Perpustakaan Mesti Belajar dari Seorang Anarkis dalam Memandang ‘Ciuman’

Suatu malam, di malam minggu pertengahan bulan Maret, saya melintasi daerah Hayam Wuruk, Harmoni, untuk menuju Bundaran HI. Di Hayam Wuruk, saya bersama beberapa orang kawan melihat jejeran wanita-wanita dengan pakaian superseksi yang menjajakan diri untuk melakukan pelayanan seks. Beberapa lelaki tampak menghampiri untuk meminta pelayanan seks itu dari salah satu wanita yang ditemani juga oleh tukang ojek (atau bodyguard dari PSK?). Menyaksikan hal itu, entah karena tak punya uang atau benar-benar “idealis”, teman saya berkata (sambil mengutip apa yang telah dikatakan Joll dalam The Anarchists):
“Orang yang membeli ciuman sama derajatnya dengan wanita yang menjualnya. Karena itu seorang anarkis tidak seharusnya membeli ciuman. Ia harus menunjukkan dirinya memang patut dicium.”
Ia harus menunjukkan dirinya memang patut dicium. Haha… saya tertawa mengejek. Tetapi, sesampainya di kamar kost, saya kepikiran juga dengan kalimatnya itu. Ya, jika kita memang pantas untuk dicium, mengapa kita perlu membayar untuk sebuah ciuman, atau pelukan, atau bahkan hubungan badan. Jika perhitungannya hanya karena uang, betapa tidak nyamannya sebuah ciuman, sebuah pelukan, dan orgasme yang mungkin terjadi. Ya, betapa tidak nyamannya hubungan itu: antara laki-laki dan perempuan.
Saat melihat kembali soal perdebatan perpustakaan umum yang jauh dari penggunanya, saya jadi ingat juga dengan kalimat teman saya itu. Barangkali sebuah perpustakaan juga seharusnya berprinsip demikian: Ia (perpustakaan/pustakawan) harus menunjukkan dirinya memang patut ‘dicium’.
Begini, perpustakaan pada dasarnya tidak seperti media massa yang dapat terus menggempur masyarakat dengan berbagai informasi: suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, dalam menciptakan sebuah perubahan sosial. Perpustakaan tidak bisa memaksakannya seperti itu. Tetapi, perpustakaan lebih memberikan kebebasan pada para penggunanya untuk memenuhi kebutuhan informasi yang dibutuhkan atau diinginkannya melalui perpustakaan atau tidak. Dengan demikian, perpustakaan harus menunjukkan bahwa dirinya memang patut ‘dicium’.
‘Dicium’ dalam pengertian benar-benar dirasakan keberadaannya oleh masyarakat pengguna, masyarakat di sekitar perpustakaan. ‘Dicium’ dalam pengertian bahwa masyarakat yang ingin memuaskan hasratnya akan informasi benar-benar dapat mempercayakan kebutuhannya itu kepada pustakawan, atau perpustakaan sebagai lembaga. Hasrat akan informasi yang terpenuhi itu barangkali akan terus merangsang pengguna untuk kemudian ‘memeluk erat’ dan ‘mesra’. Lebih ‘mesra’ lagi dan jadilah masyarakat pengguna dengan perpustakaan benar-benar erat hubungannya, nyaman, dan saling memuaskan. Ya, hubungan yang saling memuaskan antara perpustakaan dan masyarakat penggunanya. Tanpa lagi memandang siapa yang paling penting, siapa yang di atas dan siapa yang di bawah, siapa yang didominasi dan siapa yang mendominasi, siapa yang membayar dan siapa yang dibayar.
Saya membayangkan bahwa suatu hari nanti, pustakawan-pustakawan di negeri ini benar-benar bekerja bebas, bekerja keras, dan bekerja cerdas untuk menunjukkan bahwa dirinya memang patut ‘dicium’ oleh masyarakat penggunanya. Dalam hubungan sosial yang begitu nyaman dan harmonis untuk meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia di hari depan. Semoga..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s