Infotainmen Perlu Penertiban Formal

Wawancara dengan Dr. Miftah Faridl
(Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Barat)
***
Dari perjalanan panjang Bapak dalam berdakwah, kira-kira tantangan ke depan dari umat Islam, khususnya di Indonesia itu seperti apa pak?
Yang saya rasakan tantangan itu adalah globalisasi. Kita tidak siap. Rupanya banyak umat tidak siap dengan globalisasi itu. Kebebasan yang kita gulirkan dari reformasi ternyata juga banyak di antara kita yang kebablasan sehingga lupa hal-hal yang menyangkut kewajiban. Kita bisa menuntut hak tetapi tidak melaksanakan kewajiban.
Yang kedua juga menyangkut kebebasan dalam hal mass media, seperti penayangan-penayangan yang ada di televisi. Kalau dulu masih bisa ditegur oleh Departemen Penerangan sekarang seperti nggak ada yang bisa menegur karena dengan alasan Hak Asasi. Ternyata dalam hemat saya kita tidak siap untuk memfilter, memilih, memilah-milah itu. Sehingga banyak dampak dari globalisasi yang dikuasai oleh opini barat sekuler, kemudian timbul juga pandangan-pandangan yang sekuleristis dengan dibungkus pluralisme tetapi di dalamnya adalah pendangkalan keimanan, pendangkalan akidah. Kemudian juga dibungkus dengan Hak Asasi tetapi di dalamnya juga ada muatan-muatan pornografi, dan lain-lain.
Hal-hal seperti itu yang sebenarnya sangat kita prihatinkan. Sejalan dengan itu juga pengaruh materialisme, sehingga banyak masyarakat mengukur segala sesuatu hanya dengan materi dan menjadi masyarakat yang instan. Ingin kaya cepat dengan jalan menyuap. Ingin kaya cepat dengan ikut berjudi. Dan kita tidak cukup mampu untuk membendung ini secara efektif.
Soal kebebasan media, bagaimana tanggapan Bapak masalah infotainmen?
Memang mass media sekarang ini bisa menginformasikan sesuatu yang salah diulang-ulang bisa jadi kaya benar. Juga mass media sekarang ini bisa membesarkan seseorang walaupun sebetulnya tidak pantas untuk menjadi orang besar. Tapi juga bisa menghancurkan seseorang yang sebetulnya tidak perlu dihancurkan. Jadi mass media ini menentukan orang itu menjadi hancur betul opininya bisa juga menjadi baik begitu.
Di awal tahun ini beberapa ulama mengeluarkan fatwa haram infotainmen untuk membendung dampak buruknya bagi masyarakat. Pandangan Bapak?
Ya, seperti yang sudah disampaikan oleh para ulama itu. Kegiatan-kegiatan mass media, seperti infotainmen dan lain-lain itu ternyata mengandung muatan-muatan yang orang dengan enteng membuka aib orang lain, ghibah, bahkan ada kecenderungan untuk mengadu domba. Membikin rumah tangga seseorang menjadi gelisah karena sesuatu yang mestinya sangat pribadi kemudian diungkapkan kepada umum. Jadi lebih banyak mudharat yang kita rasakan. Oleh karena itu, memang ini penting adanya penertiban.
Penertiban seperti apa Pak?
Saya kira penertiban itu pertama tentu yang harus dilakukan adalah dari diri kita sendiri. Orang tua terutama harus bisa memilih-milih. Yang kedua, saya kira pemilik mass media itu juga harus punya tanggung jawab moral bukan hanya keuntungan dari segi materi tetapi juga harus ada tanggung jawab moral bahwa apalah artinya seseorang mendapat keuntungan kalau akhlak bangsa ini menjadi hancur. Kemudian yang ketiga tentu saja harus ada political will dari pemerintah sendiri yang membuat aturan-aturan sedemikian rupa sehingga aturan itu dipatuhi secara moral dan secara formal. Kalau hanya pandangan moral itu dihimbau oleh para ulama, majelis ulama, rupanya sekarang ini, walaupun tetap harus dilakukan, tetapi tidak efektif begitu. Sehingga perlu ada ketentuan-ketentuan yang sifatnya formal.
Ketentuan formal ini berarti dalam bentuk undang-undang?
Ya, bisa undang-undang, bisa peraturan daerah, bisa juga keputusan-keputusan yang ada dari suatu departemen umpamanya saja. Bisa.
Bagaimana dengan pendapat bahwa infotainmen menguntungkan secara materi bagi pekerjanya sehingga dapat membuka peluang lapangan kerja?
Itulah, sebetulnya kalau kita membaca Al-Qur’an, berulang kali Qur’an berpesan jangan sampai kita itu menjadikan harta menjadi semacam tuhan kita, tujuan hidup kita. Dan diingatkan oleh Al-Quranul Karim bahwa dengan harta itu orang bisa menjadi sombong, dengan harta itu orang menjadi juga arogan. Pesan itu telah berulang-ulang. Dan inilah yang kita rasakan sekarang, karena sikap hidup yang dilandasi atau dipengaruhi oleh pandangan yang materialistis, sehingga menjadi tujuan menghalalkan segala cara begitu.
Tadi Bapak mengatakan himbauan ulama saja tidak efektif dan perlu adanya aturan-aturan formal. Artinya, perlu juga ada politisi muslim yang bergerak?
Tentu. Jadi memang harus selalu begitu. Jadi begini, pertama orang jangan ada niat untuk berbuat tidak baik. Itu kewajiban para ulama untuk memberikan motivasi. Dan yang kedua jangan ada peluang untuk berbuat tidak baik. Peluang-peluang itu harus ditutup oleh aturan-aturan. Dan aturan itu tentu harus diproses melalui sebuah aktivitas politik. Ya, jadi para politisi yang membuat aturan-aturan sehingga peluang untuk berbuat salah itu kecil. Sehingga ditutup niatnya jangan ada dan peluangnya juga jangan ada.
Kalau dari kondisi yang saat ini, atau kita lihat dari kinerja politisi muslim yang lalu, apakah ada harapan mereka mengangkat masalah moral ini?
Ya, saya masih percaya ada. Walaupun masih terasa sekali kurang begitu besar pengaruhnya untuk membentuk suatu keputusan-keputusan sebagaimana yang diharapkan oleh umat. Jadi rupanya proses tawar-menawarnya juga sangat tajam begitu, dalam beberapa hal dengan alasan HAM dan lain-lain itu. Saya lihat ada politisi-politisi yang ada komitmennya, konsisten begitu untuk menelorkan aturan tentang moral berbenturan dengan isu HAM dan lain-lain. Itulah saya kira yang harus diperjuangkan, selain membuat sistem aturan-aturan dari atas memang penyadaran melalui dakwah pendidikan seperti yang selama ini dilakukan oleh ormas-ormas Islam seperti Muhammadiyah harus terus digiatkan. Sehingga muncul kesadaran dari berbagai pihak tentang pentingnya komitmen dalam pembangunan moral yang baik.
Ada pesan lain?
Saya melihat di satu sisi umat mengalami peningkatan secara kesalehan spiritual, ibadah yang sholat, yang shaum, yang haji, tapi saya merasa prihatin bahwa umat ini tidak mengalami kemajuan bahkan kemunduran di bidang kesalehan sosial. Yang menyangkut kejujuran, kesantunan, ketekunan, ketangguhan ini umat kita mengalami penurunan dibandingkan dengan generasi-generasi katakanlah beberapa tahun yang lalu, angkatan 45, angkatan 55, mungkin angkatan 65 juga, yang terasa baik dalam aktivitas politik ataupun dalam aktivitas gerakan-gerakan demonstrasi, aksi, sampai gerakan-gerakan di dalam kegiatan-kegiatan di mass media. Jadi sekarang saya melihat ada kemunduran di bidang ketangguhan, keuletan, kejujuran di dalam umat sekarang ini. Dan ini yang sekarang harus menjadi perhatian. (fms)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s