Buah Lapar: Negara Bangsa dan Pemerintahan

Saya heran dengan rasa lapar itu. Begitu menggairahkan. Begitu mempesonakan. Begitu pula menggelisahkan. Dalam lapar dan panas-dingin suhu kamar, seorang pemuda duduk asyik merangkaikan kata-kata dalam kalimat-kalimat yang entah apa dan bagaimana serta untuk apa ia kerjakan sehingga menghabiskan hampir dua ratus lembar kertas yang dibelinya dari belas kasih sahabat.
Tiga hari yang ‘menggairahkan’ dalam rasa itu baginya sudah berakhir pekan ini. Tangannya gemetar memegang kertas. Lidahnya benar-benar sudah menempel pada langit-langit mulutnya. Matanya sudah semakin sayu. Saat mencoba berdiri ia terjatuh. Barangkali anemia itu menyertainya lagi. Ia merebahkan diri di kasur. Memejamkan mata. Mengalihkan kesadarannya pada hitam yang lain. Hitam yang benar-benar lain. Awalnya aku menyebutnya tidur yang lelap. Namun, ternyata baginya itu adalah tidur yang dijajah paksa oleh lapar dan dehidrasi.
Aku menghampiri kamarnya. Kuambil selembar kertas yang dibuangnya di keranjang sampah di depan pintu kamarnya. Pada kertas yang dibuangnya itu tertulis kalimat seperti ini:
“Oleh karena itu, apabila kita menginginkan untuk membentuk suatu bangsa yang baik dan maju, maka terlebih dahulu kita dituntut untuk memberi kebebasan kepada bangsa itu agar mereka maju sendiri dengan cara mengarahkan mereka ke arah aspirasinya sendiri, bukan jalur yang ditempuh oleh negara, sebagaimana kita saksikan keadaan beberapa bangsa di negara maju, di mana mereka sanggup mendirikan lembaga-lembaga pendidikan, pertukangan, pabrik dan industri, dengan tidak menggantungkan sama sekali kepada subsidi pemerintahnya. Andaikata tidak demikian, maka mereka tetap menjadi bangsa yang terbelakang sebagaimana adanya.
Suatu bangsa yang masih menggantungkan kemajuan usahanya kepada pemerintahnya berarti ia berada di bawah tanggungan pemerintah yang mau tidak mau harus dibelenggu dan diikat dengan ikatan-ikatan tertentu menurut arah kemauan pemerintahnya. Bangsa yang seperti ini pada hakikatnya belum bisa disebut bangsa yang merdeka, tetapi bangsa budak. Kalau seperti itu, kapan ia akan maju dan bagaimana bisa bangkit?
Pemerintah adalah sekelompok kecil dari suatu bangsa yang diserahi tugas-tugas eksekutif. Sebelumnya ia sangat tergantung kepada bangsanya dalam segala hal, baik kekuatan maupun peranan yang diperolehnya. Mengapa demikian? Sebab kelompok minoritas mesti tergantung kepada mayoritas, sebagian mesti membutuhkan keseluruhan. Kecuali kalau mayoritas itu lemah. Kecuali kalau bangsa itu seluruhnya pengecut.
Apabila suatu bangsa ingin mempunyai pemerintahan yang baik dan maju, ia dituntut untuk memperbaiki dirinya sendiri terlebih dahulu dan bangkit untuk mengadakan penelitian, penyelidikan faktor-faktor kemajuan, unsur-unsur kemuliaan yang akan membawa kebaikan dan kejayaan dirinya dan negaranya, dengan dilandasi kesadaran bahwa pemerintah yang akan dibentuk itu nanti harus menyuarakan aspirasi dan hati nuraninya (bangsa, rakyat) sendiri. Sebab, pemerintah itu adalah cermin suatu bangsa. Bila bangsa itu baik, pemerintah pun akan baik, dan sebaliknya.” (Mousthofa Al Gholayani, Idzatun Naasyiin)
Saya tidak benar-benar mengerti apa yang dipermasalahkannya. Yang saya mengerti anak bodoh itu membuang lebih dari lima puluh lembar tulisan begitu saja. Katanya itu hanya untuk menambahkan wawasannya saja dalam memahami masalah, tidak perlu dimasukkan sebagai teori. Anak itu tidak membutuhkan teori. Pemuda itu tidak ingin membuktikan sebuah teori. Anak keparat itu tidak ingin menguji sebuah teori. Pemuda jahanam itu melihat kapasitasnya belum mampu untuk itu. Si bangsat itu hanya ingin menulis pengalamannya saja. Ya, pengalaman saja untuk apa yang telah ia lakukan. Sedikit-sedikit ia mencoba menyerempetkannya kepada pengalaman studi aksi.
Bodoh kau!”, kataku. Pemuda brengsek itu memang pantas dikatakan bodoh. Anak bodoh itu tidak pantas membuat karya ilmiah, cuma tiga hari pula. Karyanya hanya akan menambah jumlah sampah kertas saja. Seharusnya ia tak perlu menulis karya ilmiah. Anak bodoh itu tak perlu menulis di kertas. Ia harusnya tahu bahwa kertas itu selain terbuat dari pohon, juga darah dan keringat dari orang-orang yang bernasib sama dengannya dalam menghadapi rasa lapar dan hutang. Sebagian penebang pohon itu adalah buta huruf. Mereka barangkali tak pernah menikmati indahnya menulis di kertas putih polos seperti yang dilakukan anak bodoh itu. Sebagian buruh pabrik bubur kertas juga begitu. Juga buruh di pabrik kertas. Dan berapa banyak anak-anak yang tergusur oleh aksi penguasaan lahan yang dilakukan pengusaha kertas. Anak keparat jahanam itu harusnya tahu dan berperilaku hemat. Tidak boros seperti itu. Dasar! Seperti hama di jalanan yang penuh manusia saja dia. Si pemuda bodoh keparat bangsat jahanam itu harus kita hancurkan. Segenap kolektif elemen bangsa harus menenggelamkannya sebelum ia bikin malu saja!
Brengseknya keparat bangsat itu bilang (sambil mengutip PADI, Sang Penghibur): Setiap perkataan yang menjatuhkan / tak lagi kudengar dengan sungguh. / Juga tutur kata yang mencela / tak lagi kucerna dalam jiwa. / Aku bukanlah seorang yang mengerti / tentang kelihaian membaca hati. / Ku hanya pemimpi kecil yang berangan / tuk merubah nasibnya. Benar-benar brengsek dia. Sama brengseknya seperti saat ia mendapat ciuman, pelukan dan mie rebus gratis dari gadis cantik yang sedang ‘mencari’.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s