Gerakan 28 Januari 2010: Aksi 5 Tahun 100 Hari Kepemimpinan SBY

***

Pada tanggal 28 Januari 2010, beberapa elemen masyarakat melakukan aksi refleksi 100 hari kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang kedua. Para partisipan aksi membawa isu utama soal kegagalan 5 tahun 100 hari pemerintahan SBY yang berada dibawah pengaruh kuat neoliberalisme-neokolonialisme. Para partisipan aksi menilai SBY, yang didukung oleh Boediono, Sri Mulyani, dan Marie Elka Pangestu telah gagal dalam melakukan tahap awal perbaikan menuju Indonesia yang lebih baik. Beberapa elemen  aksi juga menyuarakan agar SBY-Boediono mundur.
Aksi yang diikuti oleh lebih dari 40 elemen rakyat dan mahasiswa ini membawa beberapa tuntutan utama, antara lain yaitu: Usut tuntas kasus-kasus korupsi hingga ke akar-akarnya; Tuntaskan skandal Bank Century; Tegakkan supremasi hukum dan HAM; Reformasi lembaga penegak hukum; Taati putusan MA soal Ujian Nasional; Cabut UU Badan Hukum Pendidikan (BHP); Naikkan anggaran pendidikan; Naikkan upah buruh dan hentikan PHK; Tunda kesepakatan perdagangan bebas (ACFTA); Turunkan SBY-Boediono–Ganti Rezim Ganti Sistim!–
Catatan Pribadi:
Tuntutan hanya tuntutan, Sang Presiden tidak di Istananya. Ada tugas yang mestinya dapat diwakilkan oleh Gubernur Banten, yaitu peresmian PLTU Labuhan di Pandeglang, Banten. Barangkali Presiden hanya ingin terus berpidato menceramahi rakyatnya soal kesantunan dan penerimaan. Juga terus menyampaikan “kemajuan-kemajuan” di bawah kepemimpinannya sambil menepis “fitnah” yang ditujukan pada dirinya. Seolah-olah tidak ingin mendengar apa yang rakyat suarakan. Ia dapat memposisikan diri sebagai orang yang ‘dizalimi’ dengan baik. Ia senantiasa menghindari ‘hard power’, dan memainkan apa yang ia sebut ‘soft power’ yang selama ini berhasil ‘melemahkan’ gerakan-gerakan perlawanan.
Saya jadi melihat rangkaian aksi ini seperti rangkaian “orkes sakit hati” yang mengandalkan orkes dorong, tanpa tahu siapa yang mendengar sambil berharap semua orang di sekelilingnya mendengar. Entah merdu atau tidak, semoga ada yang turut berpartisipasi dan mengapresiasi dengan menyumbangkan recehnya. Bangsa kasihan…
Soal “suara rakyat”, aksi itu terlihat tidak solid. Elemen rakyat, mahasiswa, dan unsur elit politik yang terlibat seperti berjalan sendiri-sendiri. Salah satu elemen menyuarakan bahwa mereka tidak butuh kehadiran elit politik di dalam aksinya. Elit politik yang hadir menjadi oposisi dinilai oleh elemen itu juga turut terlibat dan bertanggungjawab atas menurunnya kesejahteraan rakyat. Elit politik dinilai hanya sekedar selebritis di panggung politik yang juga haus kekuasaan dan ujung-ujungnya hanya mementingkan kepentingannya sendiri. “Bukan elit politik dan bukan pejabat, tapi kekuatan rakyat yang mampu merubah,” katanya.
Kendati demikian, saya berharap semoga aksi yang mereka gelar dapat memberi warna bagi kemajuan Indonesia ke depan. Semoga, hari-hari esok adalah hari di mana Revolusi Putih berjaya dalam Kasih Allah Swt.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s