Sekedar Gaya Hidup yang Ramah Lingkungan?

I don’t know what’s worth fighting for
Or why I have to scream
I don’t know why I instigate
And say what I don’t mean
I don’t know how I got this way
I’ll never be alright
So, breaking the habit
I’m breaking the habit
Tonight

-Breaking The Habit, Linkin Park-
***
Tersebutlah di negeri antah berantah semua warganya tiba-tiba saja dikejutkan oleh kabar berita bahwa bumi sedang sekarat. Pemanasan global dan perubahan iklim dikabarkan mengancam bumi. Berita ini disertai bukti bencana yang menimpa negeri, banjir rob, angin puting beliung, suhu udara yang sangat panas di kota. Warga negeri antah berantah itu pun mencoba mengurangi sakit yang diderita sang bumi. Mereka berusaha memperbaiki gaya hidupnya agar lebih ramah terhadap lingkungan di sekitarnya.
Berita itu sampai juga menembus dinding-dinding kampus negeri antah berantah. Sang professor mulai meneliti tentang teknologi yang ramah bagi lingkungan. Rektornya berupaya memikirkan alternatif “Kampus Hijau” yang dapat mendukung peningkatan kualitas lingkungan hidup dan pendidikan. Si Baplang yang aktivis gerakan mahasiswa juga ikut berubah haluan, tema yang diusungnya kini: Selamatkan Lingkungan! Sambil terus menekan pemerintah negeri antah berantah itu agar dapat membuat kebijakan yang memperhatikan kelestarian lingkungan. Bergabunglah ia dalam apa yang disebut Ormas, LSM atau NGO. Jadilah warna bendera yang dikibarkannya merah-hijau sekaligus atau benar-benar hanya dominan warna hijau dan putih.
Mahasiswa lainnya berusaha mengkampanyekan gaya hidup hijau dengan cara yang lebih populer. Dalam setiap eventnya mereka membuat stiker, pin, kaos, gelang, spanduk, baliho dan berbagai aksesoris yang memuat pesan perubahan gaya hidup. Tidak jarang mereka menyertakan artis-artis ternama pula. Prinsipnya, manusia antah berantah itu diharapkan mau mendengarkan sang idolanya untuk merubah gaya hidup.
Namun, tidak sedikit juga warga negeri antah berantah yang skeptis atas berita itu. Si Berang bilang itu isu negara maju untuk mengekalkan pasarnya di negeri antah berantah yang sedang berkembang dan memiliki banyak hutang. Alternatif teknologi ramah lingkungan perlu diterapkan dan itu harus dibeli dari negara maju. Yang tentu akan mengekalkan hutang negara berkembang. Dengan demikian ‘ketertundukan’nya pun akan kekal. Bukan hanya itu, fashion negeri antah berantah itupun akan mengekor pada negara maju yang mencekokinya dengan berita pemanasan ‘gombal’. Fashion yang ramah lingkungan? Apalah … (pertanyaan atau pernyataan sinis nih?)
Lain Si Berang, lain pula Si Ilalang. Si Ilalang lebih mempertanyakan gaya kampanye lingkungan hidup yang tidak ramah pada lingkungan. Si Ilalang yang mahasiswa ‘Kampus Hijau’ itu mengkritik pembuatan stiker, pin, kaos, spanduk, baliho, dllnya yang dilakukan secara masal. Masalahnya habis event kampanye lingkungan kadang habis pula manfaatnya. Sementara bahan yang digunakan sangat jauh dari apa yang dikatakan ramah lingkungan. Tidak pula ada usaha mengalihfungsikan, misalnya baliho untuk jadi sesuatu yang lain yang kembali memiliki nilai guna. Senada dengan Si Berang, Si Ilalang juga bilang mahasiswa yang ikut-ikutan kampanye lingkungan itu fashionnya ngekor banget ke negeri maju di ‘barat’. Konsumsinya juga malah meningkat, terutama terhadap fashion yang berbau tema ‘go green’. Gonta-ganti fashion, ada yang baru dengan bahasan baru, Beli Ah! Halah… capek deh, kata Si Ilalang.
Ada lagi Si Goblek, dia lebih mengkritik gaya personal. Katanya ada temennya, sebut saja Japri yang mahasiswa sosial itu, yang suka kampanye lingkungan itu, munafik! Pake kertas gak hemat, ngerokok di sembarang tempat, makannya selalu minta dibungkus (si Japri ini anak kost katanya), ada sepeda di kampus malah milih naek motor atau mobil pribadi (suka ngebut lagi, gak ramah sosial banget!), kaos-kaosnya yang bertema ‘go green’ aja nyucinya di laundry. Lo tahu kan gimana tuh bahan kimia yang dipake di laundry. Bah, pale lu pedud ngomong lingkungan!
Kehadiran Majalah Jejak: Bukan Promosi!
Bicara soal gaya hidup yang ramah lingkungan bagi Mapala UI saat ini adalah bicara soal Majalah Jejak yang kalian terima setiap tiga bulan sekali. Dicetak terbatas untuk mahasiswa “Kampus Hijau”. Karena majalah ini dibuat dengan menebang pohon, diharapkan bagi yang sudah mendapatkannya meminjamkan kepada yang lainnya, dan seterusnya, dst …
Soal kehadiran Majalah Jejak ini, coba deh simak apa yang sudah ditulis Pemred generasi awal (Ashabikunal Awalun… Hehe, salah yah tulisan dan maksudnya?), Dien Nurdini berkata:
“Pernah ga bertanya kira-kira apa sih yang berbekas dari hal baik yang dilakukan seseorang?
Bukan pengakuan, bukan penghargaan, juga bukan sanjungan. Lalu apa? Saya sedang berada di kereta ekonomi menuju Bogor ketika enak-enaknya merenungkan hal ini. Selintas, rasa-rasanya saya menemukan jawabannya: Jejak. Ya, hanya jejak yang tertinggal.
Jejak ini memungkinkan adanya petunjuk yang bisa diteladani orang lain. Kita bisa memilih untuk mengikuti jejak tersebut atau bahkan terinspirasi untuk membuat jejak-jejak baru.
Hal inilah yang mendasari lahirnya Majalah Jejak. Menjawab tantangan lingkungan, Jejak mengajak kita berubah. Berubah dari diri sendiri adalah awal yang baik, tapi saya berharap kita semua lebih dari itu. Kapasitas setiap orang berbeda, dan kita bisa mulai bergerak dari kapasitas yang kita punya.”
Yap, soal diri dan kapasitas. Setiap masalah punya solusi. Tapi masalah itu punya ‘derajat’nya sendiri, maka solusinya pun harus sesuai dengan ‘derajat’ masalah yang ada. Diri ini kadang terlalu sombong dengan beranggapan bahwa semua masalah itu adalah masalah saya juga dan saya harus turut serta dalam penyelesaiannya. Sementara sang diri ini tidak pernah menimbang kapasitasnya, tidak pernah menimbang ‘derajat’ masalah dan solusi yang ‘sederajat’ dengan masalah, terutama soal masalah lingkungan ini. Kebijakan soal lingkungan di negeri ini, di kampus ini, di lingkungan terkecil yaitu diri kita sendiri, cobalah pikirkan kembali di mana tempat kita dan bagaimana seharusnya kita dalam penyelesaian masalah itu?
Dengan kapasitas yang dimilikinya, Majalah Jejak selama ini hanya mencoba memperlihatkan jejak yang telah dibuat seseorang dengan kapasitas yang mereka miliki untuk mencoba masuk menyelesaikan masalah lingkungannya. Dalam edisi pertama:
“… kita bisa melihat Gumilar Rusliwa Somantri menggunakan kapasitasnya sebagai rektor untuk membangun Jalur Sepeda UI. Setidaknya Beliau berhasil menciptakan jejak baru dalam merubah lingkungan.”
Selanjutnya,
“Kita juga sebagai mahasiswa pasti punya kapasitas untuk menciptakan jejak yang lain. Mahasiswa adalah ujung tombak perubahan, kepekaan terhadap lingkungan bisa membawa kita untuk menciptakan jejak baru dalam merubah gaya hidup menuju lebih berwawasan lingkungan.”
Keyakinan kita adalah bahwa setiap orang punya cara untuk membuat jejaknya masing-masing.
Dalam edisi kedua, kita bicara soal sampah dan hidup kita sehari-hari. Di sini juga diperlihatkan jejak mereka yang menggunakan barang bekas bukan hanya karena alasan murah tetapi juga sebagai cara menyelamatkan lingkungan, menambah waktu guna barang.
“Tanpa sadar, aktivitas kita sehari-hari menghasilkan sampah dalam jumlah berkali lipat. Styrofoam bekas sarapan bubur kita, botol air mineral bekas, kantong plastik belanjaan kita, kertas fotokopian, dan lain sebagainya semakin menumpuk dan menunggu untuk diolah. Masalahnya adalah waktu pemakaian benda tersebut tidak sebanding dengan waktu yang dibutuhkan untuk mengolah setelah menjadi sampah.
Lagi-lagi, jika sampah harus dikurangi, yang penting adalah memulai. Mulai berkata tidak jika ditawari plastik padahal belanjaan kita cuma sedikit, mulai mengumpulkan baju bekas untuk disumbangkan (selain ramah lingkungan juga ramah sosial lho!), mulai membawa botol minuman ke kampus, mulai memilah sampah, mulai mengakali barang bekas agar bisa digunakan lagi, dan yang paling penting mulai dari diri sendiri.”
Yap, lagi-lagi pembahasan soal lingkungan hidup selama ini ujung-ujungnya mentok pada diri sendiri. Makanya isu utama yang diangkat soal lingkungan ini biasanya selain soal kebijakan melulu juga selalu soal perubahan gaya hidup.
Apa yang kita lakukan pada akhirnya pula selalu memiliki dua dampak: positif dan negatif. Seperti gambaran pada Yin dan Yang, selalu ada titik putih pada sisi hitam, dan selalu ada titik hitam pada sisi putih. Kita harus sadar bahwa upaya yang kita lakukan tidak pernah sempurna. Dalam perbuatan baik yang kita lakukan pastilah ada cacatnya. Dalam perbuatan buruk yang dilakukan seseorang juga pastilah ada setitik nilai baiknya. Tinggal memilih dua jalan itu: berbuat untuk lingkungan tapi tentu ada kritik atau tidak berbuat sama sekali dan malah merusaknya yang tentu memiliki nilai baik bahwa masih ada yang perlu kita perbuat. Salam!
NB: Tulisan ini dibuat untuk acara FIB Goes Green yang dilaksanakan BEM FIB UI, 29042009.

3 Comments Add yours

  1. adin says:

    ehehe.. ternyata ada yang mengutip tulisan2 “dari redaksi” itu, so nostalgic ;)

    nice writing, and nice blog, firman..

  2. ivenx oy'z says:

    wah … enak ni baca2 baca gaya hidup …

  3. ismail agung says:

    Bagus banget! Saya setuju dengan tulisan anda untuk memulai menciptakan jejak… Jejak yang menuntun kita untuk memulai sebuah perubahan yang lebih baik.
    Buat si Japri… Semoga engkau cepat sadar atas kemunafikanmu nak? (termasuk saya sendiri)
    Good good good write!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s