Bekerja Ikhlas Untuk Menggapai Kebahagiaan

***
waktu yang diisi keluh akan berisi keluh
waktu yang berkeringat karena kerja akan melahirkan
serdadu-serdadu kebijaksanaan
(Wiji Thukul, Sukmaku Merdeka)
***
Kerja. Saat kata itu diucapkan maka yang terbayang pada banyak orang yang saya temui adalah memperoleh upah besar dari kantor-kantor pemerintahan, perusahaan-perusahaan swasta, pabrik-pabrik, pusat kesehatan, dan lembaga pendidikan komersil. Bayangan itu bukan hanya milik mereka yang tinggal di perkotaan tetapi juga milik mereka yang saya temui di beberapa pelosok desa.
Untuk apa kita bekerja? Cobalah tanyakan pada diri kita sendiri dan juga kepada orang-orang yang Anda temui, bisa jadi jawaban yang paling banyak diungkapkan adalah untuk mendapatkan uang. Dalam sedikit canda: untuk sekedar mencari segenggam intan! Satu ungkapan untuk menggantikan kalimat lain yang kadang membosankan: mencari sesuap nasi! Dan itu semua ditujukan untuk kepentingan yang lebih tinggi: Menggapai Kebahagiaan.
Setiap orang memiliki pengalaman hidup, pikiran-pikiran, dan tujuan-tujuannya masing-masing. Karena latar belakang yang berbeda itu pandangan tentang kerja pun pasti akan berbeda-beda. Demikian pula dengan saya dan beberapa teman dekat.
Teman-teman yang dipandang sholeh berpendapat bahwa kerja itu semata-mata untuk beribadah kepada Allah. Karena pada dasarnya hakekat hidup manusia memang hanya ditujukan untuk beribadah kepada Allah yang telah menciptakannya. Bagi mereka, kerja dapat di mana saja dan berupa usaha apapun entah itu menjadi karyawan, pedagang, petani, dan usaha-usaha lainnya yang produktif dan bernilai baik. Namun demikian, tetap terungkapkan soal mendapatkan uang. Uang sebagai alat tukar yang telah disepakati oleh suatu masyarakat tertentu perlu diperoleh untuk menghidupi diri dan keluarga secara terhormat di tengah-tengah masyarakat itu. Baginya, mempertahankan hidup dengan terhormat adalah ibadah. Memberikan nafkah dengan terhormat kepada keluarga adalah ibadah. Jelasnya, menghormati diri dan keluarga adalah juga untuk menghormati masyarakat di sekitarnya. Mengangkat derajat kemanusiaan ke taraf yang lebih sempurna sehingga akan menjauhkan diri dari kancah kebinatangan yang hina. Dengan begitu akan terciptalah masyarakat madani yang diridhoi Allah.
Tidak hanya itu, menurut beberapa yang lainnya yang juga dipandang sholeh setiap muslim mestilah menjadi kaya untuk menyempurnakan agamanya. Memang jika kita berbicara tentang Islam, maka akan muncul istilah Zakat dan Haji. Zakat hanya diwajibkan bagi mereka yang kaya. Zakat hanya dipungut dari mereka yang telah cukup hartanya menurut hitungan tertentu yang lebih dari cukup untuk hanya sekedar memenuhi kebutuhan pokok. Demikian pula dengan haji yang hanya diwajibkan bagi mereka yang mampu baik materil maupun non materil. Bagi muslim yang mampu menyempurnakan itu semua tentulah akan sangat berbahagia. Dan itu semua hanya dapat diperoleh dengan bekerja keras dan ikhlas disertai penuh pengharapan akan ridho Allah.
Saya menyimak pendapat itu. Beberapa yang lainnya melontarkan fakta-fakta. Banyak di antara umat Islam, terutama umat Islam Indonesia, yang jauh dari kekayaan lahiriah dan batiniah. Ada segolongan yang kaya raya namun belakangan diketahui dan diduga terlibat kasus-kasus korupsi. Yang miskin merasa rendah diri dan mengisi hari demi hari dengan keluh kesah. Yang kaya berdiri gagah dan terus menipu yang lemah. Bahkan, tipu menipu terjadi di antara yang miskin dan kaya. Sehingga hari demi hari seolah-olah hanya diisi oleh keluh kesah dan tipu menipu di antara sesama.
Seorang ulama, Musthofa Al Gholayani, dalam nasehatnya mengatakan bahwa sudah berapa banyak kita menyaksikan orang-orang yang bekerja/beramal tetapi tidak meninggalkan bekas yang baik. Dan tidak membawa efek yang positif bagi dirinya, ibarat orang berlayar tiada sampai ke batas, atau berjalan tidak sampai ke pulau idaman. Semangatnya hilang, daya dan kekuatannya berkurang hingga akhirnya kembali pulang dengan tangan hampa, rugi tenaga dan rugi harta. Penyebabnya adalah karena ikhlas tidak menjadi landasan berpijaknya, karena ia tidak mau berbuat melainkan untuk mengharap keuntungan dan suatu pamrih yang tak berharga. Jelasnya, jiwa ikhlas tidak menghidupkan setiap usahanya dan tidak merupakan ruh segala amalannya.
Orang-orang yang mau bekerja dengan didasari ikhlas, baik urusan pribadi, masyarakat dan agamanya, pasti akan mengundang daya tarik yang hebat, memperoleh surprise dan dukungan yang berarti, mendapatkan bantuan dan dorongan untuk mencapai cita-citanya. Dengan demikian maka semangatnya semakin berkobar, kemauannya semakin membakar, dan kesungguhannya semakin menyala-nyala. Dan ia akan tekun dengan pekerjaannya hingga tercapailah segala keinginannya. Sebaliknya, orang-orang yang bekerja tidak dengan ikhlas, bahkan setiap pekerjaannya dititikberatkan ke atas suatu keuntungan yang mengawang, maka cepat atau lambat, aibnya akan terbongkar juga dan orang-orang di kiri kanannya akan menghindar, teman-teman dekatnya akan melupakannya, pembantu maupun pengagum-pengagumnya akan tidak mengindahkan dirinya lagi. Karenanya, kemauan dan gairahnya semakin lemah dan akhirnya hati dan jiwanya dihinggapi penyakit putus asa. Maka segala rencananya macet, usahanya terhenti dan ia menderita kerugian besar, hidup merasa tanpa suatu harapan.
Orang yang bekerja ikhlas akan selalu dekat kepada kejujuran dan ketegasan sikap atas segala problema yang dihadapinya. Dengan keikhlasan itu pula seseorang terdidik untuk selalu bijaksana di dalam setiap pengambilan keputusan atas segala problema yang dihadapinya itu. Dengan begitu, ia menjadi manusia merdeka dan kebahagiaan akan selalu bersamanya. Bahagia sebagai manusia merdeka yang terus berkarya untuk memanusiakan manusia-manusia lain di sekelilingnya dan menyejahterakan alam lingkungan hidupnya. Karena, kebahagiaan menjadi sesuatu yang mustahil dapat diperoleh oleh seseorang yang berada pada masyarakat yang terjebak dalam kancah kebinatangan. Demikianlah sebaiknya kita bekerja untuk menggapai kebahagiaan yang sejati itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s