Pengembangan Ekonomi Umat: Mengambil Hikmah dari Fase Perkembangan Kemapanan Manusia

DALAM wawancara saya dengan Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Sukajadi, Suhada, ada konsep yang menarik tentang tiga fase logika perkembangan ekonomi umat yang diadaptasi dari analogi model perkembangan kemapanan manusia. Tiga fase logika perkembangan ekonomi umat, yaitu: fase pertama, fase santunan sosial; fase kedua, fase pemberdayaan; dan fase ketiga, fase penguatan.
Fase per fase dalam model perkembangan kemapanan manusia berjarak masing-masing dua puluh tahun. Fase pertama adalah dua puluh tahun pertama, fase kedua adalah dua puluh tahun kedua, dan fase ketiga adalah dua puluh tahun ketiga. Jika digambarkan adalah sebagai berikut:
***
***
Fase pertama, dua puluh tahun pertama, mulai dari bayi sampai remaja dewasa sarat dengan penanganan yang sangat serius, pengasuhan dengan penuh cinta dan kasih sayang, perlindungan yang sangat ketat, pendidikan dan pelatihan yang memadai untuk mengantisipasi masa depan. Layaknya seorang manusia seperti itu, dari bayi sampai dewasa.
Dalam pengembangan ekonomi umat, dua puluh tahun pertama atau fase pertama ini penanganan yang sangat serius itu dapat berupa pelatihan, pendidikan, pematangan, pengumpulan sumber daya, yang sumbernya pada fase pertama itu sudah pasti dari sumber-sumber sosial. Baik melalui zakat, infaq, shodaqoh, wakaf yang ditampung dan dikelola sebagai aset untuk perubahan di masa yang akan datang.
Kesadaran mengenai pentingnya penanganan yang serius pada fase pertama ini kelihatannya agak sedikit kurang di masyarakat kita. Banyak yang mengabaikan pendidikan, penguatan sumber daya manusia, penguatan kematangan anak, dan juga pengumpulan sumber daya lainnya untuk bekal di masa mendatang. Kebanyakan kita tidak terlalu sabar merencanakan dan menatap jauh ke depan untuk bisa memproyeksikan masa depan. Entah mengapa banyak di antara umat kita itu tidak terlalu suka atau tidak terlalu mampu untuk berpikir seperti itu.
Dalam pengembangan sebuah organisasi, dua puluh tahun pertama, atau fase pertama yang tadi kita analogikan kepada fase perkembangan kemapanan manusia, harus terjadi proses-proses ini, proses pengoleksian aset, proses pelatihan, proses pembelajaran, sehingga ketika masa masuk ‘dewasa’, ketika harus masuk ke fase pemberdayaan sudah memiliki perkembangan yang cukup, sudah memiliki potensi yang cukup. Nah, itu fase yang pertama.
Fase yang kedua, dua puluh tahun kedua, adalah fase pemberdayaan. Hasil dari dua puluh tahun pertama harus mulai menghasilkan dan hasil itu tentu masih merupakan  resultan dari kekuatan sendiri, kemampuan sendiri, yang didukung oleh fasilitas-fasilitas sosial. Dia sudah ada sedikit kemampuan tetapi masih harus ditopang oleh potensi-potensi sosial, termasuk di dalamnya adalah pemerintah, bagaimana untuk bisa memberdayakan pemuda supaya dia bisa hidup mandiri.
Ketika seseorang lulus sekolah, untuk pengembangan diri lebih lanjut tentu masih perlu didukung oleh fasilitas-fasilitas sosial, misalnya pelatihan-pelatihan juga dapat didukung oleh fasilitas sosial. Apakah fasilitas itu dikumpulkan dari umat, dari pemerintah, dan dari mana saja, asalkan itu tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip akidah Islam tentu tidak masalah. Begitulah fase yang kedua, sehingga hasil-hasil sekolah, hasil-hasil pelatihan, hasil belajar itu insyaallah akan sangat bermanfaat ketika mendapatkan penanganan yang seksama, mendapatkan perhatian yang serius dari kita semua.
Pada fase ini, seorang yang punya potensi dalam keahlian A maka  fasilitas yang harus didukung kemudian selayaknyalah berakarakter A. Jangan sampai terjadi lulusan SMA Fisika  atau IPA kemudian daya dukungnya atau fasilitas pendukungnya tidak kuat, sehingga ia hanya menjadi bagian keamanan di level yang tidak berkaitan sama sekali dengan keilmuan yang telah dipelajarinya, sebutlah Satpam misalnya. Hal seperti ini tentu sangat merugikan sekali. Bahkan mungkin ini adalah pemubaziran dari apa yang telah dilakukan pada dua puluh tahun pertama.
Karena itu kita harus pandai-pandai mengelola dan mencarikan daya dukung yang cocok dengan potensi dari umat yang sedang berkembang. Sehingga hasil sekolah itu merupakan kelanjutan, atau penopang itu adalah sesuai dengan hasil sekolahnya. Masalahnya, sekarang banyak yang melakukan manuver, yang dari lulusan pertanian menjadi bukan di bidang pertanian, yang lulusan teknik menjadi bukan di bidang teknik. Bolak-balik saja seperti itu, tidak melaju tetap. Ini merupakan pemubaziran yang perlu perbaikan.
Fase kedua sebagai fase pemberdayaan hasil dua puluh pertama, selayaknyalah sudah dapat membuat seseorang atau organisasi merangkak mandiri dan mulai menghasilkan dari apa yang dikerjakannya. Dan harus sudah bergeser dari aspek-aspek penyantunan, ke aspek-aspek pemberdayaan atau pemanfaatan kemampuan sendiri.
Selanjutnya, dua puluh tahun ke tiga atau fase ketiga harus sudah terjadi penguatan-penguatan. Kalau dia seorang pengusaha harus menjadi pengusaha yang sejati, yang sudah terbebas dari fasilitas-fasilitas sosial, bahkan harus sudah berfungsi sebagai penyantun dalam arti yang positif. Kenapa perlu disebut penyantun kelompok yang lemah dalam artian yang ‘positif’, karena sekarang banyak terjadi proses-proses penyantunan yang ada cenderung memanjakan yang disantuninya. Pola ini harus segera diperbaiki dan harus dikembangkan, sehingga proses penyantunan itu betul-betul hanya terjadi pada fase pertama saja, pada fase-fase yang masih lemah.
Kalau seseorang atau organisasi itu sudah punya kemampuan, syukur bisa kurang dari dua puluh tahun, seyogyanya fasilitas-fasilitas sosial hanya dipakai untuk penyantunan-penyantunan sosial saja, sampai dia bisa terlepas. Jadi kalau nabi mencontohkan, pada saat-saat seseorang sedang sakit, sedang repot, sedang kepayahan, beri dia makanan yang siap santap untuk menopang dirinya. Kalau dia sudah kuat beri dia kail, berilah kapak dan tali untuk mencari ikan dan kayu.
Contoh yang luar biasa tersebut tentulah harus diteladani. Sehingga penyantunan yang diberikan dapat berdampak positif, konstruktif dan tidak kontra-produktif. Itulah kira-kira tiga fase besar yang dapat kita ambil sebagai pelajaran dalam mengembangkan keluarga, dan umat yang ada di sekeliling kita. (fms)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s