikinya. Tapi serulah Ia dengan ketakutan dan kerinduan. Sungguh rahmat Allah dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.” (Q.S. Al A’raf : 56)
Dengan demikian kesadaran akan lingkungan dan alam yang lestari adalah tanggungjawab moral setiap muslim. Kepedulian terhadap kelestarian lingkungan merupakan salah satu amanat Islam. Setiap muslim bertanggungjawab atas kelestarian alam dan sudah semestinya penggerak-penggerak di dalam diri umat Islam turut berkontribusi di dalam mengkampanyekan isu ini.
Mengembangkan Pengetahuan, Sampah dan Penanganannya
Beragam masalah di dunia terus berkembang dan berubah. Karena itu pengetahuan mengenai penanganannya perlu terus diikuti selama tidak bertentangan dengan aqidah Islam. Pengetahuan yang jelas akan membuat jelas pula sikap dan tindakan yang mesti kita lakukan. Begitupun dengan penanganan sampah ini.
Sampah adalah sisa suatu usaha atau kegiatan yang berwujud padat baik berupa zat organik maupun anorganik yang bersifat dapat terurai maupun tidak terurai dan dianggap sudah tidak berguna lagi sehingga dibuang ke lingkungan (Menteri Negara Lingkungan Hidup, 2003).
Sampah dapat berada pada setiap fase materi yaitu fase padat, cair, atau gas. Ketika dilepaskan dalam dua fase yaitu cair dan gas, terutama gas, sampah dapat dikatakan sebagai emisi. Emisi biasa dikaitkan dengan polusi. Bila sampah masuk ke dalam lingkungan (ke air, ke udara dan ke tanah) maka kualitas lingkungan akan menurun. Peristiwa masuknya sampah ke lingkungan inilah yang dikenal sebagai peristiwa pencemaran lingkungan.
Gede H. Cahyana (2006) mengatakan bahwa masalah sampah sebetulnya bisa diselesaikan dengan ‘tangan bersih’. Ini berkaitan dengan ilmu dan perilaku masyarakat. Patut diakui, tak semua orang paham bahwa sampah sebaiknya sesedikit mungkin dibuang ke tong sampah. Yang organik sebaiknya ditanam, yang anorganik jika tak bisa dimanfaatkan lagi silakan dibakar dan yang masih bernilai guna bisa dijual atau diberikan kepada pemulung.
Konsep tersebut terangkum dalam konsep 7R, yaitu reduce, reuse, recycle, recovery, replace, relocation, responsible. Reduce, mengurangi volume sampah atau disebut juga precycling merupakan langkah pertama untuk mencegah penimbunan sampah, yaitu memakai barang yang efisien sehingga tak banyak yang terbuang. Reuse, menggunakan kembali, berarti menghemat dan mengurangi sampah dengan cara menggunakan kembali barang-barang yang telah dipakai dengan menerapkan kreativitas. Intinya sekecil apapun itu, yang penting sampah tidak masuk ke tong sampah.
Selanjutnya adalah Recycle, mendaur ulang, juga sering disebut mendapatkan kembali sumberdaya (resource recovery), khususnya untuk sumberdaya alami. Mendaur ulang diartikan mengubah sampah menjadi produk baru, khususnya untuk barang-barang yang tidak dapat digunakan dalam waktu yang cukup lama, misalnya kertas, alumunium, gelas dan plastik. Langkah utama dari mendaur ulang ialah memisahkan sampah yang sejenis dalam satu kelompok. Kemudian sampah organik bisa dijadikan kompos, yang anorganik seperti kertas diolah menjadi bubur kertas lalu dijadikan kertas baru lagi dengan mutu yang lebih rendah, tapi tetap bermanfaat dengan harga murah.
Replace, gantilah bahan baku atau barang yang berpotensi terbuang sekali pakai dengan yang bisa digunakan berkali-kali. Misalnya, wadah belanjaan berupa tas sebagai ganti plastik kresek. Recovery, ambil yang masih berguna. Benda-benda berupa potongan besi, kabel, paku, baterei atau accu, bisa dikumpulkan lalu dijual ke tukang rongsok dan akan diolah atau dijual lagi ke pabriknya.
Relocation, tempat sampah yang tepat desain dan letaknya sehingga mudah diambil petugas. Pemilahan sampah oleh pemilik dan pemulung pun bisa dilakukan dengan mudah. Responsible, bertanggung jawab, baik rumah tangga, sarana peribadatan, petugas kebersihan, dan pegawai-pejabat pemerintah daerah. Rasa tanggung jawab inilah yang belum tampak, baik di tingkat rumah tangga maupun pemerintah daerah dan terkesan bekerja serampangan. Bekerja keras tapi tak cerdas sehingga terus berlarut-larut lantaran solusinya bersifat instan reaktif, bukan kreatif.
Penanganan sampah melalui konsep 7R itu bisa dimulai dari masjid yang dicontohkan oleh para da’i kepada umat di sekitarnya. Sehingga umat di dalam tingkat rumah tangganya dapat mencontoh dan menjadi suatu gerakan bersama umat Islam untuk lingkungan hidup yang lebih baik.
Setiap pilihan yang kita ambil mempengaruhi alam dan masyarakat. Seperti kata pepatah pencegahan penyakit akan lebih baik dari pada mengobatinya. Kata bijak ini juga bisa digunakan dalam strategi penanganan sampah yakni mencegah terbentuknya sampah lebih baik dari pada mengolah/memusnahkan sampah. Karena bagaimanapun mengolah/memusnahkan sampah pasti akan menghasilkan jenis sampah baru yang mungkin saja lebih berbahaya dari sampah yang dimusnahkan. Jadi mari mulai sekarang kita berbenah diri untuk hidup hemat dan mengurangi hal-hal yang bisa membentuk sampah. Sebagaimana yang telah dipesankan dalam Al Quran Surat Al A’raf ayat 31:
Janganlah kamu berlebih-lebihan (boros), sesungguhnya Allah tidak senang kepada orang yang suka berlebih-lebihan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s