Satu lagi Fungsi Perpustakaan: Sebagai Penjara!

Saya sempat tidak percaya bahwa perpustakaan juga bisa difungsikan sebagai penjara. Kalau perpustakaan di dalam penjara tentu wajar. Itu adalah hak narapidana untuk tetap memperoleh sumber informasi. Tapi ini beda, perpustakaan telah difungsikan sebagai penjara. Ini terjadi di Jerman tahun 70-an berdasarkan tafsiran penulis sendiri dalam memahami peristiwa yang diungkapkan.
Begini, tahun 70-an di Jerman, yaitu di Frankfurt dan sekitarnya, terjadi aksi-aksi kriminal seperti perampokan bank, penembakkan terhadap polisi dan tentara, peledakkan bom, pembajakan, dan penyanderaan. Aksi-aksi itu dilakukan oleh sekelompok gerilyawan urban yang mencanangkan perang kelas melawan Negara. Lewat komunike-komunike yang disebarkannya, mereka memperkenalkan diri sebagai Rote Armee Fraktion RAF.
Menurut intelijen Jerman, organisasi ini berasal dari gerakan mahasiswa tahun 1960-an. Rote Armee Fraktion sering disebut juga sebagai kelompok Baader-Meinhof karena dibentuk oleh Andreas Baader dan Ulrike Meinhof pada tahun 1967 di Frankfurt.
Saya tidak akan menjelaskan alasan dan ideologi yang mereka yakini. Tetapi sedikit saja dari pernyataan mereka yang mungkin akan menggelitik kita: “Kami bakar pertokoan agar kalian berhenti belanja. Desakan untuk membeli meneror kalian.” Haha… coba simak lagi dari pernyataan kelompok lain di Inggris yang hampir serupa, Angry Brigade: “Hidup begitu menjemukan, tak ada yang bisa diperbuat selain menghabiskan gaji kita untuk rok dan kemeja model terbaru. Saudara saudari, apa hasratmu yang sesungguhnya?”
Singkat cerita, atas aksi-aksinya itu akhirnya beberapa partisan yang dianggap sebagai penggeraknya tertangkap. Tiga diantara yang tertangkap adalah Ulrike Meinhof, Andreas Baader, dan Jan Carl Raspe. Ulrike Meinhof dan Jan Carl Raspe ditahan dan mati di penjara. Berbeda dengan keduanya, Andreas Baader setelah ditangkap masih memperoleh izin belajar. Hari-harinya diisi di perpustakaan tempat ia memperoleh izin belajar dengan pengawalan bersenjata. Ini dapat berarti bahwa perpustakaan juga telah difungsikan sebagai penjara untuk Andreas Baader.
Setelah Baader bebas dari pengawalan bersenjata di perpustakaan tempat ia memperoleh izin belajar, atau setelah ditangkap sebulan sebelumnya di Berlin Barat, ia kemudian mengeluarkan pernyataan sebagai berikut:
“Mereka yang tidak mempertahankan dirinya mati. Mereka yang tidak mati terkubur di penjara, di sekolah-sekolah pembaharuan, di kumuhnya perkampungan buruh, di nisan-nisan batu kompleks perumahan baru, di sesaknya taman kanak-kanak dan sekolah, di dapur-dapur mentereng dan kamar-kamar tidur penuh perabot yang dibeli secara kredit.”
Referensi:
Sean M. Seehan. (2007). Anarkisme perjalanan sebuah gerakan perlawanan. Marjin Kiri: Serpong.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s