Loyalitas dan Ambisi Anggota PKI: Mengambil Hikmah untuk Gerak Dakwah Islam

***
Film di atas merupakan potongan dari film Pengkhianatan G-30-S/PKI karya sutradara besar Arifin C. Noer (1984). Menggambarkan kondisi rapat persiapan Gerakan 30 September oleh PKI, dan juga ambisi DN Aidit dalam menguasai Jawa sebagai kunci untuk merebut kekuasaan. Namun demikian, di dalam film ini yang ingin saya bicarakan adalah bagaimana loyalitas anggota PKI terhadap partainya yang tidak perlu diragukan lagi.
Dalam pertemuan saya dengan Ustadz Adian Husaini (peneliti INSISTS) pada tahun 2007,  anggota-anggota PKI pada masa awal 1950-an selain loyal dengan partainya juga memiliki komitmen yang kuat terhadap upaya menyejahterakan rakyat/anggotanya. Kantor PKI bukan kantor elit yang sulit dimasuki anggota partainya. Bahkan kantor itu bisa menjadi kantor konsultasi dan mengeluhnya anggota partai terhadap apa yang terjadi di dalam dirinya dan masyarakatnya. Mereka yang menjadi anggota dewan perwakilan rakyat rela gajinya dipotong demi kebesaran partai.
Ustadz Adian juga mengatakan dalam majalah GOZIAN bahwa seorang peneliti Australia (namanya saya lupa) menyimpulkan dalam hasil penelitiannya bahwa perdebatan anggota dewan pada masa 50-60an itu lebih bermutu daripada perdebatan anggota dewan saat ini. Bukan hanya anggota dewan dari kalangan PKI, tetapi juga dari Masyumi, NU, dan PNI.
Ustadz Adian seolah mengingatkan bahwa gerak dakwah jangan sampai kalah dengan gerak orang-orang komunis itu. Saya juga memandang demikian, Da’i di sekitar masyarakat petani haruslah mampu dan mau menggunakan cangkul dan arit untuk mengolah lahan dan berbaur dengan masyarakat petani. Da’i di sekitar buruh haruslah mau dan mampu menggunakan palu, gergaji, dan perkakas lainnya untuk membangun dan berproduksi. Tetapi Da’i juga harus kreatif dan inovatif dalam membawa kemajuan masyarakatnya menuju gaya hidup yang diridhoi oleh Allah Swt, yaitu jalan hidup yang telah disyariatkan oleh Allah Swt. Da’i mesti dapat melihat masalah-masalah yang ada pada masyarakatnya. Kemudian mencari jalan keluar yang tidak menyimpang dari ketetapan syariat Islam. Sehingga apa yang disampaikan Da’i benar-benar dapat diterima oleh masyarakat dan mengekalkan ayat Allah Swt bahwa Islam adalah Rahmatan lil ‘Alamin
Dengan demikian, kebencian kita terhadap PKI jangan berarti menutup berbagai hikmah yang dapat kita ambil dalam lembaran sejarah panjang negeri ini. Mari kumandangkan misi suci kita, untuk negeri yang “Baldatun, Thayyibatun, wa Rabbun Ghofur“. Negeri yang berdiri tegak di atas Ilmunya para Ulama; Adilnya para Pemimpin; Dermawannya orang-orang yang Kaya; dan Do’anya orang-orang yang Miskin. Amien…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s