Emang belajar kudu di sekolah ya Bang?

Seorang anak jalanan, atau lebih tepatnya pedagang asongan usia kanak-kanak, ditanya oleh seorang teman mahasiswa tentang pendidikannya, atau lebih tepatnya soal mengapa ia tidak sekolah hari itu.
“Prul, kenape lo kagak sekolah?” tanya mahasiswa.
“Kenape gue harus sekolah Bang?” jawab sang anak.
“Ya belajar, Prul.. Masa di sekolah lo ngebersihin comberan yang pada mampet,” kata mahasiswa.
“Emang belajar kudu di sekolah ya Bang?” tanya sang anak.
“Ya kagak juga sih, tapi kan dengan sekolah lo bakalan dapet banyak pengetahuan di sana, pendidikan yang lebih baik buat masa depan lo..” jawab mahasiswa untuk meyakinkan anak itu agar mau bersekolah.
“Pendidikan? Jaminan masa depan? Apa kite kayak kagak lagi berjudi dengan itu semua Bang?” sang anak kembali bertanya. Mahasiswa itu terdiam. Sang anak pun melanjutkan lagi keragu-raguannya soal pentingnya bersekolah.
“Seiring perjalanan waktu kita juga bakalan dapet pengetahuan yang memang harus kita tahu bukan? Emak gue selalu bilang oleh banyak orang  pengetahuan yang kita dapet itu disebut pengalaman. Nah, kata Bapak gue oleh banyak orang pengalaman dianggap sebagai guru terbaik.”
Mahasiswa itu benar-benar terdiam. Dalam pikirannya, pengalaman memang guru terbaik. Tapi bukankah kita bisa dapatkan pengalaman dari banyak orang dengan belajar dari banyak buku tentang pengalaman-pengalaman, eksperimen-eksperimen banyak orang yang berhasil maupun yang gagal dalam mengungkapkan masalah, menyelesaikan masalah-masalah kehidupan. Mahasiswa itu tak ingin mengungkapkan pikirannya pada anak itu. Ia ingin lebih banyak mendengar saat itu. Sang anak pun melanjutkan penjelasannya.
“Abang lebih percaya mana, Sekolahan atau Tuhan yang mengajarkan kita lewat pengalaman-pengalaman di jalan kehidupan yang kita pilih? Gue lebih percaya masa depan dan rejeki itu di tangan Tuhan, Bang… Bukan di Sekolahan. Dan gue kagak suka ngebuang-buang waktu di bangku sekolahan. Apalagi sampai terlibat tawuran, seks bebas, dan narkoba. Yang semuanya itu lebih banyak dilakukan oleh anak-anak sekolahan. Gue yakin dengan masa depan gue yang lebih baik esok, walaupun tanpa perlu duduk di bangku sekolahan. Bagaimana dengan Abang?”
Mahasiswa itu lagi-lagi hanya ingin diam dan mendengarkan. Dia begitu mengagumi gaya sang anak dalam mempertanyakan sebuah bangunan kemapanan berpikirnya. Bisa saja ada perdebatan. Tapi siapa dia? Siapa Dia?
Hari semakin panas. Akhirnya anak itu mesti terus berjalan, menjajakan dagangannya. Mahasiswa itu juga melanjutkan perjalanannya. Waktu memang benar-benar berjalan. Mahasiswa itu mendapatkan pengalamannya hari ini, bahwa manusia yang unik dan dinamis itu tidak mungkin dapat dikotak-kotakan dalam satu sistem berpikir yang mapan. Karena, barangkali dan jika manusia terjebak dalam satu kotak kemapanan berpikir barangkali hanya akan ada stagnasi di dalamnya. Maka cara berpikir kita tentang apa yang logis dan tidak logis pun bukan sesuatu yang dengan sendirinya benar, karena bahkan logika pun sebenarnya dipengaruhi oleh apa yang kita pelajari. Salah satunya oleh ‘rezim’ pendidikan formal yang ‘menjajah’ kita selama ini, barangkali.
***
“Kalo lo nggak berpendidikan, lo nggak akan tahu kalo pendidikan itu nggak penting…” (Salah satu dialog di dalam film “Alangkah Lucunya Negeri Ini“)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s