Tanamlah Pohon Sebelum Pohon Tertanam di Atas Kita

Pesan-pesan mengenai isu lingkungan hidup dan perubahan gaya hidup yang harmonis dengan alam nampaknya semakin kreatif saja. Seperti judul di atas misalnya, “Tanamlah pohon sebelum pohon tertanam di atas kita”.
Kalimat ajakan itu dilontarkan Rizky Afriono (Ketua BKP Mapala UI 2009) untuk membantu memasarkan pohon dalam rangka penggalangan dana bagi kegiatan salah satu divisi di Mapala UI. Ajakan tersebut tentunya mengingatkan kita, terutama umat Islam, pada kalimat lain tentang sholat, yaitu “Sholatlah kamu sebelum kamu disholatkan”.
Dalam penyampaian secara langsung, pesan singkat di atas terkesan hanya guyonan dari seorang Rizky yang memang senang berguyon. Akan tetapi, bagi saya pesan itu ternyata memiliki makna yang cukup dalam terkait dengan gerak hidup dan kematian. Bahwa setiap yang hidup pasti mati. Namun, kematian seseorang bukanlah akhir dari kehidupan itu sendiri. Ada sistem dalam alam dan gerak kehidupan. Kita, setelah mati, akan bergerak pada kehidupan baru menuju humus dan barangkali abu atau bahkan uap air dalam cahaya di kabut pekat senja membara. Kita akan menjadi makanan dari tetumbuhan yang mewarnai alam semesta dengan batang, daun, dan bunga yang aneka warna.
Seorang budayawan dalam tulisannya yang menyindir halus pernah berujar: “kematian adalah hal yang sangat serius, karenanya hidup harus dijalani dengan serius pula”. Maka setiap langkah yang diambil haruslah langkah serius yang terbaik untuk mendekat pada kondisi kematian yang sebaik-baiknya. Apakah kita hanya berakhir dengan rerumputan atau tanah gersang di atas kita, atau dengan tetumbuhan aneka warna yang menggerakkan kita pada bentuk lain di alam semesta.
Dalam hidup, tentunya akan banyak ragam pilihan di depan kita sebelum langkah-langkah pertama dimulai. Pilihan pertama akan selalu secara berantai mempengaruhi pilihan-pilihan selanjutnya. Banyak pepatah untuk menjelaskan hal ini, salah satunya yaitu: “Siapa menabur angin akan menuai badai”. Sederhana saja, ada hukum sebab akibat dalam semesta. Yang dapat langsung dan tertunda.
Keputusan mengenai pilihan terbaik hanya akan mungkin dapat diperoleh dengan memanfaatkan informasi-informasi yang terbaik pula. Dan saat pilihan telah ditetapkan, barangkali perlulah dikutip pendapat salah seorang sahabat, Wardi: “Jika kita konsisten terhadap sesuatu, maka sesuatu itu akan memberikan kehidupan kepada kita”. Ya, kembali lagi kepada kehidupan. “Bahwa hidup haruslah di tempuh/Menolong, tertolong/Bahwa ketertindasan selayaknya disudahi….” (Butet Manurung).
Akhirnya, ada hidup sebelum mati, ada gerak yang tak pernah Henti. Gerak manusia pun pada dasarnya memiliki kerinduan akan kesempurnaan, akan kebahagiaan yang tak henti-hentinya. Maka serukanlah terus upaya-upaya untuk terciptanya ruang hidup yang lebih baik, dalam Alam, Budaya, dan Kemanusiaan kita. Sederhana saja, harmonis secara vertikal (“Sholatlah kamu sebelum kamu disholatkan”) dan horizontal (“Tanamlah pohon sebelum pohon tertanam di atas kita”).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s