Sekarang, Kita Mesti Berani Dari Dekat!

***
Pernahkah kau perhatikan dirimu/apa yang ada di balik bola matamu/yang terselip di balik lekuk hatimu/di dalam hati nuranimu.
Mungkinkah kau akui bahwa dirimu itu hanyalah seorang pengecut/sepotong jiwa yang penuh dengan bualan dan kesombongan/hanya sebongkah jiwa tersiksa.
Apakah engkau pembenci/apakah engkau pecinta/apakah kau cukup baik untuk mendapat sedikit cela/di hidup ini.
Mungkinkah kau akui bahwa dirimu itu seorang anak manja/yang mengaku dirinya PEMBERONTAK/tahukah bahwa dirimu itu hanya seorang pecandu/dan tak layak tuk sepotong cinta yang suci.
Pernahkah kau malu/pada dirimu itu/hingga kau ingin lari/dan ingin bersembunyi.
Apakah engkau pecinta/apakah engkau pembenci/apakah kau cukup baik untuk mendapat sedikit cela/di hidup ini.
(Cukup Dalam Hati, Anda)
.
Adalah mudah untuk menjadi berani dari kejauhan,” begitulah kira-kira kalimat bijak dari Omaha, seorang kepala suku Indian Amerika. Saat berada di kejauhan, seseorang dapat mengatakan apapun tentang keberanian bersikap terhadap sesuatu hal. Akan tetapi, dekatkanlah ia pada sesuatu hal itu dan saksikan apa yang akan terjadi. Barangkali sikap dan tindakannya lebih berani dibandingkan dengan kata-kata yang diucapkan. Atau justru sebaliknya, sikap dan tindakannya sangat bertolak belakang dengan ucapannya soal keberanian. Banyak pengecut bersembunyi dibalik kelakarnya tentang tindakan-tindakan berani dan penistaan terhadap orang-orang berani di sekelilingnya.
Saya bercermin, barangkali saya adalah pengecut yang bersembunyi dibalik ucapan tentang keberanian bersikap ini. Setiap saat saya selalu menyaksikan orang-orang berani di sisi saya. Ada mereka yang tampil ke depan dan memimpin dengan segala konsekuensi: dicerca saat gagal atau dipuji dan dikenang saat keberhasilan dan kemenangan berada di sisinya. Ada pula mereka yang tampil menentang keputusan-keputusan yang tidak berpihak pada keadilan dengan segala resikonya. Sedang saya kadang diam dan menunggu keadaan membaik. Lalu muncul dan berkata-kata soal kebijakan bersikap. Saya selalu berpikir dan pikiran saya selalu mengatakan bahwa tidak semua orang perlu tampil, tidak semua orang perlu bicara, adalah lebih baik diam di saat tindakan dan kata-kata hanya akan memperburuk keadaan.
Sempat setiap kali berada dalam permasalahan, pikiran itu selalu menguasai diri saya. Selalu ada perasaan bimbang dan ragu-ragu. Ada penentangan yang tak mampu saya suarakan. Ada penyetujuan yang bahkan tidak mampu saya utarakan walau hanya dengan acungan tangan. Saya selalu membenarkan sikap saya dengan berpikir bahwa tidak semua perlu bersuara. Oleh karena setiap orang memiliki kapasitas dan kapabilitasnya masing-masing, orang-orang mesti berbicara dan bertindak sesuai dengan kapasitas dan kapabilitasnya itu. Saya selalu merasa di setiap permasalahan saya bukanlah orang yang memiliki kapasitas dan kapabilitas yang tepat dan sesuai di dalam penyelesaian masalah, memutuskan untuk menentang atau menyetujui. Saya selalu merasa ini belum sesuai dengan kapasitas dan kapabilitas saya. Tapi mungkin nanti …
Sekarang, di saat elite-elite politik ingin tampil dan bersuara tanpa dasar yang jelas, di saat pemimpin ingin diterima dengan tindakan “licik” yang santun, di saat mereka ingin menyimpangkan segala sesuatunya dari rel keadilan dan kebenaran, apakah masih ada alasan bagi kita -saya dan kalian!- untuk tidak tampil dan bergerak dengan keberanian menanggung segala resiko: berhasil meluruskan keadaan atau jatuh terhempas dalam kebisingan yang keruh.
Kawan-kawan, datangilah masalah bangsa kita. Kenalilah masalah bangsa kita. Tumbuhkan keberanian kita dari dekat, masalah yang menimpa bangsa kita. Bergerak dan bersuaralah: hentikan pertikaian yang kau buat dan buang kemunafikanmu duhai jenderal! Jika hukum sudah dibengkokkan, mana lagi yang lurus?
Kita mesti berani dari dekat! Kita mesti berani memberikan jawaban di muka istana! Untuk menggores langit hitam nusantara dengan kilatan cahaya.
Saudaraku, kecintaan kita pada tanah air, mau tidak mau akan menjadikan diri kita sebagai pembenci. Pembenci yang membenci tingkah laku korup yang membahayakan negeri ini. Dan barangkali juga telah melekat dalam pikiran dan tingkah laku kita sendiri. Kita mesti menyingkirkannya jauh-jauh dari diri, keluarga dan lingkungan kita. Sadarilah, tidak ada yang benar-benar ‘suci’. Jangan merasa sombong bahwa diri kita telah ‘bersih’. Teruslah memperbaiki diri dari hari ke hari. Dengan tidak lupa berbagi pada yang lainnya.
Semoga Tuhan meridhoi jalan-jalan kita menuju negeri yang adil dan makmur. Merdesa!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s